Advertisements

Paduarsana

Berbagi tentang: Hindu, Bali dan Budayanya.

Tag Archives: upacara agama hindu

Upacara Menek Kelih dan Metatah Bersama Geria Pesramana Ratu Manik


paduarsana.com | Informasi ini penting untuk semeton yang ingin melakukan upacara menek kelih dan metatah bersama di Griya Pasraman Ratu Manik, Sukasada, Buleleng. Upacara ini sudah tiyang konfirmasi kebenaranya kepada Jero Mangku Gede Wirahadi dimana beliau adalah rekan kerja tiyang. Semoga bermanfaat untuk semeton yang membutuhkan. Dibawah ini adalah informasi secara detail. Mohon dibantu untuk Share.

Om Swastiastu, serangkaian piodalan di Gria Pasraman Ratu Manik pancasari pd tanggal 18 April 2018, akan diadakan Metatah masal Dan Upacara Menek Kelih (Ngeraja Sewala & Ngeraja Singa) bersama GRATIS utk umum.
Metatah bersama akan diadakan :
Hari/tgl. : Kamis, 19 April 2018
Tempat : Gria Pasraman Ratu Manik
Pancasari, Buleleng
Perserta hanya membawa Pejati Dan tirta dari kemulan masing2.
Bagi yg berminat bisa hubungi no. Di bawah ini :
Jero Gede Made Suparta. : 085 237 403 361
Jero Mangku Joni Waspada : 085 792 819 264
Jero Mangku Gede Wirahadi : 081 138 7567

Manava Seva Madava Seva, melayani sesama sama halnya Kita melayani Tuhan.

Loka Samastha Sukinu Bhavatu, semoga semua mahluk hidup berbahagia.

Om Santi Santi Santi Om

LOKASAMGRAHA
kita ada untuk berbagi

UPACARA MENEK KELIH DAN METATAH BERSAMA
GERIA PASRAMAN RATU MANIK
Desa Pancasari Sukasada Buleleng
Wrespati Tolu, 19 April 2018

Seseorang akan bernilai jika ia berguna bagi kesejahteraan umat manusia, bagaikan pohon mangga yg sedang berbuah, tidak satupun yg ia nikmati, tetapi ia bagikan kepada mahluk lain untuk kesejahteraannya. Dengan falsafah hidup seperti di atas kami sebagai pelayan Tuhan ‘sevadal’ yg berstana pada setiap mahluk hidup sebagai Atmalingga, siap melayani sesama ‘Vasudeva Kutumbakam’.

Demikianlah pelaksanaan Upacara Menek Kelih (Ngeraja Sewala & Ngeraja Singa) dan Metatah Bersama (sama sama sebagai atmalingga) tidak dipungut biaya, hanya membawa banten pejati dan peras serta tirtha dari Kemulan Merajan masing masing, sebagai sarana pengesahan bahwa upacara sudah dilaksanakan.

Dengan demikian dengan mengikuti acara ini diharapkan dana yang dialokasikan untuk upacara metatah mandiri dapat digunakan untuk biaya pendidikan putra putri tercinta sebagai bentuk bebayuhan / pengelukatan yg paling utama

Loka Samasta Sukino Bhavantu
Semoga Semua Mahluk Berbahagia

Advertisements

Makna dan Tujuan Melasti


Sebelum melaksanakan tapa brapa penyepian umat Hindu diseluruh Indonesia melakukan Upacara Melasti. Melasti dilaksanakan umat Hindu, biasanya dilaksanakan seminggu sebelum perayaan Nyepi. Namun pelaksanaan Upacara Melasti  disesuaikan dengan tradisi umat Hindu setempat. Di Bali Barat biasanya Melasti dilaksanakan tiga hari atau dua hari sebelum Nyepi. Masyarakat berbondong – bondong menuju laut ataupun mata air untuk melaksanakan ritual pembersihan. Selain membawa membawa prasaranan persembahyangan, masyarakat juga mengusung pretima (benda atau patung yang disakralkan) untuk dibersihkan secara sekala dan niskala. Lantas, apa dasar dari pelaksanaannya dan mengapa dilakukan di sumber mata air?

Sejumlah umat Hindu mengikuti prosesi upacara ritual Melasti di Pantai Tirta Samudera, Jepara, Jawa Tengah, Minggu (11/3/2018). Prosesi Melasti dengan melarung sesaji ke tengah laut tersebut sebagai rangkaian Hari Raya Nyepi yang bertujuan untuk mensucikan diri dari sifat buruk serta harapan kebaikan di masa depan.

Dalam lontar Sundarigama dan Shanghyang Aji Swamandala, disebutkan, Melasti merupakan proses meningkatkan Sraddha dan Bhakti pada para Dewata dan manifestasi Tuhan, yang bertujuan untuk menghilangkan mala atau penderitaan,” papar Ida Pandita Mpu Putra Yoga Parama Daksa seperti dilansir Bali Express beberapa waktu lalu.

Dalam lontar Sundarigama, dijelaskan, Melasti memiliki lima tujuan utama, yaitu:

Ngarania ngiring prawetak dewata, anganyutaken laraning jagat, papa kelesa, letuhing bhuwana, ngamet sari ning amerta ring telenging segara.

Artinya, Melasti adalah meningkatkan Sraddha dan Bhakti pada para Dewata manifestasi Tuhan Yang Mahaesa, untuk menghanyutkan penderitaan masyarakat, menghilangkan papa klesa dan mencegah kerusakan alam.

Ngiring prewatek dewata, dimaksudkan bahwa upacara Melasti itu hendaknya didahului dengan memuja Tuhan dengan segala manifestasinya dalam prosesi Melasti. Tujuannya untuk dapat mengikuti tuntunan para dewa sebagai manifestasi Tuhan. Dengan mengikuti tuntunan Tuhan, manusia akan mendapatkan kekuatan suci untuk mengelola kehidupan di dunia ini. Karena itu, Melasti agak berbeda dengan berbhakti kepada Tuhan dalam upacara ngodalin atau saat sembahyang biasa. Para dewata disimbolkan hadir mengelilingi desa, sarana pretima dengan segala abon-abon Ida Bhatara. Semestinya umat yang rumahnya dilalui oleh iring-iringan Melasti itu menghaturkan sesaji setidak-tidaknya canang dan dupa lewat pintu masuknya kepada Ida Bhatara yang disimbolkan lewat rumah itu. Tujuan berbhakti tersebut agar kehadiran beliau dapat dimanfaatkan oleh umat untuk menerima wara nugraha Ida Bhatara manifestasi Tuhan yang hadir melalui Melasti.

Umat Hindu melakukan persiapan untuk melaksanakan ritual Melasti dalam menyambut Hari Raya Nyepi, di kawasan Pantai Marina Semarang, Jawa Tengah, Minggu (11/3/2018). Melasti merupakan salah satu rangkaian dalam perayaan Nyepi yang bertujuan untuk membersihkan diri dari segala bentuk perbuatan buruk di masa lalu.

Anganyutaken laraning jagat adalah menghayutkan penderitaan masyarakat. Upacara Melasti bertujuan untuk memotivasi umat secara ritual dan spiritual untuk melenyapkan penyakit-penyakit sosial. Penyakit sosial itu,  Di antaranya seperti kesenjangan antar kelompok, permusuhan antar golongan, wabah penyakit. Setelah Melasti semestinya ada kegiatan-kegiatan nyata untuk menginventariskan berbagai persoalan sosial untuk dicarikan solusinya. Dengan langkah nyata itu, berbagai penyakit sosial dapat diselesaikan tahap demi tahap secara niskala. Upacara Melasti adalah langkah yang bersifat niskala yang harus diimbangi oleh langkah sekala. Tujuan Melasti berikutnya adalah Papa kelesa. Jadi, Melasti bertujuan menuntun umat agar menghilangkan kepapanannya secara individual.

Ada lima klesa yang dapat membuat orang papa, yaitu Awidya(kegelapan atau mabuk), Asmita  adalah egois, mementingkan diri sendiri, Raga, pengumbaran hawa nafsu, Dwesa merupakan sifat pemarah dan pendendam, dan Adhiniwesa adalah rasa takut tanpa sebab, yang paling mengerikan rasa takut mati. Kelima hal itu disebut klesa yang harus dihilangkan agar seseorang jangan menderita.

Kemudian tujuan Melasti selanjutnya adalah Letuhing bhuwana (alam yang kotor). Maksudnya, upacara Melasti bertujuan untuk meningkatkan kesadaran umat Hindu agar mengembalikan kelestarian alam lingkungan atau  menghilangkan sifat-sifat manusia yang merusak alam lingkungan. Tidak merusak sumber air, tanah, udara, dan lain-lain.

Diperantauan WHDI – Hongkong melakukan melasti dengan kesederhanaan

Tujuan berikutnya adalah Ngamet sarining amerta ring telenging segara. Artinya, mengambil sari-sari kehidupan dari tengah lautan. Melasti mengandung muatan nilai-nilai kehidupan yang sangat universal.
Melasti dalam Babad Bali, juga disebut  Melis atau Makiyis yang  bertujuan untuk melebur segala macam kekotoran pikiran, perkataan dan perbuatan, serta memperoleh air suci (angemet tirta amerta) untuk kehidupan yang pelaksanaannya  dilakukan di laut, danau, dan sumber  mata air yang disucikan. Dan, pura yang memiliki pretima atau pralingga  diusung ke tempat patirtan tersebut.  “Melasti agak berbeda  dengan upacara dewa yadnya lainnya, seperti piodalan atau sembahyang purnama. Melasti merupakan tahap ritual untuk mendapat tuntunan dari Tuhan, melalui manifestasinya seperti para dewa.  Para Dewata disimbolkan hadir mengelilingi desa, makanya mereka biasanya membawa serta pretima dengan sarana abon – abonnya,” papar Ida Pandita Parama Daksa.

Lantas, kenapa mesti  dilaksanakan di laut atau mata air?  “Kembali lagi kepada tujuan Melasti, yaitu sebuah ritual pembersihan dengan menggunakan media air. Selain itu, juga untuk mendapatkan tirta amerta  agar kehidupan kedepannya lebih baik,” paparnya.  Melasti tidak hanya dapat dilakukan di laut, juga dapat dilakukan di sumber sumber mata air, seperti danau, dan sumber mata air lainnya.

Selamat Melaksanakan Upacara Melasti bagi semua umat Hindu dimana pun berada! Tetap jaga kebersihan lingkungan sebagai komitmen kita terhadap Tri Hita Karana!

**Diolah dari Bali Express, Jawa Pos Group

Pertanian dalam Budaya Bali


Meski sudah memasuki zaman modern dengan peralatan pertanian yang canggih, sejumlah petani di Tabanan masih mengandalkan alat-alat pertanian tradisional. Pola tanamnya juga mengikuti tradisi yang diwariskan para leluhur, lengkap dengan rentetan ritualnya. Made Joni (50), salah seorang petani di wilayah Kecamatan Penebel, Tabanan mengakui, para petani di Tabanan masih eksis melakukan beragam upacara yang berkaitan dengan pertanian.

“Kami percaya melalui ritual pertanian ini akan diberikan kemudahan dan kelancaran mulai dari proses tanam hingga masa panen,” ujarnya. Beragam upacara pertanian tetap dilakukan, mulai dari upacara Mapag Toya, yaitu upacara menjemput air ke sumber mata air. Upacara ini biasanya diikuti oleh seluruh anggota subak dan dilakukan pada Sasih Ketiga atau sekitar bulan September. Selanjutnya, Kempelan, yaitu kegiatan membuka saluran air ke sumber aliran air di hulu subak, selanjutnya air mengaliri sawah (bulan September).

Kemudian upacara Ngendag Tanah Carik, yaitu upacara memohon keselamatan kepada Tuhan saat membajak tanah sawah dan dilakukan oleh masing-masing anggota subak. Prosesi ini masih dilaksanakan pada Sasih Ketiga (bulan September). Ngurit, yaitu upacara pembibitan yang dilakukan oleh semua anggota subak pada masing-masing tanah garapannya. Biasanya dilakukan pada Sasih Kelima (sekitar bulan November).

Lalu, upacara Ngerasakin, yaitu upacara membersihkan kotoran (leteh). Konom ketika melakukan pembajakan sawah ada leteh (kotor) dan prosesi ini dilakukan setelah pembajakan selesai di masing-masing tanah garapan pada awal Sasih Kepitu (awal bulan Januari). Upacara Pangawiwit, yaitu upacara mencari hari baik untuk mulai tanam padi yang juga dilakukan sekitar Sasih Kepitu.

Upacara Ngekambuhin, yaitu upacara meminta keselamatan anak padi yang baru tumbuh yang dilakukan pada saat padi berumur 42 hari pada Sasih Kewulu (bulan Februari). Upacara Pamungkah, yaitu upacara memohon keselamatan agar tanaman padi dapat tumbuh dengan baik. Upacara ini juga dilakukan pada Sasih Kawulu. Upacara Penyepian, yaitu upacara memohon keselamatan agar tanaman padi terhindar dari hama/penyakit dan dilakukan Sasih Kesanga sekitar bulan Maret.

Pangerestitian Nyegara Gunung, yaitu melaksanakan upacara nyegara gunung yang dilakukan di Pura Luhur Petali dan Pura Luhur Pekendungan. Biasanya dilaksanakan di bulan Maret atau April. Kemudian, upacara Masaba, yaitu upacara sebelum panen yang dilakukan Sasih Kedasa oleh anggota subak di sawahnya masing-masing. Lalu, Ngadegang Batari Sri (Batara Nini), yaitu upacara secara simbolis memvisualisasikan beliau sebagai Lingga-Yoni. Upacara Nganyarin, yaitu upacara mulai panen yang dilakukan pada Sasih Sada (bulan Juni) oleh anggota subak pada masing-masing sawahnya. Baru akhirnya Manyi, yaitu kegiatan memanen padi di bulan Juli.

Tahapan-tahapan upacara tersebut tidak hanya hingga padi siap dipanen. Usai kegiatan panen padi pun para petani juga melakukan sejumlah ritual upacara seperti upacara Mantenin, yaitu upacara menaikkan padi ke lumbung atau upacara menyimpan padi di lumbung yang dilaksanakan pada Sasih Karo atu bulan Agustus. “Sebenarnya ini rutinitas dilakukan oleh petani di areal garapan mereka. Hanya mungkin tidak bersamaan,” ujar Made Joni.

Kegiatan bertani yang masih mempergunakan cara-cara tradisional seperti mencangkul, nampadin (membersihkan pematang sawah), membajak sawah, meratakan tanah sawah, bahkan kegiatan nandur atau tanam padi.

Sumber: Puspawati l Majalah Bali Post Edisi 105 Hal. 48

%d bloggers like this: