Advertisements

Paduarsana

Berbagi tentang: Hindu, Bali dan Budayanya.

Tag Archives: karma phala

Menghindari Dosa


Sebelum melakukan tindakan/perbuatan ingatlah Karma Phala, Karma Phala adalah hasil subha karma atau perbuatan baik dan asubha karma(perbuatan buruk). Karma Phala dipandang sebagai srada yang ampuh mengendalikan perbuatan manusia.

Paham karma phala  menegaskan bahwa dosa tidak dapat ditebus atau dihapus. Oleh karena itu Hindu mengajarkan agar manusia waspada dan mencegah perbuatan-perbuatan dosa.

Rambu-rambu untuk menghindarkan manusia berbuat dosa sangat banyak, sangat luas, dan dapat dilakukan oleh siapa saja.

Sumber sastra yang dapat dikumpulkan antara lain:

1. Catur Asrama. Kehidupan manusia dibagi dalam empat tahap, yaitu:

  • Brahmacari (masa belajar)
  • Grahasta (masa berumah tangga)
  • Wanaprasta (masa mensucikan diri)
  • Saniyasin (masa menjadi rohaniawan)

2. Pancasrada. Lima keyakinan Hindu:

  • Widhi tattwa (percaya pada Ida Sanghyang Widhi Wasa)
  • Atma tattwa (percaya pada adanya roh leluhur)
  • Karmaphala (percaya pada hukum tentang sebab akibat perbuatan)
  • Samsara (percaya pada reinkarnasi/ kelahiran berulang-ulang)
  • Moksa (bebas dari ikatan keduniawian)

3. Trikayaparisudha. Tiga kelompok besar yang patut dijaga, yaitu:

  • Kayika (perbuatan yang benar: tidak membunuh, tidak mencuri, tidak berzina)
  • Wacika (perkataan yang benar: tidak mencaci, tidak berkata keras, tidak memfitnah, tidak ingkar janji)
  • Manacika (pikiran yang benar: tidak menginginkan sesuatu yang adharma, tidak berpikir buruk pada orang/ mahluk lain, percaya adanya karmaphala)

4. Caturpurusartha. Empat tujuan hidup:

  • Dharma (kebaikan di jalan Ida sanghyang Widhi Wasa)
  • Artha (pemenuhan kebutuhan benda-benda duniawi)
  • Kama (kenikmatan hidup)
  • Moksa (kebebasan abadi)

5. Caturmarga. Empat jalan manusia bersujud ke Ida Sanghyang Widhi Wasa:

  • Bhaktimarga (pasrah)
  • Karmamarga (kerja)
  • Jnanamarga (belajar agar mengetahui kebesaran-Nya)
  • Rajamarga (menggelar tapa-brata-yoga-samadi)

6. Yamabrata: Usaha-usaha mengendalikan diri, yaitu:

  • Anrsamsa (tidak egois)
  • Ksama (memaafkan)
  • Satya (jujur)
  • Ahimsa (tidak menyakiti)
  • Dama (sabar)
  • Arjawa (tulus)
  • Pritih (welas asih)
  • Prasada ( berpikiran suci)
  • Madhurya (bermuka manis)
  • Mardawa (lemah lembut)

7. Niyamabrata: Janji pada diri sendiri untuk berlaku dharma, yaitu:

  • Dana (dermawan)
  • Ijya (bersembahyang)
  • Tapa (mengekang nafsu jasmani)
  • Dhyana (sadar pada kebesaran Ida Sanghyang Widhi Wasa)
  • Swadhyaya (belajar)
  • Upasthanigraha (mengendalikan nafsu sex)
  • Brata (mengekang indria)
  • Upawasa (mengendalikan makan/ minum)
  • Mona (mengendalikan kata-kata)
  • Snana (menjaga kesucian lahir bathin)

8. Sadripu: mengendalikan enam musuh yang ada di diri sendiri:

  • Kama (nafsu)
  • Lobha (tamak)
  • Kroda (marah)
  • Mada (mabuk)
  • Moha (angkuh)
  • Matsarya (dengki irihati)

9. Sadatatayi: menghindari enam kekejaman:

  • Agnida (membakar)
  • Wisuda (meracun)
  • Atharwa (menenung)
  • Sastragna (merampok)
  • Dratikrama (memperkosa)
  • Rajapisuna (memfitnah)

10. Saptatimira: menghindari kemabukan-kemabukan karena

  • Surupa (cantik/ tampan)
  • Dana (kaya)
  • Guna (pandai)
  • Kulina (wangsa)
  • Yowana (remaja)
  • Kasuran (kemenangan)
  • Sura (minuman keras)

Bila manusia terlanjur berbuat dosa, petunjuk-petunjuk yang ada pada beberapa kitab-kitab/ lontar di bawah ini dapat digunakan sebagai pegangan:

Kitab Parasara Dharmasastra yang dianggap cocok untuk zaman kaliyuga sekarang ini, memuat beberapa ketentuan bila seseorang terlanjur berbuat dosa yang disebabkan antara lain karena:

  • Kelahiran dan kematian yang tidak wajar
  • Berzina
  • Digigit binatang tertentu
  • Membunuh
  • Mencederai sapi
  • Makan makanan terlarang

Ketentuan yang diatur dalam kitab itu hanyalah proses pensucian diri, bukan penebusan dosa.

Lontar Wrhaspati Tattwa menyatakan tiga kegiatan pokok yang perlu dilakukan bila seseorang ingin mencapai kelepasan:

  • Jnanabhyudreka: mengetahui semua tattwa Agama.
  • Indriyayogamarga: tidak tenggelam dalam kesukaan hawa nafsu.
  • Trsnadosaksaya: menghilangkan pahala dari perbuatan baik dan buruk.

Kitab Upanisad Utama, Brahmana ke-15 bagi manusia yang akan meninggal dunia, ucapkan mantram-mantram ini di telinganya:

HIRANMAYENA PATRENA SATYASYAPIHITAM MUKHAM
TAT TVAM, PUSAN, APARNU, SATYA DHARMAYA DRSTAYE

Artinya: wajah kebenaran ditutup oleh piring emas; bukalah ini o Pusan sehingga aku yang mencintai kebenaran bisa melihat.

PUSANN, EKARSE, YAMA, SURYA, PRAJA-PATYA
VYUHA RASMIN SAMUHA TEJAH
YAT TE RUPAM KALYANATAMAM
TAT TE PASYAMI YO SAV ASAU PURUSAS, SO HAM ASMI

Artinya: Pusan yang tunggal melihat, pengendali, o matahari putra dari prajapati sebarkanlah sinarmu dan kumpulkanlah sinarmu yang gemerlapan sehingga aku melihat di-Kau dalam bentukmu yang paling indah.

VAYUR ANILAM AMRTAM ATHEDAM BHASMANTAM SARIRAM
AUM KRTO SMARA, KRTAM SMARA, KRATO SMARA, KRTAM SMARA

Artinya: semoga hidup ini memasuki nafas yang abadi kemudian semoga tubuh ini berakhir menjadi abu, o buddhi ingatlah, ingatlah apa yang telah diperbuat.

AGNE NAYA SUPATHA, RAYE ASMAN, VISVANI, DEVA, VAYUNANI VIDVAN, YUYODHY ASMAJ JUHARANAM ENO, BHUYISTHAM TE NAMAUKTIM VIDHEMA

Artinya: agni tuntunlah kami pada jalan yang baik kearah kekekalan, o Tuhan yang mengerti semua perbuatan-perbuatanku, ambilah semua dosa dariku, kami akan menghadap-Mu.

Lontar Siwaratrikalpa karangan Mpu Tanakung yang diilhami oleh Purana-purana sanskerta: Padma, Siwa, Skanda, dan Garuda, menokohkan Lubdhaka sebagai orang yang sadar pada dosa-dosanya di masa lalu.

Kemudian di hari Siwaratri (panglong ping 14 tileming kapitu) tanpa sengaja ia membangun tapa-brata-yoga-samadi, dianggap sebagai langkah kesadaran dharma karena membangun tapa-brata-yoga-samadi bersamaan dengan waktu Bethara Siwa beryoga samadi untuk kesejahteraan jagat raya beserta isinya.

Setelah Siwaratri, Lubdhaka tidak pernah lagi melakukan perbuatan-perbuatan adharma. Ketika Lubdhaka meninggal dunia, kesadaran dharmanya dinilai positif oleh Bethara Yama sehingga Lubdhaka masuk sorga. Manusia Hindu diharap meniru apa yang dilakukan Lubdhaka.

KESIMPULAN

Dosa tidak dapat ditebus atau dihapus, namun dosa atau perbuatan adharma dapat diimbangi dengan perbuatan dharma sehingga diharapkan terjadi keseimbangan yang relatif lebih mengunggulkan dharma.

Diibaratkan dosa itu bagai sinar matahari yang terik, bila berhembus angin rasa panasnya akan berkurang. Angin itu ibarat perbuatan-perbuatan dharma.

Sarasamuscaya sloka ke-16:

YATHADITYAH SAMUDYAN WAI TAMAH, SARWWAM WYAPOHATI, EWAM KALYANAMATISTAM SARWWA, PAPAM WYAPOHATI

Laksana sifat surya, begitu terbit melenyapkan gelapnya dunia, demikianlah orang yang mengusahakan dharma akan menghilangkan segala macam penderitaan.

**stitidharma.org

Advertisements

Asta Karma-Parinama


Secara garis besar ada delapan macam bentuk-bentuk karma dilihat dari sudut pandang akibat yang dihasilkannya, yaitu:

1. Mohaniya Karma [karma yang mengaburkan kesadaran atma jnana], Karma ini akan mengaburkan kesadaran kita atau menghambat peningkatan kualitas kesadaran kita. Menjauhkan kita dari kesadaran akan realitas diri yang sejati [atma jnana].

 Karma ini terbentuk melalui cara-cara seperti misalnya berikut ini :

  • Terlalu banyak marah, terlalu sering membenci, melakukan penipuan, melakukan pemerasan, serakah, berperilaku kasar dan buruk, suka menyakiti, perselingkuhan dalam bentuk hubungan badan, pelecehan seksual, pemerkosaan, menggunakan narkoba, dsb-nya.
  • Dengan terlalu larut dalam kenikmatan indriya-indriya yang bersifat duniawi.
  • Dengan mencela, melecehkan, menyalahkan, menghina atau menunjukkan kebencian kepada orang-orang suci [yang asli], serta kepada figur-figur suci seperti dewa-dewi.
  • Dengan menimbulkan halangan, kesulitan atau hambatan pada praktek-praktek religius.
  • Dengan memanfaatkan ajaran-ajaran religius sebagai topeng untuk mewujudkan keinginan dan kepentingan pribadi, serta mengambil keuntungan dari situ.
  • Dengan fanatisme beragama [tidak atau kurang toleran kepada keragaman religius].
  • Dengan membenturkan satu ajaran agama dengan ajaran agama lainnya dengan tujuan konversi agama.
  • Dengan melestarikan atau mengembangkan dan menyebarkan ajaran-ajaran religius salah dan palsu yang menjerumuskan orang ke dalam pandangan salah atau menyebarkan ajaran-ajaran religius disertai dengan kebohongan-kebohongan.
  • Dengan tidak mempraktekkan ajaran-ajaran religius yang universal.

Karmaphala atau buah karma dari darsanavarniya karma akan membuat kita sulit untuk sadar dari jalan yang adharma, membuat kita sulit untuk meninggalkan cara-cara dan jalan hidup yang salah. Ini sebabnya ada sebagian orang yang lebih tertarik judi, korupsi atau selingkuh dibandingkan belajar dharma dan belajar meditasi. Ada orang yang lebih tertarik pergi dugem atau ke kafe dibandingkan pergi sembahyang ke pura-pura. Kalaupun dia pergi ke pura yang dia pikirkan adalah hal-hal keduniawian. Dsb-nya.

Efek lain dari karma ini adalah menyebabkan seseorang mengalami ilusi religius, sangat yakin dirinya melakukan hal yang baik, benar dan suci, padahal sesungguhnya yang dilakukannya adalah hal yang salah, menciptakan belenggu bagi banyak orang atau malah sebuah kejahatan. Misalnya dalam contoh yang paling ekstrim : rajin sembahyang, taat beragama, siap membela Tuhan dan bahkan melakukan pembunuhan, teror dan perang demi membela Tuhan. Atau mungkin yang terjadi sebaliknya, karma ini dapat menyebabkan seseorang merasa dirinya melakukan hal yang salah dan tidak baik, padahal sesungguhnya yang dilakukannya adalah sebuah jalan dharma yang membebaskan dirinya sendiri dan orang lain.

Beberapa contoh dari mohaniya karma, misalnya :

  • Mithyatva karma : ini membuat seseorang tidak percaya dengan ajaran religius yang asli. Kalaupun dia berjodoh dengan sebuah ajaran religius, dia akan berjodoh dengan ajaran religius yang palsu. Dia akan percaya dan mengikuti guru atau pemimpin spiritual yang palsu serta sangat meyakini kebenaran ajaran yang salah tersebut.
  • Samyagmithyatva karma : ini membuat seseorang memiliki dan mengikuti keyakinan campur-campur antara ajaran yang asli dan palsu. Atau tenggelam dalam kebingungan dan konflik pilihan.
  • Samyaktva karma : ini membuat seseorang benar-benar berjodoh, tersambung [paham] dan mengikuti ajaran religius yang asli. Bebas dari racun ajaran dan pandangan yang salah.

2. Darsanavaraniya Karma [karma yang menghalangi kita dari kemampuan serta penginderaan diri kita yang sejati]

Diri kita yang sejati ini sesungguhnya tidak terbatas. Tapi darsanavaraniya karma menghalangi kita dari kemampuan serta penginderaan diri kita yang sejati. Misalnya beberapa contoh :

  • Caksur-darsanavarana karma : yang menyebabkan kita terhalang dari kemampuan yang sebenarnya pada mata. Mata kita ini sesungguhnya memiliki kemampuan untuk melihat alam-alam halus atau mahluk halus, atau yang biasa disebut trineta [mata ketiga] atau indra ke-enam. Tapi caksur-darsanavarana karma membuat kita kehilangan kemampuan ini dan hanya bisa melihat secara biasa. Pada keadaan yang lebih buruk, caksur-darsanavarana karma membuat mata kita menjadi rabun atau bahkan mengalami kebutaan.
  • Acaksur-darsanavarana karma : yang menyebabkan kita terhalang dari kemampuan yang sebenarnya pada indra selain mata [misalnya : telinga, hidung, lidah, dsb-nya]. Misalnya telinga kita ini juga sesungguhnya memiliki kemampuan untuk mendengar suara dari alam-alam halus atau mahluk halus. Tapi acaksur-darsanavarana karma membuat kita kehilangan kemampuan ini dan hanya bisa mendengar biasa. Pada keadaan yang lebih buruk, acaksur-darsanavarana karma membuat pendengaran kita menurun atau bahkan menjadi tuli. Dsb-nya.
  • Avadhi-darsanavarana karma : yang menyebabkan kita terhalang dari hakikat kemampuan yang sebenarnya pada badan fisik ini. Misalnya kita bisa lihat pada para mahayogi yang sudah melenyapkan avadhi-darsanavarana karma ini, mereka bisa siranjiwi [hidup selama ribuan tahun] untuk melakukan misi tertentu, atau bisa hidup tanpa makan dan minum apapun selama puluhan tahun.

Termasuk juga yang menyebabkan kita terhalang dari hakikat kemampuan yang sebenarnya dari pikiran, yang akibat paling kelihatan adalah gangguan kesadaran tidur. Seperti misalnya nidra-karma [menyebabkan sulit tidur atau insomnia, kalaupun bisa tidur sangat mudah terbangun dari tidur, bahkan oleh suara uang logam yang jatuh] atau styanagrddhi-karma [menyebabkan ketidaksadaran aktivitas saat tidur, seperti misalnya tidur berjalan].

Karma ini terbentuk melalui cara-cara seperti misalnya berikut ini :

  • Dengan melakukan pelanggaran dharma yang berbahaya seperti memperkosa, menyiksa dan membunuh.
  • Dengan menginginkan atau mengambil sesuatu yang bukan milik kita, seperti mencuri, korupsi, merampok, menipu, memeras, dsb-nya.
  • Dengan terlalu larut dalam kenikmatan indriya-indriya yang bersifat duniawi.
  • Dengan tidak tahu berterimakasih kepada kebaikan, bimbingan dan pertolongan orang lain.
  • Dengan berpikiran negative, mencela, melecehkan, menghina, memfitnah atau menunjukkan kebencian kepada orang-orang berhati baik dan bersih, orang-orang suci [yang asli], serta kepada figur-figur suci seperti dewa-dewi.
  • Dengan menimbulkan halangan, kesulitan atau hambatan pada praktek-praktek religius.
  • Dengan memanfaatkan ajaran-ajaran religius sebagai alat untuk mewujudkan keinginan pribadi dan mengambil keuntungan dari situ.

3. Jnanavaraniya Karma [karma yang menghambat penyerapan ilmu pengetahuan]

Karma ini yang menjadi penyebab hambatan bagi kita di dalam memperoleh atau menyerap ilmu pengetahuan. Kita sulit untuk berjodoh dengan ilmu pengetahuan dan kalaupun berjodoh kita akan sulit tersambung dan memahaminya. Dengan kata lain karma ini akan membuat kita tumpul, bodoh dan buntu.

Karma ini terbentuk melalui cara-cara seperti misalnya berikut ini :

  • Dengan malas dan melupakan kewajiban kita untuk belajar.
  • Dengan mencela, menyalahkan, menghina atau menunjukkan kebencian kepada ilmu pengetahuan, serta mereka yang mengajar dan mempelajarinya.
  • Dengan menimbulkan halangan, kesulitan atau hambatan pada proses belajar-mengajar.
  • Dengan menyebarkan ilmu pengetahuan palsu [hoax].
  • Dengan memicu perdebatan dan pertengkaran yang ricuh dengan mereka yang mengajar dan mempelajari ilmu pengetahuan tanpa sebab apapun. Misalnya karena kita merasa lebih benar, lalu kita mengobarkan perang perdebatan dan pertengkaran yang ricuh.

Jnanavaraniya Karma berlaku pada semua jenis ilmu pengetahuan, termasuk pada pengetahuan religius [agama]. Sehingga dalam hidup ini hendaknya jangan kita sekali-sekali melakukan hal-hal yang disebutkan diatas, terutama sekali kalau ternyata ilmu pengetahuan itu asli dan benar, karena akan berbahaya bagi diri kita sendiri. Karma yang terbentuk akan membuat kita sulit untuk memperoleh atau menyerap ilmu pengetahuan, yang akan menjerumuskan kita kepada ketumpulan dan kebodohan.

Juga ditekankan kepada murid-murid sekolah, jangan pernah menghina atau melecehkan guru di sekolah. Sebab sering terjadi kalau saat muda kita di sekolah kita sering menghina atau melecehkan guru dan kalau kita hanya punya sedikit tabungan karma baik, ketika kita dewasa hidup kita akan cenderung kacau karena dihambat oleh ketumpulan, kebodohan dan kebuntuan kita sendiri.

4. Antaraya Karma [karma yang menghambat kita untuk melakukan kebaikan, menerima pemberian atau menikmati hasil dari upaya kerja kita]

Beberapa contoh dari karma ini adalah :

  • Dana-antaraya karma : karma ini menyebabkan kita mengalami kesulitan di dalam melakukan kebaikan-kebaikan. Misalnya kita tahu menolong orang yang sedang kelaparan itu baik, tapi kita sendiri tidak bisa membantu karena kita tidak punya makanan. Atau kita ingin menolong orang lain dan tahu caranya, tapi kita tidak bisa melakukannya karena kita tidak punya waktu dan kesempatan.
  • Labha-antaraya karma : karma ini menyebabkan kita tidak bisa menerima pemberian orang lain, walaupun ada waktu dan kesempatan. Misalnya ada orang sedang membagi-bagi sembako gratis, kita sudah ada disana saat itu ikut antrean, tapi kita tidak mendapat karena sembako gratisnya kemudian sudah habis. Atau karma ini menyebabkan kita tidak bisa menikmati hasil seimbang dari upaya kerja kita. Misalnya kita sudah bekerja keras, tapi hasilnya atau pemasukannya sangat minim.
  • Virya-antaraya karma : karma ini menyebabkan munculnya keengganan berbuat atau melakukan sesuatu di dalam diri kita.

Karma ini terbentuk melalui cara-cara seperti misalnya berikut ini :

  • Dengan menjadi penghalang ketika ada orang lain sedang melakukan kebaikan atau melakukan pemberian.
  • Dengan menghambat atau memotong rejeki orang lain.
  • Dengan menghalangi atau mempersulit aktifitas-aktifitas religius.
  • Dengan kemalasan.

5. Vedaniya Karma [karma yang mempengaruhi gejolak emosi, perasaan dan pikiran positif-negatif]

Karma ini yang menyebabkan mengapa ada orang yang mudah marah atau sebaliknya sangat penyabar, ada orang yang pemurung atau sebaliknya humoris dan ceria, ada orang yang pemberani atau sebaliknya penakut, ada orang yang mudah bahagia atau sebaliknya mudah kecewa dan frustasi, dsb-nya. Karma ini juga menyebabkan kita mengalami pengalaman menyenangkan maupun tidak menyenangkan dalam hidup.

Juga menjadi penyebab perbedaan cara pandang seseorang dalam menyikapi positif-negatif suatu kejadian. Misalnya ketika ada yang menghina dan melecehkan sikap dan cara pandang si A adalah marah karena merasa disakiti, sedangkan sikap dan cara pandang si B adalah tetap bahagia karena sadar sedang mendapat kesempatan membayar hutang karma untuk kemudian terbebaskan. Semua karena efek dari vedaniya karma, dimana karma ini mempengaruhi gejolak emosi, perasaan dan pikiran positif-negatif kita.

Karma ini terbentuk melalui dua cara, yaitu :

  • Satavedaniya karma : terbentuk dan terakumulasi melalui sifat welas asih kepada semua mahluk, sifat sangat sangat memaafkan, tidak pernah dendam sedikitpun, penuh pengertian kepada beban, hasrat, penderitaan, kesulitan mahluk lain dan upaya tulus kerelaan diri untuk mengurangi beban penderitaan para mahluk.
  • Asatavedaniya karma : terbentuk dan terakumulasi dengan menyakiti mahluk lain baik melalui pikiran, perkataan dan perbuatan, serta merasa terpuaskan dalam penderitaan mahluk lain tersebut.

Satavedaniya karma membuat gejolak emosi dan perasaan kita tetap tenang, sejuk, damai dan bahagia pada apapun yang terjadi. Ini akan meringankan beban karma kita, serta sekaligus mengarahkan hidup kita kepada mendapat kemudahan-kemudahan serta pengalaman-pengalaman baik dalam hidup.

Sedangkan asatavedaniya karma membuat kita mudah stress, mudah kecewa, mudah depresi, dsb-nya. Ini tidak saja akan menambah berat beban karma kita, tapi sekaligus juga mengarahkan hidup kita kepada kesengsaraan seperti kemiskinan, jatuh sakit, dsb-nya, sebagai buah karmanya.

6. Ayusya Karma [karma yang membawa kita ke alam-alam mana setelah kematian]

Karma ini yang menjadi penentu ke alam mana kita akan pergi setelah kematian. Apakah kita akan pergi ke alam-alam bhur loka, svarga loka, dsb-nya.

Karma ini dibentuk oleh akumulasi karma kita semasih hidup. Bisa dibentuk oleh akumulasi subha karma [karma baik], bisa dibentuk oleh akumulasi asubha karma [karma buruk] atau dibentuk oleh kombinasi keduanya. Tergantung dari samskara [kesan-kesan pikiran] dan akumulasi karma kita sendiri.

7. Nama Karma [karma yang menentukan kita lahir dalam tubuh mahluk apa dan dengan kondisi badan fisik bagaimana]

Karma ini yang menentukan tubuh fisik kelahiran kembali kita sebagai mahluk. Ada yang lahir kembali sebagai burung, ada yang sebagai kelinci, ada yang sebagai manusia laki-laki, ada yang sebagai manusia perempuan, ada yang cantik, ada yang tidak cantik, ada yang cacat, dsb-nya. Karma ini juga yang menentukan umur tubuh kita, kapan kita akan mati.

Karma ini terbentuk melalui dua cara, yaitu :

  • Subha-namakarma : terbentuk dan terakumulasi dengan ketekunan melaksanakan dharma. Menjaga dan menghargai kebersihan dan kesehatan badan fisik kita ini. Serta dengan pikiran, perkataan dan perbuatan yang alami [otentik], penuh kerelaan diri dan tidak terkondisi, berbagi keindahan yang didasari oleh rasa welas asih dan kebaikan kepada semua mahluk.
  • Asubha-namakarma : terbentuk dan terakumulasi dengan banyak melakukan pelanggaran dharma. Tidak menjaga dan menghargai kebersihan dan kesehatan badan fisik kita ini. Serta dengan pikiran, perkataan dan perbuatan yang tidak alami [terkondisi], tidak ada kerelaan diri, serta tidak ada kasih sayang dan kebaikan kepada mahluk lain. Dan yang paling berbahaya adalah melakukan terlibat atau melakukan kejahatan-kejahatan fisik seperti memperkosa, menyiksa dan membunuh, dsb-nya, karena dapat membuat kita turun tingkat terjerumus terlahir kembali dengan tubuh binatang [menjadi binatang].

Karmaphala [buah karma] dari subha-namakarma membuat kita bisa lahir menjadi manusia, dengan wajah dan fisik yang indah, kesehatan yang baik, memperoleh kebahagiaan, memperoleh simpati, dsb-nya.

Karmaphala dari asubha-namakarma membuat kita kalau lahir menjadi manusia, punya wajah dan fisik yang tidak atau kurang indah, kesehatan yang terganggu, sengsara, sulit memperoleh simpati, dsb-nya. Dalam kemungkinan buruk asubha-namakarma bahkan bisa membuat kita terlahir kembali menjadi binatang.

Beberapa contoh dari nama karma, misalnya :

  • Manushya-gati namakarma : membuat kita lahir dalam tubuh manusia.
  • Tiryag-gati namakarma : membuat kita lahir dalam tubuh binatang.
  • Trindriya-jati namakarma : membuat kita lahir menjadi mahluk dengan tiga indriya.
  • Pancendriya-jati namakarma : membuat kita lahir menjadi mahluk dengan lima indriya.
  • Samacaturasra-samsthana namakarma : membuat kita memiliki tubuh yang proporsional.
  • Kubja-samsthana namakarma : membuat kita memiliki tubuh yang bungkuk, ukuran payudara yang berbeda, telapak tangan atau telapak kaki yang terlalu besar, kepala yang terlalu besar, dsb-nya.
  • Vamana-samsthana namakarma : membuat kita memiliki tubuh yang kerdil atau cebol, tidak simetris, dsb-nya.
  • Krsna-varna namakarma : membuat kita memiliki kulit hitam.
  • Haridra-varna namakarma : membuat kita memiliki kulit kuning langsat.
  • Sita-varna namakarma : membuat kita memiliki kulit putih.
  • Surabhi-gandha namakarma : membuat kita memiliki aroma tubuh yang segar.
  • Durabhi-gandha namakarma : membuat kita memiliki aroma tubuh yang masam, kecut atau seperti bau bawang.
  • Prasasta-vihayogati namakarma : membuat kita memiliki gerak tubuh yang anggun atau elegan, memiliki kecerdasan kinetik, dsb-nya.
  • Aprasasta-vihayogati namakarma : membuat kita memiliki gerak tubuh yang canggung dan kikuk.
  • Aharaka-sarira namakarma : membuat kita memiliki indra ketujuh, yang membuat kita dapat mengakses badan-badan halus kita, dimana dengan demikian kita bisa melakukan komunikasi dengan para dewa atau bepergian ke alam-alam para dewa, sementara badan fisik kita sendiri masih ada di tempatnya semula. Ini biasanya dapat dimunculkan dalam jangka waktu tertentu oleh para yogi yang wikan dalam meditasinya.

8. Gotra Karma [karma yang menentukan di tempat, situasi lingkungan dan keluarga seperti apa kita dilahirkan, serta bertemu dengan siapa]

Faktor terpenting dari karma ini adalah, gotra karma inilah yang menentukan kesempatan kita mengalami kemajuan pada evolusi bathin kita dalam roda samsara. Selain itu karma ini juga menentukan lingkungan, kebahagiaan hidup, serta juga menjadi penentu pertemuan kita dengan teman, sahabat, rekan kerja, perjodohan suami atau istri, anak, keluarga besar, dll-nya.

Ada dua macam gotra karma, yaitu :

1. Uccair-gotrakarma : terlahir di keluarga dan lingkungan yang mendukung kita mengalami kemajuan pada evolusi bathin kita dalam roda samsara. Secara paling mendasar ada empat syarat, yaitu :

  • Lahir di tempat dimana ada ajaran dharma atau ajaran pembebasan yang asli.
  • Lahir di keluarga baik-baik [karena misalnya : kalau kita lahir di keluarga penjudi cepat atau lambat kita juga akan jadi penjudi, kalau orang tua suka selingkuh cepat atau lambat kita juga akan selingkuh, dsb-nya].
  • Lahir di lingkungan yang beradab, makmur, damai, serta kaya secara spiritual dan budaya [karena kalau kita lahir di tempat yang sedang perang atau di tempat yang penuh kejahatan, cepat atau lambat kita juga akan terpengaruh dengan kekejaman dan kejahatan].
  • Lahir di keluarga yang secara ekonomi berkecukupan [karena kalau lahir di keluarga miskin kita akan menghabiskan sebagian besar waktu kita untuk mencari uang, hanya sedikit kesempatan mendalami dan mempraktekkan dharma].

2. Nicair-gotrakarma : terlahir di keluarga dan lingkungan yang tidak atau kurang mendukung kita mengalami kemajuan pada evolusi bathin kita dalam roda samsara. Yang secara paling mendasar adalah kebalikan dari penjelasan diatas.

Uccair-gotrakarma terbentuk dan terakumulasi dari sikap rendah hati, tidak sombong, murah hati, baik hati, suka memberi, penuh kerelaan diri, penuh kasih sayang, berkorban demi orang lain, dsb-nya.

Nicair-gotrakarma terbentuk dan terakumulasi dari sikap kesombongan pada : status sosial [kasta], jabatan, kekayaan, kemampuan lebih, ketampanan atau kecantikan, kecerdasan, agama [merasa agama paling benar], keterkenalan, dsb-nya. Serta sikap mementingkan diri sendiri, tidak mau berbagi, tidak ada kerelaan diri dan tanpa kebaikan hati.

Sumber: Rumah Dharma-Hindu Indonesia.

 

 

 

Apa Itu Karma Phala


Karma Phala atau karma pala adalah konsep dasar dalam ajaran-ajaran agama dharma. Berakar dari dua kata yaitu karma dan phala. karma berarti perbuatan/aksi, dan phala berarti buah/hasil. Karma phala artinya buah dari perbuatan yang telah dilakukan atau yang akan dilakukan.
Karma phala memberi optimisme kepada setiap manusia, bahkan semua makhluk hidup. Dalam ajaran ini, semua perbuatan akan mendatangkan hasil bagi yang berbuat. Apapun yang kita lakukan/perbuat, maka seperti itulah hasil yang kita terima. yang menerima adalah yang berbuat bukan orang lain. Karma Phala adalah sebuah hukum universal bahsa setiap perbuatan akan mendatangkan hasil. Dalam konsep Hindu, berbuat itu terdiri atas: perbuatan melalui pikiran, perbuatan melalui perkataan dan perbuatan melalui tingkah laku, Ketiganya dikenal dengan Tri Kaya Parisudha. Ketiga perbuatan inilah yang akan mendatangkan hasil bagi yang berbuat. Kalau perbuatan baik hasilnya pasti baik, dan demikian pula sebaliknya.

Hasil kerja atau perbuatan berwujud secara nyata dan tidak nyata. Wujud yang nyata (skala) adalah hal keduniawian sedangkan wujud yang tidak nyata (niskala) adalah ketentraman bathin. Ditinjau dari waktu saat bekerja/berbuat (karma) dengan waktu menerima hasil (phala), maka karma phala dibedakan menjadi tiga, yaitu:

  1. Sancita Karma Phala(Phala/hasil yang diterima pada kehidupan sekarang atas perbuatan dikehidupan sebelumnya.
  2. Prarabdha Karma Phala(Karma atau perbuatan yang dilakukan saat ini dan hasil/phalanya akan diterima pada kehidupna saat ini pula.
  3. Kryamana Karma Phala(Karma/perbuatan yang dilakukan pada kehidupan saat ini namun hasilnya akan dinikmati pada kehidupan yang akan datang)

Ajaran Karma phala sangan erat kaitannya dengan keyakikan dasar agama Hindu, Reinkarnasi/punarbhawa, karena dalam ajaran karma phala, keadaan manusia baik suka maupun duka disebabkan karena hasil perbuatan manusia itu sendiri, baik yang ia lakukan pada saat ini mapunu apa yang ia lakukan pada kehidupan sebelumnya. Dalam ajaran karma phala ini bisa dikatakan manusia menentukan nasibnya sendiri sementara Tuhan yang akan menentukan kapan hasil dari karma/perbuatannya diberikan.