Advertisements

Paduarsana

Berbagi tentang: Hindu, Bali dan Budayanya.

Monthly Archives: January 2019

Sejarah Pura Telaga Mas


Image by: Travelog.com

Gunung Lempuyang adalah salah satu kawasan suci di Bali. Bahkan dalam pengider buana tanah Bali, Lempuyang merupakan salah satu kayangan utama atau sad kayangan. Gunung Lempuyang memiliki sejarah panjang dan sangat penting dalam kaitannya dengan peradaban tanah Bali serta manusia Bali yang mendiaminya. Dari kaki sampai ke puncak gunung banyak terdapat pura-pura sebagai tempat menghubungkan diri kehadapan sang maha pencipta. Hal ini menandakan bahwa Gunung Lempuyang sejak jaman dahulu merupakan tempat melakukan pertapaan.

Untuk melakukan persembahyangan di Gunung Lempuyang, maka ada banyak jalur menuju pura Lempuyang. Yang banyak ditempuh saat ini adalah jalur Purwa Ayu yangmana melalui jalur ini akan didahului dengan perembahyangan di Pura Penataran Luhur Lempuyang yang sangat megah, terbuat dari batu paras putih. Setelah melakukan persembahyangan di sini, pemedek yang ingin ke Lempuyang Luhur bisa melanjutkan perjalanan dengan beberapa tahap persembahyangan. Yakni yang pertama akan menuju ke Pura Telaga Mas. Setelah sembahyang di Pura Telaga Mas, kemudian pemedek biasanya menuju ke Pura Lempuyang Madya. Namun sebelum mencapai Pura Lempuyang Madya, pemedek akan melewati beberapa buah pura yakni Pura Pesaraman Dukuh yang terletak dekat dengan Telaga Mas. Lalu beberapa saat kemudian melewati pura dari kelompok keluarga atau soroh Sang Bagus (Ngakan).

Dari sini perjalanan melanjut ke Pura Telaga Sawang. Di sini para pemedek akan melakukan peersembahayangan sebelum melakukan persembahyangan di Pura Lempuyang Madya. Dari Lempuyang Madya kemudian melanjutkan persembahyangan ke Pura Bukit Bisbis. Dari bukit Bisbis menuju ke Pura Pasar Agung dan selanjutnya menuju ke Pura Lempuyang Luhur. Dalam perjalanan menyusuri Gunung Lempuyang, umat paling tidak akan melakukan persembahnyang di tujuh tempat yakni Pura Penataran, Pura Telaga Mas, Pura Telaga Sawang, Pura Lempuyang Madya, Pura Bukit Bisbis, Pura Pasar Agung, dan Pura Lempuyang Luhur.

Pura ini adalah pura paling awal ditemui ketika akan menuju Puncak Lempuyang. Pura ini adalah sebagai pura Beji atau Pura Petirtan dari Ida Betara di Lempuyang Luhur. Menurut penuturan Jero Mangku Buncing (salah seorang pemangku yang ngayah di pura ini), Pura ini adalah awalnya merupakan sebuah pancuran dari rembesan air Gunung Lempuyang yang membentuk sebuah pancuran air atau telaga. Di tempat ini terdapat pelinggih yakni padma capah sebagai linggih dari Ida Betara Gangga. Di sampingnya dilengkapi dengan sebuah bale piyasan atau bale tajuk sebagai tempat berstana Ida Betara ketika Ida Betara mehias dan mesuci.

Tentang air pancuran atau rembesan dari puncak Gunung Lempuyang memang tak pernah kering sepanjang tahun. Air rembesan tersebut membentuk sebuah telaga yang dilengkapi dengan tunjung / teratai dan ikan. Selain sebagai petirtan dari Ida Betara Lempuyang Luhur, pura ini juga sebagai tempat penglukatan atau penyucian bagi pemedek yang akan menuju ke Lempuyang Luhur. Dan mengenai odalan di pura ini bersamaan dengan petirtan Ida Betara di Lempuyang Luhur yakni pada hari Umanis Galungan.

Pada saat bersembahyang di Pura Telaga Mas, maka pemedek akan disambut oleh suara merdu bagaikan kicauan burung begitu ramai. Dari kejauhan terdengar seperti gemericik air pancuran yang jatuh di atas batu. Namun sejatinya bukan kicauan, burung tetapi suara dari sekawanan katak penghuni telaga mas yang jumlahnya ratusan. Mereka saling bersahutan menyerupai suara burung berkicau. Katak tersebut memang hanya ada di telaga mas Gunung Lempuyang. Ukurannya kecil, berwarna keemasan, sehingga penulis menyebutnya sebagai katak emas. Katak-katak emas ini hanya tinggal di pura telaga mas, mengisi hari-harinya dengan bersukaria dengan kawanannya sambil menyayi-nyanyi di atas daun tunjung.

Bagi pemedek yang tangkil ke Lempuyang, mesti menyempatkan diri untuk melihat keindahan katak emas Lempuyang, sambil mendengar merdunya suara para katak unen-unen Ida Betara Lempuyang.

Dari berbagai sumber.

Artikel lain: Pura Lempuyang

Advertisements

Istimewa: Hari Raya Kuningan dan Hari Suci Siwa Ratri


Hari raya Kuningan yang jatuh pada hari Sabtu (Saniscara) Kliwon Wuku Kuningan 5 Januari 2019 mendatang ternyata bertepatan dengan panglong ping 14 atau Purwaning Tilem Kapitu, dimana umat Hindu juga melaksanakan Hari Suci Siwa Ratri. Pertemuan dua hari raya suci ini diharapkan mampu dilaksanakan oleh umat untuk meningkatkan sradha bhakti serta mulat sarira.

Image by: balitoday.tiwebpro.com

Seperti dimuat oleh harian NUSABALI Dr I Gede Sutarya SSTPar MAg mengatakan, pertemuan dua hari raya ini termasuk langka. Ia menyebut dalam siklus 46 tahun sekali pasti akan terjadi pertemuan tersebut. Pertemuan ini berdasarkan sistem wuku dan sasih, serta unsur lainnya dalam ilmu wariga. “Siklus ini bertemu secara alami. Siklusnya 46 tahunan sekali. Tapi bisa saja meleset satu hari, karena perubahan Eka Sungsang. Dalam siklus 46 tahun, biasanya bertemu antara bulan masehi, sasih, wuku, penanggal, panglong,” ujarnya, Selasa (1/1).

Istimewanya lagi, kata Dr Sutarya, dua hari raya ini sama-sama memuja Dewa Siwa. “Ini hari yang sangat bagus. Karena saat Kuningan itu memuja Dewa Siwa. Begitu juga saat Siwa Ratri juga pemujaan terhadap Dewa Siwa melalui perenungan suci. Sangat baik melakukan brata (puasa) sesuai dengan tuntunan yang ada,” katanya.

Ditambahkan oleh Ketua Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali, Prof Dr IGN Sudiana MSi, pertemuan dua hari raya yang jarang terjadi ini diharapkan bisa dilakukan dengan baik oleh umat melalui tapa brata yoga semadhi. Umat juga diharapkan mulat sarira atau introspeksi diri.

“Kita harapkan umat Hindu dapat melaksanakan dan memaknai Hari Raya Kuningan dan Siwa Ratri ini dengan baik. Sehingga ada makna yang bisa diambil, dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang tidak baik menjadi baik. Mulat sarira terpenting. Supaya bisa dijadikan bekal dalam menjalani kehidupan,” ungkapnya.

Prof Sudiana menjelaskan, saat Hari Raya Siwa Ratri mendatang, umat diharapkan bisa melaksanakan upawasa (puasa makan), monobrata (puasa bicara), dan jagra (puasa tidur). Bisa dilakukan sesuai kemampuan, mulai dari tingkat alit yakni jagra, tingkat madya yakni jagra dan upawasa, sedangkan tingkat utama bisa melakukan ketiganya. “Pagi hari mulai mungkah brata (memulai puasa), bersamaan dengan melaksanakan persembahyangan hari raya Kuningan. Nah setelah itu, besok (Minggu) sorenya baru membuka brata. Kalau bisa diisi dengan meditasi, evaluasi diri dan lebih banyak melakukan nama smaranam atau mengulang-ngulang nama Tuhan,” katanya.

Sementara itu, Hari Raya Kuningan juga dilaksanakan sebagaimana mestinya. Selain memuja para dewa, pada saat Kuningan juga diyakini para bhatara-bhatari dan leluhur turun ke bumi. Sehingga diharapkan sembhayang terutama di merajan keluarga tidak lewat dari pukul 12.00 Wita. “Bagi umat yang merayakan diharapkan bisa memanfaatkan momen ini untuk mulat sarira,” tandasnya.

Artikel ini diolah dari Nusa Bali.

%d bloggers like this: