Advertisements

Paduarsana

Berbagi tentang: Hindu, Bali dan Budayanya.

Trend Kamar Suci Umat Hindu


Banyak umat Hindu yang mampu secara financial membuat sebuah kamar khusus untuk melakukan persembahyangan yang trend disebut kamar suci. Apa beda merajan dengan kamar suci? jika ada yang disebut kamar suci, lalu kamar yang lainnya yang letaknya bersebelahan (hanya dipisahkan oleh tembok) yang juga dipasang pelangkiran, tidak dianggap suci??

Suci atau tidak suci, sesungguhnya siapakah yang tahu? adakah manusia biasa yang mampu menilai? yang jelas, secara umum dalam pandangan awam, pura atau tempat ibadah digolongkan tempat suci. Sedangkan rumah bukanlah sebagai tempat suci. Begitu pula sebuah keris, tombak atau barong yang ditempatkan di pura termasuk benda suci berbeda jika benda-benda tersebut terpajang di art shop maka benda-benda tersebut bukanlah benda suci. Proses pembuatan suatu benda sering dipakai sebagai ukuran kesucian suatu benda atau tempat. Jika pada proses pembuatanya dilakukan upacara khusus atau sakralisasi maka benda atau tempat tersebut bisa dikatakan suci. Banyak umat yang hanya bisa melihat sebatas ini.

Terlepas dari pengertia suci, adanya trend mendirikan kamar suci merupakan fenomena yang menarik. Banyak hal-hal positif yang terkandung didalamnya. Merajan memang merupakan tempat sembahyang atau tempat melakukan pemujaan, namun merajan sering dipandang sebagai tempat pemujaan roh leluhur keluarga yang bersangkutan. Sehingga ada orang yang tidak mau sembahyang di merajan orang lain. Kamar suci dipandang sebagai hal yang lebih pas jika ada tamu yang datang ke sebuah keluarga dan ingin bersembahyang.

Mendirikan kamar suci sepanjang untuk meningkatkan spiritual dan tidak mengganggu orang lain bukan suatu hal yang salah, namun kamar suci bukanlah sebuah keharusan tapi tidak salah jika dibuat. Merajan tidak harus dibuat jika dilihat dari filosofis. misalnya sebuah keluarga yang tinggal di rumah susun.

Umat Hindu diluar etnis Bali lebih-lebih yang tinggal diluar pulau Bali banyak yang tidak membuat merajan, hal ini tidak dapat dipandang bahwa mereka tidak melakukan pemujaan terhadap Tuhan dan Leluhur. Merajan atau tempat suci apapun namanya, hanyalah benda budaya sebagai media untuk melakukan pemujaan. Karena berupa media boleh ada boleh juga tidak. Disini faktor budaya sangat mendukung, jika umat Hindu di jawa mendirikan merajan disetiap rumahnya mungkin tetangga sesama umat Hindu akan bertanya. namun jika umat Hindu di Bali tidak mendirikan merajan di rumah juga pasti akan di pertanyakan tetangga kiri kanan. Jadi faktor desa-kala-patra sangat menentukan kehidupan beragama seseorang.

Kualitas spiritual seseorang tidak dapat dinilai dari megahnya pemerajan atau mewahnya kamar suci. Pada akhirnya kualitas seseorang bisa dilihat dari tingkah lakunya.

Sumber: pustaka bali post.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: