Advertisements

Paduarsana

Berbagi tentang: Hindu, Bali dan Budayanya.

Tag Archives: tri kaya parisudha

Implementasi Tri Kaya Parisudha


Kita tentu tidak asing dengan kalimat Tri Kaya Parisudha, dilihat dari artinya kata Tri berarti Tiga, Kaya berarti Karya, Perbuatan atau Prilaku, Sedangkan Parisudha berarti usaha pensucian. Jadi Tri Kaya Parisudha adalah 3 (tiga) gerak,karya, perbuatan atau prilaku manusia yang harus disucikan. Tri Kaya Parisudha terdiri dari Manacika(Pikiran), Wacika(Perkataan) dan Kayika(Perbuatan).

Mensucikan Pikiran(Manacika).

Pikiran merupakan dasar dari prilaku manusia baik perkataan(wacika) maupun perbuatan(kayika), dari pikiran yang bersih, suci akan menghasilkan perkataan dan perbuatan yang baik dan mampu menciptakan suasana yang kondusif disekitar kita. Pikiran buruk akan menghasilkan keadaan yang tidak baik bagi diri sendiri maupun orang-orang disekitar kita.

Pikiran baik tentu saja tidak berpikir hal-hal buruk terhadap suatu objek misal berpikir buruk ketika melihat wanita berpakaian seksi, tidak berpikir buruk terhadap orang kaya. Jika kita berpikir negatif(buruk) terhadap dua contoh objek diatas maka yang terjadi akan timbul perkataan yang melecehkan, menghina atau menuduh yang tidak-tidak, bahkan bukan tidak mungkin akan terjadi tindakan/perbuatan(kayika) yang melanggar hukum(pelecehan seksual atau perampokan).

Bagaimana mensucikan pikiran bathin kita?

Tidak ada satu orang pun yang mampu mensucikan pikiran kita jika bukan diri kita sendiri. Hal ini dinyatakan dengan tegas didalam Hindu, Bahwa; Tidak ada makhluk dari alam mana pun yang dapat mensucikan bathin kita, apabila kita sendiri tidak berusaha kerah itu terlebih benda-benda materi tentu tidak tak mungkin mensucikan siapa-siapa.

Di dalam Saracamuscaya disebutkan ada 3(tiga) hal yang harus dilakukan untuk dapat membersihkan bathin kita, adalah:

  1. Tidak menginginkan sesuatu yang tidak layak atau halal. Menginginkan sesuatu milik orang lain juga merupakan hal yang dapat menimbulkan pikiran negatif misal: berpikir curang.
  2. Tidak berpikiran negatif terhadap makhluk lain.  Misal: tidak negatif thinking melihat wanita seksi, melihat orang lain sukses dll.
  3. Tidak mengingkari Hukum Karma Phala.  Memahami bahwa segala perbuatan akan menghasilkan akibat, perbuatan baik akan menghasilkan kebaikan, Perbuatan Buruk akan menghasilkan hal yang buruk.

Mensucikan Perkataan(Wacika)

Terdapat empat macam perbuatan melalui perkataan yang patut di kendalikan, yaitu:

1. Tidak suka mencaci maki.
2. Tidak berkata-kata kasar pada siapapun.
3. Tidak menjelek-jelekan, apalagi memfitnah makhluk lain.
4. Tidak ingkar janji atau berkata bohong.

Demikianlah disebutkan dalam Sarasamuscaya; kiranya jelas bagi kita bahwa betapa sebetulnya semua tuntunan praktis bagi pensucian batin telah tersedia. Kita harus dapat menerapkannya sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Mensucikan Perbuatan (Kayika)

Terdapat tiga hal utama yang harus dikendalikan, yaitu:

1. Tidak menyakiti, menyiksa, apalagi membunuh-bunuh makhluk lain.
2. Tidak berbuat curang, sehingga berakibat merugikan siapa saja.
3. Tidak berjinah atau yang serupa itu.

Implementasi Tri Kaya Parisudha dalam kehidupan sehari-hari sangat nyata hasilnya untuk mencapai keadaan harmonis dalam diri sendiri maupun terhadap orang lain.

**Diolah dari berbagai sumber.

Advertisements

Perbuatan Baik dan Perbuatan Buruk


Baik atau buruknya sebuah perbuatan sering diidentikkan dengan konsep Rwa Bhinneda dimana konsep perbedaan(dualitas) untuk keharmonisan dan keseimbangan alam semesta. Baik atau buruknya suatu perbuatan ditentukan oleh nilai. Di dalam agama Hindu perbuatan baik disebut Chuba Karma sedangkan perbuatan buruk(tidak baik) disebut Achuba Karma dan Siklus chuba karma dan achuba karma senantiasa berhubungan tidak terpisahkan.

Menentukan suatu perbuatan baik dan buruk bukan hal yang mudah, bisa dikatakan relatif karena kadang perbuatan baik untuk seseorang belum baik bagi orang lain begitu juga sebaliknya. Dalam agama Hindu perbuatab baik atau Chuba Karma adalah  segala bentuk tingkah laku yang dibenarkan oleh ajaran agama yang dapat menuntun manusia untuk hidup yang sempurna, bahagia lahir bathin dan menuju kepada bersatunya Atman dengan Brahman (Tuhan Yang Maha Esa). Sedangkan perbuatan tidak baik(buruk) adalah segala tingkah laku yang menyimpang dan bertentangan dengan ketentuan agama.

Bentuk-bentuk perbuatan baik (chuba karma) dan perbuatan tidak baik(buruk) dalam agama Hindu adalah sebagai berikut:

Chuba Karma atau Perbuatan Baik.

  1. Tri Kaya Parisudha, Tri kaya Parisudha artinya tiga gerak perilaku manusia yang harus disucikan, yaitu berfikir yang bersih dan suci (manacika), berkata yang benar (Wacika) dan berbuat yang jujur (Kayika). Jadi dari pikiran yang bersih akan timbul perkataan yang baik dan perbuatan yang jujur. Dari Tri Kaya Parisudha ini timbul adanya sepuluh pengendalian diri yaitu 3 macam berdasarkan pikiran, 4 macam berdasarkan perkataan dan 3 macam lagi berdasarkan perbuatan. Tiga macam yang berdasarkan pikiran adalah tidak menginginkan sesuatu yang tidak halal, tidak berpikiran buruk terhadap mahkluk lain dan tidak mengingkari adanya hukum karmaphala. Sedangkan empat macam yang berdasarkan atas perkataan adalah tidak suka mencaci maki, tidak berkata kasar kepada makhluk lain, tidak memfitnah dan tidak ingkar pada janji atau ucapan. Selanjutnya tiga macam pengendalian yang berdasarkan atas perbuatan adalah tidak menyiksa atau membunuh makhluk lain, tidak melakukan kecurangan terhadap harta benda dan tidak berjina.
  2. Catur Paramita, Catur Paramita adalah empat bentuk budi luhur, yaitu Maitri, Karuna, Mudita dan Upeksa. Maitri artinya lemah lembut, yang merupakan bagian budi luhur yang berusaha untuk kebahagiaan segala makhluk. Karuna adalah belas kasian atau kasih sayang, yang merupakan bagian dari budi luhur, yang menghendaki terhapusnya pendertiaan segala makhluk. Mudita artinya sifat dan sikap menyenangkan orang lain. Upeksa artinya sifat dan sikap suka menghargai orang lain. Catur Paramita ini adalah tuntunan susila yang membawa masunisa kearah kemuliaan.
  3. Panca Yama Bratha, Panca Yama Bratha adalah lima macam pengendalian diri dalam hubungannya dengan perbuatan untuk mencapai kesempurnaan rohani dan kesucian bathin. Panca Yama Bratha ini terdiri dari lima bagian yaitu Ahimsa artinya tidak menyiksa dan membunuh makhluk lain dengan sewenang-wenang, Brahmacari artinya tidak melakukan hubungan kelamin selama menuntut ilmu, dan berarti juga pengendalian terhadap nafsu seks, Satya artinya benar, setia, jujur yang menyebabkan senangnya orang lain. Awyawahara atau Awyawaharita artinya melakukan usaha yang selalu bersumber kedamaian dan ketulusan, dan Asteya atau Astenya artinya tidak mencuri atau menggelapkan harta benda milik orang lain.
  4. Panca Nyama Bratha, Panca Nyama Bratha adalah lima macam pengendalian diri dalam tingkat mental untuk mencapai kesempurnaan dan kesucian bathin, adapun bagian-bagian dari Panca Nyama Bratha ini adalah Akrodha artinya tidak marah, Guru Susrusa artinya hormat, taat dan tekun melaksanakan ajaran dan nasehat-nasehat guru, Aharalaghawa artinya pengaturan makan dan minum, dan Apramada artinya taat tanpa ketakaburan melakukan kewajiban dan mengamalkan ajaran-ajaran suci.
  5. Sad Paramita, Sad Paramita adalah enam jalan keutamaan untuk menuju keluhuran. Sad Paramita ini meliputi: Dana Paramita artinya memberi dana atau sedekah baik berupa materiil maupun spirituil; Sila Paramita artinya berfikir, berkata, berbuat yang baik, suci dan luhur; Ksanti Paramita artinya pikiran tenang, tahan terhadap penghinaan dan segala penyebab penyakit, terhadap orang dengki atau perbuatan tak benar dan kata-kata yang tidak baik; Wirya Paramita artinya pikiran, kata-kata dan perbuatan yang teguh, tetap dan tidak berobah, tidak mengeluh terhadap apa yang dihadapi. Jadi yang termasuk Wirya Paramita ini adalah keteguhan pikiran (hati), kata-kata dan perbuatan untuk membela dan melaksanakan kebenaran; Dhyana Paramita artinya niat mempersatukan pikiran untuk menelaah dan mencari jawaban atas kebenaran. Juga berarti pemusatan pikiran terutama kepada Hyang Widhi dan cita-cita luhur untuk keselamatan;  Pradnya Paramita artinyaa kebijaksanaan dalam menimbang-nimbang suatu kebenaran.
  6. Catur Aiswarya, Catur Aiswarya adalah suatu kerohanian yang memberikan kebahagiaan hidup lahir dan batin terhadap makhluk. Catur Aiswarya terdiri dari Dharma, Jnana, Wairagya dan Aiswawarya. Dharma adalah segala perbuatan yang selalu didasari atas kebenaran; Jnana artinya pengetahuan atau kebijaksanaan lahir batin yang berguna demi kehidupan seluruh umat manusia. Wairagya artinya tidak ingin terhadap kemegahan duniawi, misalnya tidak berharap-harap menjadi pemimpin, jadi hartawan, gila hormat dan sebagainya; Aiswarya artinya kebahagiaan dan kesejahteraan yang didapatkan dengan cara (jalan) yang baik atau halal sesuai dengan hukum atau ketentuan agama serta hukum yang berlaku di dalam masyarakat dan negara.
  7. Asta Siddhi, Asta Siddhi adalah delapan ajaran kerohanian yang memberi tuntunan kepada manusia untuk mencapai taraf hidup yang sempurna dan bahagia lahir batin. Asta Siddhi meliputi: Dana artinya senang melakukan amal dan derma; Adnyana artinya rajin memperdalam ajaran kerohanian (ketuhanan); Sabda artinya dapat mendengar wahyu karena intuisinya yang telah mekar; Tarka artinya dapat merasakan kebahagiaan dan ketntraman dalam semadhi; Adyatmika Dukha artinya dapat mengatasi segala macam gangguan pikiran yang tidak baik; Adidewika Dukha artinya dapat mengatasi segala macam penyakit (kesusahan yang berasal dari hal-hal yang gaib), seperti kesurupan, ayan, gila, dan sebagainya. Adi Boktika artinya dapat mengatasi kesusahan yang berasal dari roh-roh halus, racun dan orang-orang sakti; dan Saurdha adalah kemampuan yang setingkat dengan yogiswara yang telah mencapai kelepasan.
  8. Nawa Sanga, Nawa Sanga terdiri dari: Sadhuniragraha artinya setia terhadap keluarga dan rumah tangga; Andrayuga artinya mahir dalam ilmu dan dharma; Guna bhiksama artinya jujur terhadap harta majikan; Widagahaprasana artinya mempunyai batin yang tenang dan sabar; Wirotasadarana artinya berani bertindak berdasarkan hukum; Kratarajhita artinya mahir dalam ilmu pemerintahan; Tiagaprassana artinya tidak pernah menolak perintah; Curalaksana artinya bertindak cepat, tepat dan tangkas; dan Curapratyayana artinya perwira dalam perang.
  9. Dasa Yama Bratha, Dasa Yama Bratha  adalah sepuluh macam pengendalian diri, yaitu Anresangsya atau Arimbhawa artinya tidak mementingkan diri sendiri; Ksama artinya suka mengampuni dan  dan tahan uji dalam kehidupan;  Satya artinya setia kepada ucapan sehingga menyenangkan setiap orang; Ahimsa artinya tidak membunuh atau menyakiti makhluk lain; Dama artinya menasehati diri sendiri; Arjawa artinya jujur dan mempertahankan kebenaran; Priti artinya cinta kasih sayang terhadap sesama mahluk; Prasada artinya berfikir dan berhati suci dan tanpa pamerih; Madurya artinya ramah tamah, lemah lembut dan sopan santun; dan Mardhawa artinya rendah hati; tidak sombong dan berfikir halus.
  10. Dasa Nyama Bratha, Dasa Nyama Bratha terdiri dari: Dhana artinya suka berderma, beramal saleh tanpa pamerih; Ijya artinya pemujaan dan sujud kehadapan Hyang Widhi dan leluhur; Tapa artinya melatih diri untuk daya tahan dari emosi yang buruk agar dapat mencapai ketenangan batin; Dhyana artinya tekun memusatkan pikiran terhadap Hyang Widhi; Upasthanigraha artinya mengendalikan hawa nafsu birahi (seksual); Swadhyaya artinya tekun mempelajari ajaran-ajaran suci khususnya, juga pengetahuan umum; Bratha artinya taat akan sumpah atau janji; Upawasa artinya berpuasa atau berpantang trhadap sesuatu makanan atau minuman yang dilarang oleh agama; Mona artinya membatasi perkataan; dan Sanana artinya tekun melakukan penyician diri pada tiap-tiap hari dengan cara mandi dan sembahyang.
  11. Dasa Dharma, Yang disebut Dasa Dharma menurut Wreti Sasana, yaitu Sauca artinya murni rohani dan jasmani; Indriyanigraha artinya mengekang indriya atau nafsu; Hrih artinya tahu dengan rasa malu; Widya artinya bersifat bijaksana; Satya artinya jujur dan setia terhadap kebenaran; Akrodha artinya sabar atau mengekang kemarahan; Drti artinya murni dalam bathin; Ksama artinya suka mengampuni; Dama artinya kuat mengendalikan pikiran; dan Asteya artinya tidak melakukan kecurangan.
  12. Dasa Paramartha, Dasa Paramartha ialah sepuluh macam ajaran kerohanian yang dapat dipakai penuntun dalam tingkah laku yang baik serta untuk mencapai tujuan hidup yang tertinggi (Moksa). Dasa Paramartha ini terdiri dari: Tapa artinya pengendalian diri lahir dan bathin; Bratha artinya mengekang hawa nafsu; Samadhi artinya konsentrasi pikiran kepada Tuhan; Santa artinya selalu senang dan jujur; Sanmata artinya tetap bercita-cita dan bertujuan terhadap kebaikan; Karuna artinya kasih sayang terhadap sesama makhluk hidup; Karuni artinya belas kasihan terhadap tumbuh-tumbuhan, barang dan sebagainya; Upeksa artinya dapat membedakan benar dan salah, baik dan buruk; Mudhita artinya selalu berusaha untuk dapat menyenangkan hati oranglain; dan Maitri artinya suka mencari persahabatan atas dasar saling hormat menghormati.

