Paduarsana

Berbagi Tentang Semua Hal

Tag Archives: hindu

Anak Haram Dalam Hindu


Tidak ada seorang anak pun berkeinginan lahir dari hasil luar kawin dan perzinahan dan tidak ada seorang anakpun lahir atas kehendaknya sendiri.Istilah ‘anak haram’ dalam tradisi beragama Hindu di Bali, menurut Lontar Men Brayut, disebut: PANAK DIA-DIU, yaitu kelahiran anak tanpa melalui pawiwahan yang ditandai dengan upacara mabeakala antara pasangan suami/ istri.

Jadi kalau anak lahir tanpa upacara beakala terlebih dahulu, itulah panak dia-diu. Contoh lain, baru me-beakala setelah si wanita hamil, anak dari kandungan ini juga termasuk panak dia-diu.

Dalam Lontar Catur Cuntaka, kelahiran anak dia-diu membawa cuntaka bagi si anak dan si ibu. Cuntaka itu berakhir bila si anak sudah di ‘peras’ oleh ibunya, atau oleh orang lain dari pihak keluarga.
Umat Hindu sangat menghormat dan memulyakan manusia, Anak Haram atau Pianak Dia-diu tetap diharapkan menjadi anak yang suputra, bermartabat dan berguna bagi masyarakat seperti anak-anak lainnya.

Solusinya bila terjadi ‘kecelakaan’, artinya hamil sebelum pernikahan/ pawiwahan (kalau bisa dihindari) maka di saat upacara tiga bulanan bayi, sekaligus tambahkan upacara meperas di sanggah pamerajan purusha.

Istilah tetaplah istilah tidak akan menjamin keburukan atau kebaikan bagi seorang anak, tugas kita sebagai orang tua adalah membimbing dan mengarahkan anak agar senantiasa menjadi anak yang berguna bagi bangsa, keluarga dan agama.

Apakah Hindu Mengenal Puasa?


Ada pertanyaan menggelitik dari sahabat non-Hindu tentang puasa dalam Hindu, Bukan persoalan siapa penanya dan beragama apa, yang terpenting adalah jawaban atas pertanyaan itu dapat sebagai pengetahuan kita.

Puasa Hindu

Image by: PHDI

Pak, apa agama Hindu mengenal puasa? Seperti agama kami yang bisa untuk menebus dosa? . . .”. Saya menjawab ; “ Ah, anda bercanda, bagaimana mungkin Hindu tidak mengenal puasa. Sedangkan puasa itu sendiri berasal dari bahasa Sansekerta., Bahasanya kitab Weda.

