Advertisements

Paduarsana

Berbagi tentang: Hindu, Bali dan Budayanya.

Tag Archives: reg weda

Judi Dalam Kitab Rg Weda


Masalah judi adalah masalah yang menyangkut kehidupan masyarakat (walau tidak seluruhnya), dan jika tidak ditangani dengan serius akan dapat menimbulkan berbagai masalah spiritual, sosial, keamanan baik untuk pribadi pelaku maupun berdampak kepada lingkungan sosial yang lebih luas. Didalam RgWeda diuraikan tentang Judi dan akibat yang ditimbulkannya :

  1. Akṣair mā dīvyaḥ kśimit kṛśasva vitte ramasva bahu manyamānaḥ, tatra gāvaḥ kitava tatra jaya tan me vicaśṭe savitāyamarya. Ṛgveda X.34.13. (Wahai para penjudi, janganlah bermain judi, bajaklah tanahmu. Selalu puas dengan penghasilanmu, pikirkanlah itu cukup. Pertanianmenyediakan sapi-sapi bentina dan dengan itu istrimu tetap bahagia. Deva Savitā telah menasehatimu untuk berbuat demikian)
  2. Jāyā tayate kitavasya hìnā mātā putrasya carataḥ kva svit, ṛṇāvā bibhyad dhanam icchamānaḥ anyeśām astam upa naktam eti. Ṛgveda X.34.10. (Istri seorang penjudi yang mengembara mengalami penderitaan yang sangat menyedihkan, dan ibu seorang penjudi semacam itu dirundung penderitaan. Dia, yang dalam lilitan hutang dan kekurangan uang, memasuki rumah orang lain dengan diam-diam di malam hari)
  3. Dvesti śva rūr apa jaya ruóaddhi na nathito vindate marîitāram, aśvasyeva jarato vasnyasya nāhaṁ vindāmi kitavasya bogam. Ṛgveda X.34.3. (Ibu mertua membenci, istrinya menghindari dia, sementara pada waktu mengemis, tidak menemukan seorangpun yang berbelas kasihan. Istri penjudi itu berkata: “Sebagai seekor kuda tua yang tidak bermanfaat, kami sangat menderita menjadi istri seorang penjudi”).

Kalah atau menang dalam berjudi membawa dampak munculnya sadripu (enam musuh) pada diri seseorang. Sadripu adalah kama (nafsu tak terkendali), lobha (serakah), kroda (kemarahan), mada (kemabukan), moha (sombong) dan matsarya (cemburu), dengki, irihati). Penjudi yang menang menguatkan kama, lobha, mada, dan moha, pada dirinya dan yang kalah menguatkan kroda, dan matsarya.

Jadi berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kita semestinya menghindari yang namanya segala bentuk perjudian. Suami yang suka berjudi tentu akan mendatangkan kesengsaraan bagi keluarga seperti istri, anak orang tuanya serta orang-orang yang berada di sekelilingnya, sebab penjudi cenderung melakukan tindakan kriminal seperti mencuri, merampok untuk mendapatkan uang agar bisa dipakai berjudi. Dengan cara bekerja yang tekun serta mempersembahkan hasilnya kepada Tuhan karena dengan cara seperti itu tentunya akan membawa kebahagiaan bagi keluarga dan terhindar dari berbagai mala petaka.

 

 

 

Advertisements

Tirta Yatra ke Pura Dalem Ped


Ya atmada balada yasya visva
upasate prasisam yasya devah
yasya chaya-amrtam yasya mrtyuh,
kasmani devaya havisa vidhema.
(Reg Weda.X.121.2).

Artinya:
Tuhan Yang Maha Esa memberikan kekuatan spiritual (rohani) dan fisikal (jasmani). Semua sinar sucinya yang disebut Deva berfungsi atas kehendak Tuhan. Kasih-Nya adalah keabadian, krodanya adalah kematian. Kami semuanya mengaturkan sembah kepada-Nya.

Buda Wage(Cemeng) Kelawu merupakan odalan di Pura Dalem Ped, Nusa Penida. Sebenarnya ini kali kesekian saya sembahyang ke Pura yang terkenal seantero Bali. Mengingat saya tidak mungkin untuk cuti berlama-lama, dan anak harus sekolah keesokan harinya maka saya putuskan untuk sembahyang ke Pura Dalem Ped saja, tidak mampir ke Pangkung Gede dan Cemulik tempat dimana leluhur saya berasal. Dan sayapun pulang pergi(Sanur-Nusa Penida) pada hari yang sama. Penyeberangan menuju Nusa Penida bisa ditempuh dari Pelabuhan Benoa, Sanur, Kusamba dan Padang Bai. Jika anda ingin membawa kendaraan(mobil,motor) ke Nusa Penida Saya sarankan anda naik kapal roro dari Padang Bai. Biasanya penyebrangan dari Padang Bai hanya sekali berangkat dalam sehari yaitu jam 11. dan kembali ke padang bai pada pukul 13:00.

Saya lebih sering menyebrang dari sanur, alasannya karena saya tidak membawa kendaraan, lagi pula motor/mobil lebih aman diparkir di sanur. Harga tiket 65000 /orang, jam 07:00 boat menuju Nusa Penida pun berangkat. Penyebrangan ditempuh kurang lebih 30 menit lumayan cepat. Sesampainya  di Br. Bias, Nusa Penida, tukang ojek pun terlihat sibuk menawarkan jasanya untuk mengantarkan penumpang menuju Pura Dalem Ped. Saya putuskan untuk naik angkot ikut rombongan lain yang sama-sama ke Pura Dalem Ped, Ongkosnya cuma 5000 /org, kalo ojek ongkosnya 10000/org.

Perjalanan menuju Pura Dalem Ped hanya ditempuh kurang lebih 10 menit dari dermaga. Sesampainya di area pura saya putuskan untuk beristirahat sejenak di wantilan. Merasa cukup beristirahat sayapun bersiap-siap mengikuti proses upacara odalan. Dimulai dengan mendak tirtha ke Beji. Persembahyangan di Pura Dalem Ped ada 4(empat) tahapan pertama sembahyang di Pura Segara sebagai tempat bersthananya Batara Baruna,terletak disisi utara hanya beberapa meter dari bibir pantai, kemudian persembahyangan dilanjutkan ke Pura Taman sebegai tempat penyucian, Pura Taman dikeliling kolam disekitarnya. Tahab ke-3 persembahyangan dilakukan di Pura Ratu Gede, merupakan simbol kesaktian penguasa Nusa Penida pada jamannya. Tahap terakhir persembahyangan dilakukan di Pura Penataran Agung, terletak di Jaba Tengah.

Artikel terkait: Pura Dalem Penataran Ped

Kewajiban dalam keluarga Hindu(2)


Kewajiban Istri.

Kata istri berasal dari kata stri, Stri dalam bahasa sanskerta berarti “Pengikat Kasih”, Istri dalam keluarga sebagai penjaga jalinan kasih sayang kepada suami dan anak-anaknya. Seorang anak haruslah ditumbuhkan jiwa dan raganya dengan curahan kasih ibu.

Dalam Wanaparva disebutkan seorang ibu rumah tangga juga disebut sebagai Dewi dan Permaisuri. Dewi artinya istri sebagai sinar yang menentukan keadaan rumah tangga. Istri sebagai Permaisuri yaitu yang mengatur tata hubungan, tata grha, tata bhoga, tata keuangan dll. Istri mempunyai peran yang sangat penting dalam keluarga Hindu.

Seorang Istri mempunyai tugas atau Swadharma sebagai berikut:

  • Mematuhi doa/harapan Ayah yang menikahkannya. Dalam Atharwa Weda XIV disebutkan :
  1. Wahai penganten wanita, datangilah dengan keramahanmu seluruh anggota suamimu. Bersama-samalah dalam suka dan duka dengan mereka. Semoga kehadiranmu di rumah suamimu memberikan kebahagiaan dan keberuntungan kepada suamimu, mertuamu laki-laki dan perempuan dan menjadi pengayom bagi seluruh keluarga. (Atharwa Weda XIV.2.26).
  2. Wahai mempelai wanita, dengan kedatanganmu ke rumah suamimu, semogalah kamu menjadi petunjuk yang terang terhadap keluarganya. Membantu dengan kebijaksanaan dan pengertian, semogalah kamu senantiasa mengikuti jalan yang benar dan hidup yang sehat dalam rumahmu. Semogalah Hyang Widhi menghujankan rahmat-Nya kepadamu.(Atharwa Weda XIV.2.27).
  3. Lakukanlah Brata(Patibrata)sejak awal,gadis ini telah menerima pemuda yang akan menjadi suamin
  4. ya. Semogalah ia memberikan kesejahteraan dan kebahagiaan pada rumah ini. Dengan kedatangannya ke rumah suaminya, semogalah ia mendapat putra-putri yang mulia dan dihormati sebagai ratu dalam rumah, semogalah respek dan memenuhi keinginan semuanya.(Atharwa Weda II. 36.3)

Dari ketiga sloka Atharwa Weda diatas seorang wanita Hindu sebelum bersatu dengan calon suaminya dan diresmikan sebagai suami istri yang sah(Vivaha samskara) haruslah mendapat restu dari Ayahnya.

  • Memenuhi harapan seorang suami.
  1. Wahai mempelai wanita, lihatlah kecantikanmu dan dengarkanlah tabiat dan tingkah laku yang baik. Aku akan merangkul kepala dan hatimu, aku tidak akan mencari kesenangan diluar rumah. Aku tidak akan memenuhi pikiran-pikiran demikian. Semogalah tingkah lakuku senantiasa sesuai dengan kitab suci. (Atharwa Weda XIV.1.57).
  2. Seorang istri hendaknya melahirkan seorang anak yang perwira, senantiasa memuja Hyang Widhi dan para dewata, hendaknya patuh kepada suaminya dan mampu menyenangkan setiap orang, keluarga dan mengasihi semuanya.(Reg Weda X.85.43).
  3. Seorang istri adalah pengendali keluarga. Ia seorang yang cerdas. ia mengatur seluruh keluarga, sangat berharga dalam keluarga dan yang mendukung kehidupan keluarga.(Yajur Weda XIV.22).
  • Berpenampilan lemah lembut dan simpatik.

“Wahai wanita, berjalan lihatlah kebawah, jangan menengadah,

bila sedang duduk tutuplah kakimu rapat-rapat.”(Reg Weda VII.33.19)

  • Setia kepada suaminya, sabar dan menghormati yang lebih tua.
  1. Wahai istri, tunjukkanlah keramahanmu, keberuntungan dan kesejahteraan, usahakan melahirkan anak. Setia dan patuhlah kepada suamimu dan siap sedialah menerima anugerah yang mulia(Atharwa Weda XIV.1.42).
  2. Wahai mempelai wanita, hendaklah kamu merasa bersyukur dalam keluarga suamimu dengan jalan melahirkan putra-putri. Hendaknya senantiasa waspada melayani, tahan uji(sabar) dan menjaga nama baik keluarga suamimu. (Reg Weda X.85.27).
  3. Wahai mempelai wanita, senantiasalah memuja Saraswati dan hormatlah kepada yang lebih tua dalam keluargamu.(Atharwa Weda XIV.2.20).
Artikel terkait: