Paduarsana

Berbagi Tentang Semua Hal

Mengenal Seorang Bhakta


Advesa sarva bhuutanam
Maitrah karuna eva ca
Nirmamo nirhamkarah
Sama duhkha sukhah ksami (Bhagawad Gita XII.13)

Artinya: Dia yang tidak membenci semua makhluk, selalu bersahabat, memancarkan cinta kasih, tidak serakah, tidak egois, seimbang dalam keadaan duka dan suka serta pemaaf. Dialah dapat disebut bhakta.

Orang yang berbhakti pada Tuhan disebut bhakta. Orang yang layak dapat disebut penyembah Tuhan yang disebut bhakta itu dinyatakan dalam pustaka suci Bhagawad Gita XII sloka 13 dan 14. Dalam Bhagawad Gita tersebut penyembah Tuhan yang baik disebut bhakta.
Istilah bhakta ini dinyatakan dalam Bhagawad Gita XII. 14 baris ke 4
Yo mad bhaktah sa me priyah.
Artinya: ia sesungguhnya bhakta-Ku yang terkasih.
Mereka yang disebut bhakta itu adalah yang:

  • samtusta atau selalu puas secara rokhani mensyukuri kenyataan hasil kerja yang dilakukan. Puas rokhani itu berpikir positif tidak mudah kecewa dan mengeluh, tetapi selalu berusaha meningkatkan keadaan ke arah yang semakin baik. Selanjutnya ikhlas menerima kenyataan yang dihadapinya.
  • Satatam artinya selalu teguh dalam meditasi.
  • Yogi artinya terus barusaha mengamalkan ajaran yoga.
  • Yata Atman artinya menguasai diri dengan kesucian Atman.
  • Drdha niscaya selalu kuat memegang keyakinannya.
  • Mayyarpita mano budhi artinya pikiran dan kesadaran budhinya selalu tertambat pada Tuhan.

Mereka yang demikian itulah dapat disebut bhakta atau penyembah Tuhan.

Sebelumnya pada sloka 13 dinyatakan adanya tujuh hal yang menyatakan seseorang dapat disebut bhakta yaitu:

  • Advesa sarva bhuutanam. Artinya tidak membenci semua makhluk. Maksudnya menjaga kemurnian eksistensi unsur-unsur yang membentuk alam dengan segala isinya. Unsur alam itu seperti tanah, air, udara, api dan akasa serta semua makhluk hidup yang ada. Dewasa ini unsur-unsur alam tersebut sudah banyak yang tercemar. Hal itulah yang menyebabkan kualitas dan kuantitas lingkungan hidup semakin menurun kemampuannya mendukung kehidupan semua makhluk terutama manusia. Hal ini menyebabkan gangguan hidup karena merosotnya kualitas lingkungan semakin mengkhawatirkan. Seyogianya kegiatan untuk melestarikan kualitas dan kuantitas lingkungan alam itu yang lebih diutamakan dalam mengamalkan ajaran agama. Kurangi kegiatan ritual yang berhura-hura, boros sumber daya alam, boros dana, waktu dan boros tenaga.
  • Maitrah artinya selalu membangun sikap bersahabat. Tema Kerajaan Majapahit adalah Mitreka Satata artinya selalu mengembangkan upaya persahabatan baik di dalam kerajaan maupun keluar kerajaan. Membangun kebersamaan yang bersahabat dengan konsep beragama zaman Kali. Swami Satya Narayana menyatakan pada zaman Kali hendaknya serius melihat kekurangan diri dan remehkan kelebihan diri sendiri. Sebaliknya serius melihat kelebihan orang lain remehkan kekuranganya. Dengan serius melihat kekurangan diri dapat menimbulkan tranformasi ke dalam diri menuju yang semakin baik. Dengan serius melihat kelebihan orang lain dan serius melihat kekurangan diri sendiri, maka kita akan manjadi sumber inspirasi orang lain. Orang yang terinspirasi itu akan mengubah sendiri kekurangan dan kelemahannya. Persahabatan yang demikian itu akan berkembang secara mandiri. Bukan persahabatan atas arahan pihak ketiga atau mereka yang berkuasa. Seperti perangko nempel di amplop, bukan seperti bersatunya lidi karena diikat oleh tali. Kalau lepas talinya maka lidi itu pun akan berantakan.
  • Karuna artinya welas asih. Rasa welas asih akan tumbuh dalam diri apabila aspek kemanusiaan atau humanity yang dominan dalam diri. Manusia terdiri atas vegetatif aspek, animal aspek, human aspek dan religius aspek. Vegetatif aspek adalah badan jasmani. Animal aspek membentuk hawa nafsu. Human aspek membentuk kebijaksanaan dan religius aspek membangun daya spiritualas. Welas asih akan berkembang dalam diri apabila religiuas aspek menjadi sumber pengembangan human aspek. Dengan demikian animal aspek atau hawa nafsu dan badan jasmani menjadi alat mewujudkan rasa welas asih itu. Karena hakikat religiusitas dan humanity itu adalah welas asih itu sendiri. Dengan welas asih itu akan terbangun kebersamaan yang benar-benar bersahabat. Bukan persaudaraan tanpa sahabat.
  • Nir mama artinya bebas dari keserakahan atau loba. Manawa Dharmasastra VII.49 menyatakan lobha itu sumber semua kejahatan. Serakah itu adalah mengambil lebih banyak dari haknya. Hak itu timbul karena melakukan kewajiban dengan benar. Mereka yang disebut bhakta tidak memiliki sifat serakah seperti itu.
  • Nir ahamkara artinya tidak egois. Sifat egois itu adalah sifat yang selalu merasa lebih penting dan lebih utama dari yang lain. Sifat yang ekslusif atau wiswawara itu meletakkan pihak lain lebih rendah dari dirinya. Seorang bhakta tidak memiliki sifat seperti itu. Bhakta itu mereka yang selalu memiliki sikap yang integratif dengan isi alam ini atau Swamitra. Seorang bhakta selalu bersikap egality atau mendudukkan pihak lain setara. Fraternity memandang pihak lain sebagai sahabat dan liberty selalu menghormati kemerdekaan siapa saja dalam mengembangkan fungsi dan profesinya. Seorang bhakta tidak pernah mengeluh atas eksistensi pihak lain.
  • Sama duhkha sukha artinya seimbang dalam suka dan duka. Suka dan duka itu diyakini sebagai karunia Tuhan. Tidak mungkin kita kena duka kalau tidak pernah berbuat membuat orang lain duka sebelumnya. Suka dan duka itu adalah buah perbuatan kita sendiri. Tuhan pasti melindungi kita dari duka kalau memang kita tidak sepantasnya menerima duka.
  • Ksami artinya menjadilah seorang pemaaf. Kalau ada pihak yang berbuat tidak baik pada diri kita itu artinya pihak lain telah mengambil beban dosa kita. Kalau kita balas dengan perbuatan tidak baik artinya kita mengambil dosa kita kembali. Kalau kita maafkan artinya kita tidak ada beban lagi atas perbuatan tidak baik itu. Reaksi positif akan muncul dalam diri kita kalau kita jadi seorang pemaaf.

Puasa Dalam Agama Hindu


Image by: PHDI

Puasa berasal dari bahasa sansekerta yang terdiri dari kata Upa dan Wasa, di mana Upa artinya dekat atau mendekat , dan Wasa artinya Tuhan atau Yang Maha Kuasa. Upawasa atau puasa artinya mendekatkan diri kepada Tuhan yang maha esa. Puasa menurut Hindu adalah tidak sekedar menahan haus dan lapar, tidak untuk merasakan bagaimana menjadi orang miskin dan serba kekurangan, dan tidak untuk menghapus dosa dengan janji surga. Puasa menurut Hindu adalah untuk mengendalikan napsu Indria, mengendalikan keinginan. Indria haruslah berada dibawah kesempurnaan pikiran, dan pikiran berada dibawah kesadaran budhi. Jika indria kita terkendali, pikiran kita terkendali maka kita akan dekat dengan kesucian, dekat dengan Tuhan !

Jenis-jenis puasa dalam agama Hindu:
Puasa (Upawasa) yang wajib (diharuskan)

  • Siwaratri jatuh setiap panglong ping 14 Tilem kapitu atau Prawaning Tilem Kapitu, yaitu sehari sebelum tilem. Puasa total tidak makan dan minum apapun dimulai sejak matahari terbit sampai dengan matahari terbenam.
  • Nyepi jatuh pada penanggal ping pisan sasih kedasa (lihat kalender ketika libur nasional). Puasa total tidak makan dan minum apapun dimulai ketika fajar hari itu sampai fajar keesokan harinya (ngembak gni).
  • Purnama dan tilem, puasa tidak makan atau minum apapun dimulai sejak fajar hari itu hingga fajar keesokan harinya.
  • Puasa untuk menebus dosa dinamakan dalam Veda Smrti untuk Kaliyuga: Parasara Dharmasastra, sebagai “Tapta krcchra vratam” adalah puasa selama tiga hari dengan tingkatan puasa: minum air hangat saja, susu hangat saja, mentega murni saja tanpa makan dan minum sama sekali.

Pilihan ditentukan oleh jenis dosa yang dilakukan: membunuh binatang, membunuh/ mencederai sapi, hubungan kelamin terlarang (zina), makan makanan terlarang, membunuh manusia, dll.

Puasa yang tidak wajib
adalah puasa yang dilaksanakan di luar ketentuan di atas, misalnya pada hari-hari suci: odalan, anggara kasih, dan buda kliwon. Puasa ini diserahkan pada kebijakan masing-masing, apakah mau siang hari saja atau satu hari penuh. Ingat bahwa pergantian hari menurut Hindu adalah sejak fajar sampai fajar besoknya; bukan jam 00 atau jam 12 tengah malam.

Puasa berkaitan dengan upacara tertentu
misalnya setelah mawinten atau mediksa, puasa selama tiga hari hanya dengan makan nasi kepel dan air kelungah nyuhgading.

Puasa berkaitan dengan hal-hal tertentu
sedang bersamadhi, meditasi, sedang memohon petunjuk kepada Hyang Widhi, setiap saat (tidak berhubungan dengan hari rerainan) dan jenis puasa tentukan sendiri apakah total (tidak makan dan minum sama sekali) selama 1 hari 1 malam atau seberapa mampunya.

Memulai puasa dengan upacara sederhana yaitu menghaturkan canangsari kalau bisa dengan banten pejati memohon pesaksi serta kekuatan dari Hyang Widhi. Mengakhiri puasa dengan sembahyang juga banten yang sama. Makanan sehat yang digunakan sebelum dan setelah puasa terdiri dari unsur-unsur: beras (nasi) dengan sayur tanpa bumbu keras, buah-buahan, susu, madu dan mentega.
Makanan yang dianjurkan dan dilarang bagi umat Hindu ada dalam Manawa Dharmasastra buku ke V.
Silahkan lihat dan pelajari, usahakan menepati apa yang ditulis di sana. Wanita yang sedang haid ada dalam keadaan cuntaka, jadi tidak boleh berpuasa. Tidak ada perbedaan puasa antara laki dan perempuan.

Artikel lain :

  1. Puasa dalam Agama Hindu
  2. Tujuan Puasa Dalam Hindu
  3. Apakah Hindu Mengenal Puasa?
  4. Manfaat dan Tata Cara Puasa

Mencari Nafkah Dijalan Dharma


Agama Hindu mengajarkan kepada penganutnya untuk selalu berpegang teguh pada Dharma dalam mencari nafkah. Tidak satupun sloka dalam kitab Weda membenarkan cara-cara buruk untuk mendapatkan nafkah/ sumber kehidupan. Cara mendapatkan sumber kehidupan bagi umat Hindu diatur dalam Manawa Dharmasastra,  Buku ke-4 “Atha Caturtho ‘Dhyayah” antara lain pada sloka 3 berbunyi:

YATRAM ATRA PRASIDDHYARTHAM, SWAIH KARMABHIRAGARHITAIH, AKLESENA SARIRASYA KURWITA, DHANASAMCAYAM

artinya: Untuk tujuan mendapat nafkah guna menunjang kehidupan, seseorang hendaknya mengumpulkan penghasilannya dengan menjalankan usaha yang tidak tercela sesuai dengan swakarma-nya tanpa membuat dirinya terlalu payah tidak menentu.

Pada sloka 15 lebih dirinci lagi sebagai berikut:

NEHETARTHAN PRASANGGENA, NA WIRUDDHENA KARMANA, NA WIDYAMANESWATHESU, NARTYAMAPI YATASTATAH

artinya: Dalam keadaan apapun janganlah mencari kekayaan dengan jalan adharma, tidak pula melakukan usaha-usaha terlarang dan tidak menerima pemberian dari sembarang orang.

Dan Sloka 16:

INDRIYARTHESU SARWESU, NA PRASAJ KAMATAH, ATIPRASAKTIM CAITESAM MANASA, SAMNIWARTAYET

artinya: Jangan hendaknya karena keinginan akan kesenangan mengikatkan diri pada hal-hal pemuasan nafsu semata dan dengan hati-hati menghindarkan diri dari keterikatan yang berlebihan, dengan menyadari bahwa cara-cara itu tak bernilai sama sekali.

Akhirnya, pada sloka 18 ditulis:

WAYASAH KARMANO RTHASYA, SRUTASYABHIJANASYA CA, WESAWAG BUDDHI SARUPYAM ACARAN WICAREDIHA

artinya: Hendaknya manusia hidup di dunia ini dengan penyesuaian-penyesuaian meliputi: pakaian, tingkah laku, kata-kata, pikiran, dengan kedudukan, kekayaan, pelajaran suci, dan kebangsaannya.

Keempat sloka dari Manawa Dharmasastra buku ke-4 tersebut di atas dapat dikaji sebagai batasan “dharma” dalam mencari nafkah, sekaligus merupakan pedoman kehidupan menuju “Moksartham jagaditaya ca iti dharmah” atau kebahagiaan lahir bathin di dunia dan nirwana.

Intinya adalah mengingatkan umat manusia, bahwa dalam upaya mencari nafkah janganlah melakukan pekerjaan-pekerjaan yang dilarang norma-norma Agama, Hukum, dan Susila, serta jenis pekerjaan yang dapat menodai nama Bangsa dan Negara.

Di samping itu, jenis pekerjaan yang terlalu menguras tenaga dan membahayakan kesehatan, juga tidak disarankan. Penghasilan yang diperoleh secara tidak wajar, termasuk penerimaan suap, pembagian hasil korupsi, pendapatan terlalu tinggi yang tidak sesuai dengan jabatan atau profesi juga termasuk dilarang untuk diterima, karena akan menyebabkan keterikatan pada hal-hal yang bersifat adharma yang lambat laun dapat menuntun kepada perbuatan-perbuatan dosa yang lebih berat.

Dalam hidup kekinian, sangat sulit mengukur nilai “wajar” dari suatu jenis pekerjaan dan pendapatan yang diperoleh. Mungkin dengan mengadakan perbandingan-perbandingan, suatu kewajaran dapat dimengerti. Misalnya jenis pekerjaan yang oleh nilai budaya tidak wajar dilakukan oleh seorang wanita, menjadi sopir taksi yang bekerja sampai pagi. Atau seorang eksekutif yang menyuruh bawahannya bekerja di luar bidang tugasnya, apalagi untuk kepentingan pribadi atau kelompok sang pemimpin.

Pendapatan yang tidak wajar, misalnya menerima hadiah baik berupa uang ataupun benda lainnya yang terlampau besar, tidak sesuai dengan prestasi kerjanya. Pemberian-pemberian hadiah yang tidak wajar seperti ini biasanya merupakan trik pimpinan untuk mengajak bawahannya melanggar hukum, atau menjaga agar rahasia kecurangannya tidak terbongkar.

Seperti yang disebutkan dalam Manawa Dharmasastra IV-16 di atas, pemberian sesuatu dari seseorang yang tidak wajar (besarnya) merupakan “ikatan” yang harus dihindari. Kalimat ini hendaknya lebih dihayati sebagai suatu bentuk jebakan atau perangkap dengan umpan menggiurkan, namun akan berakibat si penerima mendapat kesulitan di kemudian hari.

Pesan mulia yang terdapat pada Manawa Dharmasastra IV-18 mengingatkan kita, umat manusia agar hidup di dunia ini seimbang dan harmonis dengan kemampuan yang dibentuk oleh kualitas Sumber Daya Manusia masing-masing, dan tidak menghayalkan sesuatu yang berlebihan atau memaksakan diri mencapai target yang tidak mampu dicapai.

Filsafat Hindu yang lain, dikenal dengan “Catur Purusha Artha” juga mengajak kita untuk menyadari bahwa Moksha hanya akan dapat dicapai melalui Dharma, Artha, dan Kama.

Lebih tegas lagi diuraikan dalam Kitab Suci Sarasamusccaya 263:

APAN IKANG ARTHA, YAN DHARMA LWIRNING KARJANANYA, YA IKA LABHA NGARANYA, PARAMARTHA NING AMANGGIH SUKHA SANG MWAKEN IKA, KUNENG YAN ADHARMA LWIRNING KARJANANYA, KASMALA IKA, SININGGAHAN DE SANG SAJJANA, MATANGNYAN HAYWA ANASAR SANGKENG DHARMA, YAN TANGARJANA

artinya: Sebab uang itu, jika dharma landasan memperolehnya, laba atau untung namanya; sungguh-sungguh mengalami kesenangan orang yang beroleh uang itu; akan tetapi jika uang itu diperoleh dengan jalan adharma, merupakan noda uang itu, dihindari oleh orang yang berbudi utama ; oleh karena itu janganlah bertindak menyalahi dharma, jika anda berusaha mencari nafkah.

Selanjutnya sloka 266 menegaskan lagi: “Hana yartha ulihning pariklesa ulihning anyaya kuneng, athawa kasembahaning satru kuneng, hetunya ikang artha mangkana kramanya, tan kenginakena ika” artinya: Adalah uang yang diperoleh dengan jalan jahat, uang yang diperoleh dengan jalan melanggar hukum, ataupun uang persembahan musuh; uang yang demikian halnya jangan hendaknya diingin-inginkan.

Dalam sloka ini ada kalimat “uang persembahan musuh” di mana pengertian “musuh” ditafsirkan sebagai pihak yang ingin mencelakakan kita misalnya dengan cara-cara suap, atau melibatkan kita dalam perbuatan korupsi baik yang nyata maupun yang terselubung.

Akhirnya sloka 270 perlu dihayati dengan seksama:

IKANG WWANG TAN PANIDDHAKEN DHARMA, ARTHA, KAMA, MOKSA, HEMANA HANAHANA APARTHAKA HURIPNYA, NGARANIKAN MANGKANA, UMINGU SARIRANYA PANGANENING MRTYU IKA

artinya: Orang yang tidak berhasil melakukan Dharma, Artha, Kama, dan Moksa, sayang benar ia ada, tetapi tiada berguna hidupnya; orang demikian dinamai orang yang hanya mementingkan memelihara badan wadahnya saja, yang kemudian dicaplok maut.

Maksudnya, jangan mensia-siakan hidup di dunia, karena tujuan hidup manusia menurut filsafat Weda adalah untuk mensucikan roh, sehingga di suatu saat nanti diharapkan terhindar dari samsara atau penjelmaan kembali berulang-ulang. Cita-cita Moksha adalah bersatunya roh dengan Brahman atau Yang Maha Esa.

Dari: stitidharma.org