Advertisements

Paduarsana

Berbagi Tentang Semua Hal

Daily Archives: May 23, 2013

Tentang Saput Poleng


Saput Poleng identik dengan Bali, lembaran kain kotak-kotak hitam-putih ini biasanya dipakai oleh pecalang(keamanan adat)di Bali. Saput Poleng juga sering digunakan saput(baca: Selimut) untuk pelinggih, padmasana atau pohon besar. Selain itu saput poleng juga sering digunakan oleh penari kecak, drama gong dan tokoh-dalam pewayangan. Dewasa ini beberapa restoran dan hotel bahkan menggunakan kain poleng untuk menghiasi interior bangunannya dari sebagai alas meja sampai wallpaper pada bagian tertentu bangunannya.

Saput poleng berupa selembar kain bercorak kotak-kotak dengan warna putih dan hitam seperti papan catur. Menurut tradisi di Bali ada tiga jenis Saput Poleng yaitu saput poleng Rwa Bhineda, Sudhamala dan Tri Datu. Saput Poleng Rwabhineda berwarna putih dan hitam. Warna terang dan gelap sebagai cermin baik dan buruk. Saput Poleng Sudhamala berwarna putih, hitam dan abu-abu. Warna Abu-Abu sebagai peralihan hitam dan putih, atau perpaduan keduanya(Hitam-Putih). Artinya menyelaraskan yang baik dan buruk. Saput Poleng Tridatu berwarna putih, hitam dan merah. Merah simbol rajas (keenergikan), hitam adalah tamas (kemalasan), dan putih simbol satwam (kebijaksanaan, kebaikan).

Saput Poleng sebagai simból masyarakat Hindu di Bali digunakan oleh para pecalang (perangkat keamanan), patung penjaga pintu gerbang, dililitkan pada kulkul/kentongan, dikenakan oleh balian/pengobat tradisional, dihiaskan pada tokoh-tokoh itihasa (Merdah, Tualen, Hanoman, dan Bima), dikenakan oleh dalang wayang kulit ketika melaksanakan pangruwatan/penyucian, dililitkan pada pohon-pohon tertentu, atau dililitkan pada tempat suci yang diyakini berfungsi sebagai penjaga. Pada intinya Saput Poleng digunakan sebagai simbol penjagaan.

Bentuk saput poleng beraneka ragam. Misalnya dari segi warna, ukurannya, hiasannya, hiasan tepinya, bahan kainnya, dan ukuran kotak-kotaknya.
Kain Poleng / Saput Poleng sudah digunakan sejak dahulu. Diperkirakan, kain poleng yang pertama ada dan digunakan umat Hindu adalah kain poleng rwa bhineda. Setelah itu barulah muncul kain poleng sudhamala dan tri datu. Berdasarkan perkiraan, perkembangan warna ini juga mencerminkan tingkat pemikiran manusia, yakni dari tingkat sederhana menuju perkembangan yang lebih sempurna.

Jika dikaitkan dengan Dewa Tri Murti, warna merah melambangkan Dewa Brahma sebagai pencipta, warna hitam lambang Dewa Wisnu sebagai pemelihara dan warna putih melambangkan Dewa Siwa sebagai pelebur. Dewa Tri Murti ini terkait dengan kehidupan lahir, hidup dan mati.

Kain Poleng dalam budaya Bali merupakan pencetusan ekspresi penghayatan konsep Rwa Bhineda, suatu konsep keseimbangan antara baik dan buruk, yang menjadi intisari ajaran tantrik (tantrayana).
Dengan menjaga kesimbangan antara kebaikan dan keburukan dapat menciptakan kedamaian dan kesejahteraan dalam kehidupan.

Diolah: Dari berbagai sumber

Advertisements
%d bloggers like this: