Paduarsana

Berbagi Tentang Semua Hal

Tag Archives: bali

Tajen


Tajen, Ilustri gambar tidak menunjukkan kegiatan tajen yang sesungguhnya. Tajen dilakukan oleh orang-orang dewasa.

Bagi orang Bali pasti akrab dengan kata Tajen, ini merupakan kegiatan sabung ayam ala Bali. Istilah tajen berasal dari kata taji yang berarti pisau kecil. Taji atau pisau kecil inilah yang nantinya akan dipasang pada kaki ayam yang akan diadu.

Menurut sejarah, tajen dianggap sebagai sebuah proyeksi profan dari salah satu upacara yadnya di Bali yang bernama tabuh rah. Tabuh rah merupakan sebuah upacara suci yang dilangsungkan sebagai kelengkapan saat upacara macaru atau bhuta yadnya yang dilakukan pada saat tilem. Upacara tabuh rah biasanya dilakukan dalam bentuk adu ayam, sampai salah satu ayam meneteskan darah ke tanah. Darah yang menetes ke tanah dianggap sebagai yadnya yang dipersembahkan kepada bhuta, lalu pada akhirnya binatang yang dijadikan yadnya tersebut dipercaya akan naik tingkat pada reinkarnasi selanjutnya untuk menjadi binatang lain dengan derajat lebih tinggi atau manusia. Matabuh darah binatang dengan warna merah inilah yang konon akhirnya melahirkan budaya judi menyabung ayam yang bernama tajen. Namun yang membedakan tabuh rah dengan tajen adalah, dimana dalam tajen dua ayam jantan diadu oleh para bebotoh sampai mati, jarang sekali terjadi sapih. Upacara tabuh rah bersifat sakral sedangkan tajen adalah murni bentuk praktik perjudian.

Adapun jenis-jenis tajen:

  1. Tajen dalam ritual tabuh rah yang lazim diadakan berkaitan dengan upacara agama. Tabuh berarti mencecerkan dan rah adalah darah. Pelaksanaan tajen dalam tabuh rah dianggap sebagai bagian dari rangkaian pelaksanaan upacara sehingga pelaksanaannya tidak dilarang.
  2. Tajen terang sengaja digelar desa adat untuk menggalang dana. Berdasarkan hukum adat, tajen terang tidak dilarang, bahkan setiap desa adat memiliki awig-awig yang mengatur tata cara tajen meski tidak tertulis.
  3. Tajen branangan yang tanpa didahului izin kepala desa adat serta semata-mata berorientasi judi.

Sampai saat ini, persoalan tajen di Bali tetap menjadi sesuatu yang cukup dilematis. Dalam perspektif hukum positif, kegiatan apapun yang mengandung unsur permainan dan menyertakan taruhan berupa uang, maka dianggap sebagai perjudian dan dianggap terlarang. Namun di sisi lain, tajen yang sebenarnya merupakan sebuah proyeksi profan dari tabuh rah dianggap sebagai salah satu bentuk upacara adat yang sakral, patut dijunjung tinggi, dihormati dan tentu saja dilestarikan.

Orang Bali Mudah Pindah Agama??


Diambil dari Tulisan Saudara Ngakan Putu Putra

Diskusi tentang “Muhammad Kadek Rihardika bin Ketut Pandika” sekalipun terlihat main-main saja, sebenarnya mengandung dua pertanyaan yang cukup menarik. Mengapa orang Bali relative mudah pindah agama? Dan apa yang harus dilakukan untuk mencegahnya? Sudah ada penelitian tentang orang-orang Bali yang pindah ke Kristen di Bali, dilakukan oleh Drs Nyoman Wijaya, dosen sejarah di Faksas Unud, untuk thesis S2. Penelitian ini dan hasilnya diterbitkan berupa sebuah buku tebal, dibiayai oleh sebuah Yayasan Kristen di Bali. Saya belum membaca buku tersebut. Menurut Pak Made Titib ada 7 atau 9 hal yang menyebabkan orang-orang Bali pindah ke agama Kristen. Sebab yang utama adalah masalah kemiskinan, masalah ekonomi. Sebab-sebab yang lain, adalah adat, kasta, agama (ini tidak menunjukkan urutannya) dll

Karena buku ini berdasarkan penelitian, wawancara dengan orang-orang Bali yang sudah menjadi Kristen, apa yang disampaikan di dalamnya dapat diterima kebenarannya. Jadi benar bahwa soal pindah agama, dalam ini ke agama Kristen lebih banyak didorong oleh masalah perut. Tetapi bagimana kita menjelaskan orang-orang Bali yang berpendidikan baik, berkedudukan baik, berasal dari keluaga puri, dari griya, bahkan putra pedanda, putra pendiri Dwijendra, PGA Hindu pindah agama, umumnya ke Islam, karena ikut istri?

Di bawah ini saya coba mengemukakan beberapa sebab, berdasarkan pengamatan saja, karena saya tidak melakukan penelitian, misalnya wawancara dengan mereka yang pindah agama.

Pertama, melaksanakan tanpa memikirkan.

Orang Bali lebih banyak melaksanakan agamanya dari pada memikirkannya. Ini juga dikatakan oleh Miguel Covarrubias di dalam bukunya “Island of Bali”. Ini tidak sekedar berarti orang Bali melaksanakan berbagai ritual saja, tetapi juga di dalam tingkah laku etiknya. Be good! Do good! Dua hal inilah sebetulnya inti agama Hindu. Itulah yang dilaksanakan oleh orang Bali. Dan ini saja sebetulnya sudah cukup, asalkan kita hidup di dalam masyarakat yang homogen (Hindu). Atau di dalam masyarakat majemuk dari agama-agama Timur. Tetapi ini saja sama sekali tidak cukup bila kita hidup di dalam masyarakat heterogin, yang terdiri dari agama-agama Kristen dan Islam. Kenapa? Karena kedua agama ini merupakan agama missi yang agresif.

Kedua, hegemoni makna keagamaan.

Konsep dan makna keagamaan dewasa ini ditentukan oleh agama Kristen dan Islam. Ini adalah hasil dari keaktifan mereka di dalam wacana keagamaan. Mereka dapat mendiktekan definisi dan menentukan mana agama yang benar dan mana yang salah. Misalnya soal paham ketuhanan monotheisme, agama bumi vs agama langit, tentang nabi dll. Orang-orang Bali (Hindu) karena tidak memiliki pemahaman yang cukup tentang agamanya, apalagi tentang agama lain, tidak mampu berpartisipasi di dalam wacana ini. Akibatnya mereka hanya mengikuti saja apa yang didiktekan oleh agama Kristen dan Islam. Hal paling maksimal yang dapat dilakukan oleh orang Bali, adalah mematut-matut diri di depan cermin yang dipasang oleh agama lain (Kristen dan Islam). ini berarti, secara sadar atau tidak, kita mengakui bahwa agama mereka lebih tinggi,lebih bermutu dari agama kita. Kita menerima saja konsep yang didiktekan oleh Kristen dan Islam, tanpa daya kritis sama sekali. Kita mengikuti strategi “saya juga” (me too). Agama saya juga monoteis, agama saya juga punya nabi, agama saya juga agama langit.

Tetapi konsep yang kita terima secara formal tidak menemukan pijakan di dalam realitas. Misalnya soal monoteisme, di dalam praktek kita masih bicara tentang “Betara Pura Rawamangun” “Betara Pura Bekasi”. Betara Pura Rawamangun “lunga” ke Pura Bekasi, waktu piodalan di Bekasi. Betara pura Bekasi bersama para Ida Betara di seluruh Jabotabek “ngiring” Ida Betara Gunung Salak melasti ke Cilicing. Kemudian soal nabi. Kita sibuk mencari-cari siapa nabi Hindu.

Seharusnya kita mengkaji apa monoteisme itu? Bagaimana perbandingannya dengan paham ketuhanan yang lain seperti politeisme, panteisme. Betulkah monoteisme lebih unggul dari paham ketuhanan yang lain? Apa nabi itu? Bagaimana kehidupan para nabi itu, khususnya kehidupan moralnya, bila dibandingkan dengan para maharesi Hindu atau para pendiri agama-agama Timur seperti Mahavira, Buddha, Guru Nanak, Kong Hu Cu, atau dengan para maharesi baru Hindu seperti Vivekananda, Ramana, Gandhi misalnya.

Demikian juga tentang agama langit dan agama bumi. Kita seharusnya mempelajari apa isi dari agama-agama ini, apa keunggulan agama-agama ini? Apakah ia mengajarkan nilai-nilai yang cocok dengan kemanusiaan dewasa ini? Bagaimana dengan ajaran tentang kebencian dan kekerasan yang demikian banyak terdapat di dalam kitab suci mereka, dan juga di dalam praktek kehidupan nyata? Kita tidak mampu melakukan purwa paksa (kritik atas ajaran agama lain) karena kita tidak memiliki pengetahuan untuk itu. Dan tidak punya kemauan pula.

Di dalam sebuah wilayah jajahan, si terjajah, secara terang-terangan atau tersembunyi mengagumi bahkan memuja si penjajah. Fakta bahwa si pejajah dapat menjajah merupakan bukti bahwa si penjajah lebih hebat dari si terjajah. Si terjajah, secara diam-diam atau terang-terang ingin meniru si pejajah. Hal yang di bawah ini contohnya.

Ketiga, semua agama sama saja.

Pendapat ini biasanya berkembang di kalangan para penekun “spritiualitas” – tidak semuanya – yang kemudian diikuti oleh sebagian umat Hindu awam. Saya tidak asal menolak pandangan ini. Saya ingin ditunjukkan bukti atau argumenasi dimana samanya? Apakah ada kesamaan di antara ajaran-ajaran, doktrin-doktrin, dogma-dogma utama yang merupakan pilar dari agama-agama itu? Jawaban ini tidak pernah muncul. Jawab yang diberikan biasanya merujuk kepada “pengalaman”. Yang dimaksud disini adalah pengalaman mistis. Jawaban ini sama sekali tidak meyakinkan saya. Pengalaman ini bersifat sangat personal. Berapa banyak orang Hindu yang mau memiliki pengalaman ini? Dari yang mau berapa banyak yang mampu memperolehnya? Dari yang mengaku memperolehnya bagaimana ia dapat di verifikasi atau difalsifikasi? Dan apakah orang-orang dari agama lain juga mencari pengalaman semacam itu? Saya pikir tidak. Tugas utama dari agama-agama tersebut adalah mewujudkan perintah kitab suci atau pendirinya untuk membuat agamanya sebagai satu-satunya agama di dunia. Kita dapat menyebut ini adalah agenda imperialisme agama. Paham triumpalis ini yang menjadi daya dorong (driving force) yang melahirkan semangat dan gairah missi dan dakwah dari kedua agama tersebut. Mereka pergi ke seluruh pelosok dunia untuk mejalankan perintah agung (great commission) ini.

Sementara pengalaman itu pasti berharga bagi yang menginginkan dan mendapatkannya, mengatakan bahwa dengan pengalaman itu saja semua permasalahan dunia dapat diselesaikan, adalah pernyataan yang naïve dan menyesatkan. Urusan agama apalagi urusan dunia sama sekali bukan hanya soal pengalaman ini. Kita tidak dapat menyelesaikan suatu tantangan dengan sekedar lari ke dalam.

Dampak dari kesamenisme banyak dan serius. Di antaranya adalah, pertama tentu saja, ini mendorong atau tidak menghalangi orang Bali (Hindu) untuk pindah agama. Bila kita konsekuen dengan dalil bahwa semua agama sama, seharusnya kita tidak mempermasalahkan dan tidak perlu melakukan apapun. Kedua, pandangan ini tidak mendorong orang-orang Bali untuk mempelajari agama-agama lain. Digabung dengan yang pertama, hal ini menyebabkan kita semakin tidak mampu terlibat dalam wacana agama, tidak mampu merespon tantangan yang disampaikan oleh agama-agama yang lain, terutama yang berkaitan dengan upaya konversi mereka.

Sikap ini, menurut Dr Frank Gaetano Morales, membuat agama Hindu seperti cermin atau panggung kosong. Siapa saja dapat bermain di panggung itu, dengan lakonnya sendiri, dengan pemainnya sendiri, di depan para penonton Hindu atas biaya agama Hindu. Peran Hindu baru dibutuhkan, jika rombongan asing itu memerlukan satu tokoh antagonis. Tentu tidak aneh bila para penonton (yang adalah orang-orang Hindu) akan mengagumi dan memilih para pemain asing itu dari pada pemain Hindu yang hanya berperan sebagai tokoh buruk.

Siapakah yang akan memilih agama, yang justru mengagungkan agama-agama lain di atas dirinya sendiri? Tanya Dr Morales.

Di samping soal prinsip di atas, dari aspek citra, pernyataan bahwa semua agama sama saja, yang disampaikan oleh orang Hindu dalam kedudukan sebagai minoritas, dalam pandangan saya, mirip upaya orang miskin yang ingin sekali diakui saudara oleh orang kaya, yang justru terus-menerus menolak dan menghinanya. Siapakah yang ingin mengikuti suatu agama yang menumbuhkan mental terjajah?

Keempat, kemalasan intelektual.

Ketiga hal tersebut di atas menyebabkan kita terbuai dalam suasana aman dan nyaman. Kita bukan saja tidak mampu, tetapi juga tidak mau merespon wacana dari agama lain. Kita tidak ingin mengganggu rasa aman dan nyaman kita. Sekalipun jika rasa aman dan nyaman itu adalah palsu. Kita telah menjadi malas secara intelektual.

Ketika Media Hindu menerbitkan buku “Hindu Agama Terbesar di Dunia” tahun 2004, yang diselenggarakan oleh KMHDI Jakarta, yang bereaksi keras justru orang-orang Hindu (Bali) sendiri. Orang-orang dari agama lain, diam-diam saja. Ini tampak ketika acara bedah buku ini di Pura Bekasi pada awal terbitnya buku ini yang diselenggarakan oleh PHDI Bekasi dengan KMHDI Jakarta. Reaksi dari peserta demikian keras. Ada yang mempertanyakan apakah buku tidak akan menimbulkan reaksi dari pihak lain? Mengapa melakukan perbandingan semacam itu? Bahkan ada yang mengatakan saya (sebagai editor) berpandangan sempit. Mengapa tidak menulis buku yang memuat kebaikan-kebaikan semua agama?

Semula saya marah mendengar penyataan-pernyataan ini, bukan karena saya tidak suka dikritik, tetapi karena saya melihat semuanya itu muncul dari ketakutan. Apa yang membuat kita begitu ketakutan? Tetapi kemudian saya senang, karena saya berhasil membangunkan orang-orang Bali ini yang, terlalu lama terkantuk-kantuk dalam lamunan tentang dunia yang damai dan indah di dalam angan-angannya. Mereka memang bangun secara terkaget-kaget, seperti orang yang pantatnya tersundut bara keloping. Bukankah suasana semacam itu juga sering muncul di HDNet ini? Kita belum bisa membedakan purwa paksa dengan kebencian dan menjelek-jelekkan agama. Dan kita tidak mau belajar.

Demikianlah jawaban saya terhadap pertanyaan : mengapa orang Bali (relative) mudah pindah agama? Secara singkat dapat dikatakan penyebabnya adalah “kompleks rendah diri agama” (religious inferiority complex). Lalu pertanyaan kedua, bagaimana mencegah perpindahan agama yang begitu gampang itu? Masalah-masalah yang telah disebutkan oleh Nyoman Wijaya harus diselesaikan. Dan yang lebih penting kompleks rendah diri agama ini juga harus diselesaikan. Jika masalah kedua ini tidak dapat diselesaikan, penyelesaian masalah-masalah pertama tadi tidak akan ada gunanya. Banyak upaya diperlukan. Seluruh komponen masyarakat Hindu yang sadar harus mengambil tanggung jawab. Tugas Media Hindu bersama buku-buku yang diterbitkannya adalah untuk menghancurkan religious inferiority complex yang sudah kronis dan melumpuhkan ini!

 

 

 

Menggugat Ceramah Ustad “Ida Bagus” Abdul Azis


Pernah mendengar kasus seorang Ustad Abdul Azis? Bagaimana pendapat pembaca mengenai sikap orang ini?. Diluar sana masih banyak ustad-ustad atau pendeta-pendeta yang mungkin keliru menilai Bali atau Hindu pada khususnya. Ada yang terang-terangan seperti yang dilakukan Ustad “bodoh”(maaf) Abdul Azis, adapula yang secara diam-diam. Bagi sahabat-sahabat non-hindu jika sekiranya anda belum memahami Hindu seperti apa, tolonglah.. dengan tidak mengurangi rasa hormat saya kepada anda, bertanyalah. Saat ini banyak informasi yang bisa anda dapatkan mengenai Hindu, sehingga anda tidak terjebak pada pikiran buruk tentang Hindu, Bali dan Budayanya.

Berikut adalah gugatan isi ceramah ustad abdul azis ditulis oleh I.K Sugiartha, sisya Griya Taman Narmada, Lombok Barat, Nusa Tenggara Timur.

Apakah sama  agama dan  tradisi?  Secara umum dapat dijelaskan, bahwa Agama  adalah pengikat jiwa yang menuntun jalan mencapai Tuhan. Sementara tradisi adalah kebiasaan-kebiasaan didalam melaksanakan ajaran agama.   Namun  seorang Ustadz Abdul Aziz,   yang mengaku mantan Hindu,  mengidentikan tradisi  dengan agama Hindu.  Padahal  Pak Ustadz ini,  katanya sudah  menyandang gelar  sarjana agama (SAg) Hindu dan sudah belajar Hindu selama 25 tahun, serta  menguasai Yoga Samadi. Bukan main. Tetapi, kenapa dia meninggalkan Hindu. Benarkah Mantram Tryambakam kalah dengan  suara Takbir?

Kesaksian Menjadi Muslim

Inilah rangkuman kesaksian Ustadz Abdul Aziz yang disampaikan di dalam sebuah pengajian  yang bertajuk  ‘’Kesaksian Hidayah Mantan Pemeluk Hindu’’ di Surakarta, Jawa Tengah,  pada Rabu, 21 Juli 2010, rekamannya beredar di tengah-tengah masyarakat,  penulis sampaikan dengan gaya bertutur seperti berikut ini.

Sebelum saya masuk Islam, agama saya adalah Hindu.  Pendidikan saya Sarjana Agama  Hindu.  Saya mempelajari Hindu sudah dua puluh lima tahun.  Orang mungkin tidak akan percaya kalau saya bisa  sampai masuk Islam. Saya berkasta brahmana. Nama depan saya  ‘’Ida Bagus’’ (dia tidak menyebutkan nama Hindunya).  Saya menguasai yoga samadi.

Saya melakukan praktek yoga samadi di Pura Mandara Giri Lumajang bersama beberapa orang teman saya.  Pada suatu hari saya disarankan untuk membaca Mantram Tryambakam. Saya pun terus aktif  membaca Mantram Tryambakam, pagi, sore dan malam. Pada hari ketiga yang melakukan yoga samadi, saya diuji Tuhan, ribuan nyamuk datang dan mengerubuti saya. Saya kemudian bacakan Mantram Tryambakam, nyamuk itu hilang. Pada hari kelima saya melakukan yoga semadi,  saya lagi diuji Tuhan,  aroma bau busuk menebar dari tubuh saya. Saya kemudian membacakan Tryambakam, bau busuk di tubuh saya  pun hilang.

Pada hari ketujuh saya melakukan yoga samadi,  tiba-tiba hati saya berdebar-debar. Saya terus membaca Tryambakam, tetapi guncangan hati saya tidak berhenti. Dalam situasi  berdebar-debar,  tiba-tiba saya mendengar suara takbir ‘’Allahuakbar … Allahuakbar’’. Padahal malam itu bukan malam idul fitri, lantas dari mana suara takbir itu datang. Saya coba lawan dengan Mantram Triyambakam, namun  suara takbir itu tidak hilang, malah suaranya semakin jelas dan kuat. Dari situ saya kemudian berpikir  bahwa ini adalah hidayah bagi saya. Saya kemudian masuk Islam pada tahun 1995,  dan  naik haji pada tahun 1996. Sepulang saya dari haji,  kedua orang tua saya dan lima saudara saya  semua ikut dengan saya masuk agama islam.

Panca Yajna:  Upacara Selamatan?

Tidak ada maksud sedikitpun dari penulis  untuk  mencampuri urusan privacy seorang Ustazd Abdul Aziz, lebih-lebih mengenai pilihan jalan (agama) penuntun hidupnya.  Cuma saja, yang mengundang  perhatian saya, karena   di dalam ceramahnya yang  berdurasi sekitar  satu setengah jam (dua CD) tersebut, Pak Ustadz  telah menjadikan ajaran ‘’Agama’’ Hindu sebagai bahan  banyolan, di antaranya seperti kalimat-kalimat yang dicetak miring berikut ini:

 Pertama. Panca Yajna adalah  lima  upacara selamatan di dalam agama Hindu, masing-masing:

  1. Dewa yajna yakni selamatan kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa.
  2. Rsi yajnya adalah selamatan kepada  orang-orang yang dianggap suci.
  3. Pitra yajna adalah selamatan kepada roh leluhur.
  4. Manusa yajna adalah selamatan kepada  manusia.
  5. Butha yajna adalah selamatan kepada  mahluk bawahan.

Melakukan selamatan ini adalah wajib hukumnya di dalam Agama  Hindu. Contoh  selamatan pada hari kematian, acaranya berlangsung pada hari pertama, ke-3, ke-7, ke-40,  ke-100 dan  nyewu (hari ke-1000).   ‘’Kalau tidak  punya uang untuk melaksanakan selamatan, wajib utang kepada tetangga. (jamaah tertawa).

Sebab  bila keluarga yang meninggal tidak diselamatin, rohnya akan gentayangan,  menjelma menjadi hewan,  binatang, bersemayam di keris dan jimat, dll. Makanya pohon-pohon diberi sarung, dan pada setiap hari Sukra Umanis jimat dan keris diberi minum kopi. ‘’Sedangkan yang melaksanakan selamatan, dapat tiket langsung masuk surga.’’  Di dalam Islam tidak ada selamatan-selamatan, tetapi yang ada adalah sedekoh. Sedekoh punya kelebihan dari selamatan yakni memberikan sedekoh ketika kita punya kelebihan yang biasanya dilakukan pada menjelang bulan puasa. Jadi bukan hasil utang.

Tanggapan Penulis.   Sejak SD saya belajar agama Hindu, sampai sekarang Panca Yajna itu artinya lima korban suci. Bahkan di dalam Kitab Bhagawad Gita, yajna berarti bakti, pengabdian, persembahan dan kurban (sedekah) yang dilakukan dengan tulus iklas (hati suci). Bukan berharap untung  yang lebih besar kepada Tuhan dari sedekoh yang kecil kepada manusia. Jadi Panca Yajnya itu adalah berbakti (sujud) kepada Tuhan (Dewa Yajna),  bakti kepada  orang suci  (Rsi Yajna),  berbakti kepada leluhur  (pitra yajna), melayani (berderma) kepada sesama (manusa yajna) dan bersedekah kepada bahluk bawahan (butha yajna). Tidak ada saya jumpai arti Panca Yajna adalah lima upacara  selamatan dan  wajib ngutang,  seperti  kitab yang dibaca Ustadz Abdul Aziz.

Istilah selamatan  tidak ada di dalam Hindu, apalagi selamatan atas kematian. Adapun rangkaian upacara kematian di dalam Hindu seperti  nelun, ngaben, ngeroras (memukur) dll. Pada intinya  merupakan penyucian sang jiwa dari unsur badan fisik, mendoakan agar perjalanan sang jiwa tidak mendapatkan halangan,  memperoleh ketenangan dan kedamaian di alam pitra. (Kitab Asvalayana Griha Sutra).  Masalah dia (sang jiwa) mendapat tiket ke sorga atau akan masuk neraka, tergantung dari  bekal  karmanya. Yang jelas sangat tidak ditentukan oleh acara selamatan.

Apalagi kalau dikatakan bahwa  roh yang tidak diselamatin  akan gentayangan, menjelma jadi hewan atau pohon,  itu  ada di cerita film kartun. Proses reinkarnasi berlangsung puluhan bahkan mungkin sampai ratusan  tahun. Sementara pohon-pohon di berikan busana (sarung: menurut Ustazd Abdul Aziz),  adalah  sebagai  tanda bahwa pohon-pohon  tersebut dilestarikan dan tidak boleh ditebang sembarangan. Ini wujud bahwa Hindu cinta lingkungan.

Kedua.  Di dalam agama Hindu, dalam memberangkatkan mayat ada tradisi trobosan yakni berjalan menerobos di bawah keranda mayat, sebagai wujud bhakti kepada orang tua yang meninggal. Dan ketika mayat ditandu ke kuburan, di sepanjang jalan dipayungi. Apakah mayatnya kepanasan? Belum pernah mati kok tahu mayat kepanasan. Di Islam acara-acara semacam itu tidak ada dasar hukumnya baik di ayat maupun hadist.

Tanggapan Penulis. Dengan tanpa bermaksud merendahkan kemampuan sosok Ustadz Abdul Aziz di bidang agama, namun perlu saya sampaikan bahwa rangkaian acara satu hari, 3, 7, 40, 100 dan  nyewu,  menurut hemat saya adalah tradisi di dalam kehidupan beragama dengan berbagai tujuan dan motivasinya. Misalnya ‘’Tradisi Nyewu di Yogyakarta’’ yang pernah dimuat di Media Hindu.  Tolong dibedakan antara agama dan tradisi.

Ketiga.  Apakah Tuhan Hindu minta makan? Lihat ini, Dewa makan bubur hangat. Dewa  Brahma masih  doyan pisang rebus  (Ustadz menunjukkan  gambar Brahma disertai sesajen termasuk tumpeng). Tumpeng bagi Hindu dianggap simbol Tri Murti. Barang siapa yang bisa membikin tumpeng, berarti dia sudah masuk Hindu.

Tanggapan Penulis. Orang bodoh pun tahu bahwa Tuhan tidak butuh apapun dari manusia, apalagi pisang rebus. Makanan duniawi cuma dibutuhkan oleh badan fisik, tidak untuk badan rohani. Persembahan berupa bebantenan yang dilakukan oleh orang Bali yang beragama Hindu  bukan untuk memberi dewa (Tuhan) makan. Akan tetapi, melakukan persembahan merupakan cara umat Hindu untuk mewujudkan rasa bhakti dan  ungkapan rasa terima kasih kepada Tuhan atas  segala anugerah-Nya. Persembahan tersebut kemudian dimohonkan untuk diberkati untuk selanjutnya dapat kita nikmati. ‘’Yang baik makan setelah upacara bakti, akan terlepas dari segala dosa, tetapi menyediakan makanan lezat hanya bagi sendiri, mereka ini sesungguhnya makan dosa. ‘’ (Bhagawad-gita. III.13)

Bisa membuat tumpeng berarti masuk Hindu? Ini bombastis. Untuk menjadi Hindu ada proses ritualnya, di antaranya upacara sudi widana dan mengucapkan Panca Sradha.  Banyak orang muslim, kristen dan Budha yang pandai  membuat tumpeng, apakah itu berarti mereka masuk Hindu?

Para Wali Menjiplak Weda?

Menanggapi  pertanyaan seorang jamaah mengenai film  seri kartun ‘’Little Krsna’’ di  TV, Ustadz Abdul Aziz  mengatakan, ‘’Hati-hati, awasi anak-anak kita, itu cara-cara orang di luar muslim untuk melakukan cuci otak terhadap anak-anak kita (muslim).’’   Sedangkan setahu saya,  cuci otak itu adalah cara teroris untuk merekrut anggota. Teroris itu siapa?  Tidak pernah ada di dalam Hindu gerakan cuci otak untuk merekrut orang (agama) lain. Yang ada malah sebaliknya, orang di luar Hindu yang sibuk melakukan gerakan konversi untuk  memperoleh tabungan pahala.

Benarkah para wali dulu mengubah (menjiplak) doa-doa Hindu ke dalam bahasa Alquran?’’  Atas pertanyaan seorang jamaah lainnya ini, Ustadz Abdul Aziz tidak  kuasa menjawab. ‘’Saya tidak berani  menjawab pertanyan ini, karena saya tidak punya referensi sebagai dasar,’’ tangkisnya. Apa  makna di balik kata tidak berani tersebut? Apa benar dia tidak punya referensi?

Seorang ustadz yang  mengaku telah belajar weda selama 25 tahun,  tetapi referensi yang disampaikan  kok malah muter-muter  soal tradisi melulu; acara selamatan, terobosan,  memayungi mayat, pohon pakai sarung, keris dan jimat minum kopi, membuat tumpeng.

Padahal harus disadari, yang namanya tradisi tentulah berbeda sesuai dengan desa,  kala, patra (tempat, waktu dan keadaan), baik di dalam satu agama apalagi beda agama. Semua agama punya tradisi, termasuk di kalangan umat Islam.  Tetapi sepanjang hal itu dilakukan sebagai ungkapan rasa bhakti,  rasa hormat dan doa,  kenapa tidak diapresiasi. Tidak ada dasar hukumnya (bida’ah)?  Sekarang zaman komputerisasi, di mana-mana orang pakai laptop,  HP, pesawat terbang, sepeda motor, apakah juga bida’ah menurut Islam?

Selama berceramah, tidak ada sepotong filsafat pun yang terlontar dari mulut sang ustadz.  Sementara  esensi dari ajaran Hindu  ada pada filsafat. Di situ logika dimainkan, bukan sekedar keyakinan semu dengan menelan  mentah ayat-ayat dalam kitab suci.

Mantram Tryambakam adalah syair yang sakral dan memiliki kekuatan (energi)  gaib. Kalau sekedar ngusir nyamuk dan menghilangkan bau busuk, ngapain harus melakukan yoga samadi sampai tujuh hari tujuh malam, cukup dengan autan saja. Sedangkan di dalam melakukan yoga samadi,  pada  tahap tertentu, berbagai bentuk godaan bisa saja  muncul.   Namun hal itu bukanlah petunjuk Tuhan (hidayah),  malah  bila kita tidak kuat bisa terjerumus.