Advertisements

Paduarsana

Berbagi Tentang Semua Hal

Tag Archives: cara mebija

Menggunakan Bija dengan benar


Wija atau bija adalah lambang kumara, yaitu putra atau wija Bhatara Siwa. Pada hakekatnya yang dimaksud dengan Kumara adalah benih ke-Siwa-an/Kedewataan yang bersemayam dalam diri setiap orang.

Image by: Koleksi Pribadi. Besakih 08 April 2018.

MASIH banyak umat Hindu yang mengenakan bija dengan tidak pada tempatnya. Bukan saja cara mengenakan bija, mereka pun tidak banyak yang paham apa arti bija itu. Bahkan proses “pembuatan bija” juga mulai disepelekan, orang Bali bilang sudah campah. Seolah-olah tinggal mencari beras lalu diisi air supaya basah sehingga mudah melengket di tubuh.

Bija seperti halnya tirtha adalah anugrah yang kita terima selesai melakukan persembahyangan. Tirtha dipercikkan oleh pemangku atau sulinggih, bija diterima oleh tangan umat dan umat sendiri yang mengenakannya di tubuh masing-masing.

Lalu di mana dikenakan?

Ada yang mengenakan di lelata (antara kedua alis), ada yang menambahkan lagi di tepi kening (pelipis) kiri dan kanan, lalu di bawah tenggorokan dan ditelan.

Mengenakan bija di tepi pelipis kanan kiri adalah mubajir, tidak ada di dalam sastra. Salah kaprah ini bisa terjadi karena pengaruh tata rias penari Bali yang selalu membuat hiasan di pelipis itu. Bija diletakkan di sela-sela alis (lelata) adalah simbol “mata ketiga” atau dalam sastra disebut cudamani. Kalau ditambah di pelipis kanan dan kiri, berapa kita punya mata?

Mantram atau doa yang diucapkan saat mengenakan bija itu berbeda di kalangan umat kebanyakan dengan pemangku atau sulinggih. Pada umat cukup doa-doa yang menunjukkan permohonan.

Ketika diletakkan di sela-sela alis, ucapkan doa:

Om criyam bhawantu (semoga kebahagiaan meliputi hamba).

Letakkan di bawah tenggorokan ucapkan doa:

Om sukham bhawantu (semoga kesenangan datang pada hamba).

Lalu ditelan satu biji dengan doa:

Om purnam bhawantu, Om ksama sampurna ya namah swaha (semoga segala kesempurnaan menjadi bertambah sempurna).

Namun untuk pemangku, biasanya sudah mengenakan apa yang disebut “bija tiga”, yakni di ubun-ubun, lelata dan dada di bawah tenggorokan ditambah dengan ditelan. Mantramnya berbeda.

Bagi sulinggih masih ditambah, selain “bija tiga” ada yang disebut “bija jangkep” yang atinya adalah mengenakan bija secara lengkap ke seluruh tubuh. Yakni di ubun-ubun, lelata, di bawah tenggorokan, bahu kanan, bahu kiri, ulu hati, puncak atau ujung rambut, punuk, telinga kanan dan kiri. Juga disertai doa-doa yang khusus.

Bija itu disebut bhasma. Dalam pustaka Hindu juga disebut gandaksata, artinya biji padi-padian yang utuh serta wangi. Karena itu seharusnya bija memakai beras yang utuh tidak patah, di Bali biasa disebut beras galih. Beras ini kemudian dicuci bersih, lalu dicelupkan ke air cendana atau bunga yang harum. Beras utuh yang basah dan wangi ini kemudian diberi doa-doa oleh pemangku atau sulinggih yang nantinya berfungsi sebagai anugrah suci dari Hyang Widhi.

Apakah hal itu dilakukan? Seharusnya ya. Tetapi karena saat ini kesulitan mendapatkan beras yang utuh, maka sembarang beras akhirnya digunakan. Begitu pula sulit memperoleh air cendana yang harum, maka beras itu cukup diberi air supaya basah saja. Supaya mudah melengket di tubuh. Jika itu yang terjadi, apa boleh buat, cukup yang ditelan saja dicari yang utuh. Sebutir pun tak apa-apa.

Yang lebih parah lagi adalah beras yang sudah disiram air itu ternyata tidak diberi doa oleh pemangku. Beras itu cukup ditaruh di depan pemangku tanpa ada doa khusus “ngarga bija” (membuat bija), lalu langsung diberikan kepada umat. Bahkan tak jarang ketika selesai muspa dan pemangku memercikkan tirtha, ternyata tak ada bija atau bijanya kehabisan. Lalu ada petugas (pengayah) yang langsung mengambil beras dimasukkan dalam wadah dan dibagikan ke umat seolah-olah itu sudah bija. Tak peduli di mana beras itu didapat. Artinya, itu baru beras yang basah, bukan bija karena sama sekali tak didoakan dan tidak dilibatkan dalam proses persembahyangan yang dipimpin pemangku. Bagaimana itu bisa disebut sakral?

Bija selain sebagai anugrah juga simbol dari “benih kehidupan” dalam tubuh. Diharapkan benih itu memancar dengan kesuciannya dan orang itu akan mendapatkan kesempurnaan. Karena itu janganlah hal-hal yang sakral ini disepelekan, baik proses penempatannya apalagi proses pembuatannya. Kalau barang itu jadi campah maka yang dikenakan bukan bija, tetapi beras yang basah tanpa makna.

Artikel: Oleh Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda

Advertisements

Makna dan Cara Mabija Yang Benar


Tahap terakhir persembahyang selain nunas tirtha kita juga nunas bija (mebija atau mewija). Bija atau wija didalam bahasa Sansekerta disebut gandaksata yang berasal dari kata ganda dan aksata yang artinya biji padi-padian yang utuh serta berbau wangi.

Image by: Koleksi Pribadi. Besakih 08 April 2018.

Wija atau bija biasanya dibuat dari biji beras yang dicuci dengan air bersih atau air cendana. Kadangkala juga dicampur kunyit (Curcuma Domestica VAL) sehingga berwarna kuning, maka disebutlah bija kuning.Wija atau bija adalah lambang kumara, yaitu putra atau wija Bhatara Siwa. Pada hakekatnya yang dimaksud dengan Kumara adalah benih ke-Siwa-an/Kedewataan yang bersemayam dalam diri setiap orang. Mawija mengandung makna menumbuh- kembangkan benih ke-Siwa-an itu dalam diri orang. Sehingga disarankan agar dapat menggunakan beras galih yaitu beras yang utuh, tidak patah (aksata). Alasan ilmiahnya, beras yang pecah atau terpotong tidak akan bisa tumbuh.

Cara Menempatkan Bija
Dalam menumbuh kembangkan benih ke-Siwa-an / Kedewataan dalam tubuh, tentu meletakkannya juga tidak sembarangan. Ibaratnya menumbuh kembangkan tananam buah kita tidak bisa menamamnya sembarangan haruslah di tanah yang subur. Maka dari itu menaruh bija di badan manusia ada aturannya, agar dapat menumbuh kembangkan sifat kedewataan /ke-Siwa-an dalam diri.

Hendaknya bija diletakan pada titik-titik yang peka terhadap sifat dari kedewataan /ke-Siwa-an. Dan titik-titik dalam tubuh tersebut ada lima yang disebut Panca Adisesa. Yaitu sebagai berikut:

  1. Di pusar yang disebut titik manipura cakra.
  2. Di hulu hati (padma hrdaya) zat ketuhanan diyakini paling terkonsentrasi di dalam bagian padma hrdaya ini (hati berbentuk bunga tunjung atau padma). Titik kedewataan ini disebut Hana hatta cakra.
  3. Di leher, diluar kerongkongan atau tenggorokan yang disebut wisuda cakra.
  4. Di dalam mulut atau langit-langit.
  5. Di antara dua alis mata yang disebut anjacakra.sebenarnya letaknya yang lebih tepat, sedikit diatas, diantara dua alis mata itu.

Pada umumnya dikarenakan ketika persembahyangan dalam sarana pakaian lengkap tentu tidak semua titik-titik tersebut dapat dengan mudah diletakkan bija. Maka cukup difokuskan pada 3 titik yaitu :

  1. Pada Anja Cakra, sedikit diatas, diantara dua alis. Tempat ini dianggap sebagai tempat mata ketiga (cudamani). Penempatan bija di sini diharapkan menumbuhkan dan memberi sinar-sinar kebijaksanaan kepada orang yang bersangkutan.
  2. Pada Wisuda Cakra, Di leher, diluar kerongkongan atau tenggorokan. Sebagai simbol penyucian dengan harapan agar mendapatkan kebahagiaan.
  3. Di mulut, langsung ditelan jangan digigit atau dikunyah. Alasannya seperti tadi kalau dikunyah beras itu akan patah dan akhirnya tak tumbuh berkembang sifat kedewataan manusia.Sebagai simbol untuk menemukan kesucian rohani dengan harapan agar memperoleh kesempurnaan hidup.

Kenyataannya hingga dewasa ini dalam masyarakat Hindu, selain pada titik-titik diatas. Ada juga yang meletakkan pada titik-titik yang lain. Misalnya ditaruh diatas pelipis, sebelah luar atas alis kanan dan kiri. Ada juga yang menaruh pada pangkal di telingah bagian luar.

Bisa dikatakan kurang tepat menaruh bija selain pada 3 titik-titik yang telah disebutkan diatas. Karena titik-titik yang lain dalam tubuh kurang peka terhadap sifat kedewataan atau Tuhan yang ada dalam diri manusia. Sehingga cukup sulit menumbuh kembangkan sifat Kedewataan dalam diri.

Jadi dapat disimpulkan bahwa makna dari penggunaan Bija dalam persembahyangan ialah untuk menumbuh kembangkan sifat Kedewataan/Ke-Siwa-aan/sifat Tuhan dalam diri. Seperti yang disebutkan dalam Upanisad bahwa Tuhan memenuhi alam semesta tanpa wujud tertentu tidak berada di surga atau di dunia tertinggi melainkan ada pada setiap ciptaan-Nya.

artikel lain:

  1. Doa Metirtha, Mesekar dan Mebija
%d bloggers like this: