Advertisements

Paduarsana

Berbagi tentang: Hindu, Bali dan Budayanya.

“Karena Kita Percaya Akan Karma”


”Istriku dan aku menghabiskan tiga minggu di Bali pada bulan April tahun ini (2011). Kami di sana untuk merayakan ulang tahun perkawinan kami yang ke 38 sebagai tamu dari seorang sahabat yang sangat baik yang mengizinkan aku tinggal di vilanya yang indah secara gratis. Seharus aku membayar USD1,100 per malam. Itu setelah kunjunganku ke Australia dan tepat sebelum kuliah Haris Ibrahim yang aku sampaikan di Bangkok diikuti oleh semua drama itu.”

Demikian Raja Petra, mulai tulisan kenangannya tentang kunjungannya di Bali. Berikut lanjutannya.

Apa yang paling mengesankan aku tentang Bali adalah kejujuran dari orang-orangnya, yang sekitar 90% Hindu (tetapi sangat berbeda dari orang-orang Hindu Malaysia). Kami meninggalkan semua barang-barang kami termasuk uang tunai di kamar kami. Staf keluar masuk ke kamar dengan bebas dan kami tidak merasa khawatir sedikitpun. Dalam kenyataannya, kamar tidur kami tidak mempunyai kunci (namun) hanya celah-celah ventilasi kaca.

Aku tanya seorang gadis Bali akan memijatku bagaimana bisa orang Bali begitu jujur.
Karena kita percaya akan karma, dia menjawab.

Oh, aku menjawab, itu berarti apapun yang Anda lakukan kepada orang lain hal yang sama akan terjadi kepada anda (balasan yang sama). Tidak, dia menjawab. Apapun yang Anda lakukan kepada yang lain sepuluh kali lebih banyak akan terjadi kepada anda. Dan itu termasuk kedua-duanya, baik atau buruk.

Kapan pun kami mengambil taksi, pengemudi taksi akan secara otomatis menghidupkan argo meternya. Dan mereka tidak pernah mengambil rute yang lebih panjang untuk sampai di tempat tujuan. Selalu saja jalan pintas. Kapan pun kita berhenti di tempat belanja untuk membeli barang-barang makanan dan minuman dan keperluan lain, pengemudi taksi akan mematikan argo meter dan menunggu, berapapun lamanya. Maka kita tidak harus membayar ”waktu yang hilang” (lost time) .

Suatu kali sahabatku meninggalkan Blackberrynya di McDonalds. Kami sudah separuh jalan kembali ke vila sebelum ia menyadari ia telah kehilangan Blackberrynya dan kami curiga ia mungkin telah meninggalkannya di McDonalds, di mana kami berhenti terakhir. Kami minta sopir berputar dan kembali ke McDonalds, sekalipun kami tidak benar-benar berpikir bahwa Blackberrynya masih ada di sana.

Tetapi perhatikan dan lihat, Blackberry itu masih di sana. Seseorang telah menemukannya di konter dan menyampaikannya ke manajer. Betapa leganya temanku yang tentu tidak dapat menanggung kehilangan semua datanya.

Ada banyak contoh lain mengenai kejujuran dari orang Bali yang sangat mengesankan kami. Aku berkelakar bahwa jika aku belum mempunyai agama dan tengah mencari suatu agama aku mungkin akan menjadi seorang Hindu Bali. Demikian bagaimana aku terkesan dengan orang Bali Hindu.

Masih kah, kita umat Hindu Bali mempunyai prinsip dasar yang kuat dalam bersikap kepada saudara kita, kepada teman kita, kepada tamu kita baik dari luar maupun dalam negeri?? Orang asing mungkin sangat merindukan sikap rendah hati umat Hindu Bali baik di dunia pendidikan, pertanian, bisnis atau industri pariwisata.

Salam,

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: