Advertisements

Paduarsana

Berbagi tentang: Hindu, Bali dan Budayanya.

Pacaran Dalam Agama Hindu


Ada yang lagi jatuh cinta? tapi takut ? takut melakukan kesalahan? mungkin pertanyaannya apakah boleh pacaran dalam agama Hindu?. Pertama kali saya merasa suka dengan teman wanita saat itu baru SMP haha. Orang bilang itu cinta monyet, tidak yakin apa maksudnya wong saya bukan keturunan monyet. Apa rasanya jatuh cinta saat umur masih belum nyampe hehe? Semua tentu yang senang-senang rasanya. Berangkat sekolah selalu semangat, giliran pulang sekolah ingin rasanya agar ada les tambahan biar bisa lama-lama sama “gebetan”. Saya tidak berpikir referensi kitab, apalagi berpikir neraka karena pacaran.

Image by: Kompas Life Style

Sampai sekarang, saya belum menemukan rujukan boleh tidaknya pacaran dalam agama Hindu. Maksudnya, sloka (ayat) yang melarang pacaran belum saya temukan. Kalau mengikuti logika KUHAP, sebuah tindakan tidak bisa dinyatakan bersalah kecuali ada undang-undang yang menyatakan tindakan tersebut salah. Artinya, pacaran boleh. Tapi tentu ada batasannya. Melakukan hubungan sex tidak boleh, pacaran untuk mengumbar kama (nafsu) tidak boleh. Sama seperti minum alkohol. Minum boleh, mabuk dilarang. Jadi pastikan tindakannya terukur, niatnya positif, motifnya untuk tujuan kebaikan.

Pacaran adalah proses untuk saling mengenal, mengasah cinta dan menjalani ujian-ujian kesetiaan. Bahkan Rama tergetar hatinya ketika pertama kali memandang Sita, di pertapaan Maharsi Wiswamitra. Cintanya terus tumbuh dan terpelihara, hingga Rama resmi memperistri Sita setelah ia mematahkan busur Dewa Siwa dalam sayembara yang dilaksanakan Prabu Janaka, ayahanda Sita, di negeri Mantili. Tak ada kisah Rama berusaha membunuh benih cintanya karena merasa berdosa. Di itihasa yang lain, Vasudewa Krisna justru sengaja minta bantuan Arjuna untuk mengantar dan menjaga adik tercintanya, Subadra. Sebagai penguasa waktu, tentu Vasudewa Krisna tahu persis bahwa dimasa depan, Subadra akan menjadi istri Arjuna untuk menjaga kelangsungan keturunan bangsa Bharata. Vasudewa justru memberi jalan bagi tumbuhnya cinta diantara adiknya dan Arjuna jauh sebelum pernikahan mereka digelar. Tentu, jaman itu tidak dikenal pacaran seperti saat ini

Lalu, apa yang perlu diperhatikan saat pacaran ? Nah, ini yang penting. Sebagai agama spiritual, ajaran Hindu hampir tidak pernah melarang secara dogmatis. Yang diajarkan justru etika2 dan pengertian2. Bukan paksaan tapi pencerahan. Dalam hal pacaran, yang ditekankan adalah niatnya dan prosesnya. Niatnya harus baik, untuk saling mengenal dan menumbuhkan cinta. Prosesnya harus baik, dijaga dari jebakan gelora nafsu (kama). Nafsu (kama) adalah ibarat kuda2 yang menarik kereta (badan) agar bergerak mencapai tujuan. Tak cukup kuda-kuda dan kereta, dibutuhkan sais (kusir) yang bijak dan berpengetahuan seperti Vasudewa Krisna agar dapat memenangkan pertempuran di Medan Kurusetra kehidupan. Kusir inilah kuncinya.

Dan ajaran Hindu memberi banyak sekali tuntunan agar kita menjadi kusir yang bijak atas tarikan kama (nafsu). Berikut adalah beberapa Sloka untuk menjadi pribadi yang teguh dan bijaksana:

Manavadharmasastra IV.44:

Nanjayantiṁ svake netre nā cabhyaktamanavṛtaṁ, nā prayet prasavanti ca tejaśkamo dvijottamaḥ

Artinya: Seseorang yang menginginkan keteguhan hati hendaknya tidak memandang wanita yang sedang bersolek, atau yang telah bersolek dengan menelanjangkan badannya, dan juga jangan melihat wanita yang sedang melahirkan. 

Manavadharmasastra.XI.2:

Patiṁ ya na bhicarati māṇo vagdena sangyati sa bhartṛlokaṁ apnoti sadbhiḥ sadviticocyate.

Artinya: Mereka yang selalu mengendalikan pikiran, perkataan dan tubuhnya, tidak menyalahgunakan kehormatanya, akan mendapat tempat mulia, dan dialah disebut budiman/sadhu.

Manavadharmasastra. VIII.357

Upācarakriya kelih, sparco bhusaṇa vasasan, saha khatvasanaṁ caiva sarvam saṁgrahanam smṛiam.

Artinya: Memberikan sesuatu yang merangsang wanita (yang bukan istrinya), bercanda cabul denganya, memegang busana dan hiasannya, serta duduk di tempat tidur dengannya adalah perbuatan yang harus dianggap sama dengan berzinah. 

Manavadharmasastra. VIII.358

Ṣṭriyam sprceda dece yah sprsto va marsayettaya parasparasyanumate sarvam saṁgrahanam smṛtam

Artinya: Bila seseorang menyentuh wanita (yang bukan istrinya) pada bagian yang terlarang, atau membiarkan menyentuh bagian itu, walaupun semua perbuatan itu dilakukan dengan persetujuan bersama, haruslah dianggap berzinah. 

Pacaran adalah proses yang baik dan indah. Jauh hari sebelum mereka menikah, Arjuna telah menempuh perjalanan berdua dari Hastina ke Dwaraka bersama Subadra atas perintah Vasudewa Krisna. Bila sang pemilik kehidupan mengijinkan, maka tidaklah perlu kita terlalu fanatik melarangnya. Tapi yang penting, ingat jaga niatnya, dan jaga batasannya. Dalam hidup, bahkan mawar yang indah selalu ada durinya. Nikmati keindahannya, waspadai durinya. Itulah cara menikmati hidup, agar hidupmu tak hanya benar dan baik (satyam dan sivam), tapi juga indah (sundaram). Kehidupan yang indah, yang penuh cinta, yang bahagia, adalah salah satu tujuan beragama, disebut Jagadhita. Dan bila dicapai berdasarkan prinsip – prinsip dharma, maka itu adalah tangga terbaik menuju pembebasan (moksha).

Terima kasih: Ketut Budiarsa

Artikel Lainnya: Tentang Cinta:

  1. Sanghyang Semara Ratih
  2. Valentine dan Ajaran Hindu
  3. Valentine dalam pandangan Hindu

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: