Paduarsana

Berbagi Tentang Semua Hal

Tag Archives: yadnya

Bhakti Yoga Hindu Bali


Walaupun kehidupan ini terlihat tunggal dan singkat, sesungguhnya sebelumnya kita sudah berputar-putar jutaan kali lahir-hidup-mati lahir-hidup-mati dalam roda samsara. Ada banyak sebabnya mengapa samsara terus terjadi, tapi sebab yang paling utama adalah karena kita salah pikiran, lalu menjadi salah tindakan dan perkataan, yang kemudian berujung kepada lembah kesengsaraan.

Lahir dan hidup dalam roda samsara itu, bisa diibaratkan seperti meniti “titi ugal-agil” [jembatan berupa sebatang kayu kecil yang goyah]. Hanya persoalan waktu kita “jatuh ke dalam jurang”. Dengan kata lain, sangat-sangat mendesak bagi kita sebagai manusia untuk segera sadar, karena kita semua sedang meniti titi ugal-agil.

Setiap hari segala macam hal datang kepada kita silih berganti. Habis bahagia, datanglah kejengkelan. Habis senang, datanglah kebosanan. Demikian terus-menerus berputar. Hanya persoalan waktu kita ”jatuh ke dalam jurang”. Kita yang sudah menikah kemudian cari istri lagi, itu jatuh ke dalam jurang. Kita tidak puas dengan gaji kemudian kita korupsi, itu jatuh ke dalam jurang. Kita tidak puas dengan pasangan hidup kemudian minta cerai, itu itu jatuh ke dalam jurang. Dll-nya. Kita akan menyakiti dan melukai baik diri kita sendiri maupun orang lain. Pada akhirnya diri kita sendiri yang akan terjerumus ke dalam jurang kegelapan dan kesengsaraan.

Kalau setuju dan yakin, bahwa hidup sebagai manusia itu ibarat meniti titi ugal-agil dan salah-salah kita bisa jatuh ke dalam jurang, segeralah kita kembali ke jalan dharma. Karena hanya dengan begitu seluruh kesengsaraan bisa lenyap, kita bisa terbebaskan dan menemukan hakikat diri dalam kedamaian-kebahagiaan sejati.

Hindu di Bali.

Salah satu ciri kuat Hindu Bali adalah Bhakti Yoga, dengan ciri khas dimana dalam kesehariannya penuh dengan yadnya [persembahan suci]. Mengacu kepada apa yang dilaksanakan oleh para tetua, tidak saja banten dan upakara menjadi yadnya, tapi tari-tarian, ngayah [pelayanan], ukiran, pemberian, pertolongan, membahagiakan mahluk lain, dll, semuanya adalah yadnya. Bahkan hidup inipun adalah yadnya. Kalau hal ini yang dijadikan acuan, sebagai Hindu Bali selayaknya bergerak dengan spirit yadnya [persembahan suci].

Ada delapan macam yadnya, yaitu TRI YADNYA [tiga macam yadnya yang tidak berhubungan dengan upakara] dan PANCA YADNYA [lima macam yadnya yang berhubungan dengan upakara]. Tri Yadnya termasuk Para Bhakti, sedangkan Panca Yadnya termasuk Apara Bhakti. Inilah jalan menuju tercapainya Tri Hita Karana, yaitu keharmonisan semesta yang bersumber pada keharmonisan hubungan antara manusia dengan Hyang Acintya dan para dewa-dewi, manusia dengan alam raya dan manusia dengan sesama mahluk. Ini selaras-sejalan dengan tujuan “moksartham jagadhita ya ca iti dharma”, yang berarti : dengan dharma kita mewujudkan kebahagiaan semua mahluk dan keharmonisan alam semesta [jagadhita], serta mencapai pembebasan dari roda samsara [moksartham].

Bhakti Yoga harus dimulai dengan upaya mendisiplinkan diri. Ini direalisasi dengan melaksanakan Tri Yadnya, yaitu tiga macam persembahan suci atau yadnya yang tidak berhubungan dengan upakara.

Ketiga yadnya itu adalah :

1. Drwya Yadnya. Ini adalah yadnya berupa welas asih dan kebaikan kepada semua mahluk. Memuja Tuhan dan dewa-dewi yang tidak kelihatan tentu saja bagus dan boleh. Tapi menyayangi para mahluk yang terlihat juga termasuk yadnya [persembahan suci]. Drwya Yadnya adalah yadnya berupa perbuatan-perbuatan kebaikan, kasih sayang dan pemberian materi maupun non-materi. Tidak saja kepada manusia, tapi juga kepada alam semesta beserta seluruh mahluk didalamnya. Termasuk welas asih dan kebaikan kepada para mahluk menderita : hewan dan mahluk-mahluk niskala alam bawah [yang ditempat lain dimusuhi sebagai setan]. Yadnya disini bukan selalu berarti uang atau barang. Senyuman ramah, mau menjadi tempat curhat yang baik, membantu membuang sampah, itu juga sebuah yadnya. Membuat orang senang, bahagia, terhibur, lepas dari ganjelan, dll, itu semua sebuah persembahan suci [yadnya].

2. Tapa Yadnya. Ini adalah yadnya berupa 10 disiplin diri, yaitu :

  • Tiga disiplin badan : hindari menyakiti-membunuh, hindari hubungan seks ilegal [selingkuh], hindari mengambil sesuatu yang bukan milik kita.
  • Empat disiplin lidah : hindari berbohong, hindari bergosip-memfitnah, hindari kata-kata kasar dan menghina, hindari kesombongan.
  • Tiga disiplin pikiran : hindari kemarahan-kebencian, hindari keserakahan [termasuk serakah ingin hidup harus selalu tenang, damai, gembira tanpa gangguan], hindari dualitas pikiran [benar-salah, baik-buruk, suci-kotor, dll].

Dengan indriya-indriya dan pikiran yang terkendali, kita lebih sedikit serakah, lebih sedikit mengeluarkan kata-kata menyakitkan, yang membuat kita lebih sedikit menyakiti mahluk lain, lebih banyak mengurangi penderitaan para mahluk, sekaligus membuat kita berhenti memproduksi karma buruk.

3. Jnana Yadnya.
Ini adalah yadnya berupa kebijaksanaan dan pengetahuan. Kita belajar dan berlatih menghidupkan kebijaksanaan yang mendalam dalam bathin kita.

Dengan kebijaksanaan mendalam, kita lebih sedikit marah, lebih sedikit membenci, lebih sedikit dendam, lebih sedikit tidak puasnya, yang membuat kita lebih sedikit menyakiti mahluk lain, lebih banyak mengurangi penderitaan para mahluk, sekaligus membuat kita berhenti memproduksi karma buruk.

Dengan keseharian yang dibimbing oleh Tri Yadnya keadaan bathin kita akan menjadi sejuk, teduh, terang. Jauh lebih sedikit mahluk yang disakiti dan jauh lebih banyak mahluk yang bisa disayangi. Hal ini tidak saja menyegarkan bathin orang lain atau mahluk lain, tapi sekaligus juga menyalakan teja atau sinar suci di dalam bathin kita. Sehingga kemanapun kita sembahyang, apapun upakara yang kita lakukan, langkah kita akan ringan, dimana-mana kita mudah sekali bertemu dengan teja kemahasucian.

Segala macam sembahyang, mebanten, upakara, dll, yang kita laksanakan, tanpa dilandasi oleh Tri Yadnya, kemungkinan besar hanya menjadi penyegaran spiritual atau rekreasi rohani yang sifatnya sementara saja atau bahkan tidak berguna. Vibrasi spiritual-nya lemah dan mudah lenyap. Akan tetapi bila sebaliknya, bhakti yoga tidak lagi menjadi aktifitas fisik belaka, tapi sudah menjadi satu dengan aktifitas jiwa. Ini yang akan membuat dalam bhakti kita akan mudah terhubung dengan wilayah-wilayah kemahasucian. Karena hanya yang suci akan tersambung dengan bagian dari Brahman yang juga suci.

 

 

 

Yadnya Yang Benar


Melakukan Yadnya tidak dapat dipisahkan dengan konsep Tri Kaya Parisudha. Beryadnya seharusnya dilakukan secara terpadu antara pikiran, perkataan dan perilaku. Ketiga hal itu wajib dilakukan tanpa mengistimewakan salah satunya. Jadi Yadnya yang benar adalah Yadnya yang dilandasi oleh pikiran, perkataan dan perbuatan yang baik.

Asraddha hutam dattam
tapastaptam krtam ca yat
asadityucyate pursa na
ca tat pretyaneha ca. (Sarasamuscaya 211). 

Maksudnya: Syarat yadnya yang memberikan pahala mulia dengan adanya bhakti, pemberian yang tulus ikhlas, tapa melaksanakan dharma, tetapi tanpa didasarkan dengan keyakinan yang sungguh-sungguh, maka perbuatan itu sangat hina. Tidak akan berpahala mulia di dunia ini maupun di akhirat.

Untuk mendapatkan pahala mulia dari yadnya yang dilakukan ada beberapa syarat yang wajib diposisikan secara terpadu yaitu:

  • Bhakti adalah sikap hidup yang diwujudkan dengan berserah diri pada Tuhan. Berserah diri pada Tuhan itu bukanlah bermalas-malasan– segala persoalan hidup ini diserahkan pada Tuhan. Berserah diri pada Tuhan itu adalah bekerja dengan baik, benar, tepat dan wajar. Karena ajaran Karmaphala yang diciptakan oleh Tuhan mengajarkan bahwa setiap perbuatan akan memberikan pahala sesuai dengan apa yang diperbuat. Kalau perbuatan yang dilakukan itu baik, benar, tepat dan wajar, itu pasti berpahala sesuai dengan perbuatan tersebut. Ajaran Karmaphala inilah yang wajib dipegang kuat-kuat. Mantapkan keyakinan dan tingkatkan kemampuan untuk melakukan perilaku yang baik, benar, tepat dan wajar. Kapan perilaku itu memberikan pahala itu hanya Tuhan yang tahu. Yang jelas perilaku itu pasti akan berpahala seperti yang dilakukan. Hal itu tidak boleh diragukan. Ini artinya berbhakti pada Tuhan untuk meningkatkan dan menguatkan eksistensi Atman yang suci. Eksistensi Atman yang kuat akan meningkatkan keluhuran moral dan menguatkan daya tahan mental. Moral yang luhur dan mental yang kuat sebagai modal dasar untuk berperilaku baik, benar, tepat dan wajar berlandaskan dharma.
  • Weweh artinya memberikan. Dalam Wrehaspati Tattwa dinyatakan Daana ngarania paweweh. Artinya daana namanya perilaku memberikan. Dengan demikian Weweh itu adalah melakukan dana punia dengan baik, benar, tepat dan wajar sesuai dengan petunjuk dharma. Bhagawad Gita XVII.20 menyatakan bahwa dana punia yang diberikan atas dasar kewajiban atau Datavyam dengan tulus ikhlas berdasarkan Desa, Kala dan Patra. Dalam hal ini Patra itu adalah orang yang baik dan tepat. Sarasamuscaya 271 menyatakan: Patra ngarania Sang yogia Wehana Daana. Artinya Patra namanya adalah orang yang sepatutnya diberikan daana punia. Dana Punia yang demikian disebut Satvika Daana atau pemberian yang berkualitas tinggi. Dalam Bhagawad Gita IV.33 dinyatakan bahwa melakukan Yadnya dengan ilmu pengethauan suci atau Jnyana Yadnya jauh lebih tinggi nilainya daripada beryadnya dengan harta benda.
  • Tapa dalam Sarasamuscaya 260 dinyatakan: ‘’Tapa kaya sang sosana.’’ Maksudnya, tapa adalah kuat menahan gejolak hawa nafsu. Sedangkan Wrehaspati Tattwa 25 menyatakan: ‘’Tapa ngarania umati indryania.’’ Maksudnya, tapa namanya mengedalikan indriyanya. Indriya ini dalam Katha Upanisad I.3-9 diri manusia itu diumpamakan bagaikan kereta dengan kudanya. Kuda yang menarik kereta diumpamakan indriya. Sedangana badan kereta diumpamakan badan raga. Pikiran diumpamakan tali lis atau tali kendali kereta. Kusir kereta diumpamakan kesadaran budhi. Atman diumpamakan pemilik kereta. Kuda akan dapat menarik kereta dengan sempurna untuk mengantarkan pemilik kereta pada tujuannya. Artinya badan wadag ini adalah badan kereta yang ditarik oleh kuda indriya. Ini berarti Tapa itu adalah memelihara dan melatih indriya agar tetap sehat berfungsi sempurna menurut alamnya serta patuh pada pengendalian pikiran dan kesadaran budhi. Dengan Tapa itu manusia dapat mengendalikan indriya-nya yang sehat dan tidak menyimpang dari kendali pikiran dan kesadaran budhi. Dengan demikian Atman akan semakin dekat dengan Brahman. Dekatnya hubungan Atman dengan Brahman akan membuat manusia itu selalu dapat berbuat dalan jalan Dharma. Tanpa Tapa, indriya itu bisa membawa diri manusia ini terseok-seok ke jurang Adharma menuju neraka.
  • Ulah Dharma, artinya prilaku yang berdasarkan dharma. Melaksanakan ini bukan sekadar untuk meraih pencitraan diri di tengah-tengah masyarakat. Namun atas kesadaran bahwa hal itu wajib dilakukan oleh manusia yang hidup di bumi ini. Perilaku Dharma menurut Wrehaspati Tattwa 25 ada tujuh yaitu: Sila, Yadnya, Tapa, Daana, Prawrajya, Bhiksu dan melakukan Yoga. Misalnya, Sila disebutkan: ‘’Mangraksa acara rahayu.’’ Artinya memiliki kebiasaan hidup yang baik. Prawrajya artinya mengembara menyebarkan Dharma. Bhiksu selalu berupaya menyucikan diri melepaskan ego atau Ahamkara. Yoga artinya mengendalikan pikiran untuk bersatu dengan Tuhan.
  • Sraddha, artinya keyakinan atau kepercayaan yang sungguh-sungguh. Tidak boleh meragukan kebenaran ajaran tersebut. Hidup penuh keraguan sangat berbahaya Dalam Bhagawad Gita IV.40 menyatakan: ‘’Samsayaatma vinasyati’’. Artinya barang siapa yang ragu akan kebenaran tersebut akan hancur. Inilah kunci pengamalan Bhakti, Weweh, Tapa dan Ulah Dharma. Tanpa keikhlasan dan keyakinan yang sungguh-sungguh perilaku tersebut disebut perilaku Nista namanya. Melakukan Bhakti pada Tuhan hanya untuk mencitrakan diri agar dipandang sebagai orang yang religius tanpa keyakinan sungguh sangat rendah. Demikian pula melakukan Daana Punia untuk mencitrakan diri agar dipandang orang dermawan juga rendah.

Sumber: Bali Post.

Pelinggih Rong Tiga


Pelinggih Rong Tiga merupakan Kahyangan Tiga yang berada dalam lingkungan keluarga atau dilingkungan masyarakat terkecil. Maksud dari pembangunan pelinggih Rong Tiga dalam lingkungan keluarga adalah agar kita selalu ingat akan kebesaran Tuhan dalam kaitannya dengan hutang kita yang disebut Tri Rnam.

Tri Rnam terdiri dari:

  1. Kepada Sanghyang Widhi Wasa, sebagai pencipta yang telah memberikan kesehatan dan keselamatan dengan segala kebutuhan hidup.
  2. Hutang kepada leluhur, terumata kepada bapak/ibu yang telah melahirkan,merawat dan membesarkan kita.
  3. Hutang kepada Rsi, yang telah berjasa mengajarkan kepada kita mengenai Agama, Kebudayaan dll

Dengan adanya pelinggih Rong Tiga, baik secara langsung maupun tidak langsung, kita telah diajarkan agar kita selalu melakukan Yadnya yang paling kecil, tujuan Yadnya adalah untuk menanamkan rasa suci dan iman, selain sebagai melebur dosa kita.

Setiap pembangunan pelinggih harus berisi pedagingan dalam tingkatan nista, madya maupun utama yang merupakan lambang kekuatan/kesucian jiwa.

Hal ini tersurat dalam lonta Dewa Tattwa: “Muwah yan ana angwangun Kahyangan, yan nora mapadagingan nista, madya, utama salwir ikang wewangunane maharan astaning Dewa, dudu Kahyangan Dewa, dadi umahing detia kubanda, tan pegatan andang wiadi sang madrawe Kahyangan, sama mangguh kagringan pamati-mati dadi salah ton, kerangsukan ring buta pisaca”.

Terjemahan bebasnya: Jika ada seseorang yang membangun Kahyangan tidak berisi pedangingan nista, madya, utama semua bangunan tersebut bukan stananya Hyang Widhi Wasa, bukan Kahyangan Dewa(Hyang Widhi) tetapi menjadi temoatnya detia kudanda, tidak putus-putusnya menderita yang memiliki Kahyangan itu. Sesuai dengan dengan isi lontar tersebut diatas makan upacara mendem pedangingan merupakan suatu ritual yang bermakna utpati dan stiti agar palinggih tersebut menjadi suci dan berfungsi sebagai lingga Dewa maupun Bhatara sebagai sinar suciNya Hyang Widhi.