Açubhakarma (Perbuatan Tidak Baik)

Acubhakarma adalah segala tingkah laku yang tidak baik yang selalu menyimpang dengan Cubhakarma (perbuatan baik). Acubhakarma (perbuatan tidak baik) ini, merupakan sumber dari kedursilaan, yaitu segala bentuk perbuatan yang selalu bertentangan dengan susila atau dharma dan selalu cenderung mengarah kepada kejahatan. Semua jenis perbuatan yang tergolong acubhakarma ini merupakan larangan-larangan yang harus dihindari di dalam hidup ini. Karena semua bentuk perbuatan acubhakarma ini menyebabkan manusia berdosa dan hidup menderita. menurut agama Hindu, bentuk-bentuk acubhakarma yang harus dihindari di dalam hidup ini adalah:

  1. Tri Mala, Tri Mala adalah tiga bentuk prilaku manusia yang sangat kotor, yaitu Kasmala ialah perbuatan yang hina dan kotor, Mada yaitu perkataan, pembicaraan yang dusta dan kotor, dan Moha adalah pikiran, perasaan yang curang dan angkuh.
  2. Catur Pataka, Catur Pataka adalah empat tingkatan dosa sesuai dengan jenis karma yang menjadi sumbernya yang dilakukan oleh manusia yaitu Pataka yang terdiri dari Brunaha (menggugurkan bayi dalam kandungan); Purusaghna (Menyakiti orang), Kaniya Cora (mencuri perempuan pingitan), Agrayajaka (bersuami isteri melewati kakak), dan Ajnatasamwatsarika (bercocok tanam tanpa masanya); Upa Pataka terdiri dariGowadha (membunuh sapi), Juwatiwadha (membunuh gadis), Balawadha (membunuh anak), Agaradaha (membakar rumah/merampok); Maha Pataka terdiri dari Brahmanawadha (membunuh orang suci/pendeta), Surapana (meminum alkohol/mabuk), Swarnastya (mencuri emas), Kanyawighna (memperkosa gadis), dan Guruwadha (membunuh guru); Ati Pataka terdiri dari Swaputribhajana (memperkosa saudara perempuan); Matrabhajana (memperkosa ibu), dan Lingagrahana (merusak tempat suci).
  3. Panca Bahya Tusti, Adalah lima kemegahan (kepuasan) yang bersifat duniawi dan lahiriah semata-mata, yaitu Aryana artinya senang mengumpulkan harta kekayaan tanpa menghitung baik buruk dan dosa yang ditempuhnya; Raksasa artinya melindungi harta dengan jalan segala macam upaya; Ksaya artinya takut akan berkurangnya harta benda dan kesenangannya sehingga sifatnya seing menjadi kikir; Sangga artinya doyan mencari kekasih dan melakukan hubungan seksuil; dan Hingsa artinya doyan membunuh dan menyakiti hati makhluk lain.
  4. Panca Wiparyaya, Adalah lima macam kesalahan yang sering dilakukan manusia tanpa disadari, sehingga akibatnya menimbulkan kesengsaraan, yaitu: Tamah artinya selalu mengharap-harapkan mendapatkan kenikmatan lahiriah; Moha artinya selalu mengharap-harapkan agar dapat kekuasaan dan kesaktian bathiniah; Maha Moha artinya selalu mengharap-harapkan agar dapat menguasai kenikmatan seperti yang tersebut dalam tamah dan moha; Tamisra artinya selelu berharap ingin mendapatkan kesenangan akhirat; dan Anda Tamisra artinya sangat berduka dengan sesuatu yang telah hilang.
  5. Sad Ripu, Sad Ripu adalah enam jenis musuh yang timbul dari sifat-sifat manusia itu sendiri, yaitu Kama artinya sifat penuh nafsu indriya; Lobha artinya sifat loba dan serakah; Krodha artinya sifat kejam dan pemarah; Mada adalah sifat mabuk dan kegila-gilaan; Moha adalah sifat bingung dan angkuh; dan Matsarya adalah sifat dengki dan irihati.
  6. Sad Atatayi, Adalah enam macam pembunuhan kejam, yaitu Agnida artinya membakar milik orang lain; Wisada artinya meracun orang lain; Atharwa artinya melakukan ilmu hitam; Sastraghna artinya mengamuk (merampok); Dratikrama artinya memperkosa kehormatan orang lain; Rajapisuna adalah suka memfitnah.
  7. Sapta Timira, Sapta Timira adalah tujuh macam kegelapan pikiran yaitu:  Surupa artinya gelap atau mabuk karena ketampanan; Dhana artinya gelap atau mabuk karena kekayaan; Guna artinya gelap atau mabuk karena kepandaian; Kulina artinya gelap atau mabuk karena keturunan; Yowana artinya gelap atau mabuk karena keremajaan; Kasuran artinya gelap atau mabuk karena kemenangan; dan Sura artinya mabuk karena minuman keras.
  8. Dasa Mala, Artinya adalah sepuluh macam sifat yang kotor. Sifat-sifat ini terdiri dari Tandri adalah orang sakit-sakitan; Kleda adalah orang yang berputus asa; Leja adalah orang yang tamak dan lekat cinta; Kuhaka adalah orang yang pemarah, congkak dan sombong; Metraya adalah orang yang pandai berolok-olok supaya dapat mempengaruhi teman (seseorang); Megata adalah orang yang bersifat lain di mulut dan lain di hati; Ragastri adalah orang yang bermata keranjang; Kutila adalah orang penipu dan plintat-plintut; Bhaksa Bhuwana adalah orang yang suka menyiksa dan menyakiti sesama makhluk; dan Kimburu adalah orang pendengki dan iri hati.

** Dari Berbagai sumber

Aktualisasi Ajaran Tri Parartha dalam Kehidupan


Oleh: Ida Ayu Tary Puspa

Agama Hindu memiliki ajaran yang menuntun umatnya untuk selalu ada di jalan dharma dalam menjalani kehidupan. Salah satunya adalah Tri Parartha. Tri Parartha berasal dari Bahasa Sanskerta yaitu dari kata Tri artinya tiga dan Parartha artinya kebahagiaan, kesejahteraan, keselamatan, keagungan, dan kesukaan. Dengan demikian Tri Parartha berarti tiga perihal yang dapat menyebabkan terwujudnya kesempurnaan, kebahagiaan, keselamatan, kesejahteraan, keagungan, dan kesukaan hidup umat Hindu.

Tanpa keselamatan dalam hidupnya, manusia tidak akan dapat berbuat banyak. Menurut ajaran agama Hindu, manusia itu dapat menyelamatkan dirinya dengan jalan mengamalkan ajaran Tri Parartha. Ada pun ajaran Tri Parartha yang dimaksud yang dapat mengantarkan umat Hindu mencapai keselamatan dan kebahagiaan serta kesejahteraan hidupnya. Terdiri dari Asih, Punia dan Bhakti.

Asih artinya cinta kasih, umat Hindu hendaknya selalu mengupayakan hidupnya dengan berlandaskan cinta kasih dengan sesama. Asih juga dapat diartikan sebagai kasih sayang. Asih juga memiliki kasih yang lebih dalam daripada cinta. Dalam mengasihi sudah terkandung makna mencintai. Cinta adalah perasaan pada kesenangan, kesetiaan, kepuasan terhadap suat objek sedangkan kasih adalah perasaan cinta yang tulus lascarya terhadap suat obiek. Perbedaan antara cinta dan kasih terletak pada kesanggupan dan kemampuan dalam memahami hakikat cinta dan kasih serta hal yang mendasari adanya cinta kasih adalah ajaran “tat tvam asi” yang berarti engkau adalah dia, dia adalah mereka seperti yang dinyatakan pada kitab Chandogya Upanisad VI.14.1.

Pustaka suci Bhagavadgita Sloka XII. 13. menyebutkan:
Advesta sarwa bhutanam, Maitrah karuna eva ca 
Nirmano niraham karah, sama dukha-sukhah ksami

Terjemahannya:
Dia yang tidak membenci segala makhluk, bersahabat, dan cinta kasih
Bebas dari keakuan dan keangkuhan, sama dalam suka dan duka, serta pemberi maaf.

Akan tetapi dewasa ini pada orang-orang tertentu ada yang memiliki kemiskinan dalam cinta kasih. Hal ini dapat dilihat dari maraknya kekerasan yang terjadi di negeri ini. Ada kecenderungan cinta kasih yang ada pada setiap orang telah mengalami kekeringan dan bahkan manusia telah kehilangan seluruh cinta kasihnya sehingga terjadilah perbuatan yang menimbulkan kekerasan. Para generasi muda yang menjadi harapan baik keluarga maupun bangsa banyak yang terjerumus ke dalam tindakan yang sia-sia, seperti mabuk-mabukan, pesta narkoba, dan tindakan lain yang menyimpang dari aturan hukum dan agama.

Mengacu pada realita yang terjadi di masyarakat dewasa ini khususnya pada kaum generasi muda dapat diketahui bahwa terjadi degradasi moral atau pengikisan nilai-nilai kemanusiaan sebagai akibat dari mulai menurunnya nilai-nilai kasih sayang dalam diri manusia. Dengan demikian berdasarkan kutipan sloka di atas dapat diketahui bahwa objek dari cinta kasih itu adalah semua ciptaan Hyang Widhi atau Tuhan Yang Maha Esa.

Punya (Punia), dermawan atau tulus ikhlas. Seluruh aktivitas hidup umat Hindu hendaknya berlandaskan tanpa pamrih/balasan, karena ketertarikan itu sesungguhnya ia menyebabkan menderita. Dan Bhakti artinya hormat-menghormati terhadap sesama, sujud terhadap orang yang lebih tua. Di antara sesamanya manusia hendaknya saling menghormati, serta tidak melupakan untuk bersujud kehadapan sang pencipta (Tuhan).

Ajaran Tri Parartha itu sudah sepatutnya dipahami dan diaktualisasikan oleh umat Hindu, dengan demikian kesempurnaan hidup ini akan menjadi kenyataan.

Sebagaimana dijelaskan dalam sloka suci (Menawa Dharmasastra,V.109) berikut ini:
Abdhir gatrani cudhayanti, 
manah satyena cudhayanti, 
widyatapobhyam bhratatma, 
buddhir jnanena cudhayanti
(Sudharta. 2004:250).

Terjemahan :
Tubuh dibersihkan dengan air, pikiran dibersikan dengan kejujuran, roh dibersihkan dengan ilmu dan tapa, akal dibersihkan dengan kebijaksanaan.
Selain mengamalkan ajaran tattwam asi, catur paramitha dan Tri Parartha, umat juga patut memahami dan mengamalkan ajaran ethika yang lainya. Dengan demikian hidup ini akan menjadi lebih bermanfaat di masyarakat.

Asih, Punia, dan Bhakti merupakan ajaran agama Hindu yang patut dihayati dan diamalkan dalam kehidupan agar tetap tegaknya dharma. Tri Parartha adalah ajaran agama Hindu untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan hidup, baik di dunia maupun di akhirat. Hidup saling mengasihi di antara kita merupakan perilaku umat manusia utama yang dapat mengantarkan tercapainya kebahagiaan yang abadi (moksa).

Dalam Kitab suci Rg. Veda dinyatakan sebagai berikut: 
“Ajaran berdhana punia yang didasari dengan cara bhakti dan rasa cinta kasih mempunyai suatu manfaat yang amat penting dalam kehidupan ini, dan semuanya itu hendaknya diwujudkan sebagai amal dalam beryajñya.” 

Seluruh umat Hindu hendaknya melakukan hal tersebut, karena itu merupakan kewajiban untuk menegakkan dharma. Tujuan pokok dari ajaran Tri Parartha (asih, punia, dan bhakti) ini adalah menumbuhkan sikap mental masing-masing pribadi umat manusia, dalam hal ini adalah peserta didik untuk mewujudkan ajaran wairagya (tidak terikat akan pengaruh benda-benda duniawi) yang dapat memuaskan indria/nafsu belaka manusia secara pribadi.

