Advertisements

Paduarsana

Berbagi tentang: Hindu, Bali dan Budayanya.

Monthly Archives: August 2018

Nyentana Menurut Manawa Dharmasatra


Nyentana Sah Menurut Manawa Dharmacastra.

Pada dasarnya system kekerabatan dalam masyarakat Bali menganut sistem Patrilineal. Dimana, keturunan yang dilahirkan mengikuti keluarga pihak ayahnya. Tujuan perkawinana secara kasat mata hanya untuk melanjutkan keturunan suatu keluarga (dinasti). Masalah akan timbul manakala suatu keluarga tidak memiliki anak laki-laki sebagai penerus keturunan. Sehingga, untuk menghindari keputungan keluarga (putusnya keturunan) keluarga yang tidak memiliki anak laki-laki ini akan menetapkan salah seorang anak perempuannya sebagai sentana rajeg (statusnya ditingkatkan menjadi laki-laki yang akan mewarisi milik orang tuanya).

Image by: Hipwee

Sebagian masyarakat Bali berargumen bahwa perkawinan Nyentana tidak boleh dilakukan. Karena mereka khawatir keturunannya yang menjadi keluarga pihak perempuan tersebut akan ‘’kesakitan’’ dan kesulitan dalam menentukan kawitannya (asal-muasal keturunan). Masalah berikutnya yang banyak ditakutkan yakni terkait dengan pembagian warisan dan nasib anaknya ketika terjadi perceraian dengan istrinya.

Dalam masyarakat adat Bali, kalau seorang laki-laki mengikuti pihak keluarga istrinya biasanya oleh keluarganya maupun lingkungannya akan dicemooh dan disebut ‘’Kepaid Bangkung’’. Sebenarnya, uangkapan kasar inilah yang sangat ditakutkan oleh pihak keluarga lelaki yang anaknya nyentana. Secara yuridis pelaksanaan nyentana dengan kepaid bangkung berbeda. Karena proses nyentana jelas dilakukan dengan sebuah upacara sehingga status pengantin pria juga jelas menjadi bagian dari keluarga istrinya. Sementara kepaid bangkung sampai sekarang masih rancu karena biasanya status laki-aki tetap pada keluarganya hanya saja tinggalnya dirumah istri. Itulah biasanya disebut kepaid bangkung.

Namun demikian, argument ini tidak 100 % benar. Larangan perkawinan nyentana hanya didasarkan atas kebiasaan dari adat yang berlaku semata. Karena sebagian daerah tidak ada kebiasaan nyentana jadi wajarlah masyarakat adat disana menentang perkawinan ini. Sebenarnya golongan masyarakat yang melakukan penentangan dengan kebiasaan perkawinan nyentana ini sangat tidak memahami dari hakekat perkawinan dan penentangan yang mereka lakukan tidak memiliki dasar hokum yang kuat. Mereka hanya mendasarkan larangan melakukan perkawinan nyentana berdasarkan adat kebiasaan. Perlu diingat, adat kebiasaan muncul karena kesepakatan dalam suatu masyarakat adat yang dilakukan dan akhirnya diikuti secara turun temurun. Sehingga lama-kelamaan kebiasaan tersebut berubah menjadi hukum adat.

Dalam agama Hindu, tidak ada sloka atapun pasal yang melarang perkawinan nyentana. Namun demikian kembali seperti keterangan diatas masyarakat pada umumnya memandang negatif perkawinan ini. Karena pihak keluarga laki-laki akan dianggap tidak memiliki harga diri.

Kitab Manawa Dharmasastra sebagai sumber hokum positif yang berlaku bagi umat Hindu secara tegas menyebutkan mengenai status anak wanita yang ditegakkan sebagai penerus keturunan dengan sebutan Putrika (perempuan yang diubah statusnya menjadi laki-laki. Cloka 127 kitab tersebut secara gamblang menyebutkan ‘’Ia yang tidak mempunyai anak laki-laki dapat menjadikan anaknya yang perempuan menjadi demikian (status lelaki) menurut acara penunjukan anak wanita dengan mengatakan kepada suaminya anak laki-laki yang lahir daripadanya akan melakukan upacara penguburan’’.

Dari uraian Cloka tersebut, jelaslah bahwa perkawinan nyentana dibolehkan. Lelaki yang mau Nyentana inilah yang disebut Sentana. Dengan demikian, argument yang mengatakan pelarangan terhadap perkawinan nyentana harus dipandang tidak beralasan karena tidak memiliki dasar hokum yang jelas. Pelarangan ini hanya didasarkan atas kebiasaan yang ada. Adat kebiasaan muncul karena perilaku yang diakui dan dilakukam secara turun-temurun. Sehingga kebiasaan ini bukanlah dasar yang logis dijadikan alasan untuk menentang perkawinan nyentana.

Demikian halnya dengan pembagian warisan dalam perkawinan Nyentana. Dalam Cloka 132 Manawa Dahrmacastra disebutkan, ‘’Anak dari wanita yang diangkat statusnya menjadi laki-laki sesuangguhnya akan menerima juga harta warisan dari ayahnya sendiri yang tidak berputra laki-laki(kakek). Ia akan menyelenggarakan Tarpana bagi kedua orang tuanya, maupun datuk ibunya’’. Selanjutnya Cloka 145 menyebutkan’’Anak yang lahir dari wanita yang statusnya ditingkatkan akan menjadi ahli waris seperti anak sendiri yang sah darinya. Karena hasil yang ditimbulkan adalah untuk dari pemilik tanah itu menurut UU’’.

Diolah dari berbagai sumber.

Advertisements

Upacara Mulang Pakelem Umat Hindu di Lombok


UPACARA MULANG PEKELEM (Tradisi Tahunan Umat Hindu Di Lombok Untuk Keharmonisan Alam Semesta)

Upacara Mulang Pekelem dan Bumi Sudha tergolong upacara besar bagi umat Hindu di Pulau Lombok. Peserta yang hadir bukan hanya umat Hindu dari Pulau Lombok, tapi juga dari Bali, Jawa, dan Kalimantan. Upacara ini adalah refleksi dari konsep Tri Hita Karana.

Image by: Courtesy by Google

Konsep tersebut didasari untuk memberikan sebuah pengorbanan suci agar alam dibersihkan dari kekuatan jahat dan manusia bisa hidup dalam harmoni dengan alam di sekitarnya. Apalagi, berbagai bencana alam yang muncul akhir-akhir ini membuat ritual itu patut dilakukan. Sejatinya, ritual Mulang Pekelem dan Bumi Sudha adalah perjalanan panjang yang akan melelahkan, menyita waktu, pikiran, dan tenaga luar biasa. Pasalnya, selama tiga hari mereka akan mendaki Gunung Rinjani untuk sampai di Danau Segara Anak, yang diyakini sebagai pusat spiritual di Tanah Sasak.

Gunung Rinjani adalah gunung berapi tertinggi kedua di Tanah Air dengan ketinggian mencapai 3.726 meter dari permukaan laut. Bagi umat Hindu, gunung ini mempunyai nilai spiritual yang tinggi, magis, dan keramat. Seperti halnya Gunung Himalaya di India atau Gunung Semeru di Pulau Jawa, Rinjani menjadi sebuah tempat yang mempunyai getar kesucian yang tinggi. Tempat para Dewa kerap berkumpul untuk memberikan anugerah kehidupan. Di kawasan ini, tumbuh-tumbuhan dan binatang hidup dengan penuh vitalitas. Itu semua dipercaya berkat dukungan energi dari Sang Gunung. Air dari Danau Segara Anak mengairi sebagian besar sawah di Pulau Lombok dan menjadi sumber kehidupan bagi orang Sasak. Tak heran, Gunung Rinjani kerap disebut sebagai gunung kehidupan.

Image by: Courtesy by Google

Konon, kesucian Gunung Rinjani telah diyakini umat Hindu sejak abad XVI. Pada kurun waktu itulah Yadnya Mulang Pekelem dan Bumi Sudha pertama kali digelar. Saat itu, Kerajaan Karang Asem dilanda kemarau panjang yang mengakibatkan kekeringan dan wabah penyakit. Menghadapi bencana ini,

Raja Anglurah Karangasem melakukan sembahyang dan semadi di Gunung Sari. Dalam tapanya, Raja mendapat bisikan untuk melakukan Yadnya Bumi Sudha dan Mulang Pekelem pada Purnama Sasih Kelima di Danau Segara Anak, Gunung Rinjani. Ajaib, seusai ritual digelar, hujan turun membasahi bumi dan membawa berkah kesehatan bagi masyarakat setempat.

Sejak itulah, upacara tersebut hingga kini tetap diteruskan para penganut agama Hindu di Lombok. Kepatuhan dan kesetiaan mutlak atas adanya kehidupan yang lebih agung di luar kehidupan manusia membuat mereka mempertahankan tradisi ini. Mereka rela berkorban baik lahir dan batin agar mendapatkan sebuah tempat terdekat di tengah bumi. Sejatinya, semua itu dilakukan agar bisa merasakan getar kesucian Sang Hyang Widi Wasa
Perjalanan menuju Danau Segara Anak pun dilakukan. Dengan bekal seadanya, mereka memulai prosesi pengorbanan untuk mendapatkan berkah dari Yang Maha Kuasa. Bukit terjal nan mendaki, cucuran keringat serta udara dingin yang mulai menusuk tulang di ketinggian gunung, tak menyurutkan niat mereka. Laki-laki, perempuan, orang tua, dan anak-anak, seolah mendapatkan kekuatan gaib untuk melalui perjalanan yang sulit, layaknya pendaki gunung tangguh.

Tiga hari menjelang Purnama Sasih Kelima, rombongan akhirnya melewati separuh waktu perjalanan untuk sampai di Segara Anak. Di sebuah tempat yang menjadi pertemuan tiga sumber mata air yang disebut Poprok, mereka berhenti untuk memasang tenda dan sembahyang. Poprok juga disebut Tirta Pecampuan, mempunyai makna tersendiri bagi umat Hindu. Pertemuan tiga sumber mata air yaitu air dingin dari Segara Anak, air panas dari magma gunung, dan air belerang dari sumber yang lain, membuat tempat ini mempunyai energi spiritual yang kuat. Di tempat ini, mereka menghabiskan waktu dengan menginap dalam dinginnya kabut gunung.

Menjelang pagi, perjalanan spritual diteruskan. Dengan keikhlasan seorang hamba, mereka kembali mendaki bukit-bukit di lereng Rinjani. Keringat mulai menetes dan kidung mulai didendangkan untuk menghilangkan rasa penat.

Di beberapa tempat yang dianggap keramat, perjalanan sempat terhenti. Sejumlah anak muda baik laki-laki dan perempuan yang kuat sempat berebut masuk ke sebuah gua untuk sembahyang. Kesempatan ini juga dimanfaatkan oleh mereka yang sudah kelelahan untuk beristirahat.

Delapan jam sudah mereka berjalan sejak berangkat dari Poprok. Letih dan penat melewati jalan yang terjal dan mendaki mulai dirasakan beberapa peserta upacara. Kendati begitu, semangat mereka untuk sampai ke tujuan tak pernah surut. Pelan tapi pasti. Hingga akhirnya, perjalanan sampai di tempat tujuan. Danau Segara Anak.
Di tempat yang cukup lapang di pinggir danau, dibangun sebuah pure sementara. Penjor sebagai tanda adanya upacara suci didirikan. Beberapa cerucuk yang menjadi tempat sesaji dipasang di sembilan arah mata angin. Sesaji dan bebanten yang akan ditaruh di cerucuk-cerucuk juga disiapkan.

Image by: Courtesy by Google

Beberapa peristiwa kecil terjadi saat berlangsungnya berbagai persiapan upacara. Danau yang tadinya tenang, tiba-tiba beriak ditiup angin cukup kencang. Kabut tebal pun menutupi permukaan danau. Di tengah suasana itu, suatu pesan gaib datang melalui seorang lelaki yang kerasukan. Pesan dari Dewa Bayu yang ternyata telah terlupakan untuk disebut dalam upacara.

Kerasukan saat malam tiba, pertanda dimulai upacara pembuka. Upacara Melaspas dan Nuhur begitu disebut. Melaspas dilakukan untuk menyucikan tempat upacara dari kekuatan jahat yang mengganggu. Sedangkan Nuhur dilantunkan sebagai undangan kepada para Dewata penunggu Gunung Rinjani untuk mengiringi persembahan.

Beberapa pesan gaib kembali muncul dengan berbagai cara. Di tengah upacara, seorang perempuan tiba-tiba kerasukan dan menyampaikan beberapa pesan dari dunia supranatural.

Namun dengan kekuatan keyakinan mereka, Melaspas dan Nuhur diteruskan hingga persiapan upacara mencapai kesempurnaan.
Ketika Purnama Sasih kelima telah tiba, Yadnya Bumi Sudha dan Mulang Pekelempun digelar. Gadis-gadis penari membuka upacara dengan menyajikan tarian suci untuk para Dewata dan para Kala agar tak mengganggu umat yang sedang upacara. Upacara kali ini dikhususkan untuk Yadnya Bumi Sudha. Bumi Sudha dilakukan lima tahun sekali sebagai upacara besar untuk menyeimbangkan jagad alit dunia manusia dengan jagad ageng. Penyeimbangan itu dilakukan dengan mengorbankan beberapa ekor hewan.

Melalui pengorbanan binatang-binatang itu, Bumi akan dibersihkan dari unsur-unsur jahat yang merusak. Unsur-unsur jahat yang terkadang masuk ke dalam tubuh manusia lewat sifat-sifat yang merusak alam. Doa-doa dipanjatkan kepada Sang Hyang Widi Wasa agar bumi dibersihkan dari pengaruh-pengaruh jahat. Manusia dibersihkan hatinya. Begitu pula alam, tempat hidup yang sempurna bagi semua makluk dibersihkan agar kehidupan harmoni bisa tetap terjaga.

Puluhan binatang disembelih sebagai korban agar dunia tenteram dan damai. Kerbau, sapi, kambing dan sembilan jenis binatang peliharaan lain dikorbankan untuk dipersembahkan kepada para Dewa di sembilan penjuru mata angin.

Sebagai puncak acara, sejumlah binatang liar dilepas ke alam bebas agar mereka beranak pinak dan menciptakan keseimbangan alam di Gunung Rinjani. Upacara Bumi Sudha pun ditutup menjelang malam. Kandang bintang dibakar sebagai simbol dikembalikannya segala unsur kehidupan ke haribaan alam. Prosesi pun berakhir untuk dilanjutkan esok hari, saat Yadnya Mulang Pekelem akan melengkapi ritual pengorbanan para pemeluk agama Hindu.

Lima hari telah dilalui. Perjalanan panjang yang melelahkan telah ditempuh. Tapi, kesetiaan dan pengorbanan kepada sang Hyang Widi Wasa masih dianggap belum lengkap. Maka pada hari keenam, disiapkanlah upacara Yadnya Mulang Pekelem. Melalui wayang, simbol-simbol dan makna Mulang Pekelem dijabarkan kepada seluruh umat.

Mulang Pekelem adalah bentuk lain pengorbanan umat Hindu kepada Tuhan. Pengorbanan ini dilakukan dengan menenggelamkan benda-benda berharga, seperti emas, perak, tembaga, dan uang logam ke dalam Segara Anak. Logam mulia yang dibentuk dalam berbagai simbol harapan. Bentuk Udang sebagai simbol kesuburan. Kura-kura sebagai simbol dunia. Ikan sebagi simbol kehidupan. Peripihan atau lempengan hewan, dan unggas sebagai simbol alam semesta.

Dengan pengorbanan ini, maka Dewata diharapkan akan menganugerahkan hujan dan kesuburan di Tanah Sasak. Dalam suasana penuh haru, emas, perak, tembaga, dan uang logam yang telah dibungkus dalam beberapa lembar kain siap dilarung oleh para pemuda. Dalam dinginnya kabut Rinjani, beberapa pemuda berlomba saling mendahului masuk ke Segara Anak. Seolah berlomba untuk menunjukkan kesetiaan dan pengorbanan terbaik mereka kepada Dewata Penguasa Segara Anak. Satu demi satu benda-benda berharga itu tenggelam dalam rahim danau suci Segara Anak.

Akhirnya semua simbol kebendaan dipersembahkan kepada para Dewata Penguasa Gunung Rinjani tuntas. Yadnya demi yadnya telah digelar. Bumi telah diruwat. Harmoni kehidupan telah dimohonkan kepada Sang Maha Batara Penguasa Jagad Raya. Saat purnama sasih kelima mulai muncul di atas langit, mereka melepaskan kepenatan dengan mementaskan tari topeng. Tari topeng untuk menutup perjalanan suci agar bumi dan seisinya dibebaskan dari Sang Betara Angkara.

%d bloggers like this: