Paduarsana

Berbagi Tentang Semua Hal

Monthly Archives: March 2018

PURA LINGSAR NARMADA LOMBOK


Image by: Lombok Garnish

Sebagaimana Bali, di Lombok kita juga dapat mengunjungi berbagai pura, salah satunya Pura Lingsar yang terkenal akan nilai-nilai toleransi umat beragama. Pura Lingsar berada di Desa Lingsar, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat dan merupakan pura terbesar di Lombok. Dibangun sejak 1741 oleh Raja Anak Agung Ketut Karangasem dan dianggap pura yang paling suci di Lombok.

Uniknya, pura ini gabungan antara nilai-nilai agama Hindu dan Islam Wetu Telu. Kawasan pura ini terbagi menjadi dua. Di bagian utara terdapat pura Hindu bernama Gaduh, sedangkan di bagian selatan berdiri pura Weku Telu bernama Kemaliq.

Konon, tempat itu dibangun sebagai lambang persatuan. Karena itulah, tak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah dalam komplek pura yang luas itu. Umat Hindu dan Suku sasak yang beragama Islam secara rukun merawat pura itu secara bersama-sama. Simbol toleransi, juga dilambangkan dengan aturan tak tertulis, bahwa siapa saja yang datang ke tempat suci itu, tak diperkenankan menghaturkan sesaji dari babi dan sapi. Babi haram bagi umat Islam, dan sapi dianggap suci oleh umat Hindu.

Kendati selalu digunakan untuk beribadah dua agama yang berbeda namun dalam setahun sekali ada upacara yang melibatkan umat Hindu dan Islam di pura ini yaitu Upacara Perang Topat. Dalam ritual ini mereka “berperang” menggunakan topat atau ketupat yang dilemparkan kepada sesama temannya sebagai tanda bersyukur atas rejeki yang selalu dilimpahkan oleh Tuhan. Perang Topat biasanya dilakukan pada sebelum musim tanam pagi dan sesudah musim penghujan.

Dalam Pura ini mengalir sebuah mata air yang tidak pernah surut dibentuk dalam beberapa kolam dan dianggap suci oleh sebagian penduduk karena dipercaya mampu memberikan peruntungan. Pada suatu kolam para wisatawan biasanya melempar uang logam ke dalamnya dengan posisi membelakangi kolam sambil menyebutkan keinginannya dalam hati. Di dalam kolam tersebut terdapat ikan julit (mirip belut), konon umur ikan tersebut ratusan tahun. Kepercayaan masyarakat sekitar, keinginan kita akan terkabul jika setelah melempar koin kemudian ikan tersebut menampakkan wujudnya di dalam kolam. Pada kolam yang di bagian dalam biasanya para wisatawan mencoba peruntungannya dengan menggunakan berbagai cara agar ikan tersebut bisa keluar, diantaranya memancingnya dengan telur rebus, karena ikan tersebut jarang sekali keluar.

Terima kasih: Leak Bali

Artikel lain:

  1. Pura Agama Hindu di Nusantara(1)
  2. Sejarah Pura Mandara Giri Lumajang

Pacaran Dalam Agama Hindu


Ada yang lagi jatuh cinta? tapi takut ? takut melakukan kesalahan? mungkin pertanyaannya apakah boleh pacaran dalam agama Hindu?. Pertama kali saya merasa suka dengan teman wanita saat itu baru SMP haha. Orang bilang itu cinta monyet, tidak yakin apa maksudnya wong saya bukan keturunan monyet. Apa rasanya jatuh cinta saat umur masih belum nyampe hehe? Semua tentu yang senang-senang rasanya. Berangkat sekolah selalu semangat, giliran pulang sekolah ingin rasanya agar ada les tambahan biar bisa lama-lama sama “gebetan”. Saya tidak berpikir referensi kitab, apalagi berpikir neraka karena pacaran.

Image by: Kompas Life Style

Sampai sekarang, saya belum menemukan rujukan boleh tidaknya pacaran dalam agama Hindu. Maksudnya, sloka (ayat) yang melarang pacaran belum saya temukan. Kalau mengikuti logika KUHAP, sebuah tindakan tidak bisa dinyatakan bersalah kecuali ada undang-undang yang menyatakan tindakan tersebut salah. Artinya, pacaran boleh. Tapi tentu ada batasannya. Melakukan hubungan sex tidak boleh, pacaran untuk mengumbar kama (nafsu) tidak boleh. Sama seperti minum alkohol. Minum boleh, mabuk dilarang. Jadi pastikan tindakannya terukur, niatnya positif, motifnya untuk tujuan kebaikan.

Pacaran adalah proses untuk saling mengenal, mengasah cinta dan menjalani ujian-ujian kesetiaan. Bahkan Rama tergetar hatinya ketika pertama kali memandang Sita, di pertapaan Maharsi Wiswamitra. Cintanya terus tumbuh dan terpelihara, hingga Rama resmi memperistri Sita setelah ia mematahkan busur Dewa Siwa dalam sayembara yang dilaksanakan Prabu Janaka, ayahanda Sita, di negeri Mantili. Tak ada kisah Rama berusaha membunuh benih cintanya karena merasa berdosa. Di itihasa yang lain, Vasudewa Krisna justru sengaja minta bantuan Arjuna untuk mengantar dan menjaga adik tercintanya, Subadra. Sebagai penguasa waktu, tentu Vasudewa Krisna tahu persis bahwa dimasa depan, Subadra akan menjadi istri Arjuna untuk menjaga kelangsungan keturunan bangsa Bharata. Vasudewa justru memberi jalan bagi tumbuhnya cinta diantara adiknya dan Arjuna jauh sebelum pernikahan mereka digelar. Tentu, jaman itu tidak dikenal pacaran seperti saat ini

Lalu, apa yang perlu diperhatikan saat pacaran ? Nah, ini yang penting. Sebagai agama spiritual, ajaran Hindu hampir tidak pernah melarang secara dogmatis. Yang diajarkan justru etika2 dan pengertian2. Bukan paksaan tapi pencerahan. Dalam hal pacaran, yang ditekankan adalah niatnya dan prosesnya. Niatnya harus baik, untuk saling mengenal dan menumbuhkan cinta. Prosesnya harus baik, dijaga dari jebakan gelora nafsu (kama). Nafsu (kama) adalah ibarat kuda2 yang menarik kereta (badan) agar bergerak mencapai tujuan. Tak cukup kuda-kuda dan kereta, dibutuhkan sais (kusir) yang bijak dan berpengetahuan seperti Vasudewa Krisna agar dapat memenangkan pertempuran di Medan Kurusetra kehidupan. Kusir inilah kuncinya.

Dan ajaran Hindu memberi banyak sekali tuntunan agar kita menjadi kusir yang bijak atas tarikan kama (nafsu). Berikut adalah beberapa Sloka untuk menjadi pribadi yang teguh dan bijaksana:

Manavadharmasastra IV.44:

Nanjayantiṁ svake netre nā cabhyaktamanavṛtaṁ, nā prayet prasavanti ca tejaśkamo dvijottamaḥ

Artinya: Seseorang yang menginginkan keteguhan hati hendaknya tidak memandang wanita yang sedang bersolek, atau yang telah bersolek dengan menelanjangkan badannya, dan juga jangan melihat wanita yang sedang melahirkan. 

Manavadharmasastra.XI.2:

Patiṁ ya na bhicarati māṇo vagdena sangyati sa bhartṛlokaṁ apnoti sadbhiḥ sadviticocyate.

Artinya: Mereka yang selalu mengendalikan pikiran, perkataan dan tubuhnya, tidak menyalahgunakan kehormatanya, akan mendapat tempat mulia, dan dialah disebut budiman/sadhu.

Manavadharmasastra. VIII.357

Upācarakriya kelih, sparco bhusaṇa vasasan, saha khatvasanaṁ caiva sarvam saṁgrahanam smṛiam.

Artinya: Memberikan sesuatu yang merangsang wanita (yang bukan istrinya), bercanda cabul denganya, memegang busana dan hiasannya, serta duduk di tempat tidur dengannya adalah perbuatan yang harus dianggap sama dengan berzinah. 

Manavadharmasastra. VIII.358

Ṣṭriyam sprceda dece yah sprsto va marsayettaya parasparasyanumate sarvam saṁgrahanam smṛtam

Artinya: Bila seseorang menyentuh wanita (yang bukan istrinya) pada bagian yang terlarang, atau membiarkan menyentuh bagian itu, walaupun semua perbuatan itu dilakukan dengan persetujuan bersama, haruslah dianggap berzinah. 

Pacaran adalah proses yang baik dan indah. Jauh hari sebelum mereka menikah, Arjuna telah menempuh perjalanan berdua dari Hastina ke Dwaraka bersama Subadra atas perintah Vasudewa Krisna. Bila sang pemilik kehidupan mengijinkan, maka tidaklah perlu kita terlalu fanatik melarangnya. Tapi yang penting, ingat jaga niatnya, dan jaga batasannya. Dalam hidup, bahkan mawar yang indah selalu ada durinya. Nikmati keindahannya, waspadai durinya. Itulah cara menikmati hidup, agar hidupmu tak hanya benar dan baik (satyam dan sivam), tapi juga indah (sundaram). Kehidupan yang indah, yang penuh cinta, yang bahagia, adalah salah satu tujuan beragama, disebut Jagadhita. Dan bila dicapai berdasarkan prinsip – prinsip dharma, maka itu adalah tangga terbaik menuju pembebasan (moksha).

Terima kasih: Ketut Budiarsa

Artikel Lainnya: Tentang Cinta:

  1. Sanghyang Semara Ratih
  2. Valentine dan Ajaran Hindu
  3. Valentine dalam pandangan Hindu