Advertisements

Paduarsana

Berbagi Tentang Semua Hal

Monthly Archives: May 2013

Peranan Generasi Muda Hindu Untuk Ajeg Hindu


stitidharma.org | Generasi muda Hindu adalah kelompok angkatan usia produktif, terpelajar, dan terdidik yang mempunyai kepribadian kokoh sebagai tempaan bangku sekolah dan pengalaman sehingga ia mandiri, dewasa, serta bijaksana dalam bersikap.

Sudah tentu ia pemeluk Hindu yang taat, reformis, selalu ingin mencapai tatanan kehidupan yang lebih baik. Kebangkitan generasi muda Hindu Nusantara nampak nyata sejak tahun 1970, sejalan dengan kesadaran yang tumbuh bahwa Agama adalah sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan manusia.

Kesadaran yang tumbuh ini melalui pengorbanan yang sangat besar, yaitu pertumpahan darah sebagai dampak peristiwa G-30-S/PKI. Kesadaran ini juga berkembang karena mutu pendidikan semakin baik, kemajuan di bidang tehnologi informasi, dan pengaruh globalisasi abad millennium.

Manusia diabad ini mengetahui bahwa kesehatan adalah hal pokok yang sangat penting untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Ia tidaklah hanya mencakup aspek physical saja, tetapi juga mencakup aspek-aspek non-physical, yaitu: spiritual, emosional, dan intelektual.

Kesehatan jasmani memang menjadi landasan yang utama, tetapi segera setelah itu terpenuhi, kesehatan spiritual, emosional, dan intelektual tidak dapat ditunda, apa lagi diabaikan. Manusia memerlukan tuntunan spiritual dalam kehidupannya agar dapat melakukan aktivitas tidak hanya berlandaskan keberadaan tubuh (on the bodily platform of existence).

Agama Hindu dengan Kitab Suci-nya: Veda, menyediakan berbagai petunjuk dan perintah Tuhan yang memperkuat aspek spiritual, yang pada gilirannya membentuk emosi yang terkendali, baik dalam berpikir, berkata-kata, maupun berbuat sesuatu.

Dalam kesadaran emosi yang positif, tumbuh, dan berkembanglah keinginan untuk selalu meningkatkan inteligensi melalui proses pendidikan dan pembelajaran. Potensi-potensi yang berguna bagi meningkatkan mutu Sumber Daya Manusia bertumpuk pada generasi muda, sehingga sangat disayangkan bila potensi demikian tidak didayagunakan.

Timbul pertanyaan, bagaimanakah kondisi potensi itu di kalangan generasi muda Hindu Nusantara? Kebangkitan Hindu Nusantara boleh dikatakan sejalan dengan tumbuhnya kesadaran umum bahwa Agama adalah sesuatu yang penting, yaitu sejak tahun 1970.

Umat Hindu di Nusantara tidak “malu-malu” lagi mengaku dirinya Hindu, apalagi dimasa itu Pemerintah dengan resmi mengakui eksistensi Agama Hindu sebagai Hindu Dharma, menetapkan Tahun Baru Saka (Nyepi) sebagai hari libur Nasional, dan banyak lagi promosi-promosi lainnya yang mendorong kehidupan Agama Hindu.

Potensi generasi muda Hindu hendaknya digali, dikuatkan, dan dikembangkan dengan menyampaikan bahwa Hindu sedang berkembang menjadi Agama Universal yang sesungguhnya. Penggalian “kesadaran Hindu” akan sangat efektif bila dilakukan oleh para intelektual dan penulis.

Mereka hendaknya menjelaskan bahwa:

  1. Agama Hindu melayani keperluan spiritual setiap manusia, karena aspek-aspeknya yang terdapat dalam Veda sangat luas dan dalam, antara lain Veda mengandung pengetahuan isoterik dari inti kesadaran, yoga, dan disiplin meditasi.
  2. Agama Hindu memiliki kasih yang tulus, toleransi, dan apresiasi yang murni terhadap agama-agama yang lain.
  3. Agama Hindu tidak dogmatis dan terbuka untuk diuji kebenarannya tentang unsur-unsur srada (keyakinan) yang dimilikinya.
  4. Agama Hindu percaya pada sebuah dunia yang adil karena setiap manusia dibimbing oleh hukum karma menuju kepada kesucian roh yang pada gilirannya akan mencapai tujuan akhir, yaitu persatuan roh dengan Tuhan atau Moksha, sehingga bebas dari kelahiran kembali (samshara). Pemeluk Hindu puas dengan pengetahuan tentang asal suci dari roh, jalan yang ditempuh melalui kehidupan dari satu masa ke masa lainnya.
  5. Agama Hindu memiliki gudang ilmu pengetahuan yang tidak habis digali oleh manusia guna meningkatkan kualitas kehidupannya.
  6. Generasi muda Hindu perlu diingatkan bahwa mereka yang masuk menjadi pemeluk Hindu, dan bertahan dalam Hindu adalah pemikir yang rasional dan moderat; maka sebaliknya mereka yang berpindah ke agama lain atau tidak mendalami ke-Hinduan-nya adalah orang yang tersesat menuju pada kemunduran spiritual.

Selain itu, untuk menjadi “Universal” haruslah ditempuh upaya-upaya meningkatkan kualitas beragama, mendalami filsafat Veda, dan tidak terbelenggu pada ritual yang bertele-tele serta membuang jauh-jauh pola pikir dan perilaku yang “meracuni” Agama Hindu, misalnya feodalisme dan fanatisme tradisi-tradisi beragama yang menyimpang dari ajaran Veda.

Bila konsep-konsep diatas dimengerti dan diterima sebagai suatu kebenaran “Sanatana Dharma” maka generasi muda Hindu akan menemukan jati dirinya yang kokoh menuju “Ajeg Hindu”. Mempertahankan eksistensi Hindu didunia adalah suatu upaya menyayangi dan memelihara semesta karena Tuhan dalam keyakinan Hindu adalah semesta itu sendiri. Ia disebut oleh para Maha Rsi sebagai “Asta Aisvarya” (mempunyai delapan sifat kekuasaan), yaitu:

  1. Anima: sifat kekuasaan Tuhan yang sangat halus.
  2. Laghima: sifat kekuasaan Tuhan yang sangat ringan.
  3. Mahima: sifat kekuasaan Tuhan yang luar biasa besarnya dan luasnya sehingga tidak terbatas oleh apapun juga.
  4. Prapti: sifat kekuasaan Tuhan yang dapat mencapai daerah manapun juga.
  5. Prakamya: sifat kekuasaan Tuhan yang kehendak-Nya selalu tercapai.
  6. Isitva: sifat kekuasaan Tuhan yang melebihi segala-galanya sehingga merajai alam semesta ini.
  7. Vasitva: sifat kekuasaan Tuhan yang sangat kuasa.
  8. Yatrakamavasayitva: sifat kekuasaan Tuhan yang kehendak dan kodrat-Nya tak ada yang dapat mengubah.

Kedelapan sifat ini bersemayam pada-Nya yang dilambangkan sebagai Singhasana, meliputi seluruh alam semesta, yang disebut sebagai Bhuwana Agung.

Tubuh manusia adalah Bhuwana Alit di mana unsur-unsur pokok Bhuwana Agung dan unsur-unsur pokok Bhuwana Alit adalah sama, yaitu meliputi Panca Mahabhuta, yang terdiri dari: pertiwi (tanah), apah (air), bayu (angin), teja (matahari), dan akasa (angkasa).

Pertiwi di Bhuwana Alit adalah daging dan tulang, apah adalah darah dan air kencing, bayu adalah paru-paru, teja adalah suhu badan dan sinar mata, dan akasa adalah otak/ syaraf. Karena Bhuwana Agung identik dengan Bhuwana Alit, maka kecintaan manusia pada dirinya sendiri adalah cermin kecintaannya juga pada alam semesta. Filosofi seperti ini hanya terdapat dalam Veda.

Kecintaan manusia pada semesta adalah kecintaan pada Tuhan. Pernyataan rasa cinta kepada sesuatu yang lebih dihormati disebut Bhakti. Seseorang yang Bhakti kepada Tuhan disebut sebagai Bhakta. Bhakti dibagi atas dua tingkat, yaitu Aparabhakti, dan Parabhakti.

Aparabhakti adalah cinta kasih yang perwujudannya masih lebih rendah dan dipraktekkan oleh mereka yang belum mempunyai tingkat kerohanian yang tinggi. Sedangkan Parabhakti adalah cinta kasih dalam perwujudannya yang lebih tinggi dan kerohaniannya sudah meningkat.

Aparabhakti terlihat dari praktek ritual keagamaan sehari-hari, sedangkan Parabhakti tidak dengan mudah terlihat, hanya dapat dirasakan oleh yang melaksanakannya secara individu karena didorong oleh perasaan-perasaan halus:

Kerinduan untuk bertemu dengan Sang Pencipta, melalui perenungan, meditasi, dan sembahyang biasa.
Keinginan untuk berkorban secara ikhlas, dalam bentuk Drwya yadnya (dana-punia), Jnana yadnya (belajar/ mengajar), dan Tapa yadnya (mengendalikan diri).
Generasi muda Hindu yang terpelajar dan senang menuntut ilmu menuju peningkatan kualitas SDM, akan mendapatkan banyak manfaat bila menjalankan kewajibannya mengikuti ajaran Veda, melalui Bhakti-marga.

Ia tidak hanya menolong dirinya sendiri, tetapi juga turut menolong umat manusia mencapai pencerahan dan mewujudkan mokshartam jagaditaya ca iti dharmah.

Tanpa sengaja para Bhakta telah memperkenalkan Hindu sebagai satu-satunya jalan menuju universalism, dan spiritualism Hindu telah membuktikan dirinya sebagai rumah dari semua religiusitas yang murni. Ia menyampingkan sektarianism dan terbuka menerima ide-ide, pemikiran baru, pemikiran ilmiah, dan eksperimen sosial.

Generasi muda Hindu di dunia telah banyak berbuat dalam konteks modernisasi dan revitalisasi segala aspek kehidupan yang sumber-sumbernya dikembangkan dari ajaran Veda.

Banyak kepercayaan yang menjadi dasar-dasar srada Agama Hindu seperti reinkarnasi, karmaphala, roh, dan moksha telah diterima secara luas oleh berbagai suku bangsa dan berkembang menjadi keyakinan yang tak terbantah.

Umat manusia sedunia sadar atau tidak sadar telah mengakui bahwa Veda menuntun umat manusia dalam melakukan metoda interiosasi (pencarian ke dalam jiwa) yang paling mudah dan cepat berhasil.

Tradisi-tradisi beragama Hindu juga telah dipraktekkan di kalangan masyarakat menengah ke atas, misalnya meditasi, yoga, dan hubungan guru dan murid (gurukulla).

Penjelajahan antariksa, berbagai teknik pengobatan alternatif dan upaya menjaga kebugaran tubuh, juga bersumber dari Veda. Demikian luasnya cakupan Veda karena Ia memang diwahyukan Tuhan untuk kesejahteraan seluruh umat manusia.

Generasi muda Hindu Nusantara hendaknya menyadari kemuliaan permata Veda yang tiada tandingnya. Kita sudah memiliki-Nya, lalu tanyailah diri sendiri, apakah sudah memanfaatkan-Nya untuk kesejahteraan kita?

Bila jawabannya “belum” berarti kita harus banyak belajar, dan bila jawabannya “sudah” maka andalah seorang Parabhakti.

Advertisements

Umat Hindu Dan Ajeg Bali Di Era Globalisasi


Stitidharma.org | Agama Hindu bukanlah agama dogmatik, bukan agama yang berdasarkan atas dogma. Hindu adalah agama yang berdasarkan dharma. Hindu juga disebut sanatana dharma, atau kebenaran yang abadi.

Apakah dogma? Dogma adalah kepercayaan yang tidak boleh dipertanyakan dan yang selalu harus diyakini sebagai kebenaran, bahkan jika itu tidak masuk akal atau irasional.

Misalnya:

  • kepercayaan bahwa semua manusia telah berdosa sejak lahir
  • kepercayaan tentang kebangkitan tubuh setelah mati
  • kepercayaan bahwa suatu agama telah memonopoli kebenaran
  • bahwa hanya pemeluk agama tersebut yang bisa masuk sorga
  • kepercayaan bahwa setiap manusia telah ditentukan nasibnya oleh Tuhan secara sepihak
  • kepercayaan boleh membunuh manusia lain yang tidak seagama demi untuk membela serta mengunggulkan agama yang dianutnya

Itulah contoh-contoh dogma yang irasional dari suatu agama tertentu namun harus diyakini oleh pemeluknya sebagai suatu kebenaran.

Dharma adalah prinsip kebenaran universal dan kebenaran hukum alam abadi. Dharma adalah hukum universal yang dapat ditemukan melalui penyelidikan objektif.

Sebagai contoh, dharma sebagai sifat api suci; seseorang tidak dapat membayangkan api yang tidak membakar; dalam kaitan ini dharma akan selalu membakar atau memusnahkan adharma.

Dharma mempunyai prinsip-prinsip etika dan spiritual antara lain: dasar-dasar Yoga seperti: tidak menyakiti (ahimsa), kebenaran (satya) pengendalian diri (tapa), serta etika dan kewajiban manusia yang diulas dalam Yama dan Niyama-brata.

Prinsip dharma yang lain adalah hukum karma-phala, yakni buah dari segala perbuatan yang pasti akan diterima kembali oleh manusia baik di masa kini, di kehidupan kemudian, dan di dunia niskala.

Dengan berpegang pada hukum karma-phala manusia dibimbing untuk berbuat (kayika), berbicara (wacika), dan berpikir (manacika) yang baik.

Agama-agama dogmatik sangat menekankan pada iman yang harus diyakini secara bulat. Pemeluk agama jenis ini bisa mengatakan: “Percayalah, atau masuklah agama kami, maka kalian akan selamat dan masuk sorga”.

Tetapi Hindu sebagai agama yang berdasarkan dharma, akan selalu menekankan pada perilaku yang baik dalam berbuat, berkata, maupun berpikir. Seorang Hindu akan senantiasa menganjurkan: “Lakukanlah perbuatan, perkataan, dan pemikiran yang baik, maka kalian akan selamat.”

Akibat kaidah yang demikian pada kehidupan manusia adalah: Pemeluk agama-agama dogmatik memisahkan antara ibadah dengan perilaku, karena cukup dengan percaya saja dan taat melakukan ibadah sesuai kitab sucinya, sudah menjadi “jaminan” akan masuk sorga, atau dapat saja ibadah dianggap sebagai penghilang dosa.

Mereka bersifat sangat eksklusif, merasa memonopoli kebenaran, mempunyai kecenderungan untuk menaklukkan, menguasai, dan mengendalikan. Sebagai konsekuensinya, disadari atau tidak, sering menganjurkan kebencian. Dari kebencian lahir kekerasan terhadap orang-orang beragama lain.

Sebaliknya pemeluk sanatana dharma menyatukan keyakinan, ibadah, dan perilaku yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Prinsip yang jelas, Hindu mengajarkan bahwa dosa-dosa dalam kehidupan tidak dapat dihapuskan hanya dengan kepercayaan dan ibadah saja, namun harus pula diimbangi dengan perilaku dharma.

Bagaikan sinar matahari yang terik, maka bila ada hembusan angin dan awan, teriknya tak terasa, demikianlah dosa yang telah tertutup oleh dharma.

Agama yang berdasarkan dharma tidak memiliki ambisi untuk menaklukkan dan menguasai karena tujuan agama bukan untuk menjadi imperialisme politik dan budaya, tetapi untuk mencapai kesadaran diri atau pencerahan spiritual. Itulah agama universal yang sesungguhnya.

Ajaran Veda dalam Hinduism yang demikian humanis membuat Hindu menjadi agama terbesar di dunia, karena ia melayani keperluan setiap manusia, apapun suku, bangsa, dan agamanya. Ia tidak hanya sekedar suatu agama, tetapi ia adalah jalan spiritual dan cara hidup.

Veda adalah wahyu Tuhan kepada umat manusia karena itu ajaran-ajarannya akan hidup sepanjang masa. Veda memberikan jalan yang terbuka bagi umat manusia yang ingin mencapai kebahagiaan lahir bathin dalam pola hidup sederhana namun berpikiran tinggi dan mulia, atau populer dengan istilah: “simple living high thinking”.

Veda tidak menginginkan umat manusia bertindak hanya di atas landasan keberadaan tubuh (just on the bodily platform of existence), tetapi Veda lebih menekankan pada tendensi kesehatan spiritual.

Dari aspek spiritual yang sehat akan terwujudlah emosional yang sehat, serta intelegensial dan physical yang sehat pula. Ajaran Veda yang mulia ini banyak dikutip oleh psikolog terkemuka dengan istilah: “living healthy” sebagai kondisi mutlak bagi kesehatan yang menyeluruh bagi umat manusia.

Tanpa disadari, umat Hindu telah memiliki sesuatu yang sangat bernilai, sangat mulia, dan kekal-abadi.

Kita telah mempunyai prinsip-prinsip jati diri yang tiada taranya. Sejarah Indonesia telah membuktikan bahwa dengan berpedoman pada prinsip-prinsip ajaran Veda, masyarakat Hindu dapat mencapai mokshartam jagaditaya ca iti dharmah.

Lihatlah Nusantara di zaman keemasan Majapahit dengan rajanya Tribuwana Tunggadewi sampai Hayam Wuruk; Bali di zaman keemasan Kerajaan Gelgel dengan rajanya yang terkenal Dalem Waturenggong sampai Dalem Seganing.

Sejarah pula membuktikan bahwa kerajaan-kerajaan yang pernah berjaya itu memudar dan akhirnya runtuh, karena rakyat dan para pemimpinnya kehilangan jati diri ke-Hindu-an.

Ajaran-ajaran Veda banyak ditinggalkan atau dimanipulasi untuk kepentingan sesaat; para Pendeta dan kelompok rohaniawan tidak mendapat kedudukan yang wajar serta petuah-petuahnya tak dihiraukan.

Penyimpangan-penyimpangan perilaku masyarakat makin lama makin meluas seiring dengan kemajuan iptek dan informasi.

Jaman bergulir menuju kaliyuga, di mana masyarakat mengalami kemajuan yang pesat dalam aspek-aspek material namun semakin miskin dalam aspek spiritual. Masyarakat yang dinamis ini terperangkap pada masalah-masalah keduniawian.

Era globalisasi mempersempit dunia dan menjadikannya tanpa batas, dalam artian informasi apapun yang ada, baik di bidang sosial, politik, ekonomi, dan budaya, segera berpengaruh ke seluruh dunia.

Ciri utama globalisasi adalah perubahan yang sangat cepat dalam segala bentuk tatanan dan nilai-nilai kehidupan, sehingga disimpulkan bahwa barang siapa yang tidak mengikuti perubahan akan tertinggal, bahkan tergilas oleh zaman.

Masyarakat yang hidup dalam dunia global harus memiliki kekuatan untuk melanjutkan kehidupan dan kekuatan untuk berubah.

Ke manakah arah perubahan itu, dan sudahkah diutarakan dalam kitab suci Hindu?

Pandangan Hindu memberikan ruang bagi perubahan-perubahan yang esensial. Kitab Parasara Dharmasastra 1.33 menyebutkan:

YUGE YUGE CA YE DHARMAS TATRA TATRA CA YE DVIJAH, TESAM NINDA NA KARTTAVYA YUGA RUPA HI TE DVIJAH

Aturan dan etika yang berlaku pada setiap zaman selalu berbeda; kaum cendekiawan yang memimpin perubahan masyarakat di suatu zaman tertentu tidak bisa disalahkan karena sesungguhnya dari perubahan itulah suatu zaman terwujud.

Walaupun demikian, perubahan yang dimaksud dalam kitab-kitab suci Hindu, tetap mengingatkan bahwa ajaran Veda tidak membolehkan pelanggaran dharma, dan senantiasa menganjurkan kedamaian, kerukunan hidup bermasyarakat, menghindari ketegangan, dan mencegah konflik.

Meski prinsip-prinsip dharma mengandung kebenaran hakiki sehingga ia dinamakan sanatana dharma, tetapi peraturan-peraturan mengalami perubahan dari masa ke masa karena merupakan produk waktu dan juga akan selalu digantikan oleh waktu.

Oleh karena itu dharma tidak dapat diidentikkan dengan institusi-institusi tertentu. Dharma tetap bertahan karena berakar pada kealamiahan manusia dan akan tetap hidup abadi.

Metoda dharma adalah metoda perubahan eksperimental. Semua institusi adalah eksperimen, bahkan kehidupan ini adalah eksperimen.

Manusia sebagai agent of development tidak dapat mentransfer kebiasaan-kebiasaan dari suatu masa ke masa yang lainnya begitu saja, tanpa mengadakan perubahan dan penyesuaian.

Gagasan-gagasan moral mengenai hubungan-hubungan sosial tidak bersifat absolut, tetapi bersifat relatif terhadap kebutuhan dan kondisi dari jenis masyarakat yang berbeda. Walaupun dharma bersifat kekal, tetapi ia tidak mempunyai isi yang absolut sehingga mampu menembus batas waktu.

Satu-satunya yang kekal dengan moralitas manusia adalah hasrat manusia untuk menjadi lebih baik. Akan tetapi waktu dan kondisi yang menentukan ‘apa yang lebih baik’ dalam setiap situasi.

Bentuk-bentuk tindakan dianggap baik atau buruk pada tahapan peradaban manusia berbeda, bergantung apakah itu meningkatkan atau menghambat kebahagiaan manusia.

Fleksibilitas sosial telah menjadi karakter utama Hindu-Dharma. Maka oleh karena itu mempertahankan sanatana dharma tidaklah dilakukan dengan berdiam diri saja, tetapi dengan menguasai prinsip-prinsip vital dan menerapkannya dalam kehidupan modern.

Suatu bangsa yang maju akan senantiasa mampu memberikan makna bagi pegalaman-pengalamannya di masa lalu. Prinsip-prinsip dharma dalam skala nilai harus dipertahankan di dalam dan melalui tekanan-tekanan pengalaman baru.

Hanya dengan jalan itu akan terbuka kemungkinan untuk mencapai kemajuan sosial yang integral dan seimbang.

Kaum intelektual Hindu harus mampu memperkenalkan perubahan-perubahan, mengelola sedemikian rupa sehingga membuat Hindu-Dharma relevan pada situasi-situasi modern.

Perubahan-perubahan itu adalah dampak masuknya kekuatan-kekuatan baru ke dalam masyarakat antara lain: industrialisasi ke dalam sektor agraris, penghapusan hak istimewa dengan pola kemanfaatan bersama, masuknya orang-orang non Hindu ke dalam masyarakat Hindu, emansipasi wanita versus otoritas lelaki, dan percampuran ras/ suku/ agama melalui perkawinan.

Masyarakat yang maju dalam iklim perubahan akan tercapai bila kondisi ideal yang ingin dicapai lebih baik dari kondisi aktual. Artinya pemikiran-pemikiran cemerlang dari kaum intelektual mampu membuahkan gagasan baru, inovasi dan kreasi, baik dalam iptek maupun dalam tatanan sosial.

Mereka hendaknya selalu berorientasi pada pelayanan masyarakat dengan integritas intelektual.

Berbekal pada pemahaman uraian di atas, jika melihat situasi dan kondisi umat Hindu di Bali dewasa ini, maka wacana “Ajeg-Bali” sangat patut dilontarkan ke tengah-tengah masyarakat yang tak luput dari pengaruh-pengaruh globalisasi baik yang sifatnya positif, maupun yang negatif.

Pada tataran individu, Ajeg-Bali dimaknai sebagai kemampuan manusia Bali untuk memiliki cultural confidence, yaitu keyakinan untuk memegang keteguhan jati diri yang bersifat kreatif meliputi segala aspek, dan tidak hanya terpaku pada hal-hal fisikal semata.

Pada tataran lingkungan budaya, Ajeg-Bali dimaknai sebagai terciptanya ruang hidup budaya Bali yang bersifat inklusif, multi kultur dan selektif terhadap pengaruh-pengaruh luar.

Pada tataran proses kultural, Ajeg-Bali adalah interaksi manusia Bali dengan ruang hidup budaya Bali untuk melahirkan produk-produk atau penanda-penanda budaya baru melalui sebuah proses berdasarkan nilai-nilai moderat, non dikotomis, berbasis pada kearifan lokal serta memiliki kesadaran lingkungan di saat yang tepat.

Dari ketiga tataran di atas, disepakati bahwa Ajeg-Bali bukanlah suatu konsep yang stagnan, melainkan sebuah upaya pembaharuan terus menerus yang dilakukan secara sadar oleh manusia Bali.

Tujuannya jelas untuk menjaga identitas, jati diri, ruang, serta proses budaya Bali. Upaya ini akan bermuara pada peningkatan kekuatan manusia-manusia Bali agar tidak jatuh di bawah penaklukan hegemoni budaya global.

Ajeg-Bali bukanlah sebuah proses involusi, tetapi sebuah proses evolusi yakni pengembangan dan kreasi dari keunggulan-keunggulan local-genius, kearifan, pengetahuan tradisionil yang dilandasi oleh sanatana dharma sehingga terjadi pelestarian yang dinamis.

Dengan demikian Bali yang ajeg akan muncul sebagai sebuah keunggulan budaya yang sanggup bertahan dan bersaing dalam dunia global.

Otonan/Weton: Ulang Tahun Adat Bali


Jika ulang tahun umumnya diperingati setiap 1 tahun sekali maka otonan dilakukan tiap 6 bulan (210) hari. Jatuhnya Otonan akan bertepatan sama persis dengan; Sapta Wara, Panca Wara, dan Wuku yang sama. Misalnya orang yang lahir pada hari Rabu, Keliwon Sinta, selalu otonannya akan diperingati pada hari yang sama persis seperti itu yang datangnya setiap enam bulan sekali (210 hari).

Berbeda dengan peringatan hari Ulang Tahun yang hanya menggunakan perhitungan tanggal dan bulan saja, dengan mengabaikan hari maupun wuku pada tanggal tersebut. Misalnya seseorang yang lahir tanggal 10 Januari, maka hari ulang tahunnya akan diperingati tiap-tiap tanggal 10 Januari pada tahun berikutnya (12 bulan kalender).

Otonan diperingati sebagai hari kelahiran dengan melaksanakan upakara yadnya yang kecil biasanya dipimpin oleh orang yang dituakan dan bila upakaranya lebih besar dipuput aleh pemangku (Pinandita). Sarana pokok sebagai upakara dalam otonan ini adalah; biyukawonan, tebasan lima, tumpeng lima, gebogan dan sesayut.

Menurut tradisi umat Hindu di Bali, dalam mengantarkan doa-doa otonan sering mempergunakan doa yang diucapkan yang disebut sehe (see) yakni doa dalam bahasa Bali yang diucapkan oleh penganteb upacara otonan yang memiliki pengaruh psikologis terhadap yang melaksanakan otonan, karena bersamaan dengan doa juga dilakukan pemberian simbol­-simbol sebagai telah menerima anugerah dari kekuatan doa tersebut.

Sebagai contoh : Melingkarkan gelang benang dipergelangan tangan si empunya Otonan, dengan pengantar doa : “Ne cening magelang benang, apang ma uwat kawat ma balung besi” (Ini kamu memakai gelang benang, supaya ber otot kawat dan bertulang besi).

Ada dua makna yang dapat dipetik dari simbolis memakai gelang benang tersebut adalah pertama dilihat dari sifat bendanya dan kedua dari makna ucapannya. Dari sifat bendanya benang dapat dilihat sebagai berikut :

  • Benang memiliki konotasi beneng dalam bahasa Bali berarti lurus, karena benang sering dipergunakan sebagai sepat membuat lurus sesuatu yang diukur. Agar hati selalu di jalan yang lurus/benar.
  • Benang memiliki sifat lentur dan tidak mudah putus sebagai simbol kelenturan hati yang otonan dan tidak mudah patah semangat.

Sedangkan dari ucapannya doa tersebut memiliki makna pengharapan agar menjadi kuat seperti memiliki kekuatannya baja atau besi. Disamping kuat dalam arti fisik seperti kuat tulang atau ototnya tetapi juga kuat tekadnya, kuat keyakinannya terhadap Tuhan dan kebenaran, kuat dalam menghadapi segala tantangan hidup sebab hidup ini bagaikan usaha menyeberangi samudra yang luas. Bermacam rintangan ada di dalamnya, tak terkecuali cobaan hebat yang sering dapat membuat orang putus asa karena kurang kuat hatinya.

Dalam rangkaian upacara otonan berikutnya sebelum natab, didahului dengan memegang dulang tempat sesayut dan memutar sesayut tersebut tiga kali ke arah pra sawia (searah jarum jam) dengan doa dalam bahasa Bali sebagai berikut: “Ne cening ngilehang sampan, ngilehang perahu, batu mokocok, tungked bungbungan, teked dipasisi napetang perahu “bencah” (Ini kamu memutar sampan, memutar perahu, batu makocok, tongkat bungbung, sampai di pantai menemui kapal terdampar).

Dari doa tersebut dapat dilihat makna:

  1. “Ngilehang sampan ngilehang perahu” bahwa hidup ini bagaikan diatas perahu yang setiap hari harus kesana-kemari mencari sesuatu untuk memenuhi kebutuhan hidup ini. Badan kasar ini adalah bagaikan perahu yang selalu diarahkan sesuai dengan keinginan sang diri yang menghidupi kita.
  2. “Batu makocok” adalah sebuah alat judi. Kita teringat dengan kisah Pandawa dan Korawa yang bermain dadu, yang dimenangkan oleh Korawa akibat kelicikan Sakuni. Jadi hidup ini bagaikan sebuah perjudian dan dengan tekad dan keyakinan yang kuat harus dimenangkan.
  3. “Tungked bungbungan” (tongkat berlobang) adalah bambu yang dipakai kantihan yakni sebagai penyangga keseimbangan samping perahu agar tidak mudah tenggelam karena bambu bila masih utuh memang selalu terapung. “Perahu hidup ini” jangan mudah tenggelam oleh keadaan, kita harus selalu dapat mengatasinya sehingga dapat berumur panjang sampai memper­gunakan tongkat (usia tua).
  4. “Teked dipasisi napetang perahu bencah” (sampai di pantai menemui perahu / kapal terdampar). Terinspirasi dari sistem hukum tawan karang yang ada pada jaman dahulu di Bali, yakni setiap ada kapal atau perahu yang terdampar di pantai di Bali, rakyat Bali dapat dengan bebas menahan dan merampas barang yang ada .pada kapal yang terdampar tersebut. Maksudnya supaya mendapatkan rejeki nomplok, atau dengan usaha yang mudah bisa mendapatkan rejeki yang banyak.

Demikian luhurnya makna doa yang diucapkan dalam sebuah upacara otonan bagi masyarakat Hindu Bali yang dikemas dengan simbolis yang dapat dimaknai secara fisik maupun psikologis, dengan harapan agar putra­-putri yang menjadi tumpuan harapan keluarga mendapatkan kekuatan dan kemudahan dalam mengarungi kehidupan.

Dari: Berbagai sumber

%d bloggers like this: