Paduarsana

Berbagi Tentang Semua Hal

Tag Archives: upacara

Upacara, Etika dan Filosofi Tumpek Wariga


Image by: courtesy facebook | Ilustrasi adat dan budaya

Avir vai nama devata,
rtena-aste parivrta,
tasya rupena-ime vrksah,
harita haritasrajah.
(Atharvaveda X.8.31).

Artinya: Warna hijau pada daun tumbuh-tumbuhan karena mengandung klorofil di dalamnya. Zat khlorofil itu menyelamatkan hidup. Hal itu ditetapkan oleh Rta yang ada dalam tumbuh-tumbuhan. Karena adanya zat itu tumbuh-tumbuhan menjadi amat berguna sebagai bahan makanan dan obat-obatan.

Hari ini, Sabtu Kliwon Wuku Wariga(04/08) merupakan hari Tumpek Wariga/Tumpek Pengatag/Tumpek Bubuh yang selalu dirayakan selama peradaban Umat Hindu di Bali. Ini merupakan ungkapan rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa atas anugerah berupa berbagai tumbuh-tumbuhan yang menghasilkan berbagai jenis makanan baik untuk manusia maupun makhluk lainnya.

Dipandang dari aspek upacara, hari raya yang diperingati umat Hindu setiap 210 hari sekali ini sebagai bentuk pemujaan pada Sanghyang Sangkara sebagai dewa yang berstana atau memberikan kehidupan pada seluruh tanaman/tumbuh-tumbuhan.

Dari Sisi Etika, umat Hindu pada hari ini tidak diperbolehkan menebang pohon. Umat pun pada Tumpek Wariga tidak mau memetik buah, bunga, dan daun. Justru mereka diharapkan menanam pohon. Artinya, secara etika, umat Hindu ingin menyerasikan dirinya dengan alam, baik melalui upacara maupun tindakan nyata.

Makna filosofis Tumpek Wariga sebagai bentuk pemujaan kepada Sangyang Sangkara yang merupakan manifestasi dari Tuhan sesungguhnya bermakna bagaimana memelihara alam melalui tumbuh-tumbuhan sehingga kebutuhan oksigen dari seluruh makhluk hidup bisa terpenuhi.

Tumbuh-tumbuhan yang dinikmati oleh umat manusia memiliki arti yang sangat penting bagi kelangsungan hidup. Karena itu, harus ada timbal balik yang harus diberikan terhadap tumbuh-tumbuhan itu. Bentuknya, bisa saja dalam wujud upacara atau ritual sebagaimana yang dilakukan pada saat hari Tumpek Bubuh/Tumpek Wariga/Tumpek Pengatag ini.

Jangan Memiskinkan Diri Dengan Upacara


Upacara (baca: Upakara) dalam Hindu berasal dari dua kata dasar “upa” yang berarti “dekat” dan “kara” berarti sarana. Jadi, upacara(upakara) adalah sarana yang digunakan untuk mendekatkan diri kepada Hyang Widhi dengan segala manifestasinya. Upacara (upakara) Hindu di Bali dibedakan menjadi 3(tiga) berdasarkan jenis dan ukuran upacara itu sendiri, Yaitu:

  1. Nista(alit) adalah upacara kecil, sedikit bisa dibilang paling sederhana.
  2. Madya, adalah upacara berukuran sedang.
  3. Utama(ageng) adalah upacara besar

Umat Hindu sering salah mengartikan makna ketiga jenis upacara diatas, sering kali umat Hindu melakukan upacara dengan biaya diluar batas kemampuan dan berpikir bahwa upacara utama adalah jenis upacara tertinggi nilai pahalanya. Tidak jarang pula umat Hindu melakukan upacara dengan rasa gengsi, sehingga melakukan upacara secara besar-besaran hanya untuk sebuah pengakuan. Padahal di dalam lontar Yadnya Prakerti, Purwa Gumi Kemulan, Purwa Gama Sesana, Siwa Tattwa, Sanghyang Aji Swamandala, dan lain-lain disebutkan bahwa jenis upakara agar disesuaikan dengan kemampuan nyata, yang diistilahkan sebagai : desa (tempat), kala (waktu), patra (situasi dan kondisi).

Hindu tidak memiliki standar sebuah upacara(upakara) yadna, dan besarnya pahala dari sebuah upacara tidak dilihat dari jenis upacaranya tapi dilihat dari keikhlasan dalam pelaksanaannya. Sudah saatnya umat Hindu berpikir realistis dalam melakukan upacara yadna jangan memiskinkan diri dengan upacara yadnya yang akan dilakukan, lakukan sesuai dengan kemampuan dan berkonsultasi dengan pandita sehingga upacara yang dilakukan sesuai dengan desa, kala dan patra.  Didalam bhagawad-gita 9.26 disampaikan :

patraḿ puṣpaḿ phalaḿ toyaḿ

yo me bhaktyā prayacchati
tad ahaḿ bhakty-upahṛtam
aśnāmi prayatātmanaḥ

“Whoever with loving devotion offers unto Me a leaf, a flower, a fruit or water, I affectionately accept than devotional afforing from that pure hearted being.”

maksudnya: Kalau seseorang mempersembahkan daun, bunga, buah atau airdengan cinta bhakti, Aku akan menerimanya.

Lakukan upacara yadnya sesuai kemampuan, karena keikhlasan adalah nilai utama sebuah upacara.

Makna Sarana Persembahyangan Hindu(4)


Sarana persembahyangan yang lain adalah Wija/Bija, disebut pula Gandaksata, berasal dari kata ganda dan aksata, artinya biji padi-padian yang utuh serta berbau wangi. Mawija atau mabija dilakukan setelah usai mathirta, yang merupakan rangkaian terakhir dan suatu upacara persembahyangan. Oleh karena itu hendaknya dipergunakan beras yang utuh/tidak patah, dicuci bersih kemudian dicampur dengan wangi-wangian, misalnya: air cendana serta bunga yang harum. Bija dianggap sebagai simbul benih yang suci anugrah dari Tuhan dalam wujud Ardhanareswari/Purusa-Pradana. Pemakaiannya hampir sama, dengan tirtha yaitu ditaburkan pada bangunan yang dipergunakan dalam suatu upacara sebagai simbol penaburan benih yang suci yang akan memberikan kesucian. Ini biasanya dilakukan sebelum persembahyangan atau upacara keagamaan yang lainnya.

Sehabis sembahyang umat Hindu selalu mengenakan Wija/Bija, umumnya penggunaaan bija:

  • Diletakkan diantara kedua kening(disebut Cudamani). Penempatan wija/bija disini diharapkan menumbuhkan dan memberikan sinar-sinar kebijaksanaan kepada orang yang bersangkutan.
  • Diletakkan di tengah-tengah dada sebagai simbol pensucian dan mendapat kebahagiaan.
  • Ditelan sebagai simbol untuk menemukan kesucian rohani dengan harapan agar memperoleh kesempurnaan hidup.

Wija atau Bija adalah lambang Kumara, yaitu putra atau wija Bhatara Siwa. Pada hakekatnya yang dimaksud dengan Kumara adalah benih ke-Siwa-an yang bersemayam dalam diri setiap orang. Mawija/Mabija mengandung makna menumbuh- kembangkan benih ke-Siwa-an itu dalam diri orang. Benih itu akan bisa tumbuh dan berkembang apabila ladangnya bersih dan suci, maka itu mewija dilakukan setelah mathirta.

Artikel terkait:

  1. Makna sarana persembahyangan Hindu(3)
  2. Makna sarana persembahyangan Hindu(2)
  3. Makna sarana persembahyangan Hindu(1)