Paduarsana

Berbagi Tentang Semua Hal

Monthly Archives: March 2018

PURA BATU BOLONG DI LOMBOK BARAT


Pura Batubolong berlokasi di Jalan Raya Senggigi kurang lebih 13 Km dari Kota Mataram dan dibangun diperkirakan pada pertengahan abad ke‑XV oleh Danghyang Nirartha. Beliau datang ke Lombok untuk kedua kalinya pada tahun 1533 Masehi menggunakan Perahu Layar milik seorang Nelayan Suku Sasak‑Lombok yang terdampar di Pantai Ponjok Batu Desa itulah perbatasan antara Kabupaten Beleleng dan Karangasem‑Bali.

Pada saat itu seorang nelayan ditemukan dalam kondisi kritis karena berhari‑hari tidak makan kemudian perahunya rusak dan bocor terombang‑ambing arus gelombang laut serta angin kencang akhirnya nelayan tersebut selamat atas pertolongan Sang Resi dan masyarakat pesisir Pantai. Kemudian bermodal Perahu Layar yang rusak dan bocor tadi Sang Resi bersama seorang Nelayan tersebut dapat menyebrangi Selat ­Lombok dengan menyisir pantai utara Pulau Lombok. Anehnya selama perjalanan, air laut betul­betul landai dan tenang serta ditambah dengan hembusan angin barat sehingga dalam waktu sekejap Sang Resi dan seorang Nelayan tadi sampai di Pesisir Pantai Enjung Ukur/Bukur Dusun Malimbu Desa Malaka Kecamatan Pemenang Lombok‑ Utara Kabupaten Lombok Barat.

Image by: Manacikapura

Disana beliau beristirahat dan melaksanakan semadi sehingga sampai sekarang ada kita jumpai Pura Tanjung Ukur/Bukur dan 2 km arah tenggara kita jumpai Pura Teluk Sekedik dimana sampai saat ini tetap ajeg sering dikunjungi umat.

Dari Teluk Sekedik beliau melanjutkan perjalanan kearah utara sampai di Enjung Kaprus karena disaat air laut pasang disana dapat kita jumpai sebuah gua kecil bila kena deburan ombak yang keras akan mengeluarkan semburan air ke atas dengan ketinggian bisa mencapai sepuluh meteran sehingga pura yang ada disana disebut Pura Kaprusan.

Beranjak dari Pura Kaprusan Sang Resi menyisir pantai arah timur kurang lebih 3 km dan sampailah beliau di Karang Bolong untuk beristirahat. Dalam peristirahatan itulah beliau mendirikan Pelinggih di Enjung Karang Bolong untuk melaksanakan Semadi dan sekarang kita kenal dengan sebutan Pura Batubolong karena di Enjung itu terdapat Batu besar yang berlubang atau bolong.

Batu besar yang berlubang/bolong tersebut sering dijadikan jalan penyebrangan oleh masyarakat setempat dari Pantai Duduk ke Pantai Ejung Karang Bolong pada saat‑saat air surut karena pada abad ke‑XVIII jalan raya sekarang ini belum ada. Beranjak dari Karang Bolong Sang Resi kembali menyisir pantai ke arah tenggara melalui kokol meniti (Kali Meninting) dan Kokol Jangkok (Kali Jangkok) kemudian dari Ampenan Sang Resi melanjutkan perjalanannya menuju Karang Medain, Lingsar dan Suranadi.

Di Suranadi Sang Resi banyak memberikan pelajaran kerohanian kepada masyarakat setempat tentang Kalpasastra dan Phalakerta serta ajaran keseimbangan hidup yang di kenal dengan Sukerta Tata Pawongan, Sukerta Tata Palemahan dan Sukerta Tata Pagaman.
Artinya keharmonisan hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan lingkungannya dan manusia dengan Tuhan Pencipta jagad raya ini yang sering disebut TRIHITA KARANA.
Sejalan dengan konsep ajaran Sang Resi sampai sekarang dapat kita jumpai ditengah-tengah masyarakat Suku Sasak dan Suku Bali ada di‑Lombok tetap dapat menjalin rasa persatuan dan kesatuan serta budaya gotong-royong terutama pada saat acara‑acara kekeluargaan.

Selanjutnya kembali kita menengok Pura Batubolong bahwa keberadaannya sesuai dengan konsep Khayangan Jagad di‑Bali yang selalu mengambil tempat di gunung dan di tepi pantai dekat laut, karena secara kasat mata gunung dan laut memberikan nuansa panorama yang indah dan segar tetapi mampu memberikan getaran spriritual yang berdimensi kearah kesucian, kekhusukan dan kedamaian.

Secara filosofis, konsepsi segara gunung adalah simbol Purusa‑Predana sebagai lambang kehidupan jasmani dan rohani yang seimbang sehingga dapat mendorong kearah penghayatan dan keheningan dalam mengagungkan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa.
Apabila dilihat dari sisi tempat Pura Batubolong sangat ideal sekali karena perpaduan antara gunung dan laut menjadi satu kesatuan yang utuh sehingga tidak mengherankan Pura Batubolong sangat dikenal dan banyak dikunjungi, tidak saja oleh umat Hindu sendiri tapi touris-­touris domestik maupun mancanegara.

Melihat keberadaan Pura Batubolong yang indah dan alami pada pertengahan abad ke‑XVI secara berangsur‑angsur terus dibenahi oleh umat yang berdomisili di Karang Ujung Ampenan dan Kampung Tanambet artinya masyarakat‑nya sebagian besar melek aksara sehingga sekarang lebih dikenal dengan sebutan Dusun Tanah Embet Desa Batulayar Kecamatan Batulayar Kabupaten Lombok Barat.
Kemudian bila kita membaca Awig‑awig Banjar Tanah Embet yang sudah ada sejak 1782 Masehi, di Dusun ini banyak tokoh‑tokoh agama/ masyarakat yang sudah mengabdikan diri mengadakan perbaikan‑perbaikan atau renopasi di Pura Batubolong seperti ; I Wayan Kusamba, I Made Pedoman dan I Gde Sari pada jaman nyeneng Anak Agung Dewata Sakti.
Kemudian I Wayan Siman dan I Wayan ‘Sari pada jaman nyeneng Anak Agung Dewata Ring Rum dan I Gde Nakti, Mangku Gde Subrata, Mangku Gde Drawi, Mangku Made Nagging dan I Made Teges pada jaman nyeneng Anak Agung Ngurah awal abad ke‑XIX.
Selanjutnya di era tahun 1970‑1980‑an sampai sekarang Pujawali Pura Batubolong dilaksanakan setiap tahunnya pada Purnamaning Kasa atau Srewana sekitar bulan Juni dan Juli.
Sedangkan pelaksanaan upacara dan upakara Pujawali di emong oleh 7 krama banjar yang ada di kecamatan Batulayar dan dikoordinir oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia Kecamatan Batulayar.

Fakta Menarik

  • Dapat melihat Gunung Agung di Pulau Bali dari atas Pura Batu Bolong.
  • Pura Batu Bolong kerap dijadikan sebagai obyek wisata spiritual.
  • Terdapat mata air berupa telaga dengan air jernih berwarna biru.
  • Sumber mata air yang berada di Pura Batu Bolong diyakini mampu menyembuhkan beberapa penyakit kulit, seperti gatal-gatal, panu juga jenis penyakit kulit lainnya.

Mitos
Menurut legenda masyarakat setempat, dahulu sering diadakan upacara pengorbanan seorang perawan untuk dipersembahkan kepada hiu sang penguasa lautan kala itu. Legenda lain mengisahkan bahwa banyak wanita yang patah hati menerjunkan diri ke laut di tempat ini. Menarik bukan, jika kita membayangkan seorang perawan diterjunkan dari puncak karang ini dan disambut oleh seekor hiu di bawahnya. Wuiiih, seram!

Terima kasih: Leak Bali

Merayakan Nyepi dengan Khidmat


Image by: Info Denpasar

Sebagai umat Hindu kita harus menyadari dan mengerti bagaimana merayakan Nyepi dengan khidmat. Beberapa waktu lalu PHDI Bali mengeluarkan himbauan untuk tidak selfi pada saat Nyepi dan mengunggahnya ke media sosial seperti facebook, instagram, twitter dll. Himbauan ini tentu bukan tanpa alasan dari tahun ke tahun kita selalu mendapati perayaan Nyepi tidak sebagaimana mestinya. Adanya pelecehan terhadap Hari Raya Nyepi bukan tidak mungkin disebabkan kita sebagai umat Hindu tidak mengerti bagaimana seharusnya Nyepi dilaksanakan.

Nyepi yang merupakan perayaan suci agama Hindu dan sekaligus Tahun Baru Saka yang jatuh pada “Penanggal Ping Pisan Sasih Kadasa” menurut sistem kalender Hindu Nusantara, yaitu di saat Uttarayana (hari pertama matahari dari katulistiwa menuju ke garis peredaran di lintang utara), merayakannya dengan sepi yang kemudian bernama nyepi artinya membuat suasana hening, tanpa kegiatan (amati karya), tanpa menyalakan api (amati agni), tidak keluar rumah (amati lelungan), dan tanpa hiburan (amati lelanguan), yang dikenal dengan istilah Catur Brata Penyepian.

Selama meyambut hari raya nyepi, berbagai kegiatan yang di lakukan masyarakat untuk mempersipakan segala sesuatu, baik sarana maupun prasarana dalam proses upacara nanti seperti Tawur Agung Kesanga yang dilakukan sehari sebelun perayaan nyepi keesokan harinya. Upacara ini dilakukan tentu saja untuk persembahan manusia kepada para Bhuta Yadnya agar terjadi keseimbagan dan keharmonisan dalam menjaga hubungan erat antara manusia dengan alam sekitar (palemahan). Namun terkadang acara tersebut dipandang sebelah mata hanya dipersepsikan sebagai formalitas dan pelengkap hari raya nyepi. Hal tersebut bisa kita amati khususnya di Bali yang kental akan berbagai jenis upacaranya (ritualnya).

Selain itu hiruk-pikuk dalam perayaan nyepi sering sekali terjadi kejanggalan dan ketidak sesuain dengan konteks hari rayanya. Banyak masyarakat (Bali-Hindu) yang acuh tak acuh, merayakannya penuh dengan kemewahan, berpesta poria, minum-minuman keras di setiap gang-gang perumahan maupun balebanjar atupun wantilan dan yang sangat memprihatinkan sekali yaitu bahkan ada masyakat yang memanfaatkan moment ini (nyepi) untuk berjudi, karna hari ini merupakan hari libur nasionl yang ditetapkan oleh pemerintah, sehingga masyarakat(Bali-Hindu) menggunakan waktu senggang ini untuk bersenang-senang. Sangat lucu dan sekaligus mengherankan. Perayaan suci (nyepi) yang sangat disakralkan dan di hormati disambut dengan penuh kegemerlapan duniawi yang tak habis-habisnya sepanjang tahun. Kemungkinan banyak umat non Hindu di luar sana yang mengetahuinya dan berfikir, kenapa bisa seorang masyarakat Bali-Hindu yang taat dan disiplin akan ritual keagamaaan bisa-bisanya menyambut hari rayanya sendiri penuh dengan foya-foya dan bersenang-senang dengan berbagai kegiatan hiburan ?

Memang tidak bisa dipungkiri arus pariwisata global telah mengubah pola pikir dan karakter masyarakat. Tentu saja disini mereka tidak bisa menahan diri dalam arus materi yang diorientasikan demi untuk mencukupi kebutuhan hidup yang semakin kompleks dan menggila. Terlebih dari sektor itu berdampak signifikan dalam merusak alam Bali yang menjunjung tinggi ajaran Tri Hita Karana. Bali yang sekarang bukanlah Bali yang dikenal seperti dahulunya. Bangunan yang super megah dengan ketinggian yang melebihi peraturan yang diberikan telah di langgar dan sekaligus disepakati dengan jalan damai(kompromi), tanpa memperhitungkan dampak dari apa yang telah di sepakatinya tersebut. Semuanya itu hanyalah keteledoran manusianya sendiri, mau terjebak dalam dunia fana yang penuh dengan sajian keduniawiaan.

Sungguh ironis sekali, ketika ketidakberdayaan manusia dalam menahan hawa nafsu(kama) maka terjerumuslah ia dalam lembah muara keterpurakan yang meyesatkan. Tanpa menyadari ia sejatinya hanyalah manusia biasa yang merupakan ciptaan Tuhan yang penuh dengan kelemahan. Dalam hakikatnya menyambut perayaan agama seperti perayaan nyepi yang merupakan hari raya yang dijunjung tinggi umat Hindu-Bali sebenarnya harus dihormati dan di sambut dengan penuh kedamaian, keheningan, intropeksi diri dan menyelami sambil mempelajari kesalahan-kesalahan yang kita lakukan sebelumnya bukan meyambut dengan berbagai pesta poria yang penuh dengan kenikmatan duniawi. Karna waktu kehidupan bagi manusia sangat terbatas.

Entah kapan waktu akan mengakhiri kehidupan manusia dan dunia ini. Sebelum jatuh dan jauh dari penyesalan marilah sebagai masyarakat Hindu Bali khususnya, meyambut perayaan nyepi dengan penuh hikmat betul-betul menyadarkan diri sendiri dengan keyakinan yang kuat, meskipun belum bisa sepenuhnya melakukan catur brata penyepian, dengan tahap demi tahap serta proses pembelajaran bukan tidak mungkin hal itu dapat kita capai, demi mencapai kesejahteran hidup lahir maupun batin.

Terima kasih kepada : Info Denpasar, Gazez Bali

PURA MERU MATARAM


Image by: TripAdvisor

Pura Meru terletak di Wilayah Kelurahan Cakranegara Timur, Kecamatan Cakranegara, Kotamadya Mataram. Letaknya bersebrangan jalan dengan kompleks Taman Mayura, karena antara keduanya merupakan satu kesatuan di dalam konsepsi tata letak pusat pemerintahan kerajaan Cakranegara pada waktu itu. Pura Meru terletak di sebelah selatan jalan, sedangkan Taman Mayura di sebelah utara jalan. Antara keduanya mempunyai keterkaitan fungsi serta hubungan histori. Lokasi Pura Meru ini berjarak 2 km dari Mataram.

Sejarah Pura Meru
Pada masa pemerintahan raja Karangasem ke IV, yang di perintah oleh tiga orang bersaudara yaitu I Gusti Anglurah Wayan Karangasem, I Gusti Anglurah Nengah Karangasem, dan I Gusti Anglurah Ketut Karangasem telah berhasil meluaskan kekuasaan ke pulau Lombok pada tahun 1691. De Graaf berpendapat bahwa jatuhnya kerajaan Gelgel hampir bersamaan dengan bangkitnya kerajaan Karangasem Bali dan dikuasainya pulau Lombok. Situasi politik di pulau Lombok pada saat itu juga memberikan peluang besar kepada kerajaan Karangasem di Bali untuk menanamkan kekuasaannya di pulau ini.

Hubungan politik antara Bali dan Lombok di lanjutkan oleh kerajaan Karangasem di Bali dengan dua kerajaan besar yang ada di pulau Lombok pada abad XVII, yaitu kerajaan Selaparang di Lombok Timur sebagai kerajaan Pesisir, dan kerajaan Pejanggih di Lombok Tengah sebagai kerajaan Pedalaman. Hubungan ini dimulai ketika kedua kerajaan tersebut, menjalani kekacauan sehingga situasi itu dimanfaatkan oleh kerajaan Karangasem di Bali untuk mengadakan intervensi.

Pada wilayah kekuasaan kerajaan Karangasem Bali di pulau Lombok bagian barat, telah berdiri beberapa kerajaan-kerajaan kecil di bawah penguasa-penguasa bangsawan Karangasem Bali. Kerajaan-kerajaan kecil tersebut antara lain : kerajaan Pagesangan, kerajaan Kediri, kerajaan Sengkongo`, kerajaan Pagutan, kerajaan Mataram, dan kerajaan Singasari. Setelah adanya penaklukan terhadap pulau Lombok pada tahun 1691 sampai tahun 1740, di lokasi kerajaan yang dahulunya disebut Singasari inilah diganti namanya menjadi kerajaan Karangasem Sasak, dan kerajaan ini akan menjadi cikal bakal kerajaan Cakranegara. Pada tahun 1740 itu diperkirakan seluruh Lombok sudah dapat di kuasai oleh kerajaan karangasem Bali. Pendapat ini diperkuat oleh suatu informasi yang menyebutkan bahwa di beberapa daerah seperti Pejanggik, Purwa, dan Langko diharuskan membayar upeti dengan uang, daerah Sokong dan Bayan di kenakan upeti kapas, sedangkan daearah Praya, dan Batu Kliang di kenakan upeti darah (upeti getih) yaitu tidak membayar upeti dalam bentuk material melainkan apabila terjadi perang mereka harus membantu. Hal tersebut diperkirakan sudah berlangsung sejak tahun 1740. Di bawah pemerintahan Karangasem Bali, kekuatan politik bukan lagi berada di Lombok Timur, melainkan di pusatkan di Lombok Barat. Pada tahun 1741 raja Karangasem Bali menempatkan seorang penguasa I Gusti Wayan Tegeh yang berkedudukan di Tanjungkarang (sebelah selatan Ampenan sekarang atau berada disebelah barat kerajaan Pagesangan). Pada masa pemerintahannya ia berhasil memperkuat kedudukan Karangasem Sasak di pulau Lombok. di bawah perlindungan kerajaan Karangasem Bali, ia melakukan kegiatan dalam bidang perpajakan dan perdagangan. Setelah ia meninggal pada tahun 1775, ia digantikan oleh kedua putranya, yaitu I Gusti Made Karang yang di sebut dengan nama I Gusti Ngurah Made berdiam di Tanjungkarang, dan I Gusti Ketut Karang bertempat tinggal di Pagesangan. Kematian I Wayan Tegeh ternyata menimbulkan perpecahan, karena pengganti-penggantinya itu saling berebut kekuasaan. Konflik ini masih berlangsung sampai permulaan abad XIX dan bersamaan dengan munculnya dua kerajaan kecil lainnya yaitu kerajaan Sakra di Lombok Timur, dan kerajaan Kopang ada di Lombok Tengah.

Sejak meninggalnya I Gusti Wayan Tegeh pada tahun 1775, Tanjungkarang tidak lagi memegang peranan penting dan digantikan oleh munculnya kerajaan Karangasem sasak yang sejak tahun 1720 telah berada di bawah pemerintahan I Gusti Anglurah Made Karangasem, Dewata di Pesaren Anyar Bali. Tidak banyak yang dapat di ketahui tentang kegiatannya, namun dalam struktur pemerintahan kerajaan Karangasem Sasak di Lombok ia menempati status yang paling tinggi yaitu sebagai wakil (koordinator) kerajaan Karangasem di pulau Bali. pada saat itu raja Mataram berstatus sebagai Patih, sedangkan raja-raja kecil lainnya seperti kerajaan Pagutan, Pagesangan, Sengkongo`, dan kerajaan Kediri memiliki status sebagai manca. Semua penguasa di masing-masing kerajaan itu masih mempunyai hubungan kekeluargaan. Untuk menjaga persatuan dan kesatuan diantara mereka, maka pada tahun 1720 kerajaan Karangasem Sasak di Lombok membangun sebuah pura yang megah sebagai tempat persembahyangan, yaitu pura Meru di Cakranegara Lombok.

Dibangun pada tahun 1720 oleh I Gusti Anglurah Made Karangasem, Pura Meru didedikasikan untuk 3 dewa utama umat Hindu (Dewa Brahma, Dewa Siwa, dan Dewa Wisnu). Ketiga Meru tersebut juga mewakili tiga gunung yang dianggap suci oleh pemeluk agama Hindu; Pura Brahma mewakili Gunung Agung di Bali, Pura Siwa mewakili Gunung Rinjani di Lombok, dan Pura Wisnu yang diwakili oleh Gunung Semeru di Jawa Timur. Soal bentuk, hanya Pura Siwa yang memiliki atap susun 11, sedangkan Pura Wisnu dan Pura Brahma memiliki atap susun berjumlah 9. “Meru” merupakan singkatan dari Gunung Semeru yang berada di Jawa Timur. Anak Agung yang masih memiliki garis keturunan dari Kerajaan Singosari dari daerah Jawa Timur tidak melupakan bahwa Gunung Semeru juga merupakan gunung yang dianggap suci oleh leluhurnya. Maka dari itu, pura tersebut mengambil nama Gunung Semeru yang dipersingkat menjadi Pura Meru. Ketiga Meru tersebut juga memiliki arti simbol warna yang bermakna. Pada perayaan piodalan (acara untuk mengingat lahir kembalinya pura), setiap pura akan dihiasi dengan kain yang disesuaikan dengan warna yang berbeda. Pura Brahma akan dihiasi dengan warna merah yang berarti api, simbol kematian umat Hindu yang dikremasi menggunakan api. Pura Siwa menggunakan kain berwarna putih yang merupakan simbol air untuk mensucikan abu hasil kremasi sebelum dibuang ke laut. Sementara, Pura Wishnu akan dihiasi dengan kain hitam yang melambangkan kegelapan atau kehidupan baru setelah kematian.

Fungsi dari Pura Meru
Pura Meru berfungsi sebagai tempat persembahyangan bagi pemeluk agama Hindu Dharma. Di samping sebagai sarana kegiatan ritual keagamaan, bila dilihat dari latar belakang dibangunnya pura ini, secara politis berfungsi sebagai sarana pemersatu bagi orang-orang Bali yang ada di Lombok, terutama dalam hal menjalankan ajaran agama yang dianutnya. Karena pada waktu itu di Lombok terdapat beberapa buah kerajaan kecil dari penguasa Bali.
Di Pura Meru ini, dalam waktu satu tahun sekali diadakan upacara pujawali atau usadha, yaitu upacara besar pada bulan purnama bulan ke-4 menurut perhitungan kalender Bali, biasanya jatuh pada bulan September-Oktober kalender Masehi. Pada hari itu semua banjar atau kampung sebanyak 29 kampung membawa alat dari pura pemaksan masing-masing, datang ke Pura Meru kemudian melakukan upacara pujawali dan menghias sanggar masing-masing. Untuk tiga bangunan Meru, sesajen dibuat oleh Panitia Pura (dahuluu dilaksanakan oleh istana). Upacara pujawali biasanya dimulai didahului dengan upacara pembersihan dari pikolannya (disebut jempana) secara simbolis, hal ini disebut penyucian atau melasti. Upacara pembersihan ini dilakukan di pancuran air yang terletak di Pura Kelepug, Taman Mayura. Disini tampak jelas keterkaitan fungsi antara Pura Meru dengan Taman Mayura. Pada Sore harinya, barulah diadakan upacara pujawali yang secara keseluruhan memerlukan waktu tiga hari maka segala alat sanggah itu dibawa ke kampung, ke pemaksan masing-masing.

Filosofi Atap Pura Meru
Keindahan dan keagungan meru ditonjolkan oleh bentuk atapnya yang bertingkat tingkat yang disebut atap tumpang. Ini dapat dibedakan atas meru tumpang satu, dua, tiga, lima, tujuh, sembilan, dan sebelas. Meru sebagai perlambang atau simbolis alam semesta, tingkatan atapnya merupakan simbolis tingkatan lapisan alam yaitu bhuana agung (alam besar atau makrokosmos) dan bhuana alit (alam kecil atau mikrokosmos) dari bawah ke atas sebanyak sebelas tingkatan. Tingkatan tersebut yaitu :
1 = Sekala
2 = Niskala
3 = Cunya
4 = Taya
5 = Nirbana
6 = Moksa
7 = Suksmataya
8 = Turnyanta
9 = Ghoryanta
10 = Acintyataya, dan
11 =Cayen.
Ada juga meru beratap 21, namun biasanya ini dapat dilihat pada wadah atau bade pada saat ada upacara ngaben di Bali. Meru “khusus” ini memiliki pengertian Dasa Dewata sebagai dasar pokok, kemudian ditambah 11 tangga atma sebagai kelanjutannya. Tingkatan-tingkatan atap meru adalah simbolisasi penyatuan dasa aksara (huruf suci) sebagai urip (jiwa) dari meru atau alam semesta. Sepuluh huruf suci ini merupakan urip bhuana yang letaknya di 10 penjuru alam semesta termasuk di tengah. Ke-10 huruf itu adalah huruf suci sa (letaknya di timur, dewanya Iswara dan warnanya putih), ba (selatan, Brahma, merah), ta (barat, Mahadewa, kuning) a (utara, Wisnu, hitam), i (tengah, Ciwa, campuran atau panca warna), na (tenggara, Mahesora, merah muda atau dadu), ma (barat daya, Rudra, jingga), si (barat laut, Sangkara, hijau), wa (timur laut, Sambu, biru) dan ya (tengah atas, Ciwa, panca warna). Penunggalan 10 huruf itu menjadi satu lambang aksara suci bagi umat Hindu yaitu Omkara (huruf suci Sanghyang Widi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa). Sedangkan pengejawatahan ke-10 huruf suci dan huruf suci Omkara dalam meru diuraikan sbb.:

  1.  Meru beratap 11 adalah lambang dari 11 huruf suci — 10 huruf suci + huruf suci Omkara sebagai lambang Eka Dasa Dewata.
  2. Meru beratap 9 adalah lambang 8 huruf di seluruh penjuru (sa, ba, ta, a, na, ma, si, wa) + satu huruf Omkara di tengah, 9 huruf itu lambang Dewata Nawa Sanga.
  3. Meru beratap 7 adalah lambang 4 huruf (sa, ba, ta, a) + 3 huruf di tengah (i, Omkara, ya). Ini lambang Sapta Dewata/Rsi.
  4. Meru beratap 5 adalah simbolis dari 5 huruf (sa, ba, ta, a) + satu huruf Omkara di tengah. Ini lambang Panca Dewata.
  5. Meru beratap 3 adalah simbolis dari 3 huruf di tengah (i, Omkara, ya), merupakan lambang Tri Purusa yaitu Parama Siwa, Sada Siwa dan Siwa.
  6. Meru beratap 2 adalah simbolis dari dua huruf di tengah (i, ya) adalah lambang dari Purusa dan Pradhana (Ibu-Bapak).
  7. Meru beratap satu adalah simbolis dari penunggalan ke-10 huruf suci itu yaitu “Om” atau Omkara sebagai perlambang Sang Hyang Tunggal (Sanghyang Widi Wasa atau Tuhan Yang Maha Esa).