PUASA SEBAGAI SARANAMWRAJA
Dalam Bhagawad Gita tertulis tentang Bakti:
“ Sarwadharma partityaja, mam ekam saranamwraja”
Artinya: lakukanlah kewajibanmu dengan sungguh-sungguh, anggaplah itu sebagai bentuk pemujaan terhadap Tuhan.
Kalimat diatas jelas seharusnya menuntun langkah hidup kita dalam keseharian. Kita sering kali terjebak dalam rakusnya kehidupan. Terperosok bahwa uang dan materi merupakan satu-satunya jalan menuju keselamatan dan kebahagiaan. Kita terpedaya oleh keinginan yang tak terbatas. Kita hidup dalam mimpi dan melupakan kesadaran tertinggi ( Paratattva).
Keinginan dalam hidup sebenarnya adalah penjara ( ikatan duniawi) yang menjauhkan kita dari kebahagiaan. Banyak tokoh-tokoh suci dan orang ternama mengatakan “ Kebahagiaan akan mudah tercapai jika keinginan kita tidak banyak “ . Jadi manusia hanya dapat dibebaskan dengan membatasi keinginan-keinginannya. Jadi bagaimana umat Hindu mengurangi aneka keinginan itu ?
Mulailah dari makanan, Jangan Rakus, jangan mengambil lebih dari kebutuhan, jangan mengambil hak orang, dan jika terdapat hal berlebih, sumbangkanlah ! Maka umat Hindu mengenal jenis makanan yang Satvik.
Puasa adalah salah satu cara yang efektif untuk mengatasi itu. Puasa untuk terapi spiritual kerap dapat mengatasi kelemahan manusia karena egoisme. Puasa yang baik menurut Hindu yaitu pada saat Purnama dan tilem dimana terjadi perubahan gravitasi bumi akibat gravitasi bulan dan itu sering mengganggu manusia secara emosional. Selain itu puasa sering diyakini untuk mengistirahatkan tubuh dan mengeluarkan racun, Jadi dapat pula dilihat dari aspek kesehatan.
Akhirnya apapun yang dilakukan dan diyakini terhadap puasa itu, akan menjadi bermakna tinggi jika berpuasa adalah sebagai pemujaan kepada Hyang Widhi (`saranamwraja ), bukan dengan embel-embel menghapus dosa apalagi untuk publisitas!
PUASA DAN KEBAHAGIAAN HIDUP
Puasa dan kebahagiaan jika dipikirkan , mungkin merupakan sesuatu yang sedikit bertentangan. Bagaimana mungkin kita merasa bahagia jika keinginan kita (untuk makan) tertahan !
Gede Prama dalam bukunya memberikan penjelasan yang sangat logis tentang kebahagiaan; Dijelaskan bahwa jika kita ingin mencontoh wajah kebahagiaan (bukan kesenangan), lihatlah pada wajah anak-anak, begitu polos , riang dan benar-benar bahagia. Kebahagiaan pada anak-anak ini ternyata mudah didapat karena keinginan mereka masih sedikit ! Jadi dalam penjelasannya dikatakan bahwa semakin sedikit keinginan kita makin dekat kita dengan kebahagiaan. Aturlah keinginanmu maka kebahagiaan akan semakin dekat ! Mengatur itu keinginan dapat kita latih dengan berpuasa.
Tuhan adalah Sat Chit Ananda (sumber dari kebahagiaan), jadi makna Upawasa (puasa) yang berarti mendekatkan diri dengan Tuhan, adalah juga berarti mendekatkan (mendapatkan) kebahagiaan tertinggi itu.
**dari berbagai sumber.

Merajan


Sebagai masyarakat Hindu Bali kita tentu tidak asing dengan istilah Sanggah Pamerajan, berasal dari kata: Sanggah, artinya Sanggar/tempat suci; Pamerajan berasal dari Praja yaitu keluarga. Jadi Sanggah Pamerajan artinya  tempat suci bagi suatu keluarga tertentu. Untuk singkatnya orang menyebut secara pendek : Sanggah, atau Merajan. Tidak berarti bahwa Sanggah untuk orang Jaba, sedangkan Merajan untuk Triwangsa. Yang satu ini kekeliruan di masyarakat sejak lama, perlu diluruskan.

Menurut bentuknya Sanggah Pamerajan, ada tiga versi:

a Yang dibangun mengikuti konsep Mpu Kuturan Trimurti maka pelinggih yang letaknya di ‘hulu’ (kaja-kangin) adalah pelinggih Kemulan (Rong Tiga, Dua, Satu), tidak mempunyai pelinggih Padmasana/ Padmasari.
b Yang dibangun mengikuti konsep Danghyang Nirarta Tripurusha maka pelinggih yang letaknya di ‘hulu’ (kaja-kangin) adalah pelinggih Padmasana/ Padmasari, sedangkan pelinggih Kemulan tidak berada di Utama Mandala
c Kombinasi keduanya biasanya dibangun setelah abad ke-14, maka pelinggih Padmasana/ Padmasari tetap di ‘hulu’, namun di sebelahnya ada pelinggih Kemulan

Trimurti, adalah keyakinan stana Sanghyang Widhi sesuai dengan Ang – Ung – Mang (AUM = OM) atau Brahma, Wisnu, Siwa, adalah kedudukan Sanghyang Widhi dalam posisi horizontal, dimana Brahma di arah Daksina, Wisnu di Uttara, dan Siwa di Madya.

Tripurusha, adalah keyakinan stana Sanghyang Widhi sesuai dengan Siwa – Sada Siwa – Parama Siwa, adalah kedudukan Sanghyang Widhi dalam posisi vertikal, dimana Parama Siwa yang tertinggi kemudian karena terpengaruh Maya menjadilah Sada Siwa, dan Siwa.

Yang mana yang baik/ tepat ?

  1. Menurut keyakinan anda masing-masing.
  2. Namun ada acuan, bahwa konsep Mpu Kuturan disebarkan di Bali pada abad ke-11. Konsep Danghyang Nirarta dikembangkan di Bali sejak abad ke-14, berdasarkan wahyu yang diterima beliau di Purancak/ Jembrana.
  3. Memakai kedua konsep, atau kombinasi a dan b adalah yang tepat karena kita menghormati kedua-duanya, dan kedua-duanya itu benar, mengingat Sanghyang Widhi ada di mana-mana, baik dalam kedudukan horizontal maupun dalam kedudukan vertikal.

Namun demikian tidaklah berarti Sanggah Pamerajan yang sudah kita warisi berabad-abad lalu dibongkar, karena dalam setiap upacara, toh para Sulinggih sudah ‘ngastiti’ Bhatara Siwa Raditya (Tripurusha) dan juga Bhatara Hyang Guru (Trimurti)

1. Sanggah Pamerajan dibedakan menjadi 3 :

  1. Sanggah Pamerajan Alit (milik satu keluarga kecil)
  2. Sanggah Pamerajan Dadia (milik satu soroh terdiri dari beberapa ‘purus’ (garis keturunan)
  3. Sanggah Pamerajan Panti (milik satu soroh terdiri dari beberapa Dadia dari lokasi Desa yang sama),

2. Pelinggih di Sanggah Pamerajan :

a Sanggah Pamerajan Alit
  • Padmasari
  • Kemulan Rong Tiga
  • Taksu
b Sanggah Pamerajan Dadia
  • Padmasana
  • Kemulan Rong Tiga
  • Limas Cari
  • Limas Catu
  • Manjangan Saluang
  • Pangrurah
  • Saptapetala
  • Taksu
  • Raja Dewata
c Sanggah Pamerajan Panti Sanggah Pamerajan Dadia ditambah dengan Meru atau Gedong palinggih Bhatara Kawitan

Palinggih-palinggih lainnya yang tidak teridentifikasi seperti tersebut di atas, disebut ‘pelinggih wewidian’ yaitu pelinggih yang berhubungan dengan sejarah hidup leluhur di masa lampau, misalnya mendapat paica, atau kejumput oleh Ida Bhatara di Pura lain, misalnya dari Pura Pulaki, Penataran Ped, Bukit Sinunggal, dll, maka dibuatkanlah pelinggih khusus berbentuk limas atau sekepat sari.

Pada beberapa Sanggah Pamerajan sering dijumpai pelinggih wewidian ini jumlahnya puluhan, berjejer. Namun disayangkan karena leluhur kita di masa lampau terkadang lupa menuliskan riwayat hidup beliau, sehingga keturunannya sekarang banyak yang tidak tahu, pelinggih apa saja yang ada di Sanggah Pamerajannya.

Pelinggih-pelinggih umum yang terdapat di Sanggah Pamerajan adalah stana dalam niyasa Sanghyang Widhi dan roh leluhur yang dipuja :

1 Padmasana/ Padmasari Sanghyang Tri Purusha, Sanghyang Widhi dalam manifestasi sebagai Siwa – Sada Siwa – Parama Siwa.
2 Kemulan rong tiga Sanghyang Trimurti, Sanghyang Widhi dalam manifestasi sebagai Brahma – Wisnu – Siwa atau disingkat Bhatara Hyang Guru. Ada juga kemulan rong 1 (Sanghyang Tunggal), rong 2 (Ardanareswari), rong 4 (Catur Dewata), rong 5 (Panca Dewata)
3 Sapta Petala Sanghyang Widhi dalam manifestasi sebagai pertiwi dengan tujuh lapis : patala, witala, nitala, sutala, tatala, ratala, satala. Sapta petala juga berisi patung naga sebagai symbol naga Basuki, pemberi kemakmuran.
4 Taksu Sanghyang Widhi dalam manifestasi sebagai Bhatari Saraswati (sakti Brahma) penganugrah pengetahuan.
5 Limascari dan limascatu Sanghyang Widhi dalam manifestasi sebagai ardanareswari : pradana – purusha, rwa bhineda.
6 Pangrurah Sanghyang Widhi sebagai manifestasi Bhatara Kala, pengatur kehidupan dan waktu.
7 Manjangan Saluwang pelinggih sebagai penyungsungan Mpu Kuturan, mengingat jasa-jasa beliau yang mengajegkan Hindu di Bali.
8 Raja-Dewata pelinggih roh para leluhur (dibawah Bhatara Kawitan)