Advertisements

Paduarsana

Berbagi Tentang Semua Hal

Daily Archives: January 8, 2013

Kidung Wargasari


Kidung Wargasari adalah budaya agama dan bersifat lokal berlaku untuk suku tertentu. Di Bali kidung wargasari kemungkinan berbeda-beda namun tembangnya biasanya sama. Kidung Wargasari digunakan untuk pemujaan(nuwur bhetara).

Purwakaning-Biasanya dilantunkan sebelum melakukan persembahyangan saat upacara odalan.

Purwakaning angripta rumning wana ukir.
Kahadang labuh. Kartika penedenging sari.
Angayon tangguli ketur. Angringring jangga mure.

Sukania harja winangun winarne sari.
Rumrumning puspa priyaka, ingoling tangi.
Sampun ing riris sumar. Umungguing srengganing rejeng

Kidung Pengayat-Menghaturkan Banten

Ida Ratu saking luhur. Kawula nunas lugrane.
Mangda sampun titiang tanwruh. Mengayat Bhatara mangkin.
Titiang ngaturang pajati. Canang suci lan daksina.
Sami sampun puput. Pratingkahing saji.

Asep menyan majagau. Cendana nuhur dewane,
Mangda Ida gelis rawuh. Mijil saking luhuring langit.
Sampun madabdaban sami. Maring giri meru reko.
Ancangan sadulur, sami pada ngiring.

Bhatarane saking luhur. Nggagana diambarane.
Panganggene abra murub. Parekan sami mangiring.
Widyadara-widyadari, pada madudon-dudonan,
Prabhawa kumetug. Angliwer ring langit.

Kidung Pamuspan -Merdu Komala –

Ong sembah ning anatha. Tinghalana de Triloka sarana.
Wahya dyatmika sembahing hulun ijeng ta tan hana waneh.
Sang lwir agni sakeng tahen kadi minyak sakeng dadhi kita.
Sang saksat metu yan hana wwang hamuter tutur pinahayu.

Wyapi-wyapaka sarining paramatatwa durlabha kita.
Icantang hana tan hana ganal alit lawan hala-hayu.
Utpatti sthiti lina ning dadi kita ta karananika.
Sang sangkan paraning sarat sakala-niskalatmaka kita.

Sasi wimbha haneng: ghata mesi banyu.
Ndan asing suci nirmala mesi wulan.
lwa mangkana rakwa kiteng kadadin.
Ring angambeki yoga kiteng sakala.

Katemun ta mareka sitan katemu.
Kahidepta mareka si tankahidep.
Kawenang ta mareka si tan ka wenang.
Paramartha Siwatwa nira warana.

Nunas Tirta-Memohon Tirtha

Turun tirtha saking luhur. nenyiratang pemangkune.
Mekalangan muncrat mumbul. Mapan tirtha mrtajati.
Paican Bhatara sami, panglukatan dasa-mala.
Sami pada lebur. Malane ring gumi.

Advertisements

Mengenal Upacara Pawintenan


Pengertian

Upacara pawintenan adalah upacara mensucikan seseorang oleh Nabe yaitu Sulinggih Dwijati yang sudah berwenang melakukan pawintenan. Berwenang melakukan pawintenan, berdasarkan panugrahan (ijin) dari Nabe Sulinggih itu, atas pertimbangan kemampuan spiritual yang tinggi (jnyana), lamanya mediksa, dan pertimbangan-pertimbangan lain-lain.

Kata mawinten berasal dari dua kata dalam bahasa kawi yakni: mawa, dan inten. Mawa artinya: menjadi, dan inten artinya suci, bercahaya, dan sakral. Dari pengertian ini terkandung makna bahwa seseorang yang sudah mewinten diharapkan menjadi suci, berkharisma, dan sakral sehingga patut mendapat kedudukan sosial di masyarakat sebagai seorang ekajati. Ekajati artinya kelahiran yang pertama; bila dikemudian hari mediksa, ia akan menjadi seorang dwijati atau kelahiran yang kedua.

Siapakah yang boleh mawinten ?

Semua orang terutama yang sudah memasuki masa wanaprastin asrama. Wanaprastin asrama adalah masa seseorang sudah melewati gryahasta asrama yaitu masa berkeluarga, atau sudah mempunyai istri, dan anak-anak. Ketika anak-anaknya sudah mandiri, disitulah saatnya ia memasuki masa wanaprastin. Biasanya sudah berusia 50 tahun keatas.

Siapakah yang wajib mawinten ?

  1. Yang belajar Weda, membuat banten, mekidung, wajib mawinten dengan tataban banten Saraswati.
  2. Yang menjadi pemangku di Sanggah Pamerajan, pregina tarian sakral, undagi, pengayah Sulinggih, wajib mawinten dengan tataban banten Bebangkit.
  3. Yang menjadi pemangku di Pura atau Kahyangan Tiga, Jero Gede, Jero Bhawati, Jero Dalang, wajib mawinten dengan tataban banten Catur.

Makna banten tataban pawintenan

Banten tataban pawintenan bermakna sebagai penuwur Ida Bhatara yang dimohonkan sebagai pemberi kewenangan dan pesaksi atas upacara pawintenan. Bila menggunakan banten Saraswati, kita memohon kehadiran Bhatari Saraswati sebagai shakti Brahma. Bila menggunakan banten Bebangkit kita memohon kehadiran Bhatari Durga sebagai Dewi Uma, shakti Bhatara Siwa. Bila menggunakan banten Catur kita memohon kehadiran Bhatara Catur Dewata yakni: Ishwara, Brahma, Mahadewa, dan Wisnu. Makin tinggi tingkat tataban pawintenannya, maka makin beratlah kewajibannya melaksanakan yama dan niyama brata. Mengenai pengertian yama-niyama brata, harap baca tulisan saya tentang Satyam, Siwam, Sundaram.

Urutan upacara pawintenan

  1. Sudah melakukan upacara manusa yadnya lengkap bagi pasangan yang mawinten
  2. Nyumbah kedua orang tua yang masih hidup. Ini dilakukan karena bila nanti sudah mawinten dia tidak boleh nyumbah layon (bila ortunya meninggal dunia)
  3. Mapiuning dan nunas panugrahan di Sanggah Pamerajan dan di Pura-Pura yang dipandang perlu
  4. Mejauman ke Nabe yang akan melaksanakan upacara pawintenan
  5. Urutan Upacara pawintenan
  6. Mabeakala, tujuannya: mensucikan stula dan atma sarira tahap pertama.
  7. Mapetik (mepotong rambut), tujuannya: mensucikan stula sarira, dan memberi tanda adanya peningkatan status sebagai manusia yakni dari seorang walaka menjadi seorang ekajati.
  8. Merajah, tujuannya: menstanakan aksara-aksara suci (modre) di anggauta tubuh tertentu, sebagai persiapan nuwur Ida Bhatara pesaksi.
  9. Matemayut, tujuannya: mengikat panca mahabhuta dan panca tan matra yang ada di tubuh ybs. dengan norma-norma agama: trikaya parisuda, yama-niyama brata, waspada pada musuh-musuh: sad-ripu, sapta-timira, dasa-mala, dll.
  10. Masalempang, tujuannya: meresapkan makna kesucian skala dan niskala.
  11. Me-sangga-urip, tujuannya: menyiapkan kedudukan Ida Bhatara pesaksi di Siwa-Dwara
  12. Mapadamel dengan sad rasa, tujuannya: menyiapkan sang mawinten agar mampu menjalani kehidupan yang baik/tentram, yakni: tahan menderita (rasa pahit), tahan pada kesusahan (rasa asam), tidak mudah marah (rasa pedis), disiplin (rasa sepet), suka belajar (rasa asin), dan tidak sombong bila berhasil (rasa manis)
  13. Mejaya-jaya, tujuannya: memohon kesucian Sapta-Gangga, yakni cipratan tirta siwamba, sebagai symbol kesucian tujuh sungai suci di India: Gangga, Sindu, Saraswaty, Yamuna, Godawari, Narmada, dan Sarayu
  14. Metapak, tujuannya: menstanakan Bhatara di Siwa Dwara sang mawinten, dan sebagai tanda (tapak) maka Nabe meletakkan padma angelayang di ubun-ubun (siwa dwara) sang mawinten.
  15. Makarowista, tujuannya: mengukuhkan pe-tapakan dengan symbol Ongkara
  16. Makalpika, tujuannya: memohonkan umur panjang bagi sang mawinten
  17. Mabija, tujuannya: memohon panugrahan Bhatara Wisnu agar sang mawinten hidup makmur dan sejahtera.
  18. Masamadi, tujuannya: natab banten pawintenan, dan mohon wara nugraha Bhatara.

Berpuasa

Selama tiga hari setelah upacara pawintenan, ybs. wajib berpuasa “mutih” yakni dengan hanya memakan nasi putih dengan air dari bungkak nyuh gading.

Masida Karya dan Matirta yatra

Sore dihari ketiga, sang mawinten natab banten sida karya sebagai tanda berakhirnya prosesi upacara mawinten. Setelah masida karya, esoknya dilanjutkan dengan matirta yatra ke Pura-Pura atau tempat suci menurut keyakinan dan tradisi masing-masing warga.

**Bhagawan Dwija

Tips Melakukan Pranayama Bagi Kesehatan


Dalam pembersihan ini ada tiga hal penting yang perlu kita berikan pembersihan melalui Pranayama, seperti Nadhi-Nadhi ( saraf-saraf Tulang belakang), System-system Tubuh ( Galad system), Dan Organ-organ dalam tubuh. Ketiga ini memegang peranan yang sangat penting untuk kesehatan kita baik fisik maupun psikis.

Ambil sikap Padmasana, kalau belum biasa silahkan pakai sukhasana.

Rileks-an tubuh, rasa dan pikiran, tutup mata dan dengan konsentrasi bathin rasakan diri kita terhubung dengan kekuatan Matahari, rasakan energi menyentuh kita dan rasakan juga sinar matahari yang suci menyinari seluruh tubuh kita, rasakan hubungan semakin kuat dan rasakan tubuh kita semakin terang bercahaya. Dan selanjutnya rasakan kehadiran energi murni dan suci menentuh kita.

Sikap selanjutnya. Tutup lubang hidung kanan dan konsentrasikan kesadaran pada aliran energi di lubang hidung kiri. Kalau memungkinkan rasakan dalam energi itu ada cahaya Matahari. Gunakan energi ini dan arahkan ke tulang punggung untuk membersihkan saraf-saraf tulang belakang, lakukan nafas sebanyak 7 kali putaran, lakukan dengan lembut dan dalam. Seterusnya secara bergantian, tutup lubang hidung Kiri, rasakan aliran energi di lubang hidung kanan, dan konsentrasi kesadaran dan tehnik yang sama, lakuakn pernafasan lembut dan dalam sebanyak 7 kali putaran.

Kemudian, lakukan masuk dan keluarnya aliran nafas dilubang hidung secara bergantian. Caranya: tutup lubang hidung kanan rasakan energi masuk di lubang hidung kiri, selanjutnya tutup lubang hidung kiri dan rasakan nafas keluar di lubang hidung kanan, seterusnya rasakan nafas masuk di hidung kanan, dan tutup lubang hidung kanan, rasakan nafas keluar di lubang hidung kiri. Lakukan juga selama 7 kali putaran, lembut dan tanpa henti. Perlu diperhatikan , posisi tubuh harus tegak dan tulang punggung lurus, pranayama lakukan dengan rilek saja tanpa ada kesan dipaksakan. Kenyamanan akan menghadiri kita.

Pembersihan System tubuh, Galnd system ( Cakra Suddhana)

Sehabis melakukan Nadhi Suddhana pembersihan saraf-saraf tulang belakang, sesi selanjutnya melakukan pembersihan sistem tubuh atau cakra Suddhana.

Caranya,: Ambil sikap seperti di atas. Tutup lubang hidung kanan, dengan tangan kiri diangkat ke atas, dan jari tangan rasakan peka. Kesadaran sama dengan Nadhi suddhana, yang beda adalah arah energinya.

  • Tarik nafas lembut melalui hidung kiri, sekarang arahkan nafas keluar ke tulang ekor dan rasakan energi melakukan pembersihan.
  • Tarik lagi energy masuk lembut dan arahkan keluar di organ reproduksi daerah sex, rasakan lakukan pemebersihan.
  • Tarik nafas dalam dan lembut, selanjutnya arahkan energy keluar di organ pencernaan daerah perut, rasakan melakukan pembersihan.
  • Tarik nafas lembut dan dalam , rasakan dikeluarkan di daerah jantung dan rongga dada, rasakan pembersihan.
  • Tarik nafas lembut dan dalam, rasakan keluar di daerah tenggorokan , organ pernafasan, rasakan pembersihan.
  • Tarik lagi nafas lembut dan dalam, rasakan dikeluarkan di daerah dahi, rasakan membersihakan daerah muka.
  • Tarik nafas lembut dan dalam lagi, Rasakan keluar di ubun-ubun, rasakan pembersihan daerah kepala.

Melakukan Pranayama hendaknya dibawah bimbingan seorang guru yang berpengalaman untuk mengajarkan anda melakukan pranayama dengan benar. Selain itu penting bagi anda untuk pertimbangkan kesehatan, misalnya: apakah anda mempunyai penyakit asma, jantung atau tekanan darah rendah dll. Segera hentikan apabila anda merasa kurang nyaman.

**dari berbagai sumber.

%d bloggers like this: