Advertisements

Paduarsana

Berbagi tentang: Hindu, Bali dan Budayanya.

Kesetiaan Istri dalam Pewayangan.


Dikisahkan, Dewi Savitri adalah putri Aswapati di Kerajaan Madra, Dewi Savitri mempunyai suami bernama Setiawan putra dari Brahmanaraja Jumatsena. Menurut ramalan Bhatara Narada, Setiawan umunya masih satu tahun lagi dari hari perkawinannya. Walaupun Savitri sudah dilarang ayahnya untuk menikahi setiawan namun Savitri tetap bersikeras untuk menikah dengan Setiawan, karena dia sudah berjanji tidak akan mengena laki-laki lebih dari satu dalam hidupnya.

Setelah Savitri dan Setiawan menjadi suami istri akhirnya apa yang diramalkan Bhatara Narada menjadi nyata. Setiawan yang sedang membelah kayu bakar tiba-tiba merasakan sakit bagaikan ditusuk lembing yang tajam. Dewi Savitri akhirnya menidurkan kepadala suaminya diatas pangkuannya dan mengusap-usap rambut setiawan dengan penuh cinta kasih. Pada saat Savitri teringat akan ramalan Narada, datanglah Bhatara Yama dengan mata merah, bermahkota merah menakutkan menghampiri Savitri. Bhatara Yama langsung membawa mayat Setiawan dan memperingatkan Savitri agar membuat upacara untuk kematian suaminya. Tetapi Savitri tidak menghiraukan nasehat Bhatara Yama bahkan ia mengikuti kemana Bhatara Yama membawa mayat Setiawan suaminya tercinta.

Bhatara Yama : “Kembalilah Savitri, berbuatlah untuk merawat mayat suamimu, kau telah memenuhi segala kewajiban terhadap suamimu”.

Dewi Savitri : “Kemana jungjungan patik dibawa, kesitulah patik pergi. oleh karena itu janganlah ditolak perjalanan patik”.

Bhatara Yama : “Perkataanmu sungguh tinggi artinya, oleh karena itu mintalah sesuatu, pasti akan aku kabulkan asal jangan minta mayat suamimu dihidupkan lagi.”

Dewi Savitri : ” Kembalikan kerajaan, kekuasaan dan kesehatan mertua patik, sehingga beliau dapat melihat kembali.”

Bhatara Yama : ” Permintaanmu akan kuberi, kembalilah kamu supaya tidak payah dijalan.”

Dewi Savitri : “Patik tidak akan payah selama berdampingan dengan suami patik,  karena sekali patik bercampur dengan seorang yang berbudi, selama itulah patik akan mengabdi.”

Bhatara Yama : “Perkataanmu sungguh menyenangkan orang budiman, oleh karena itu mintalah sekali lagi, asal tidak minta suamimu hidup kembali.”

Dewi Savitri : “Mohon kami diberi 100 putra, dan hidup disuatu kerajaan yang panjang-punjung, pasir wukir, loh jinawi, gemah ripah tata tentram kerta raharja.”

Bhatara Yama : “100 orang putra yang gagah perkasa, bahagia sempurna akan kuberi, dan sekarang kembalilah Savitri, karena kau telah berjalan terlalu jauh.”

Dewi Savitri : ” Bagaimana patik bisa berputra 100 orang apabila patik tidak bersuami, tak ada gunanya patik selamat dan bahagia, jika suami patik tidak ada. Oleh karena itu hidupkanlah Setiawan junjungan hamba.

Bhatara Yama : “Baiklah kulepas nyawa suamimu, berbahagialah engkau dengan junjunganmu. dan Setiawan akan kuberikan usia 1oo tahun.”

Dari kutipan percakapan dalam pewayangan diatas, kita bisa melihat cerminan kesetiaan seorang istri terhadap suaminya yang mampu menghidupkan kembali semangat dan kepercayaan diri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: