Paduarsana

Berbagi Tentang Semua Hal

Ida Panditha Mpu Budha Alit Maharesi Parama Daksa


Sosok kali ini kita akan mengangkat kisah perjalan spiritual seorang Pandhita Muda beliau didiksa /disahkan sebagai Sulinggih saat berusia 21 tahun. Berawal saat beliau melakukan meditasi, tiba-tiba beliau terlihat ngaweda dan melakukan mudra.

Image by: newearthfestival.com

Kita tentu setuju perjalanan hidup seseorang memang tidak bisa ditebak. Seperti halnya yang dialami Komang Widiantari  dari Desa Tanggahan Tengah, Perbekelan Demulih, Susut Bangli.

Lahir dari keluarga sederhana yang notabene adalah pedagang. Seperti halnya anak-anak kebanyakan, Komang Widiantari pun memiliki cita-cita sederhana menamatkan sekolah kemudian mencari pekerjaan. Komang Widiantari termasuk murid yang berprestasi, ia sempat terpilih mewaliki Propinsi Bali untuk pertukaran pemuda. Setelah berhasil menamatkan sekolah Komang pun berniat untuk mencari pekerjaan di Bintan, namun gagal. Kegagalan ini mempuatnya terpukul dan ia pun memutuskan untuk kembali ke Bali dan mencoba mencari pekerjaan namun tetap belum berhasil. “Tiang merasa kecewa saat itu, malu dengan keluarga, diri sendiri dan teman-teman,” ujar wanita kelahiran (walaka) 14 Maret 1985 ini.

Peran Mangku Alit

Terpuruk dengan kegagalan demi kegagalan yang dihadapi Komang Widiantari pun mendapatkan masukan /saran dari kakak sepupunya, beliau adalah Mangku Alit. Mangku Alit menganjurkan untuk melukat (pembersihan rohani) dan bermeditasi. Sebagai anak muda, saat itu, Komang Widiantari belum mengerti apa yang dikatakan Mangku Alit. Yang ada dalam benaknya, meditasi adalah sebuah ritual yang rumit dan mesti dilakukan di tengah hutan seperti cerita-cerita kuno.

Singkat cerita melukat dan meditasi pun dilakukan. Disinilah kisah itu bermula. Komang Widiantari kerauhan (kerasukan) saat ditanya, ia mengatakan bahwa dirinya dalam kebingungan. Tidak ingin berlama-lama dalam situasi ini Komang pun diajak untuk menemui Balian (orang pintar) ke daerah Klungkung. Menurut balian tersebut Komang hidup dalam dua dunia, ini tentu membingungkan bagi Komang dan Mangku Alit.

Meditasi, Weda Turun

Meditasipun berlanjut demi sebuah ketenangan. Awal meditasi memang biasa saja. Namun kemudian setelah meditasi yang kelima, Mangku Alit tertegun menyaksikan Komang nguncarang Weda dan bahkan langsung melaksanakan mudra (gerakan tangan saat ngaweda). “Apa yang dirasakan ini memang tiang ketahui, namun awalnya kata-kata dan tindakan gerakan tangan ini tidak terasa dan secara sengaja dilakukan,” ujar Ida Maharsi Alit yang juga mengaku senang melakukannya.

Seiring waktu, semakin hari Komang semakin banyak mendapatkan anugerah, seolah mendapat wahyu Weda dengan mudah dimengerti dan tersimpan dalam ingatan Komang. Hingga pada rerahinan Tilem, Ditengah melakukan meditasi Komang mengatakan keinginannya untuk madiksa, Aneh ketika meditasi usai keinginan tersebut hilang dan Komang mengatakan bahwa dirinya tidak bersedia untuk madiksa. Tentu saja ini menimbulkan kontroversi mengingat faktor usia dan status. Keluarga berusaha mengganggap ini hal yang biasa mengingat keinginan madiksa disampaikan pada saat kerauhan. Komang melaksanakan Panewasrayaan (pergi mencari tempat suci keramat) seperti ke Puncak Gunung Agung, Batu Karu, Pulaki, Melanting, Lempuyang, dan juga Palinggih Siwa Pasupati (Ida Bhatara Lingsir di Serokadan).

Image by: Youtube

Seda (Meninggal) Berkali-kali

Setiap melaksanakan persembahyangan kerap ada perintah-perintah gaib yang intinya agar Ida segera malinggih atau madiksa. Saat di Batu Karu sendiri, ada pawisik bahwa ada paica berupa Manik Asta Gina dirumah Komang dan saat ini tidak diketahui keberadaannya. Paica tersebut adalah milik sang bapak, konon karena Manik Asta Gina inilah wahyu weda yang turun tidak akan hilang namun tersimpan dalam ingatan. Anjuran untuk malinggih dan bergelar Maharsi membuat keluarga gundah sebagian besar dari mereka tidak setuju. Selain kasihan dengan Komang keluarga juga berpikir bagaimana kepercayaan masyarakat nantinya. Dan yang utama adalah dana untuk upacara tersebut.

Kegundahan keluarga tersebut membawanya tangkil(menghadap) ke Griya Gede Nongan Karangasem untuk menanyakan apa yang dialami komang dan keluarganya. Ida Pedanda di Nongan  tidak meragukan Komang harus madiksa. Kisah misterius juga terjadi saat dipuncak Gunung Agung sendiri berjanji akan segera melaksanakan padiksaan. Namun setelah turun gunung janji tersebut diingkari lagi. Secara mengejutkan keesokan harinya sekitar jam tujuh malam Komang Widiantari meninggal. Mendapati situasi seperti ini keluarga dan sanak saudara menangis. Dalam keberadaan matinya ini, Komang merasakan dirinya memang terasa ada yang menarik paksa dan membawa naik. Dilihatnya keluarganya menangisi dirinya namun tidak  mampu berbuat apapun dalam kematiannya ini.

Ada sebuah mimpi dimana dalam mimpi itu seolah dia melihat ibunya sendiri, dia merasakan ada kedekatan yang besar saat melihat ibu tersebut walaupun hanya nampak sebagian saja (ditindih batu besar). Ibu itu memohon belas kasihan karena sudah lama menantikan kelahiran Maharsi dan menjemputnya untuk terbebas dari ‘hukuman’ yang berat itu. “Ning tulung ibu sudah lama ditindih batu besar ini, hanya cening yang bisa membantu,” demikian kata ibu tersebut. Dalam mimpi itu ada sabda langit (Ida Bhatara) “Jika mau melaksanakan tugas untuk madiksa dan menjadi sulinggih, maka Ibu ini akan terlepas,” katanya menirukan sabda yang turun langsung itu. setelah sadar kemudian ia berfikir kembali untuk madiksa. Pengalaman dan peristiwa-peristiwa yang dialami membuat Komang Widiantari yakin dengan keputusannya untuk Madiksa.

Keputusan untuk madiksa tidak berjalan mengingat Komang Widiantari berasal dari keluarga biasa bukan dari kalangan Brahmana terlebih tidak ada dasar pemangkunya. Selain itu dana yang dibutuhkan untuk madiksa sangat besar. Karena kemauan yang keras dan persetujuan keluarga, jalan keluar pun ditemukan. Salah seorang warga(soroh)Pasek Salahin Bapak Ir Made Budiana, Perbekel Peliatan, Ubud akan melangsungkan upacara dirumahnya dan menyetujuinya untuk mensupport upacara padiksan sebagai bentuk yadnya, selain berkeinginan agar ada sulinggih dari soroh Pasek Salahin. Ada sedikit keraguan  dari Made Budiana atas kemampuan Komang Widiantari beliau khawatir kemampuan nge-weda yang dimiliki hanya akibat kerauhan biasa. Made Budiana menjadi yakin saat sembahyang bersama ke Pura Luhur Batu Karu. Dimana ia menyaksikan langsung Komang memang benar-benar memiliki kemampuan itu secara alami bukan karena kerauhan atau kalinggihan.

Proses padiksan pun terencana diawali legalitas hukum dari PHDI Bangli. Persetujuan dari sulinggih-sulinggih pun didapatkan. 21 hari sebelum pelaksanaan pediksaan dilaksanakanlah Upacara Dwijati menjadi Ida Bhawati di Griya Agung Padang Tegal, Gianyar.

Upacara padiksan dilakukan 14 Maret 2006 di Griya Agung Budha Salahin, Tanggahan Tengah, Susut Bangli. Sebagai Nabe napak adalah Ida Pandita Mpu Nabe Acarya Daksa, Guru Waktranya adalah Ida Bhagawan Bajra Sandi, Griya Taman Sari Tegak, Klungkung dan Guru saksinya adalah Ida Pandita Mpu Nabe Purwa Nata dari Singaraja. Dengan padiksan ini maka Komang Widiantari lahir kembali dengan bhiseka Ida Panditha Mpu Budha Alit Maharsi Parama Daksa untuk selamanya. Kehidupan di griya kemudian berjalan sebagaimana biasanya griya lainnya di Bali. Krama tidak pernah ada yang ragu untuk mapinunas di griya.

Terima kasih: baliaga.wordpress.com

Artikel lain:

  1. Ida Bhagawan Dwija

Tata Cara dan Mantram Banten Pejati


Banten Pejati adalah sekelompok banten yang dipakai sarana untuk menyatakan rasa kesungguhan hati kehadapan Hyang Widhi dan manifestasiNya, akan melaksanakan suatu upacara dan mohon dipersaksikan, dengan tujuan agar mendapatkan keselamatan. Banten pejati merupakan banten pokok yang senantiasa dipergunakan dalam Panca Yadnya. Dibawah ini adalah Tata Cara menghaturkan Banten Pejati beserta Mantramnya.

Image by: Halo Pejati

Menyalakan dupa: 

Om Ang dupam samarpayami ya namah svaha

Artinya: Ya Tuhan, hamba puja Engkau dalam sinar suciMu sebagai Brahma, pengantar bhakti hamba kepadaMu.

 

Menghaturkan dupa:

Om Ang dupa dipastra ya namah svaha

Artinya: Ya Tuhan, hamba puja Engkau sebagai Brahma, hamba mohon ketajaman sinar sucimu dalam menyucikan dan menjadi saksi sembah hamba kepadaMu.

Membersihkan bunga dengan asap dupa:

Om puspa danta ya namah svaha

Artinya: Ya Tuhan, sucikanlah kembang ini dari segala kotoran.

Upatti

Upatti ini dilaksanakan untuk membersihkan diri kita, agar dalam melaksanakan pemujaan nanti kita bisa memberikan energi yang bagus terhadap tempat dimana kita akan memuja sehingga bisa memberikan vibrasi yang bagus adapun tahap-tahap yang mesti dilaksanakan dalam melakukan Upatti antara lain :

Asana

Sikap tangan di depan hulu hati dengan sikap deva pratistha

Om Prasada Sthiti Sarira Siva Suci Nirmala ya namah svaha

Karasodana

Om Sodha mam svaha

Om Ati Soddha mam svaha

Pranayama

Tarik nafas : Om Ang namah

Tahan nafas : Om Ung namah

Buang nafas : Om Mang namah

Tangan diatas ubun-ubun dengan sikap Anjali dengan maksud kita memuja Hyang Widhi dengan tulus sehingga kita bisa mendapatkan keheningan pikiran.

Om Hrang Hring Sah Parama Siva Aditya ya namah svaha

Mensucikan bunga dan dupa

Tangan didepan hulu hati dengan sikap deva pratistha, dengan maksud untuk membersihkan sarana dan prasarana yang kita pergunakan dalam memuja Hyang Widhi.

Dupa : Om Ang Dhupa Dipastra ya namah svaha

Bunga : Om Puspa Danta ya namah svaha

Mensucikan Air I

Tangan didepan hulu hati dengan sikap deva pratistha, dengan maksud untuk memohon kepada Devi Gangga agar membersihkan air ini dari segala kekotoran.

Om Puspa Danta ya namah svaha (dalam hati)

Om Hrang Hring Sah Parama Siva Gangga Tirtha Amerta ya namah svaha

Mensucikan Air II

Tangan didepan hulu hati dengan sikap deva pratistha, supaya Siva membersihkan air ini dari segala kekotoran.

Om Puspa Danta ya namah svaha (dalam hati)

Om Siva Amertha ya namah svaha

Lalu bunga dimasukkan ke dalam air

Tangan didepan hulu hati dengan sikap deva pratistha, supaya Sadasiva membersihkan air ini dari segala kekotoran.

Om Puspa Danta ya namah svaha (dalam hati)

Om Sadasiva Amertha ya namah svaha

Lalu bunga dimasukkan ke dalam air

Tangan di depan hulu hati dengan sikap deva pratistha, supaya Paramasiva membersihkan air ini dari segala kekotoran.

Om Puspa Danta ya namah svaha (dalam hati)

Om Paramasiva Amertha ya namah svaha

Lalu bunga dimasukkan ke dalam air

Mempersembahkan Upakara

Astra Mantra

Tangan didepan hulu hati dengan sikap deva pratistha

Om Puspa Danta ya namah svaha (dalam hati)

Om Hung Hrah Phat Astra ya namah

Om Atma Tattvatma Suddha mam svaha

Om Ksama Sampurna ya namah svaha

Om Shri Pasupataye Hung Phat

Om Shriam bhavantu

Sukham Bhavantu

Purnam Bhavantu ya namah svaha

Bunga di buang ke depan

Memepersembahkan dupa

Dupa dipegang dengan kedua tangan di depan hulu hati

Om Ang Brahma Sandhya Namah, Om Ung Visnu Sandhya Namah

Om Mang Isvara Tri Purusa Ya namah svaha

Mantra Pejati ( Daksina, Ajuman, Katipat Kelanan )

Tangan didepan hulu hati dengan sikap deva pratistha

Om Puspa Danta ya namah svaha (dalam hati)

Om Siva sutram yajna pavitram paramam pavitram

Prajapatir yogayusyam

Balam astu teja paranam

Guhyanam triganam trigunatmakam

Om namaste bhagavan Agni

Namaste bhagavan Harih

Namaste bhagavan Isa

Sarva bhaksa utasanam

Tri varna bhagavan Agni Brahma Visnu Mahesvara

Saktikam pastikanca raksananca saiva bhicarukam.

Om Paramasiva Tanggohyam Siva Tattva Parayanah

Sivasya Pranata Nityam Candhisaya Namostute

Om Naividyam Brahma Visnuca

Bhoktam Deva Mahesvaram

Sarva Vyadi Na Labhate

Sarva Karyanta Siddhantam.

Om Jayarte Jaya mapnuyap

Ya Sakti Yasa Apnoti

Siddhi Sakalam Apnuyap

Paramasiva Labhate ya namah svaha

Bunga di buang ke depan (arah Banten) lalu diperciki tirtha

Mantra Canang Sari

Tangan didepan hulu hati dengan sikap deva pratistha

Om Puspa Danta ya namah svaha (dalam hati)

Om tamolah panca pacara guru paduka bhyo namah swaha

Om shri Deva Devi Sukla ya namah svaha

Bunga di buang ke depan (arah Banten)

Mantra ngayabang upakara

Tangan didepan hulu hati dengan sikap deva pratistha

Om Puspa Danta ya namah svaha (dalam hati)

Om Deva Bhatyam Maha Sukham

Bojanam Parama Saamerthan

Deva Baksya Mahatustam

Boktra Laksana Karanam

Om Bhuktyantu Sarva Ta Deva

Bhuktyantu Triloka Natha

Sagenah Sapari Varah Savarga Sada Sidha Sah

Om Deva Boktra Laksana ya namah

Deva Tripti Laksana ya namah

Treptya Paramesvara ya namah svaha

Bunga di buang ke depan (arah Banten)

Mantra Panyeneng/Tehenan/Pabuat

Penyeneng dipegang dengan kedua tangan didepan hulu hati

Om Kaki panyeneng Nini Panyeneng

Kajenengan denira Sanghyang Brahma Visnu Iswara Mahadeva

Surya Chandra Lintang Teranggana

Om shri ya namah svaha.

Isi penyeneng ditaburkan ke depan (arah Banten)

Mantra Peras

Tangan didepan hulu hati dengan sikap deva pratistha

Om Puspa Danta ya namah svaha (dalam hati)

Om Panca wara bhawet Brahma

Visnu sapta wara waca

Sad wara Isvara Devasca

Asta wara Siva jnana

Omkara muktyate sarva peras prasidha siddhi rahayu ya namah svaha.

Bunga di buang ke depan (arah Banten) lalu diperciki tirtha

Pemercikan Tirtha ke semua upakara

Om Pertama Sudha,

Dvitya Sudha

Tritya Sudha

Caturti Sudha

Pancami Sudha

Sudha Sudha Variastu Ya namah svaha.

Om Puspam Samarpayami

Om Dupam Samarpayami

Om Toyam Samarpayami

Sarva Baktyam Samarpayami

Mantra Segehan

Tangan didepan hulu hati dengan sikap deva pratistha

Om Puspa Danta Ya namah svaha (dalam hati)

Om Atma Tattvatma suddha mam svaha

Om svasti-svasti sarva bhuta suka pradhana ya namah svaha

Om shantih shantih shantih Om.

Bunga di buang ke depan (arah segehan) lalu diperciki tirtha

Mantra Metabuh Arak Berem

Sambil mengucapkan mantra sambil menuangkan petabuhan

Om ebek segara, ebek danu

Ebek banyu premananing hulun ya namah swaha.

Terima kasih: Halo Pejati, Input Bali

Artikel lain:

  1. Doa Sarana Banten
  2. Doa sehari-hari agama Hindu
  3. Doa Matirtha, Masekar, Mabija
  4. Membiasakan berdoa untuk anak-anak

Memilih Pasangan Hidup


Memilih pasangan hidup itu tidak mudah. Pacaran boleh lama tapi pada saat waktunya menikah disanalah kita dituntut untuk berpikir dan bertanya pada diri sendiri benarkah kekasih hati adalah pasangan hidup kita? Memilih pasangan hidup tidak sekedar memilih pasangan tinggal seatap dan memiliki keturunan namun ada cinta dan komitmen bersama untuk membentuk keluarga yang bahagia lahir dan bathin.

varayet kulajam prajno
nirupamapi kanyakam
rupasilam na nicasya
vivahah sadrse kule
(Canakya Niti Sastra 1.14)

Artinya: “Orang bijaksana hendaknya menikah dengan wanita dari keluarga terpandang walaupun wanita tersebut tidak cantik. Sebaliknya hendaklah tidak menikahi wanita dari keluarga rendah meskipun berwajah cantik. Akan tetapi, yang terbaik adalah pernikahan dengan wanita sederajat.”

Sloka ini memberikan peringatan agar orang tidak sembarangan memilih pasangan hidup. Mereka tidak memilih calon suami atau istri hanya berdasarkan pada pertimbangan harta, kecantikan wajah, atau alasan material lainnya.

Image by: Hipwee

“Rupa-silam na nicasya vivahah” – keluarga rendah yang dimaksudkan di sini adalah keluarga yang tingkah laku dan hidupnya semrawut, suka membicarakan keburukan orang lain, suka memfitnah dan bertengkar, tidak menghargai kebersihan, kesucian, sopan santun, keluarga jahat, berdosa, dan lelap dalam berbagai berkebiasaan buruk lainnya. Di lain pihak, walaupun wanita berwajah kurang begitu cantik, tetapi kalau ia berasal dari keluarga yang mulia, keluarga baik-baik, sopan santun, berjiwa mulia dalam keagamaan dan spiritual, memiliki rasa malu, maka wanita demikian patut diambil istri oleh orang bijaksana. Itulah yang dimaksudkan di sini dengan kalimat “varayet kulajam prajno nirupamapi kanyakam” – walaupun mempunyai wajah yang cantik tetapi berhati jahat maka wanita seperti itu tidak akan menjadi pilihan orang bijaksana.

Kata kanyakam pada sloka di atas memang menunjuk pada wanita, namun dalam hal ini kata kanyakam juga bisa berarti laki-laki. Kitab suci dan orang suci tidak pernah memihak. Dengan demikian, baris ini juga berarti wanita baik-baik tidak akan sembarangan memilih calon suami. Sebaliknya walaupun wanita berwajah tidak cantik namun berasal dari keluarga mulia maka ia patut diambil sebagai istri oleh orang bijaksana. Keluarga mulia biasanya selalu mewariskan kebiasaan dan sifat-sifat mulia keluarga kepada anak-anak gadisnya yang akan tinggal di keluarga orang lain, agar tidak memalukan dan tidak menjatuhkan martabat keluarganya.

Ciri-ciri luar berupa kecantikan dan ketampanan wajah serta harta benda dapat berubah dalam waktu yang tidak terlalu lama. Semua bertahan hanya beberapa bulan atau tahun. Sedangkan sifat-sifat mulia yang merupakan bawaan sejak kecil dan bekal kebiasaan keluarga mulia tidak akan pernah hilang, bahkan semakin bertambah usia maka sifat-sifat mulia tersebut menjadi semakin bertambah dan bertambah mulia. Itulah yang akan menjadi “penyejuk” hidup keluarga. Tujuan orang berumah tangga adalah demi hidup lebih tenang, damai dan harmonis, terutama agar dikaruniai keturunan anak-anak yang baik, penurut dan berbudi pekerti luhur (Suputra). Hidup indah, mulia dan tenang damai seperti itu tidak didapatkan melalui kecantikan wajah maupun harta benda melainkan melalui sifat-sifat mulia dan budi pekerti yang luhur.

Orang tua dari keluarga mulia selalu mendidik dan menyempurnakan anak gadisnya menjadi layak sebagai seorang istri sebelum diserahkan kepada pemuda pilihan yang akan menjadi suaminya. Pendidikan diberikan tidak akan mengabaikan hal-hal yang kelihatan kecil dan remeh. Mereka akan memastikan bahwa anak putrinya tidak akan pernah duduk menaikkan kaki di hadapan mertua, mereka tidak akan menikahkan anak putrinya sebelum memastikan dia sudah bisa memasak dan lain-lain bekal sifat atau kebiasan mulia yang diperlukan untuk membangun rumah tangga yang indah harmonis. Keluarga-keluarga rendah pada umumnya tidak memperhatikan tugas-tugas mulia para anggota keluarga, tata-krama dan sopan-santun pergaulan, serta sangat jauh dari kehidupan agama spiritual. Anak-anak duduk nangkring sambil nonton TV, main games, iPad, iPhone, atau minum teh, kopi, hotchocolate tanpa peduli dengan orang tua yang sedang bekerja.

Keluarga baik-baik sangat berhati-hati serta berpikir ribuan kali terlebih dahulu sebelum mengawini gadis dari keluarga rendah. Keluarga dan/atau calon suami yang bijaksana selalu memastikan bahwa calon istrinya adalah seorang wanita yang akan memberikan kedamaian dan kesejukan dalam rumah tangga yang akan dibangunnya bersama. Memilih pasangan yang mempunyai sifat-sifat tidak terpuji walaupun berwajah cantik pasti akan memberikan kedukaan pada suami dan keluarganya. Karena, wanita tidak terdidik dalam tingkah laku dan budi pekerti luhur sulit mengubah atau meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruknya.

Sesuai tradisi leluhur, pemuda atau gadis dianjurkan agar berhati-hati memilih lelaki untuk menjadi pasangan hidupnya. Memilih suami tidak karena ketampanan wajah dan juga bukan karena harta atau status lainnya. Leluhur kita sangat rapi menyusun pernikahan putra-putrinya. Hasilnya, zaman dahulu hampir tidak ada perceraian. Namun sekarang, ketika orang menentukan pembentukan keluarga melalui “Cinta sama Cinta”, menurut cerita kawan yang adalah seorang hakim, kasus perceraian merupakan kasus tertinggi yang ditangani di pengadilan. Orang-orang pada antre untuk bercerai. Perceraian tidak lagi kasus melainkan sudah menjadi masalah sangat umum, hal yang biasa, atau hal yang “memang harus terjadi”. Bagaimana pun cara kita menilai leluhur namun “teknik” leluhur ternyata lebih ampuh. Melalui “teknik” Pawukon, Horoscope, Numerology dan lain-lain cara Jyotisa (astrology) leluhur dapat mengetahui apakah pernikahan tersebut akan langgeng atau tidak, bisa mempunyai keturunan ataukah tidak, berapa pasangan tersebut akan mempunyai anak laki atau perempuan, – semua dapat “diketahui” melalui peritungan Pawukon atau Jyotisa. Pasangan memulai hidup Grhastha “tanpa atau melalui cinta” namun dalam perkembangan waktu akhirnya mereka menjadi cinta setengah mati, bahkan sampai tingkat “mesati” (ikut mati dalam pembakaran mayat suami). Tentu saja Veda tidak pernah menganjurkan hal-hal seperti ini.

Wanita yang mendapatkan suami santun bijaksana pastilah wanita yang sudah menanam karma indah pada penjelmaan sebelumnya, atau mendapatkan karunia khusus Tuhan dalam hidup sekarang ini. Pria atau wanita yang mendapatkan istri atau suami yang berwajah cantik/ganteng sekaligus “cantik atau ganteng hati” dianggap dalam kehidupan lampaunya sudah melakukan kegiatan-kegiatan yang sangat mulia. Paling tidak, itulah pendapat pustaka Sarasamuccaya.

Terlahir sebagai seorang wanita mulia yang berwajah cantik (ikang striratna anakӗbi rahayu), pantas memakai berbagai macam pakaian, yang menyenangkan para pria, memiliki rumah besar megah bagaikan istana (lawan umah rahayu, makadi prasadaprsta), dengan menara dan banyak ruangan, dihormati dan disegani, tidak kekurangan santapan jasmani dan rohani, berbagai pakaian dan perhiasan mewah wastrabharanadi, harta benda berlimpah, semua itu dimiliki oleh orangorang dermawan (drbya sang punyakari ika kabeh).

Vivahah sadrse kule — pernikahan terbaik adalah dengan pasangan yang sederajat, baik wanita maupun lelaki. Wanita mulia akan sakit hati melayani suami yang memiliki kebiasaan buruk. Ia pun pasti akan merosot jatuh ke dalam kebiasaan buruk keluarga suami. Sebaliknya suami yang terjauhkan dari sifat mulia tetapi memiliki istri bersifat mulia maka ia akan merasa seolah-olah “bermimpi”. Bahkan banyak pula yang menganggap istrinya gila karena rajin sembahyang, tidak makan daging, dan lain-lain. Pernikahan terbaik adalah menikah dengan keluarga sederajat. Jika suami-istri sama-sama tidak makan daging, sama-sama rajin bersembahyang, sama-sama suka membaca kitab suci Veda, maka dengan sendirinya akan tercipta keluarga yang damai, rukun dan suci.

Manava Dharma Sastra sangat menekankan agar golongan varna memilih pasangan hidup untuk berkeluarga dari varna yang sama, demi terciptanya keseimbangan dan keharmonisan dalam rumah tangga. Bila seseorang dari varna Brahmana menikah dengan sesama Brahmana tentulah mereka dapat saling mendukung. Bila Brahmana menikah dengan varna Vaisya, ada bahaya mereka akan “memperdagangkan” ke-brahmana-an. Mereka yang memiliki sifat kependetaan lalu bekerja sebagai pebisnis, bukan hanya rugi melainkan modal pun ludes “dimakan kebaikan”. Sedangkan yang berjiwa bisnis lalu mengambil pekerjaan kependetaan, maka segala pelayanan agama spiritualnya akan musnah “dimakan kali-kalian”.

Pernikahan bukan untuk “kawin” melainkan demi membangun sebuah rumah tangga yang ideal dan harmonis dalam jalan Veda. Keluarga seperti inilah yang akan membentuk masyarakat, bangsa dan Negara yang tenang, damai, “gemah ripah loh jinawi”. Keluarga yang hidupnya selalu dalam jalan Veda. Grhastha yang siap dan layak menjadi keluarga Sukhinah.

Sumber: Weda Wakya Bali Post 04-03-2018