Berdasarkan uraian di atas, maka untuk menghayati ajaran kasih dapat diwujudnyatakan melalui ajaran “Tri Hita Karana”. Tri Hita Karana terdiri dari tiga kata Tri yang berarti tiga, hita yang berarti kebahagiaan sedangkan karana berarti penyebab. Jadi Tri Hita Karana berarti tiga hal yang menyebabkan kebahagiaan. Tri Hita Karana dapat diterapkan dengan senantiasa menciptakan hubungan atau interaksi yang harmonis antara manusia dengan Tuhan (prhyangan), membina hubungan yang harmonis antara manusia dengan sesama manusia (pawongan) serta senantiasa membina hubungan yang harmonis antara manusia dengan lingkungan (palemahan).
Dapat disimpulkan bahwa ajaran asih/kasih dalam Tri Parartha dapat diimplementasikan melalui ajaran Tri Hita Karana. Ajaran ini dapat diaktualisasikan baik di bangku SD maupun SMP.

Penerapan ajaran Tri Hita karana kepada peserta didik khususnya di sekolah dapat dilakukan dengan:

  • Untuk poin Parhyangan, maka sebelum mulai pelajaran didahului dengan berpuja tri sandya. Begitu pula mengakhiri pelajaran saat akan pulang ke rumah juga bertrisandya pada madyama dina. Setiap akhir tahun pelajaran atau akhir tahun semester dilakukan pasraman kilat. Pada kegiatan ini diberikan materi temtamg praktik beragama dengan menitikberatkan pada tattwa, susila, dan acara.Tentu acara ini dikemas pula dengan pemberian yoga dan estetika.
  • Praktik implementasi pawongan di sekolah dilakukan dengan menggalang dana punya yang disumbangkan secara sukarela oleh siswa yang nantinya akan dapat dimanfaatkan untuk kunjungan sosial kemanusiaan. Selain itu dalam interaksi sehari-hari membiasakan diri dalam mengucapkan Om swastyastu kepada orang lain yang tentunya seumat, misalnya kepada orang tua di rumah, guru di sekolah, dan dalam setiap kesempatan antarumat Hindu.
  • Untuk kategori palemahan misalnya dapat dilaksanakan dengan menciptakan kepedulian dan rasa sayang terhadap lingkungan sekolah. Bali punya program go green and clean. Hal ini dapat diaktualisasikan melalui program “Green school” yaitu dengan mewajibkan setiap siswa untuk menanam dan memelihara satu jenis tumbuhan bebas, setiap komite diwajibkan untuk menanam dan memelihara dua jenis tumbuhan langka, dan setiap guru wajib memelihara tiga jenis tumbuhan langka. Pada akhir tahun pelajaran pihak sekolah bekerja sama dengan DKLH untuk melakukan penghijauan massal pada tempat yang telah disepakati bersama.

Cendikiawan Hindu, Svami Vivekananda mengatakan “ Cinta kasih adalah daya penggerak, karena cinta kasih selalu menempatkan dirinya sebagai pemberi yang tanpa keterikatan dan bukan penerima.” Dengan demikian, kasih sayang merupakan jalan pintas untuk mencapai tujuan hidup kita, yaitu Keutamaan manusia (Human Excellence). Asih tidak hanya bisa diterapkan kepada sesama manusia, tetapi juga kepada binatang dan tumbuh-tumbuhan yang sama-sama merupakan makhluk ciptaan Tuhan. Asih kepada binatang dapat dilakukan dengan tidak membunuh binatang sembarangan seperti menembak burung, meracuni ikan dengan potas, dan lain-lain. Sikap asih terhadap tumbuh-tumbuhan dapat dilakukan dengan tidak menebang pohon sembarangan, tetapi sebaliknya kita harus menanam pohon dan melakukan penghijauan. Sikap asih terhadap alam atau lingkungan sekitar sangat penting untuk diterapkan karena dengan demikian kelestarian lingkungan akan terjaga dan kita akan merasa tenang dan nyaman berada di sekitarnya. Umat Hindu di Bali menerapkannya melalui perayaan tumpek pengatag dan tumpek uye.

Sumber: Majalah Raditya