Paduarsana

Berbagi Tentang Semua Hal

Category Archives: Hindu

Cuntaka(Cemer atau Leteh)


Istilah cuntaka, cemer atau leteh tentu tidak asing bagi kita sebagai orang Bali(Hindu), yang sering kita dengar sebuah (lingkungan)desa adat dikatakan cuntaka, cemer atau leteh misalkan; terjadi tindakan yang menyimpang (bunuh diri, tindakan asusila dll). Dalam kamus Kawi-Indonesia kata cuntaka memiliki arti cemer (letuh). Berdasarkan keputusan pesamuhan agung PHDI 015/Tap/PA.PHDP/1984 kata Cuntaka digunakan untuk menyatakan suatu keadaan kotor (tidak suci) baik akibat dari kematian maupun hal – hal lain yang dipandang kotor. Jadi, istilah cuntaka dan sebel diartikan sama sebagai istilah untuk menyatakan suatu keadaan yang kotor secara spiritual baik karena kematian maupun hal – hal lain yang dipandang kotor dari segi adat agama.

IMG-20180620-WA0006-1.jpg

Image: Koleksi Pribadi, Ngaben di Sandakan, Petang Badung

Dari pengertian tersebut maka cuntaka dapat digolongkan menjadi 2 macam

  1. Cuntaka karena diri sendiri adalah orang yang dalam keadaan kotor (cemer), sehingga tidak boleh melakukan suatu upacara Agama dan memasuki tempat suci.
  2. Cuntaka yang disebabkan oleh orang lain adalah orang yang dalam hubungan duka karena kematian, sehingga tidak boleh melakukan upacara keagamaan dan memasuki tempat suci kecuali kegiatan yang ada hubungannya dengan upacara kematian tersebut.
Jenis-Jenis Kecuntakaan:
A. Cuntaka lantaran kotor lahiriah ( sebel )
  • Hindari Bedarah darah masuk pura, yang sedang Menstruasi, luka berdarah termasuk tukang paebat yang tangannya masih belepotan dengan darah.
  • Hindari netekin / menyonyonin di pura.
  • Hindari badan yang masih kotor, belepotan masuk pura, sehingga menimbulkan nuansa yang tidak sreg untuk sembahyang bagi yang lainnya yg datang sembah.
  • Hindari membuang kotoran dipura ( buang air besar / kecil )
  • Hindari rambut jatuh di pura, sehingga diusahakan untuk mepusungan ke pura bagi yang istri, bagi yang lanang jangan potong rambut, kumis, jenggot dipura.
  • Hindari meninggalkan kotoran, daki,bagian dari tubuh kita di pura, misalnya potong kuku, gosok gigi, korek kuping dsbnya.
  • Terkadang ada yang menerapkan bagi anak wanita yang sudah semestinya datang bulan, tetapi sudah tutug kelih bulannya tak kunjung datang.
B. Cuntaka lantaran manah ( sebet )
  • Ada bagian keluarga yang meninggal ( Umumnya mereka yg tunggal sembah ) penerapan awig awig ini sangat beraneka ragam : Area Sebelnya ada sebatas tunggal sembah, sebatas tembok kiri kanan depan belakang, ada sampai sebatas dusun dan juga terkadang ada sampai satu desa.
Demikianpun durasi lama waktu cuntaka ini, sangat bervariasi, ada sebatas s/d Ngerorasin bagi yang meninggal, ada sebatas ngelinggihan dewa hyang tergantung dari commitment krama adat itu sendiri.
  • Hilang ingatan ( dianggap mati ) mayat berjalan
  • Kelahiran Bayi ( puput puser batas cuntaka sang ayah), dan 42 hari batas cuntaka sang Ibu.
Pada umum cuntaka seperti diatas ini penerapannya hampir sama, namun terkadang ada juga yg berbeda, tetapi perbedaannya tidak terlalu menjolok. Nah inilah biasanya di buatkan awig awig dalam tatanan masuk pura yang bertujuan untuk menjaga kesucian pura yang merupakan milik orang banyak.
C. Cuntaka yang tidak dapat diprediksi/diduga/diperkirakan.
Ada bebrapa cuntaka yang sangat sulit untuk dideteksi orang lain, malahan terkadang hanya orang yang bersangkutan saja mengetahui dirinya tak layak untuk ke pura Sehingga pikiranya menjadi labil misalnya:
  • Telah melakukan perbuatan asusila, nyolong, memfitnah, berkelahi (tetapi orang lain belum tentu tau kondisinya)
  • Gamya Gemana – kawin dengan cara yang tidak wajar ( dg ibu kandung, anak, dengan binatang dsbnya)
  • Marah marah Mojar gangsul, nangun kroda, sehingga kalau dipaksakan dirinya berada di pura bisa jadi akan mempengaruhi keheningan dalam sembahyang.
Banyak lagi contoh contoh yang lainnya, sehingga yg beginian sangat sulit untuk di prediksi sehingga sulit untuk mengundang undangkan.
Artikel ini : Dari Postingan IPM AGRA DWIJANANDA

Hari Raya Nyepi 2020 Saka 1942


Hari Raya Nyepi tahun 2020 jatuh pada tanggal 25 Maret 2020. Dalam kelender Bali Hari Nyepi Tahun Baru Saka 1942 jatuh pada tanggal 1 bulan kedasa (ke-sepuluh).

Image by: PHDI

Hari Raya Nyepi adalah hari peringatan tahun baru bagi umat Hindu atas naiknya raja kanishka di India pada tahun 78 Masehi. Naiknya raja kanishka yang berasal dari sekte minoritas dan berhasil membuat seluruh sekter yang di India setara dan disatukan dianggap sebagai sebuah kelahiran. Kelahiran Agama Hindu yang harmonis. Hari Raya Nyepi juga disebut sebagai Tahun Baru Isaka dan dirayakan oleh seluruh umat Hindu di Dunia namun pelaksanaannya sesuai dengan tradisi setempat dan geografis umat Hindu itu berada.

Di Bali, dalam pelaksanaannya Hari Raya Nyepi terdapat empat hal yang dilarang yang disebut Catur Brata Penyepian. Empat larangan tersebut yaitu:
1. Amati Gni, Tidak menyalakan api.
2. Amati Karya, Tidak bekerja, beraktifitas
3. Amati Lelungan, Tidak bepergian atau melakukan perjalanan
4. Amati Lelanguan, Tidak mencari kesenangan atau hiburan.

Ke-empat larangan ini merupakan esensi dari perayaan Nyepi di Indonesia.

Pada tahun 78 Masehi di India, banyak terjadi perang antar raja dan sekte yang ada di sana. Untuk perang dan perkelahian antar sekte, jika terdapat satu sekte yang berkuasa, maka sekte lain akan ditekan. Setelah adanya seorang raja yang berasal dari minoritas bernama Raja Kanishka, peperangan dan perkelahian tersebut kian berkurang hingga akhirnya berhenti. Kendati bernama Kanishka, namun Raja Kanishka lebih dikenal sebagai Raja Isaka inilah cikal bakal disebutnya tahun baru saka.

Diolah dari berbagai sumber.

Menggunakan Bija dengan benar


Wija atau bija adalah lambang kumara, yaitu putra atau wija Bhatara Siwa. Pada hakekatnya yang dimaksud dengan Kumara adalah benih ke-Siwa-an/Kedewataan yang bersemayam dalam diri setiap orang.

Image by: Koleksi Pribadi. Besakih 08 April 2018.

MASIH banyak umat Hindu yang mengenakan bija dengan tidak pada tempatnya. Bukan saja cara mengenakan bija, mereka pun tidak banyak yang paham apa arti bija itu. Bahkan proses “pembuatan bija” juga mulai disepelekan, orang Bali bilang sudah campah. Seolah-olah tinggal mencari beras lalu diisi air supaya basah sehingga mudah melengket di tubuh.

Bija seperti halnya tirtha adalah anugrah yang kita terima selesai melakukan persembahyangan. Tirtha dipercikkan oleh pemangku atau sulinggih, bija diterima oleh tangan umat dan umat sendiri yang mengenakannya di tubuh masing-masing.

Lalu di mana dikenakan?

Ada yang mengenakan di lelata (antara kedua alis), ada yang menambahkan lagi di tepi kening (pelipis) kiri dan kanan, lalu di bawah tenggorokan dan ditelan.

Mengenakan bija di tepi pelipis kanan kiri adalah mubajir, tidak ada di dalam sastra. Salah kaprah ini bisa terjadi karena pengaruh tata rias penari Bali yang selalu membuat hiasan di pelipis itu. Bija diletakkan di sela-sela alis (lelata) adalah simbol “mata ketiga” atau dalam sastra disebut cudamani. Kalau ditambah di pelipis kanan dan kiri, berapa kita punya mata?

Mantram atau doa yang diucapkan saat mengenakan bija itu berbeda di kalangan umat kebanyakan dengan pemangku atau sulinggih. Pada umat cukup doa-doa yang menunjukkan permohonan.

Ketika diletakkan di sela-sela alis, ucapkan doa:

Om criyam bhawantu (semoga kebahagiaan meliputi hamba).

Letakkan di bawah tenggorokan ucapkan doa:

Om sukham bhawantu (semoga kesenangan datang pada hamba).

Lalu ditelan satu biji dengan doa:

Om purnam bhawantu, Om ksama sampurna ya namah swaha (semoga segala kesempurnaan menjadi bertambah sempurna).

Namun untuk pemangku, biasanya sudah mengenakan apa yang disebut “bija tiga”, yakni di ubun-ubun, lelata dan dada di bawah tenggorokan ditambah dengan ditelan. Mantramnya berbeda.

Bagi sulinggih masih ditambah, selain “bija tiga” ada yang disebut “bija jangkep” yang atinya adalah mengenakan bija secara lengkap ke seluruh tubuh. Yakni di ubun-ubun, lelata, di bawah tenggorokan, bahu kanan, bahu kiri, ulu hati, puncak atau ujung rambut, punuk, telinga kanan dan kiri. Juga disertai doa-doa yang khusus.

Bija itu disebut bhasma. Dalam pustaka Hindu juga disebut gandaksata, artinya biji padi-padian yang utuh serta wangi. Karena itu seharusnya bija memakai beras yang utuh tidak patah, di Bali biasa disebut beras galih. Beras ini kemudian dicuci bersih, lalu dicelupkan ke air cendana atau bunga yang harum. Beras utuh yang basah dan wangi ini kemudian diberi doa-doa oleh pemangku atau sulinggih yang nantinya berfungsi sebagai anugrah suci dari Hyang Widhi.

Apakah hal itu dilakukan? Seharusnya ya. Tetapi karena saat ini kesulitan mendapatkan beras yang utuh, maka sembarang beras akhirnya digunakan. Begitu pula sulit memperoleh air cendana yang harum, maka beras itu cukup diberi air supaya basah saja. Supaya mudah melengket di tubuh. Jika itu yang terjadi, apa boleh buat, cukup yang ditelan saja dicari yang utuh. Sebutir pun tak apa-apa.

Yang lebih parah lagi adalah beras yang sudah disiram air itu ternyata tidak diberi doa oleh pemangku. Beras itu cukup ditaruh di depan pemangku tanpa ada doa khusus “ngarga bija” (membuat bija), lalu langsung diberikan kepada umat. Bahkan tak jarang ketika selesai muspa dan pemangku memercikkan tirtha, ternyata tak ada bija atau bijanya kehabisan. Lalu ada petugas (pengayah) yang langsung mengambil beras dimasukkan dalam wadah dan dibagikan ke umat seolah-olah itu sudah bija. Tak peduli di mana beras itu didapat. Artinya, itu baru beras yang basah, bukan bija karena sama sekali tak didoakan dan tidak dilibatkan dalam proses persembahyangan yang dipimpin pemangku. Bagaimana itu bisa disebut sakral?

Bija selain sebagai anugrah juga simbol dari “benih kehidupan” dalam tubuh. Diharapkan benih itu memancar dengan kesuciannya dan orang itu akan mendapatkan kesempurnaan. Karena itu janganlah hal-hal yang sakral ini disepelekan, baik proses penempatannya apalagi proses pembuatannya. Kalau barang itu jadi campah maka yang dikenakan bukan bija, tetapi beras yang basah tanpa makna.

Artikel: Oleh Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda

%d bloggers like this: