Paduarsana

Berbagi Tentang Semua Hal

Category Archives: Upacara

Upacara Agama Hindu


Banyak pertanyaan dari teman-teman non-Hindu, kenapa umat Hindu banyak sekali melakukan upacara dan biayanya sangat mahal. Adalah Ida Bhagawan Dwija menjelaskan secara gamblang apa tujuan upacara/upakara, yadnya dll. Mudah-mudah dapat memberikan pencerahan bagi kita semua.

Hindu memiliki 3(tiga) kerangka agama dasar yaitu: Tattwa, Susila, dan Upacara. Yang dimaksud dengan Tattwa adalah cara kita melaksanakan ajaran agama dengan mendalami pengetahuan dan filsafat agama. Susila adalah cara kita beragama dengan mengendalikan pikiran, perkataan, dan perbuatan sehari-hari agar sesuai dengan kaidah-kaidah agama. Upacara adalah kegiatan keagamaan dalam bentuk ritual Yadnya, yang dikenal dengan Panca Yadnya: Dewa, Rsi, Pitra, Manusa, dan Bhuta Yadnya.

Yang berkaitan dengan pertanyaan tersebut diatas adalah kegiatan-kegiatan upacara yang lebih banyak terlihat dilaksanakan oleh umat Hindu di Bali, sedangkan segi-segi tattwa dan susila kurang diperhatikan, padahal menurut Weda Sruti, cara umat Hindu menjalankan agama ditiap “yuga” berbeda-beda.

Yuga adalah suatu siklus zaman yang lama waktunya di setiap zaman tidak menentu. Zaman keberadaan jagat raya ini dibagi dalam empat yuga(catur yuga), yaitu Kerta Yuga, Tritya Yuga, Dwipara Yuga, dan Kali Yuga.

Tiap periode (yuga) dikaitkan dengan unsur-unsur pokok:

  1. Perimbangan jumlah penduduk (manusia) dengan alam (kamadhuk)
  2. Pengaruh zaman pada sifat-sifat manusia
  3. Sumber-sumber alam yang tersedia

Zaman Kerta disebut sebagai zaman yang paling stabil, yaitu penduduk yang tidak banyak, sifat-sifat manusia yang baik/ positif, dan tersedianya sumber-sumber alam yang melimpah. Kestabilan itu selanjutnya makin berkurang sehingga di zaman Kali keadaan sudah jauh berbeda, terutama mengenai berkurangnya sumber-sumber alam, dan perilaku manusia yang makin jauh dari dharma.

Oleh karena itu Hyang Widhi melalui para Maha Rsi mengingatkan umat manusia agar pelaksanaan ajaran agama tidak sama pada setiap zaman. Di zaman Kerta dan Tritya, pelaksanaan upacara-upacara yadnya dengan menggunakan sarana upakara (banten) lebih menonjol daripada pengetahuan agama (tattwa) dan susila karena:

  1. Sumber-sumber alam masih melimpah
  2. Tingkat kecerdasan manusia masih rendah di mana segi positifnya manusia belum mempunyai pikiran macam-macam (masih lugu) dan gampang dibimbing oleh para Maha Rsi untuk melaksanakan ajaran agama

Di zaman Dwipara, apalagi di zaman Kali seperti sekarang ini cara kita melaksanakan ajaran agama harusnya lebih menekankan segi tattwa dan susila daripada upacara karena:

  1. Kemampuan alam menyediakan keperluan manusia berkurang disebabkan jumlah penduduk meningkat drastis sedangkan alam: lahan, tanaman dan binatang makin berkurang.
  2. Kecerdasan manusia meningkat namun dengan berbagai dampak negatifnya seperti: sad-ripu (kama, lobha, kroda, mada, moha, dan matsarya) yang semakin menonjol, dan umat makin sulit dibimbing oleh para pemuka agama selain karena jumlah mereka terbatas, juga karena banyak umat yang tidak menyadari perlunya siraman rohani.

Umat lebih mementingkan kebutuhan materi seperti sandang, pangan, papan, tetapi kurang memperhatikan kesehatan rohani, padahal kesehatan rohani akan membawa manusia pada perasaan yang suci, tenang, damai, dan bahagia. Dengan penjelasan di atas, Pandita ingin menyampaikan bahwa di zaman sekarang ini umat agar melaksanakan tiga kerangka agama Hindu dengan bobot yang lebih banyak pada segi pemahaman tattwa dan menjaga susila sebaik-baiknya.

Upacara-upacara Yadnya tetap perlu dilaksanakan namun diupayakan sesederhana mungkin dengan biaya upakara yang terjangkau oleh kemampuan masing-masing. Janganlah memaksakan diri mencari dana seperti menjual tanah warisan leluhur, mencari hutang yang besar, lebih-lebih dengan ber-KKN.

Di beberapa tempat ada penduduk suatu desa yang mencari dana membangun Pura atau melaksanakan upacara Yadnya dengan mengadakan tajen. Hal ini tentulah sangat bertentangan dengan ajaran agama, karena tajen adalah judi, dan judi dilarang dalam agama Hindu.

Para leluhur kita telah mengajarkan bahwa sesajen (banten) itu dapat disederhanakan. Oleh karena itu dilihat dari volumenya, bebanten dapat dikelompokkan pada tiga jenis, yaitu:

  1. Banten yang alit
  2. Banten yang madya
  3. Banten yang utama

Banten sederhana (alit) tidaklah berati nilainya lebih rendah daripada yang madya dan utama, demikian sebaliknya. Yang menentukan sukses tidak suksesnya upacara Yadnya tidaklah terletak pada banten saja, tetapi yang lebih penting adalah niat berkorban dalam kesucian yang tulus dan iklas sebagaimana hakekat pengetian “Yadnya”.

Dalam konteks ini ada tiga jenis Yadnya, yaitu:

  1. Satwika Yadnya
  2. Rajasika Yadnya
  3. Tamasika Yadnya

Satwika Yadnya adalah Yadnya yang dilaksanakan secara tulus, suci, dan sesuai dengan kemampuan. Rajasika Yadnya adalah Yadnya yang didorong oleh keinginan menonjolkan diri seperti kekayaan, kekuasaan, dan hal-hal yang bersifat feodalisme: kebangsawanan, kesombongan, penonjolan soroh, dll. Tamasika Yadnya adalah Yadnya yang dilaksanakan oleh orang-orang yang tidak mengerti pada tujuan Yadnya. Dengan demikian jelaslah bahwa Yadnya yang terbaik adalah Satwika Yadnya. Mengenai bebanten, ada disebutkan dalam lontar Yadnya Prakerti bahwa kita mempersiapkan banten sesuai dengan Desa, Kala, dan Patra.

Yang dimaksud dengan Desa adalah menggunakan bahan-bahan banten yang berasal dari lingkungan tempat tinggal kita. Kala adalah waktu yang tersedia untuk menyiapkan banten, dan Patra adalah dana yang tersedia untuk membeli bahan-bahan. Jika kita perhatikan sekarang, banyak sekali umat menggunakan bahan-bahan banten yang tidak berasal dari desa kita seperti buah apel, pir, anggur, dan lain-lain.

Buah-buahan lokal seperti sabo, manggis, ceroring, kepundung, wani, kucalcil. dll. hampir tidak nampak. Itu tandanya bahwa di kebun-kebun penduduk jenis buah-buahan itu sudah langka. Selain itu busung, biu, bahkan bebek dan ayam sudah didatangkan dari luar Bali. Busung datang dari Lombok atau Sulawesi, biu, bebek, dan ayam ber ton-ton didatangkan dari Jawa.

Keadaan seperti ini hendaknya menjadi perhatian kita yang serius dengan mengambil langkah-langkah yang positif misalnya: menanami lahan-lahan dengan bahan-bahan banten seperti pisang, kelapa gading, bunga-bungaan, buah-buahan, dll. Para peternak/ petani lebih giat lagi memelihara binatang seperti ayam, bebek, babi dll.

Langkah lainnya kembali kepada bahasan di atas, yaitu buatlah sesajen atau banten dengan sederhana tetapi tidak menyimpang dari sastra-sastra agama sehingga semua umat dapat melaksanakan upacara yadnya sesuai dengan kemampuan keuangannya masing-masing.

 

 

 

Upacara Sudi Wadani


Upacara Sudi Wadani adalah Upacara yang wajib dilakukan bagi umat non-Hindu yang ingin memeluk Hindu. Upacara ini  tidak hanya sebagai pencatatan administratif bagi yang menjalankannya, melainkan juga bermakna sebagai bentuk penyucian diri dan pernyataan spiritual bahwa yang bersangkutan siap melaksanakan seluruh ajaran agama Hindu.

Sudi Wadani terdiri dari 2(dua) suku kata yaitu Sudi artinya penyucian, Wadani artinya ucapan-ucapan/pernyataan berupa kata-kata. Sudi Wadani adalah perkataan penyucian.
Jadi upacara Sudi Wadani adalah upacara pada waktu melakukan penyucian, menjadi Agama Hindu.

Adapun persyaratan masuk Hindu dan dilangsungkannya upacara sudi wadani adalah sebagai berikut :

  1. Buat Surat Pernyataan masuk Hindu atas dasar kemauan sendiri/tanpa ada paksaan dari siapapun (bermaterai Rp. 6.000,-).
  2. Tunjukkan surat pernyataan tersebut untuk meminta blangko Sudi Wadani kepada PHDI setempat.
  3. Lakukan upacara Sudi Wadani ditempat rohaniawan (baik Sulinggih atau Pemangku/Pinandita).
  4. Blangko Sudi Wadani dari PHDI kemudian ditandatangani oleh orang yang bersangkutan, PHDI (sebagai saksi) dan rohaniawan yang muput upacara.
  5. Setelah blangko selesai diisi dan ditandatangani maka tinggal menunggu sertifikat Sudi Wadani yang akan dikeluarkan oleh PHDI setempat.
  6. Setelah sertifikat ini keluar secara administratif  yang bersangkutan sudah sah menjadi Hindu.

Untuk lebih jelasnya, dapat tanya langsung ke PHDI setempat.

Sarana Upacara Sudi Wadani:

  1. Mempergunakan bebanten biyakala prayascita dan tataban sesuai dengan kemampuan (utama).
  2. Mempergunakan Bhasma air cendana (madya).
  3. Mempergunakan air, bunga, bija, (nista),

Pelaksanaannya selalu disertai dengan api(agni hotra).

Mantram yang diucapkan saat upacara sudi wadani:
Om. Sa, ba, ta, a, i, na, ma, si, wa, ya, Ang Ung Mang. Om.

Semoga bermanfaat. Astungkara.

Artikel Lain:

  1. Perjalanan Spiritual Seorang Mahasiswi
  2. Perjalanan Spiritual Seorang Gadis Sasak

Sugihan Jawa Napi Sugihan Bali?


Bali Post- SANTUKAN nginutuin paitungan wuku, akéhan piodalan utawi upacara-upacara ring Agama Hindu rauh nyabran 210 rahina apisan (ngenem bulan apisan). Minakadi rahina Galungan sané jagi rauh puniki jatuh nepet rahina Buda Kliwon wuku Dunggulan tanggal 29/8 sané taler jatuh nyabran 210 rahina apisan.

Suasana Hari Raya Galungan, Sumber: Balikami

Rahina Galungan puniki madué reruntutan mawit saking selai lemeng sadurungnyané sané kawastanin Tumpek Wariga (Tumpek Bubuh). Salanturnyané, limolas rahina sadurung Galungan matepetan sareng rahina Anggara Kliwon, wuku Julungwangi kawastanin rahina Anggarkasih Julungwangi. Ring rahina Buda Pon, wuku Sungsang kawastanin rahinan Sugihan Pangenten, ngenem dina sadurung Galungan ring rahina Wraspati Wagé, wuku Sungsang kawastanin rahina Sugihan Jawa. Salanturyane ring rahina Sukra Kliwon, wuku Sungsang, kawastanin rahina Sugihan Bali. Redite Paing, wuku Dungulan kawastainin rahina Panyekeban. Soma Pon, wuku Dungulan kawastanin rahina Penyajaan. Anggara Wagé, wuku Dungulan kawastanin Penampahan Galungan. Ring rahina Buda Kliwon, wuku Dungulan puniki sané kawastanin rahina Galungan. Benjangnyané, Wraspati Umanis, wuku Dungulan kawastanin Umanis Galungan. Ring rahina Saniscara Pon, wuku Dungulan kawastanin rahina Pamaridan Guru. Rahina Redite Wagé, wuku Kuningan kawastanin Ulihan. Rahina Soma Kliwon, wuku Kuningan rahina Pamacekan Agung. Rahina Sukra Wagé, Wuku Kuningan kawastanin Penampahan Kuningan. Rahina Saniscara Kliwon, wuku Kuningan piniki sané kawastanin rahina Kuningan. Salanturnyané pamuput reruntutan rahina Galungan lan Kunigan sané jatuh ring rahina Buda Kliwon, wuku Pahang kawastanin Pegat Uwaka. Ring rahina punika, makasami rahina reruntutan Galungan sampun usan kalaksanayang.

Ring Rahina Buda Pon, wuku Sungsang sané kawastanin rahinan Sugihan Pangenten puniki madué teges ngentenin, ngélingang malih mangda krama prasida ngeret indria, nénten malaksana sané boya-boya. Mawit Sugihan Pangenten ngantos Buda Kliwon Pahang kawastanin Nguncal Balung. Nguncal Balung tegesnyané ngicalang pikayunan sané nénten becik santukan keni gegodan Sang Kala Tiga. Sang Kala Tiga antuk wujudnyané pinaka Purusa (Kala Rudra) taler wujudnyané pradana (Durga Murti) mangda prasida mawali somia. Santukan punika, ri kala Nguncal Balung puniki nénten dados ngambil pakaryan minakadi ngwangun umah (jero), ngwangun sanggah utawi merajan, miwah nglaksanayang upacara pawiwahan.

Sinalih tunggil cara anggén nyujuh tetujon sané kaaptiang rikala Sugihan Pangenten inggih punika Nglawang utawi nyolahang barong tur mailehan ring wewidangan désa adat. Ri kala punika, Déwa Tri Murti ngripta para Bhuta Kala. Déwa Brahma dados Topeng Bang, Déwa Wisnu dados Telek, Déwa Siwa dados Barong. Makasami barong puniki sané kairingang tur kasolahang ri kala Nglawang.

Arahina risampuné Sugihan Pangenten kawastanin Sugihan Jawa sané jatuh ring rahina Wraspati Wagé, wuku Sungsang. Benjangnyané ring rahina Sukra Kliwon, wuku Sungsang kawastanin rahina Sugihan Bali. Sugihan Jawa mateges nyuciang Bhuana Agung (makrokosmos) mawit saking sekala miwah niskala sané kaniasayang antuk nglaksanayang pamuspan ring genah-genah suci rumasuk ring merajan. Yéning Sugihan Bali mateges nyuciang Bhuana alit utawi angga sarira antuk nglaksanayang panglukatan majeng angga sarirané. Lianan nglaksanayang penglukatan, taler kalaksanayang bakti Yoga sané matetujon ngicénin katreptian pikayunan.

Kantun akéh krama Hindu ring Bali sané bimbang yéning sampun maosang pacang nglaksanayang Sugihan. Krama Bali kantun bimbang Sugihan sané cén pacang kalaksanayang. Sugihan Bali napi Sugihan Jawa? Wénten sané maosang mangda nglaksanayang Sugihan Jawa santukan keturunan saking Kerajaan Majapahit (Jawa) tur wénten taler sané maosang mangda nglaksanayang Sugihan Bali santukan keturunan wong Bali asli. Napiké yakti sakadi punika?

Sujatinipun cawisannyané sampun kaunggahang ring sajeroning Lontar Sundarigama sakadi puniki, “Sungsang, wrehaspati Wagé ngaran parerebuan, sugyan jawa kajar ing loka, katwinya sugyan jawa ta ngaran, apan pakretin bhatara kabeh arerebon ring sanggar mwang ring parahyangan, dulurin pangraratan, pangresikan ring bhatara saha puspa wangi. Kunang wwang wruh ing tattwa jnana, pasang yoga, sang wiku angarga puja, apan bhatara tumurun mareng madyapada, milu sang Déwa pitara, amukti bante anerus tekeng galungan. Prakerti nikang wwang, sasayut mwang tutwan, pangarad kasukan ngaranya.

Sukra Kliwon, sugyan Bali, sugyan ing manusa loka, paknanya pamretistan ing raga tawulan, kewala sira apeningan anadaha tirta panglukatan, pabersihan ring sang Pandita”.

Tegesipun inggih punika : ri kala wuku Sungsang, rahina Wraspati Wagé Sungsang kawastanin parerebuan utawi Sugihan Jawa sané kategesang nyuciang Bhuana Agung (makrokosmos) olih krama. Kawastanin Sugihan Jawa santukan pinaka rahina suci majeng para Bhatara sané kaniasayang antuk nglaksanayang rerebu ring sanggar, parahyangan miwah ring pura-pura siosan, kalanturang antuk nglaksanayang pangraratan miwah pangeresikan. Taler wénten sané nglaksanayang Yoga. Para Pandita nglaksanayang puja pangastawa sané ageng santukan ring rahina puniki Bhatara pacang tedun ka marcapada kairing antuk makasami para Déwa taler leluhur sané jagi nunas aturan sané kaunggahang. Aturan sané kaunggahang inggih punika Sesayut Tutwam utawi sané kasengguh Ngarad Kasukan (penarik kebahagiaan).

Ring rahina Sukra Kliwon Sungsang, kawastanin Sugihan Bali, rahina suci majeng Umat Hindu makasami sané mateges nyuciang angga sarira (mikrokosmos) taler nunas Tirtha Penglukatan ring Ida Ratu Pedanda.

Iraga dados krama Hindu, makekalih rahina Sugihan puniki patut kamargiang manut tegesnyané soang-soang. Sugihan Jawa mateges nyuciang Bhuana Agung utawi makrokosmos. Sugihan Bali mateges nyuciang Bhuana Alit utawi angga sarira. Upacara Sugihan Jawa utawi Siguhan Bali nénten ja kalaksanayang manut keturunan kémanten.

Ring Sugihan Jawa utawi Sugihan Bali sané pacang rauh puniki, kaaptiang majeng para krama mangda prasida ngamargiang pamuspan utawi panyucian ring makekalih rahina puniki. Rahina Sugihan Jawa sané jagi rauh nepet tanggal 23/8, yéning Sugihan Bali nepet tanggal 24/8.