Paduarsana

Berbagi Tentang Semua Hal

Monthly Archives: March 2018

Memilih Pasangan Hidup


Memilih pasangan hidup itu tidak mudah. Pacaran boleh lama tapi pada saat waktunya menikah disanalah kita dituntut untuk berpikir dan bertanya pada diri sendiri benarkah kekasih hati adalah pasangan hidup kita? Memilih pasangan hidup tidak sekedar memilih pasangan tinggal seatap dan memiliki keturunan namun ada cinta dan komitmen bersama untuk membentuk keluarga yang bahagia lahir dan bathin.

varayet kulajam prajno
nirupamapi kanyakam
rupasilam na nicasya
vivahah sadrse kule
(Canakya Niti Sastra 1.14)

Artinya: “Orang bijaksana hendaknya menikah dengan wanita dari keluarga terpandang walaupun wanita tersebut tidak cantik. Sebaliknya hendaklah tidak menikahi wanita dari keluarga rendah meskipun berwajah cantik. Akan tetapi, yang terbaik adalah pernikahan dengan wanita sederajat.”

Sloka ini memberikan peringatan agar orang tidak sembarangan memilih pasangan hidup. Mereka tidak memilih calon suami atau istri hanya berdasarkan pada pertimbangan harta, kecantikan wajah, atau alasan material lainnya.

Image by: Hipwee

“Rupa-silam na nicasya vivahah” – keluarga rendah yang dimaksudkan di sini adalah keluarga yang tingkah laku dan hidupnya semrawut, suka membicarakan keburukan orang lain, suka memfitnah dan bertengkar, tidak menghargai kebersihan, kesucian, sopan santun, keluarga jahat, berdosa, dan lelap dalam berbagai berkebiasaan buruk lainnya. Di lain pihak, walaupun wanita berwajah kurang begitu cantik, tetapi kalau ia berasal dari keluarga yang mulia, keluarga baik-baik, sopan santun, berjiwa mulia dalam keagamaan dan spiritual, memiliki rasa malu, maka wanita demikian patut diambil istri oleh orang bijaksana. Itulah yang dimaksudkan di sini dengan kalimat “varayet kulajam prajno nirupamapi kanyakam” – walaupun mempunyai wajah yang cantik tetapi berhati jahat maka wanita seperti itu tidak akan menjadi pilihan orang bijaksana.

Kata kanyakam pada sloka di atas memang menunjuk pada wanita, namun dalam hal ini kata kanyakam juga bisa berarti laki-laki. Kitab suci dan orang suci tidak pernah memihak. Dengan demikian, baris ini juga berarti wanita baik-baik tidak akan sembarangan memilih calon suami. Sebaliknya walaupun wanita berwajah tidak cantik namun berasal dari keluarga mulia maka ia patut diambil sebagai istri oleh orang bijaksana. Keluarga mulia biasanya selalu mewariskan kebiasaan dan sifat-sifat mulia keluarga kepada anak-anak gadisnya yang akan tinggal di keluarga orang lain, agar tidak memalukan dan tidak menjatuhkan martabat keluarganya.

Ciri-ciri luar berupa kecantikan dan ketampanan wajah serta harta benda dapat berubah dalam waktu yang tidak terlalu lama. Semua bertahan hanya beberapa bulan atau tahun. Sedangkan sifat-sifat mulia yang merupakan bawaan sejak kecil dan bekal kebiasaan keluarga mulia tidak akan pernah hilang, bahkan semakin bertambah usia maka sifat-sifat mulia tersebut menjadi semakin bertambah dan bertambah mulia. Itulah yang akan menjadi “penyejuk” hidup keluarga. Tujuan orang berumah tangga adalah demi hidup lebih tenang, damai dan harmonis, terutama agar dikaruniai keturunan anak-anak yang baik, penurut dan berbudi pekerti luhur (Suputra). Hidup indah, mulia dan tenang damai seperti itu tidak didapatkan melalui kecantikan wajah maupun harta benda melainkan melalui sifat-sifat mulia dan budi pekerti yang luhur.

Orang tua dari keluarga mulia selalu mendidik dan menyempurnakan anak gadisnya menjadi layak sebagai seorang istri sebelum diserahkan kepada pemuda pilihan yang akan menjadi suaminya. Pendidikan diberikan tidak akan mengabaikan hal-hal yang kelihatan kecil dan remeh. Mereka akan memastikan bahwa anak putrinya tidak akan pernah duduk menaikkan kaki di hadapan mertua, mereka tidak akan menikahkan anak putrinya sebelum memastikan dia sudah bisa memasak dan lain-lain bekal sifat atau kebiasan mulia yang diperlukan untuk membangun rumah tangga yang indah harmonis. Keluarga-keluarga rendah pada umumnya tidak memperhatikan tugas-tugas mulia para anggota keluarga, tata-krama dan sopan-santun pergaulan, serta sangat jauh dari kehidupan agama spiritual. Anak-anak duduk nangkring sambil nonton TV, main games, iPad, iPhone, atau minum teh, kopi, hotchocolate tanpa peduli dengan orang tua yang sedang bekerja.

Keluarga baik-baik sangat berhati-hati serta berpikir ribuan kali terlebih dahulu sebelum mengawini gadis dari keluarga rendah. Keluarga dan/atau calon suami yang bijaksana selalu memastikan bahwa calon istrinya adalah seorang wanita yang akan memberikan kedamaian dan kesejukan dalam rumah tangga yang akan dibangunnya bersama. Memilih pasangan yang mempunyai sifat-sifat tidak terpuji walaupun berwajah cantik pasti akan memberikan kedukaan pada suami dan keluarganya. Karena, wanita tidak terdidik dalam tingkah laku dan budi pekerti luhur sulit mengubah atau meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruknya.

Sesuai tradisi leluhur, pemuda atau gadis dianjurkan agar berhati-hati memilih lelaki untuk menjadi pasangan hidupnya. Memilih suami tidak karena ketampanan wajah dan juga bukan karena harta atau status lainnya. Leluhur kita sangat rapi menyusun pernikahan putra-putrinya. Hasilnya, zaman dahulu hampir tidak ada perceraian. Namun sekarang, ketika orang menentukan pembentukan keluarga melalui “Cinta sama Cinta”, menurut cerita kawan yang adalah seorang hakim, kasus perceraian merupakan kasus tertinggi yang ditangani di pengadilan. Orang-orang pada antre untuk bercerai. Perceraian tidak lagi kasus melainkan sudah menjadi masalah sangat umum, hal yang biasa, atau hal yang “memang harus terjadi”. Bagaimana pun cara kita menilai leluhur namun “teknik” leluhur ternyata lebih ampuh. Melalui “teknik” Pawukon, Horoscope, Numerology dan lain-lain cara Jyotisa (astrology) leluhur dapat mengetahui apakah pernikahan tersebut akan langgeng atau tidak, bisa mempunyai keturunan ataukah tidak, berapa pasangan tersebut akan mempunyai anak laki atau perempuan, – semua dapat “diketahui” melalui peritungan Pawukon atau Jyotisa. Pasangan memulai hidup Grhastha “tanpa atau melalui cinta” namun dalam perkembangan waktu akhirnya mereka menjadi cinta setengah mati, bahkan sampai tingkat “mesati” (ikut mati dalam pembakaran mayat suami). Tentu saja Veda tidak pernah menganjurkan hal-hal seperti ini.

Wanita yang mendapatkan suami santun bijaksana pastilah wanita yang sudah menanam karma indah pada penjelmaan sebelumnya, atau mendapatkan karunia khusus Tuhan dalam hidup sekarang ini. Pria atau wanita yang mendapatkan istri atau suami yang berwajah cantik/ganteng sekaligus “cantik atau ganteng hati” dianggap dalam kehidupan lampaunya sudah melakukan kegiatan-kegiatan yang sangat mulia. Paling tidak, itulah pendapat pustaka Sarasamuccaya.

Terlahir sebagai seorang wanita mulia yang berwajah cantik (ikang striratna anakӗbi rahayu), pantas memakai berbagai macam pakaian, yang menyenangkan para pria, memiliki rumah besar megah bagaikan istana (lawan umah rahayu, makadi prasadaprsta), dengan menara dan banyak ruangan, dihormati dan disegani, tidak kekurangan santapan jasmani dan rohani, berbagai pakaian dan perhiasan mewah wastrabharanadi, harta benda berlimpah, semua itu dimiliki oleh orangorang dermawan (drbya sang punyakari ika kabeh).

Vivahah sadrse kule — pernikahan terbaik adalah dengan pasangan yang sederajat, baik wanita maupun lelaki. Wanita mulia akan sakit hati melayani suami yang memiliki kebiasaan buruk. Ia pun pasti akan merosot jatuh ke dalam kebiasaan buruk keluarga suami. Sebaliknya suami yang terjauhkan dari sifat mulia tetapi memiliki istri bersifat mulia maka ia akan merasa seolah-olah “bermimpi”. Bahkan banyak pula yang menganggap istrinya gila karena rajin sembahyang, tidak makan daging, dan lain-lain. Pernikahan terbaik adalah menikah dengan keluarga sederajat. Jika suami-istri sama-sama tidak makan daging, sama-sama rajin bersembahyang, sama-sama suka membaca kitab suci Veda, maka dengan sendirinya akan tercipta keluarga yang damai, rukun dan suci.

Manava Dharma Sastra sangat menekankan agar golongan varna memilih pasangan hidup untuk berkeluarga dari varna yang sama, demi terciptanya keseimbangan dan keharmonisan dalam rumah tangga. Bila seseorang dari varna Brahmana menikah dengan sesama Brahmana tentulah mereka dapat saling mendukung. Bila Brahmana menikah dengan varna Vaisya, ada bahaya mereka akan “memperdagangkan” ke-brahmana-an. Mereka yang memiliki sifat kependetaan lalu bekerja sebagai pebisnis, bukan hanya rugi melainkan modal pun ludes “dimakan kebaikan”. Sedangkan yang berjiwa bisnis lalu mengambil pekerjaan kependetaan, maka segala pelayanan agama spiritualnya akan musnah “dimakan kali-kalian”.

Pernikahan bukan untuk “kawin” melainkan demi membangun sebuah rumah tangga yang ideal dan harmonis dalam jalan Veda. Keluarga seperti inilah yang akan membentuk masyarakat, bangsa dan Negara yang tenang, damai, “gemah ripah loh jinawi”. Keluarga yang hidupnya selalu dalam jalan Veda. Grhastha yang siap dan layak menjadi keluarga Sukhinah.

Sumber: Weda Wakya Bali Post 04-03-2018

Sejarah Singkat Arya Dalem Tamblingan


Menurut Prasasti Gobleg, Kandan Sanghyang Mertajati, dan Babad Hindu Gobleg diceritakan bahwa Ida Bhatara Siwa memiliki 3 Putra yang turun ke Bumi yakni: Ida Bhatara Dalem Solo, Ida Bhatara Dalem Kelungkung, Ida Bhatara Dalem Tamblingan.
Ketiga Ida Bhatara ini sering disebut sebagai Ida Bhatara Sanghyang Tiga Sakti, Melinggih ring Pelinggih Gedong/Meru Tumpang Lima ngaran Gedong Kusuma Jati Ning. Semua Keturunan Beliau bergelar Satrya Dalem. Dari sinilah kemudian pengelompokan Keturunan Bali Mula (Bali Kuno/Bali Aga) dibagi menjadi 2 bagian besar yakni:

  1. Kelompok Dalem, terdiri dari: Satrya Dalem, Arya Dalem, dan Pasek Dalem
  2. Kelompok Abdi Dalem, terdiri dari: Arya, Pasek, dan Pande

Ida Bhatara Dalem Solo melinggih ring Solo, Ida Bhatara Dalem Kelungkung melinggih ring Kelungkung, dan Ida Bhatara Dalem Tamblingan melinggih ring Alas Mertajati-Tamblingan (sekitar Danau Tamblingan) . Kemudian Ida Bhatara Dalem Tamblingan merabian ring Dewa Ayu Mas Ngencorong (Putri dari Ida Bhatara Dalem Solo) yang kemudian mempunyai 2 Putra dan 1 Putri yakni:

  1. Dewa Dalem Maojog Mambet
  2. Dewa Dalem Juna (Nyukla Brahmacari)
  3. Dewa Ayu Mas Dalem Tamblingan (Merabian ring Ida Bhatara Dalem Ped ring Nusa Penida)

Dewa Dalem Maojog Mambet (Bhatara Guru Nabe) melinggih ring Meru Tumpang Lima di Pura Pejenengan- Gobleg, Keturunan Beliau bergelar Arya Dalem Tamblingan, Beliau mempunyai 2 Istri yakni:

  1. Dewa Ayu Manik Subandar (Putri dari Ida Bhatara Dalem Solo) sebagai Siwa ring Tengen melinggih ring Pura Siwa Muka Bulakan-Gobleg, Solo ngaran Jawa yang artinya Piodalannya ring Sugian Jawa. Beliau mempunyai Putra: Ngurah Bendesa (Penyarikan Agung), Ngurah Nyrita (Penyarikan Gong), Ngurah Kubayan (sebagai Kubayan), dan Dewa Ayu Dalem Tamblingan (Dewa Ayu Sapuh Jagad?)
  2. Dewa Ayu Ibu (Putri dari Ida Bhatara Dalem Kelungkung) sebagai Siwa ring Kiwa melinggih ring Pura Siwa Muka Suukan-Gobleg, Kelungkung ngaran Bali yang artinya Piodalannya ring Sugian Bali. Beliau mempunyai Putra: Ngurah Pasek (Balian Agung / melinggih ring Bale Agung sebagai Hulu) , Ngurah Ngeng (Balian Banten), Ngurah Mangku (Mangku Agung / Mangku Gede / Mangku Puseh)

Selanjutnya diceritakan Ngurah Bendesa mempunyai Putra: Ngurah Pangenter (Pangenter Agung), Kubayan, dan Dewa Ayu Merta Sari.

Semua Keturunan Arya Dalem Tamblingan ini tidak diperkenankan memakan Buah Timbul ataupun menebang Pohon Timbul dan membunuh Tetani (rayap), hal ini dikarenakan Ida Bhatara Dalem Tamblingan pernah berhutang jasa terhadap Pohon Timbul dan Tetani.

Sebelumnya diceritakan Ida Bhatara Dalem Solo pada waktu turun ke Bumi dianugrahkan Tepak Besi Kuning oleh Aji-Nya yg isinya terdiri dari: 16 parekan, 1 ekor Kidang, dan 2 ekor Macan, kemudian Ida Bhatara Dalem Kelungkung juga dianugrahkan Tepak Besi Kuning yg isinya terdiri dari: 16 parekan, 1 ekor Kidang, dan 2 ekor Macan, sedangkan Ida Bhatara Dalem Tamblingan dianugrahkan Tepak Besi Kuning oleh Aji-Nya yang isinya terdiri dari: 16 parekan, 1 ekor Kerbau Putih, dan 2 ekor Macan yg bernama Gringsing Wayang dan Gringsing Kuning.

Setelah Ida Bhatara Dalem Tamblingan sampai di Alas Merta Jati (sekitar Danau Tamblingan) dibukalah Tepak Besi Kuning tersebut, kemudian keluarlah ke-16 parekan tersebut dan diperintahkan oleh Ida Bhatara Dalem Tamblingan untuk membuat Puri atau tempat pemukiman di pesisir Danau Tamblingan. Ke-16 parekan ini diberi nama sebagai Pasek Tamblingan yg dikemudian hari berpindah tempat dan berganti nama menjadi 2 bagian yakni:

  1. Delapan parekan pergi ke daerah Sai (Pupuan) dan berganti nama menjadi Pasek Sai
  2. Delapan parekan lagi pergi ke daerah Batur Sari dan berganti nama menjadi Pasek Batur Sari

Ciri dari ke-2 Pasek ini dapat dilihat dari Pura Kawitannya yg di dalamnya terdapat:

  1. Pelinggih Meru Tumpang Tiga
  2. Pelinggih Gedong Sari
  3. buah Bale Piyasan
  4. Warna Gama-nya adalah Merah-Putih

Ke-2 Pasek ini Pathirtaan-nya ring Gusti Mancawarna (ring Gobleg). Kemudian Daging Tepak Besi Kuning yang lainnya ikut juga keluar yakni 1 ekor Kerbau Putih dan 2 ekor Macan (Gringsing Wayang & Gringsing Kuning). Setelah selesai membuat Puri/Pasraman serta membuka lahan pertanian, Ida Bhatara Dalem Tamblingan pada waktu itu bergelar sebagai Satrya Dalem Tamblingan.

Setelah selesai membangun pasraman di Tamblingan, kemudian ada Pemastu (perintah berisi bisama/kutukan) dari Sanghyang Aji Tiga Sakti agar semua Keturunan Satrya Dalem Tamblingan agar membangun Pura tempat berbakti kepada Ida Bhatara Kawitan. Pura ini terdiri dari beberapa Pelinggih sbb:

  • Gedong Kunci, dengan 3 (tiga) anak tangga (undagan)
  • Meru Tumpang Lima (Gedong Kusuma Jati Ning), dengan 5 (lima) anak tangga
  • Bale, dengan 5 tiang penyangga (adegan/tampul), ditengah Bale diberi 3 (tiga) anak tangga

Kalau tidak membangun Pura seperti yang di atas, maka seluruh Keturunan Satrya Dalem Tamblingan akan mendapat Bisama/Kutukan: sengsara terus-menerus tidak bisa diobati/diampuni dan tidak ada kerja/pekerjaan dengan hasil yang baik. Kalau membangun Pura seperti di atas, maka Bisama/Kutukan itu akan terhapuskan.

Pada waktu menghaturkan bhakti di Pura ini sebaiknya tidak sembarangan (berhati-hati), sebelumnya harus menghaturkan sembah sebanyak tiga kali dengan Mantram sbb:
“ Om Atur ing ulun Ang Eng Syang, Ong Sanghyang Tiga Sakti Yam, Ong Am Om dwa telu papat lima enam dasa syia kutus sada pitu Yam”

Singkat cerita, Ida Bhatara Dalem Solo sudah memiliki Istri dengan 2 Putri dan 1 Putra, Ida Bhatara Dalem Kelungkung sudah memiliki Istri dengan 2 Putra dan 1 Putri, Ida Bhatara Dalem Tamblingan belum mempunyai Istri. Kemudian dianugrahkanlah seorang Putri Ida Bhatara Dalem Solo kepada Ida Bhatara Dalem Tamblingan untuk diangkat sebagai Putri Angkat, namun setelah dewasa, Putri Ida Bhatara Dalem Solo diambil sebagai Istri oleh Ida Bhatara Dalem Tamblingan. Kemudian menurunkan 2 Putra dan 1 Putri yang bernama : Dewa Dalem Maojog Mambet, Dewa Dalem Juna, Dewa Ayu Mas.

Dewa Dalem Maojog Mambet memiliki 2 Istri (Kiwa-Tengen) dan memperoleh Anugrah untuk menciptakan Mata Air Suci yang disebut sebagai Tirta Pradana Urip dan Tirta Pradana Pati di Pura Pejenengan- Gobleg, Tirta ini diperuntukan bagi alam beserta isinya baik yang berupa benda hidup (urip) ataupun benda mati (pati), Penguasa/Pemilik Tirta ini adalah Ida Bhatara Ibu Sakti (Sanghyang Panca Maha Bhuta), Melinggih ring Pura Pejenengan, Piodalan ring Tumpek Landep. Dewa Dalem Juna tidak memiliki Istri (Nyukla Brahmacari). Dewa Ayu Mas Dalem Tamblingan Merabian (Menikah) Ring Ida Dalem Sakti Dalem Ped (Nusa Penida).

Lama kelamaan, berita ini diketahui oleh Ida Bhatara Dalem Solo, dan dipanggilah Ida Bhatara Dalem Tamblingan menghadap ke Solo. Sesampai di Solo bertanyalah Ida Bhatara Dalem Solo kepada Ida Bhatara Dalem Tamblingan, apakah benar Putrinya diambil Istri oleh Adiknya, dan dijawab benar oleh Ida Bhatara Dalem Tamblingan. Akhirnya Ida Bhatara Dalem Solo menjadi Murka (marah) kepada Adiknya, karena kesalahan yang dilakukan oleh Adiknya tersebut, maka diturunkanlah gelar Satrya Dalem Tamblingan menjadi Arya Dalem Tamblingan.

Kemudian Ida Bhatara Dalem Tamblingan diperintah oleh Ida Bhatara Dalem Solo untuk menggali sebuah sumur di Solo, setelah sumur digali, lalu ditimbunlah Ida Bhatara Dalem Tamblingan dengan batu, namun semua batu kembali naik ke atas. Di dalam sumur, Ida Bhatara Dalem Tamblingan menemukan lubang semacam goa kecil dan di dalamnya terdapat akar Pohon Timbul yang sudah dimakan rayap (tetani), kemudian dipeganglah akar pohon timbul tersebut sebagai pegangan menelusuri goa tersebut. Akhirnya sampailah Ida Bhatara Dalem Tamblingan di atas permukaan goa yang disebut dengan nama Goa Naga Loka, letaknya diperbukitan (Bukit Gunung Raung) di atas Danau Tamblingan. Goa Naga Loka ini dibuat oleh Ida Bhatara Sorang Dana (Ida Bhatara Dalem Naga Loka). Berhasilnya Ida Bhatara Dalem Tamblingan sampai dipermukaan goa tidak terlepas dari bantuan Akar Pohon Timbul dan Tetani (rayap), oleh sebab itu bersumpahlah Ida Bhatara Dalem Tamblingan kepada seluruh Keturunan-Nya agar tidak makan Buah Timbul dan tidak membunuh serta mengutuk Tetani (rayap).

Disini secara garis besar disampaikan beberapa sebutan Ida Bhatara menurut Prasasti Gobleg, Babad Hindu Gobleg, Kandan Sanghyang Mertajati, dan beberapa sumber media informasi lainnya, yakni:

  1. Ida Bhatara Puseh (Ida Bhatara Sanghyang Aji Sakti), Beliau meraga Tiga, yakni sebagai Sanghyang Siwa (Merah), Sada Siwa (Putih/Kuning), dan Parama Siwa (Hitam). Beliau Melinggih ring Pura Puseh, ring Pelinggih Piyasan Tiga Sakti, ring Pelinggih Padma Tiga (ring Penataran Agung Pura Besakih).
  2. Ida Bhatara Siwa Guru (Ida Bhatara Aji Sakti / Ida Bhatara Dewa Dalem Majapahit), Melinggih ring Pura Bukit Sinunggal (Desa Tajun), ring Gunung Agung, ring Pelinggih Gedong/Meru Tumpang Pitu.
  3. Ida Bhatara Raja Berawa Murti (Ida Bhatara Dewa Dalem Tiongkok), Melinggih ring China/Tiongkok, ring Pelinggih Konco.
  4. Ida Bhatara Sanghyang Srimandi (Ida Bhatara Sanghyang Kendi), Melinggih ring Gunung Batur (Pura Batur-Kintamani), ring Pelinggih Gedong/Meru Tumpang Tiga.
  5. Ida Bhatara Dalem Solo (Ida Bhatara Dewa Dalem Bremang), Melinggih ring Surakarta-Solo, ring Pelinggih Gedong/Meru Tumpang Lima.
  6. Ida Bhatara Dalem Kelungkung (Ida Bhatara Dewa Dalem Bahem), Melinggih ring Kelungkung, ring Pelinggih Gedong/Meru Tumpang Lima.
  7. Ida Bhatara Dalem Tamblingan (Ida Bhatara Dewa Dalem Mas Madura Sakti), Melinggih ring Pura Dalem Tamblingan, ring Pelinggih Gedong/Meru Tumpang Lima. 8. Ida Bhatara Surya (Ida Bhatara Dewa Dalem Dasar), Melinggih ring Pura Dalem Dasar, ring Pelinggih Gedong/Meru Tumpang Tiga.

Tridatu sebagai Penolak Wabah


Tabik Pakulun. Tridatu selain sebagai simbol Trimurti (Brahma, Wisnu dan Siwa) ada sebuah mitology yang berkembang dikalangan masyarakat Bali tentang keyakinan terhadap grubug atau wabah menjelang sasih Kanem dan Kapitu. Pada seputar kedua sasih inilah akan banyak dijumpai krama Bali mengenakan benang tri dathu di pergelangan tangannya.

Menurut Jro Mangku Oka Swadiana dari Kerobokan, Badung, pemakaian benang tridatu bagi sebagian orang diidentikkan dengan Ida Bhatara Ratu Gede Dalem Sakti Mas Mecaling yang bersthana di Pura Dalem Ped. Dengan memakai benang tersebut orang-orang percaya bakalan dijauhkan dari gangguan ancangan Bhatara Dalem Ped, manakala ancangan beliau melawat di tengah-tengah masyarakat Bali antara sasih Kanem dan Kapitu.

Bagi Jro Mangku Oka, melawatnya ancangan Ratu Gede Dalem Sakti Mas Mecaling ke tengah-tengah masyarakat dalam rangka mengadakan evaluasi terhadap perilaku krama Bali. Pada masa-masa itu, konon mereka yang tergolong jadma tan pa kerthi (orang yang tidak berbhakti kepada Tuhan) akan menerima hukuman dari para ancangan tersebut.

Ciri-ciri mereka yang diganggu ancangan Bhatara Dalem Ped, seperti bingung, bengong, gundah gulana, sakit dan penderitaan lainnya. Sebaliknya, bagi krama yang sudah menunjukkan sradha bhakti ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi beserta semua manifestasiNya, maka semua ancangan tersebut tidak akan menyentuhnya.

Masih menurut Jro Mangku Oka, ada kalanya benang tridatu dilengkapi dengan pis bolong, bawang putih, mesui dan jangu. Dalam hal ini pis bolong sebagai simbol kemanunggalan dengan alam luhur (dewata), kesuna berwarna putih sebagai simbol Dewa Iswara (Siwa), dan mesui dengan karakter panasnya mewakili sifat Dewa Brahma, dan jangu yang sejuk sebagai simbol karakter Dewa Wisnu.

Benang tridatu dengan kandungan benda-benda tersebut biasanya dikenakan saat wabah menerjang di suatu wilayah. Tambahan mesui, kesuna, jangu dan pis bolong ini untuk memperkuat getaran magis benda tersebut, sehingga fungsinya semakin optimal. Tapi, benang tridatu yang dilengkapi dengan pis bolong ini tidak melulu dipakai sebagai gelang, karena ada kalanya digunakan sebagai kalung sebagai sikep atau pangraksa jiwa.

Berdasarkan praktik di tengah masyarakat, benang tridatu merupakan satu kesatuan dengan upacara. Ia merupakan bagian dari bebantenan, sehingga secara langsung benda ini dimohonkan kekuatan dari Ida Bhatara, sehingga memiliki power khusus. Jadi, tidak perlu pasupati khusus untuk bebang tri dathu, asalkan benang itu dibuat sebagai bagian bebantenan. Namun beberapa pengobat tradisional yang mengobati pasiennya, ada kalanya memberikan benang tridatu pada pasiennya. Menurut Jro Mangku Oka, benang tridatu jenis ini umumnya memerlukan pasupati khusus, supaya memiliki power penjaga, dan penyembuh serta pengusir roh-roh jahat. Berapa lama tuah benang tridatu ini bekerja? Menurut Jro Mangku, power magis benang tridatu akan terus bekerja selama benang itu masih melekat di badan dan fungsinya akan selesai bilamana benang itu lepas secara alamiah maupun sengaja dilepaskan.

Terima kasih: Gazez Bali

Artikel Lain:

  1. Makna Gelang Tridatu
  2. Tridatu sebagai Simbol Omkara
  3. Tridatu sebagai penolak Wabah