Advertisements

Paduarsana

Berbagi tentang: Hindu, Bali dan Budayanya.

PURA BATU BOLONG DI LOMBOK BARAT


Pura Batubolong berlokasi di Jalan Raya Senggigi kurang lebih 13 Km dari Kota Mataram dan dibangun diperkirakan pada pertengahan abad ke‑XV oleh Danghyang Nirartha. Beliau datang ke Lombok untuk kedua kalinya pada tahun 1533 Masehi menggunakan Perahu Layar milik seorang Nelayan Suku Sasak‑Lombok yang terdampar di Pantai Ponjok Batu Desa itulah perbatasan antara Kabupaten Beleleng dan Karangasem‑Bali.

Pada saat itu seorang nelayan ditemukan dalam kondisi kritis karena berhari‑hari tidak makan kemudian perahunya rusak dan bocor terombang‑ambing arus gelombang laut serta angin kencang akhirnya nelayan tersebut selamat atas pertolongan Sang Resi dan masyarakat pesisir Pantai. Kemudian bermodal Perahu Layar yang rusak dan bocor tadi Sang Resi bersama seorang Nelayan tersebut dapat menyebrangi Selat ­Lombok dengan menyisir pantai utara Pulau Lombok. Anehnya selama perjalanan, air laut betul­betul landai dan tenang serta ditambah dengan hembusan angin barat sehingga dalam waktu sekejap Sang Resi dan seorang Nelayan tadi sampai di Pesisir Pantai Enjung Ukur/Bukur Dusun Malimbu Desa Malaka Kecamatan Pemenang Lombok‑ Utara Kabupaten Lombok Barat.

Image by: Manacikapura

Disana beliau beristirahat dan melaksanakan semadi sehingga sampai sekarang ada kita jumpai Pura Tanjung Ukur/Bukur dan 2 km arah tenggara kita jumpai Pura Teluk Sekedik dimana sampai saat ini tetap ajeg sering dikunjungi umat.

Dari Teluk Sekedik beliau melanjutkan perjalanan kearah utara sampai di Enjung Kaprus karena disaat air laut pasang disana dapat kita jumpai sebuah gua kecil bila kena deburan ombak yang keras akan mengeluarkan semburan air ke atas dengan ketinggian bisa mencapai sepuluh meteran sehingga pura yang ada disana disebut Pura Kaprusan.

Beranjak dari Pura Kaprusan Sang Resi menyisir pantai arah timur kurang lebih 3 km dan sampailah beliau di Karang Bolong untuk beristirahat. Dalam peristirahatan itulah beliau mendirikan Pelinggih di Enjung Karang Bolong untuk melaksanakan Semadi dan sekarang kita kenal dengan sebutan Pura Batubolong karena di Enjung itu terdapat Batu besar yang berlubang atau bolong.

Batu besar yang berlubang/bolong tersebut sering dijadikan jalan penyebrangan oleh masyarakat setempat dari Pantai Duduk ke Pantai Ejung Karang Bolong pada saat‑saat air surut karena pada abad ke‑XVIII jalan raya sekarang ini belum ada. Beranjak dari Karang Bolong Sang Resi kembali menyisir pantai ke arah tenggara melalui kokol meniti (Kali Meninting) dan Kokol Jangkok (Kali Jangkok) kemudian dari Ampenan Sang Resi melanjutkan perjalanannya menuju Karang Medain, Lingsar dan Suranadi.

Di Suranadi Sang Resi banyak memberikan pelajaran kerohanian kepada masyarakat setempat tentang Kalpasastra dan Phalakerta serta ajaran keseimbangan hidup yang di kenal dengan Sukerta Tata Pawongan, Sukerta Tata Palemahan dan Sukerta Tata Pagaman.
Artinya keharmonisan hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan lingkungannya dan manusia dengan Tuhan Pencipta jagad raya ini yang sering disebut TRIHITA KARANA.
Sejalan dengan konsep ajaran Sang Resi sampai sekarang dapat kita jumpai ditengah-tengah masyarakat Suku Sasak dan Suku Bali ada di‑Lombok tetap dapat menjalin rasa persatuan dan kesatuan serta budaya gotong-royong terutama pada saat acara‑acara kekeluargaan.

Selanjutnya kembali kita menengok Pura Batubolong bahwa keberadaannya sesuai dengan konsep Khayangan Jagad di‑Bali yang selalu mengambil tempat di gunung dan di tepi pantai dekat laut, karena secara kasat mata gunung dan laut memberikan nuansa panorama yang indah dan segar tetapi mampu memberikan getaran spriritual yang berdimensi kearah kesucian, kekhusukan dan kedamaian.

Secara filosofis, konsepsi segara gunung adalah simbol Purusa‑Predana sebagai lambang kehidupan jasmani dan rohani yang seimbang sehingga dapat mendorong kearah penghayatan dan keheningan dalam mengagungkan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa.
Apabila dilihat dari sisi tempat Pura Batubolong sangat ideal sekali karena perpaduan antara gunung dan laut menjadi satu kesatuan yang utuh sehingga tidak mengherankan Pura Batubolong sangat dikenal dan banyak dikunjungi, tidak saja oleh umat Hindu sendiri tapi touris-­touris domestik maupun mancanegara.

Melihat keberadaan Pura Batubolong yang indah dan alami pada pertengahan abad ke‑XVI secara berangsur‑angsur terus dibenahi oleh umat yang berdomisili di Karang Ujung Ampenan dan Kampung Tanambet artinya masyarakat‑nya sebagian besar melek aksara sehingga sekarang lebih dikenal dengan sebutan Dusun Tanah Embet Desa Batulayar Kecamatan Batulayar Kabupaten Lombok Barat.
Kemudian bila kita membaca Awig‑awig Banjar Tanah Embet yang sudah ada sejak 1782 Masehi, di Dusun ini banyak tokoh‑tokoh agama/ masyarakat yang sudah mengabdikan diri mengadakan perbaikan‑perbaikan atau renopasi di Pura Batubolong seperti ; I Wayan Kusamba, I Made Pedoman dan I Gde Sari pada jaman nyeneng Anak Agung Dewata Sakti.
Kemudian I Wayan Siman dan I Wayan ‘Sari pada jaman nyeneng Anak Agung Dewata Ring Rum dan I Gde Nakti, Mangku Gde Subrata, Mangku Gde Drawi, Mangku Made Nagging dan I Made Teges pada jaman nyeneng Anak Agung Ngurah awal abad ke‑XIX.
Selanjutnya di era tahun 1970‑1980‑an sampai sekarang Pujawali Pura Batubolong dilaksanakan setiap tahunnya pada Purnamaning Kasa atau Srewana sekitar bulan Juni dan Juli.
Sedangkan pelaksanaan upacara dan upakara Pujawali di emong oleh 7 krama banjar yang ada di kecamatan Batulayar dan dikoordinir oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia Kecamatan Batulayar.

Fakta Menarik

  • Dapat melihat Gunung Agung di Pulau Bali dari atas Pura Batu Bolong.
  • Pura Batu Bolong kerap dijadikan sebagai obyek wisata spiritual.
  • Terdapat mata air berupa telaga dengan air jernih berwarna biru.
  • Sumber mata air yang berada di Pura Batu Bolong diyakini mampu menyembuhkan beberapa penyakit kulit, seperti gatal-gatal, panu juga jenis penyakit kulit lainnya.

Mitos
Menurut legenda masyarakat setempat, dahulu sering diadakan upacara pengorbanan seorang perawan untuk dipersembahkan kepada hiu sang penguasa lautan kala itu. Legenda lain mengisahkan bahwa banyak wanita yang patah hati menerjunkan diri ke laut di tempat ini. Menarik bukan, jika kita membayangkan seorang perawan diterjunkan dari puncak karang ini dan disambut oleh seekor hiu di bawahnya. Wuiiih, seram!

Terima kasih: Leak Bali

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: