Advertisements

Paduarsana

Berbagi tentang: Hindu, Bali dan Budayanya.

Category Archives: Hindu

Turus Lumbung


Beberapa waktu yang lalu sebelum menempati sebuah rumah kontrakan di Denpasar saya memesan banten prayascita, karena tidak ada sanggah dan pelangkiran tukang banten menyarankan untuk membuat Turus Lumbung (sanggah sementara). Mengingat tuan rumah bukan orang Hindu sayapun meminta ijin untuk membuat Turus Lumbung, Bersyukur yang punya rumah tidak keberatan untuk itu.

Turus lumbung terbuat dari batang pohon dapdap berjumlah 4 sebagai penyangga(turus) bale-bale kecil tempat canang aturan.
Turus lumbung biasanya dibuat bersifat sementara sebelum sanggah permanen dibuat. Mengenai batasan waktu penggunaan turus lumbung memang secara mutlak tidak ada ketentuannya. sebab sesuai dengan sifat ajaran agama hindu yang luwes, pengalamannya selalu dikembalikan kepada umat yang bersangkutan, Terutama masalah kemampuan umat untuk membuat sanggah yang permanen atau tidak. Sebagaimana disebutkan, sanggah ini juga merupakan salah satu tempat suci dalam pekarangan rumah.

Perkembangan sanggah turus lumbung ini, dalam Esensi & Konsepsi Pura Sebagai Tempat Suci Di Bali, disebutkan bahwa Bangunan ini dibuat dari ”turus pohon dapdap” sebagai tiangnya dan dibuatkan sebuah ruangan dengan balai-­balai yang dibuat dari bambu untuk tempat meletakkan bebantenan. Bangunan suci jenis ini disebut ”turus lumbung”.

Turus lumbung mengandung arti kias “melindungi dan menghidupi pemujanya”. Turus dapdap merupakan tameng atau perisai, yakni alat untuk melindungi diri ; dan lumbung, yakni tempat untuk menyimpan padi untuk penghidupan. Bangunan ini sifatnya sementara yang nantinya akan diganti dengan bangunan yang agak permanen menurut kemampuan penghuninya.

Setelah penghuninya agak mampu, barulah mereka membuat bangunan untuk mengganti turus lumbung itu. Bangunan pelinggih ini dibuat dari kayu dan bambu serta memakai satu ruangan (me-rong tunggal) yang digunakan untuk tempat sajian. Bangunan rong tunggal inilah yang disebut ” kemulan atau sanggah kemulan”. Peninggalan-peninggalan bangunan ini dijumpai di desa­-desa Bali Kuno, seperti di Julah, Sembiran, Lateng, Dausa, dan tempat kuno lainnya.

Lama kelamaan oleh karena kebudayaan manusia makin maju, maka dalam perkembangan sejarah bangunan rong tunggal berkembang menjadi dua ruangan (merong dua). Dalam perkembangan selanjutnya bangunan rong dua berkembang menjadi Bali yang beragama Hindu.

Bangunan seperti ini merupakan tempat untuk menghormati atau memuja leluhur-leluhur mereka yang telah disucikan. Selanjutnya, dalam perkembangan kemudian, bangunan yang memakai ruangan tiga (rong telu) disesuaikan dengan konsep Trimurti sebagai sanggah kemulan, sebagai tempat pemujaan leluhur.

Advertisements

Nyepi Ku Dilecehkan


Esok adalah Hari Raya Nyepi yang kesekian kalinya entah sudah berapa ratus tahun Bali “menyepi”. Hari Raya Nyepi telah ada jauh sebelum negara ini merdeka, konon Hari Raya Nyepi telah lama dilaksanakan di Bali, bahkan sebelum kekuasaan raja-raja Bali. Dalam tradisi tatwa Bali, maka Nyepi adalah perintah Hyang Pasupati kepada tiga putranya Hyang Gnijaya berstana di gunung Lempuyang, Hyang Putranjaya berstana di Gunung Agung, Hyang Dewi Danuh berstana di Gunung Batur, ketiganya disebut dengan penuh hormat sebagai Penyiwian Trilinggagiri.

Didalam Babad Bhatara Rarasa dan lontar Bhisama-Griya Buduk- tulisan Bapa Gede Sura-1992): terdapat kutipan yang menarik sebagai berikut:

brata penyepian lwir sawung anggeram anda, yan tan panes awaknya tan lumekas ikang anda. Yan tan sepi ing idep, sepi ing pamrih, sepi ing gawe, tan molih yoganta. Iki ngaran penyepian. Ingon-ingon Dewi Mas Ayu Danu kang gineseng- dening apwining giri Tolangkir, mangke juga pamarisudha ning ingwang. Poma. Poma. Poma. Uluning bawi manadi mrana tikus, walungnya manadi walangsangit, jejeronnya manadi mrana tan pasangkan. Yan pageh samanta ratu ngamong rat, rong puluh taun sapisan hane mrana wangsangit hana mrana tikus. Yan tan pageh tan wilangan dina mrana pasangkan dateng. Iki rungwakna, kaki patuk nini patuk angadegaken maring pasar agung. Ni Bhuta kala katung pinaka pangsaranan pasar, soang karya ri basukih atakwan pwa ring pasar agung, yang tan prasisa kabehan, ke wala jejaten juga wenang

Peristiwa ini jauh lebih tua dari era Raja Marakata, jauh lebih tua dari kedatangan Mpu Kuturan sang pendiri desa pekraman dan kahyangan tiga:dll, jauh lebih tua dari era Gelgel. Sampai kini Nyepi telah menjadi bagian dari kehidupan Bali.

ssss

Sumber gambar: Facebook

Diera media sosial beberapa tahun terakhir banyak yang saudara-saudara non Hindu yang mengumpat tentang Nyepi bahkan cenderung melecehkan sebut saja kasus Nando di tahun 2015 atau kasus saudara Ibnu ditahun 2010. Pelecehan ini jelas menimbulkan reaksi bagi umat Hindu, beragamam komentar kebencian pun terlontarkan karena rasa geram(jengah) kepada kedua pelaku pelecehan itu.

Sudahkah kita meNyepi? Pelecehan hari raya suci agama pun tidak pantas dilakukan bagi siapa pun, menyadari bahwa kita hidup di Indonesia dengan agama yang berbeda. Pecelehan terhadap agama lain adalah bibit bagi hancurnya rasa toleransi antara pemeluk agama. Terlepas siapa pun yang melecehkan Nyepi sebagai umat Hindu sudahkah kita melakukan catur brata penyepian? Akan aneh jika kita bereaksi dengan tamparan kecil saudara non Hindu tentang Nyepi tapi kita sendiri tidak pernah melakukan brata Nyepi bukan? Dibeberapa tempat konon ada yang main ceki(baca: judi),mabuk-mabukan, anak-anak dibiarkan bermain bola dijalan. Bagi kaum berduit Nyepi akan dihabiskan di Hotel.

Nyepi adalah ritus untuk Bumi dan semesta, ini sifatnya tidaklah untuk men-agamakan, namun ini spiritnya kepada siapapun untuk mengajak dan menyadari; bahwa ada panca mahabhuta; lima energi besar, yang menjadi kekuatan kehidupan itu perlu diberikan ruang untuk mengobati dirinya. Nyepi adalah proses penyembuhan, air, udara, tanah, suara, dst; seluruh elemen lingkungan hidup ini dalam era masa ini apalagi; polusi, polutan; dst. Nyepi adalah terapi terbaik bagi alam semesta ini. Karena setiap orang; mau agama apapun; dia perlu udara, dia perlu air, dia perlu keheningan; bukan kebisingan, dia perlu merasakan belajar dalam kegelapan, untuk menghargai energi cahaya; dst. Karena itu, Nyepi menjadi inspirasi kepada seluruh dunia mengenai hemat energi dan penyelamatan lingkungan.

Tanpa bermaksud untuk menggurui, Hari Raya Nyepi wajib bagi kita untuk melakukan catur brata penyepian: tidak bekerja, tidak menyalakan api, tidak mencari kesenangan, tidak bepergian. Sesederhana itu bukan?

Selamat Hari Nyepi Caka 1938.

Terima kasih: **Cok Sawitri

Artikel terkait:

  1. Gerhana Matahari dan Nyepi
  2. Nyepi
  3. Pedoman Nyepi Caka 1938
  4. Hari Raya Nyepi
  5. Melasti

Istri Menurut Kitab Suci Weda


Menjadi istri tentu harapan semua wanita didunia ini, dapat diterima dikeluarga besar suami adalah impian setiap wanita yang baru menikah. Tidak dipungkiri memasuki jenjang pernikahan kita harus menyiapkan mental untuk menjadi anggota baru dirumah suami. Keluarga suami hendaknya menerima kehadiran menantu tanpa syarat apapun, seperti menerima kehadiran anak kandung. Menciptakan suasana yang ramah untuk anggota baru dalam keluarga adalah kewajiban semuanya. Berikut adalah beberapa kutipan Kitab Suci Weda yang bisa jadikan pedoman untuk memasuki dunia baru rumah tangga.

Wahai mempelai wanita, dengan kedatanganmu ke rumah suamimu, semogalah kamu menjadi petunjuk yang terang terhadap keluarganya. Membantu dengan kebijaksanaan dan pengertian, semogalah kamu senantiasa mengikuti jalan yang benar dan hidup yang sehat dalam rumahmu. Semogalah Hyang Widhi menghujankan rahmat-Nya kepadamu.(Atharwa Weda XIV.2.27).

Wahai penganten wanita, datangilah dengan keramahanmu seluruh anggota suamimu. Bersama-samalah dalam suka dan duka dengan mereka. Semoga kehadiranmu di rumah suamimu memberikan kebahagiaan dan keberuntungan kepada suamimu, mertuamu laki-laki dan perempuan dan menjadi pengayom bagi seluruh keluarga. (Atharwa Weda XIV.2.26).

Seorang wanita, istri atau ibu juga hendaknya berpenampilan lemah lembut dan menjaga dengan baik setiap bagian tubuhnya. “Wahai wanita, bila berjalan lihatlah ke bawah, jangan menengadah dan bila duduk tutuplah kakimu rapat-rapat”(Rgveda VIII.33.19).

Wahai istri, tunjukkan keramahanmu, keberuntungan dan kesejahtraan, usahakanlah melahirkan anak. setia dan patuhlah kepada suamimu (Patibrata), siap sedialah menerima anugrah-Nya yang mulia” (Atharvaveda XIV.1.42)

Sungguhlah dosa besar jika seorang istri berani terhadap suaminya, berkata kasar terhadap suaminya. “Hendaknya istri berbicara lembut terhadap suaminya dengan keluhuran budi pekerti” (Atharvaveda , III.30.2).

Sebagai seorang istri tahan ujilah kamu, rawatlah dirimu, lakukan tapa brata, laksanakan Yajna di dalam rumah, bergembiralah kamu, bekerjalah keras kamu, engkau akan memperoleh kejayaan” (Yajurveda XVII.85).

Jadikanlah rumahmu itu seperti sorga, tempat pikiran-pikiran mulia, kebajikan dan kebahagiaan berkumpul di rumahmu itu”(Atharvaveda VI.120.3).

Seorang istri hendaknya melahirkan seorang anak yang perwira, senantiasa memuja Hyang Widhi dan para dewata, hendaknya patuh kepada suaminya dan mampu menyenangkan setiap orang, keluarga dan mengasihi semuanya.(Reg Weda X.85.43).

Seorang istri sesungguhnya adalah seorang cendekiawan dan mampu membimbing keluarganya”(Rgveda VIII.33.19)

Wahai para istri, senantiasalah memuja Sarasvati dan hormatlah kamu kepada yang lebih tua” (Atharvaveda XIV.2.20)

**Dari berbagai sumber