Advertisements

Paduarsana

Berbagi Tentang Semua Hal

Tag Archives: metatah

Suka Duka Santhi Nirwana Menyelenggarakan Metatah Massal


Suka Duka Santhi Nirwana akan menyelenggarakan Metatah Massal di bulan Juli 2019. Bagi semeton Hindu yang hendak bergabung pada acara ini bisa mulai mempersiapkan diri. Rencananya metatah massal akan diselenggarakan di Wantilan Desa Budaya Kertha Langu Jl. By Pass I Gusti Ngurah Rai Denpasar Timur, mulai Hari Jumat, tanggal 5 Juli 2019 pukul 16:00 Wita dimana pada hari ini dilakukan upacara Mekekeb, kemudian dilanjutkan dengan Metatah pada keesokan harinya Sabtu, tanggal 6 Juli 2019 pukul 06:00 Wita.

Upacara Metatan Massal ini akan dipuput oleh 3 sulinggih antara lain:

  1. Ida Pedanda Istri Sebali Tianyar Arimbawa dari Grya Tegeh, Karangasem
  2. Ida Pandita Mpu Agni Jaya Shree Bhaskara, Ashram Taru Petak, Singaraja
  3. Ida Rsi Bhagawan Agni Sathya Yoga Bhaskara Sebali, Ashram Sathya Yoga, Klungkung

Peserta Metatah Massal menghaturkan punia Rp. 300.000 ,- / peserta. Informasi lainya:

  1. Pakaian Peserta, Payas Bali – Bebas
  2. Peserta dan orang tua akan disediakan snack dan nasi kotak, bagi pengiring tambahan akan dikenakan punia sebesar Rp. 20.000,- /orang
  3. Peserta diharapkan membawa sarana persembahyangan(bunga, kewangen dan dupa) dan ditaruh dalam bokor.
  4. Pendaftaran paling lambat tanggal 30 Juni 2019.

Informasi dan Pendaftaran:

  1. JM Wayan Suwena, HP/WA: 081 337 938 344
  2. Pandita Agni Naradha Svamitra, HP/WA: 081 238 15 933
  3. Mangku Ratna, HP/WA: 081236 65 119
  4. Nyoman Darmawinata, HP/WA: 081 515 815 099

Advertisements

Memahami Upacara Mepandes (Metatah)


Upacara potong gigi atau mepandes atau sering juga disebut metatah adalah salah satu bentuk upacara manusa yadna, Upacara ini bertujuan untuk mengurangi pengaruh Sad Ripu yang ada pada diri si anak.

Upacara Metatah/Mepandes umumnya dilaksanakan setelah anak beranjak dewasa, namun sebaiknya sebelum anak itu menikah. Dalam keadaan tertentu dapat pula dilaksanakan setelah berumah tangga.

Seluruh rangkaian upacara potong gigi ini dilaksanakan di rumah dan di pemerajan. Dilaksanakan oleh Pandita/Pinandita dan dibantu oleh seorang sangging (sebagai pelaksana langsung).

Sarana banten:

  1. Sajen sorohan dan suci untuk persaksian kepada Hyang Widhi Wasa.
  2. Sajen pabhyakalan prayascita, panglukatan, alat untuk memotong gigi beserta perlengkapannya seperti: cermin, alat pengasah gigi, kain untuk rurub serta sebuah cincin dan permata, tempat tidur yang sudah dihias.
  3. Sajen peras daksina, ajuman dan canang sari, kelapa gading dan sebuah bokor.
  4. Alat pengganjal yang dibuat dari potongan kayu dadap. Belakangan dipakai tebu, supaya lebih enak rasanya.
  5. Pengurip-urip yang terdiri dari kunyit serta pecanangan lengkap dengan isinya.

Tahapan Upacara

  1. Yang diupacarai terlebih dahulu mabhyakala dan maprayascita. Mantram yang diucapkan saat prayascita dan bhyakala : Om Hrim, Srim, Mam, Sam, Warn, Saçwa rogha satru winasa ya rah phat. Om Hrim. Srim. Am. Tarn. Sam. Bam. Im, sarwa dandamala papa klesa, wenasaya rah, Um, phat. Om Hrim, Srim, Am, Um, Mam, Sarwa, papa petaka wenasaya rah, Um phat, Om Siddhi guru srom, Sarwasat. Om sarwa weghena winasaya, sarwa papa wenasaya, astu ya namah swaha.  Artinya:  Om Hyang Widhi Wasa, semoga semua musuh yang berupa penderitaan, kesengsaraan, bencana dan lain-lain menjadi sirna.
  2. Setelah itu dilanjutkan dengan muspa ke hadapan Siwa Raditya memohon kesaksian, Dengan mantram: Om adityasya parantyoti rakta tejo nama stute, swera pang kajo mandhyaste Bhaskara ya namo namah, pranamya bhaskara dewam, sarwa klesa wia sanam, pranamya ditya siwartham bhukti mukti warapradam.Om rang ring sah paramya Çiva dityaya namo namah swaha. Artinya: Om Hyang Widhi Wasa, semoga hamba mendapat perkenanMu, untuk melalui tahapan hidup ini dalam jalanMu dengan pertolongan hanya dariMu.Om dimulyakanlah Engkau ya Tuhan.
  3. Selanjutnya naik ke tempat upacara menghadap ke hulu. Pelaksana upacara mengambil cincin yang dipakai ngerajah pada bagian-bagian seperti: dahi, taring, gigi atas, gigi bawah, lidah, dada, pusar, paha barulah diperciki tirtha pesangihan.
  4. Upacara dilanjutkan oieh sangging dengan menyucikan peralatannya. Mantram yang digunakan: Om Sang perigi manik, aja sira geger lunga antinen kakang nira sang kanaka teka pageh, tan katekaning lara wigena, teka awet, awet, awet. Artinya: Om Hyang Widhi Wasa, semoga alat-alat ini dapat memberikan kekuatan.
  5. Orang yang diupacari diberi pengganjal dari tebu dan giginya mulai diasah, bila sudah dianggap cukup diberi pengurip-urip.
  6. Setelah diberi pengurip-urip dilanjutkan dengan natab banten peras kernudian sembahyang ke hadapan Surya Chandra dan Mejaya-jaya.

Mantram pengurip-urip.             

Om urip-urip bayu, sabda idep teka urip, ang, ah.

Artinya: Om Sang Hyang Widhi Wasa, dalam wujud Brahma Maha Sakti, semoga tenaga, ucapan dan pikiran hamba memberikan kekuatan terhadap alat-alat ini.

Mantram Mejaya-jaya.

Om Dirgayur Astu ta astu, Om subham astu tat astu,

Om Sukham bhawantu, Om Pumam bhawantu,

Om sreyam bhawantu, Om Sapta wrddhin astu tat astu astu swaha.

Artinya: Om Hyang Widhi Wasa semoga kami dianugrahi kesejahteraan, kebahagiaan, dan panjang umur.

**Sumber babad bali

Yadnya Dalam Hindu[Panca Yadnya]


Yadnya berasal dari bahasa sanskerta “YAJNA” merupakan dasar kata “YAJ” yang mempunyai arti: memuja, mempersembahkan atau korban suci. Dalam praktek kehidupan sehari-hari agama Hindu khususnya di Bali Yadnya dibagi menjadi 5(lima) yang disebut dengan Panca Yadnya. Yang dimaksud dengan Panca Yadnya adalah : Panca artinya lima dan Yadnya artinya upacara persembahan suci yang tulus ikhlas kehadapan Tuhan yang dalam istilah Bali masyarakat Hindu menyebutkan Ida Sanghyang Widi Wasa.

Image by: Koleksi Pribadi

Adapun pelaksanaan Panca Yadnya terdiri dari :

  1. Dewa Yadnya, yaitu upacara persembahan suci yang tulus ikhlas kehadapan para dewa-dewa, sebagai manifestasi Tuhan Yang Maha Esa.
  2. Rsi Yadnya, yaitu upacara persembahan suci yang tulus ikhlas kehadapan para orang suci umat Hindu.
  3. Pitra Yadnya, yaitu upacara persembahan suci yang tulus ikhlas bagi manusia yang telah meninggal.
  4. Manusa Yadnya, yaitu upacara persembahan suci yang tulus ikhlas kepada manusia.
  5. Butha Yadnya, yaitu upacara persembahan suci yang tulus ikhlas kehadapan unsur-unsur alam yang bertujuan untuk menetralisir kekuatan alam sehingga menjadi harmonis.

Lebih jelasnya sebagai berikut:

  1. Dewa Yadnya, Dewa asal kata dalam bahasa Sanskrit “Div” yang artinya sinar suci, jadi pengertian Dewa adalah sinar suci yang merupakan manifestasi dari Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan. Yadnya artinya upacara persembahan suci yang tulus ikhlas. Jadi, Dewa Yadnya adalah suatu korban suci/ persembahan suci kepada Sang Hyang Widhi Wasa dan seluruh manifestasi- Nya yang terdiri dari Dewa Brahma selaku Maha Pencipta, Dewa Wisnu selaku Maha Pemelihara dan Dewa Siwa selaku Maha Pralina (pengembali kepada asalnya) dengan mengadakan serta melaksanakan persembahyangan Tri Sandhya (bersembahyang tiga kali dalam sehari) serta Muspa (kebaktian dan pemujaan di tempat- tempat suci). Korban suci tersebut dilaksanakan pada hari- hari suci, hari peringatan (Rerahinan), hari ulang tahun (Pawedalan) ataupun hari- hari raya lainnya seperti: Hari Raya Galungan dan Kuningan, Hari Raya Saraswati, Hari Raya Nyepi dan lain- lain.
  2. Rsi Yadnya, Adalah suatu Upacara Yadnya berupa karya suci keagamaan yang ditujukan kepada para Maha Resi, orang- orang suci, Resi, Pinandita, Guru yang di dalam pelaksanaannya dapat diwujudkan dalam bentuk:
    1. Penobatan calon sulinggih menjadi sulinggih yang disebut Upacara Diksa.
    2. Membangun tempat- tempat pemujaan untuk Sulinggih.
    3. Menghaturkan/ memberikan punia pada saat- saat tertentu kepada Sulinggih.
    4. Mentaati, menghayati, dan mengamalkan ajaran- ajaran para Sulinggih.
    5. Membantu pendidikan agama di dalam menggiatkan pendidikan budi pekerti luhur, membina, dan mengembangkan ajaran agama.
  3. Pitra Yadnya, ialah suatu korban suci/ persembahan suci yang ditujukan kepada Roh- roh suci dan Leluhur (pitra) dengan menghormati dan mengenang jasanya dengan menyelenggarakan upacara Jenasah (Sawa Wedana) sejak tahap permulaan sampai tahap terakhir yang disebut Atma Wedana.

    Adapun tujuan dari pelaksanaan Pitra Yadnya ini adalah demi pengabdian dan bakti yang tulus ikhlas, mengangkat serta menyempurnakan kedudukan arwah leluhur di alam surga. Memperhatikan kepentingan orang tua dengan jalan mewujudkan rasa bakti, memberikan sesuatu yang baik dan layak, menghormati serta merawat hidup di harituanya juga termasuk pelaksanaan Yadnya. Hal tersebut dilaksanakan atas kesadaran bahwa sebagai keturunannya ia telah berhutang kepada orangtuanya (leluhur) seperti:

    1. Kita berhutang badan yang disebut dengan istilah Sarirakrit.
    2. Kita berhutang budi yang disebut dengan istilah Anadatha.
    3. Kita berhutang jiwa yang disebut dengan istilah Pranadatha.
  4. Manusa Yadnya, Adalah suatu korban suci/ pengorbanan suci demi kesempurnaan hidup manusia.
    Di dalam pelaksanaannya dapat berupa Upacara Yadnya ataupun selamatan, di antaranya ialah:

    1. Upacara selamatan (Jatasamskara/ Nyambutin) guna menyambut bayi yang baru lahir. Upacara ini merupakan cetusan rasa bahagia dan terima kasih dari kedua orang tua atas kelahiran anaknya, walaupun disadari bahwa hal tersebut akan menambah beban baginya. Kebahagiaannya terutama disebabkan beberapa hal antara lain :• Adanya keturunan yang diharapkan akan dapat melanjutkan tugas-tugasnya terhadap leluhur dan masyarakat.
      • Hutang kepada orang tua terutama berupa kelahiran telah dapat dibayar.
    2. Upacara selamatan (nelubulanin) untuk bayi (anak) yang baru berumur 3 bulan (105 hari). Adalah upacara suci yang tujuannya untuk penyucian Jiwatman dan penyucian badan si Bayi seperti yang dialami pada waktu acara Tutug Kambuhan. Pada upacara ini nama si bayi disyahkan disertai dengan pemberian perhiasan terutama gelang, kalung/badong dan giwang/subeng, melobangi telinga.
    3. Upacara selamatan setelah anak berumur 6 bulan (oton/ weton/ 210 hari) atau Upacara Mepetik merupakan upacara suci yang bertujuan untuk penyucian terhadap si bayi dengan acara pengguntingan / pemotongan rambut untuk pertama kalinya. Apabila keadaan ubun-ubun si bayi belum baik, maka rambut di bagian ubun-ubun tersebut dibiarkan menjadi jambot (jambul) dan akan digunting pada waktu upacara peringatan hari lahir yang pertama atau sesuai dengan keadaan.
    4. Upacara perkawinan (Wiwaha) yang disebut dengan istilah Abyakala/ Citra Wiwaha/ Widhi-Widhana. Bagi Umat Hindu upacara perkawinan mempunyai tiga arti penting yaitu :- Sebagai upacara suci yang tujuannya untuk penyucian diri kedua calon mempelai agar mendapatkan tuntunan dalam membina rumah tangga dan nantinya agar bisa mendapatkan keturunan yang baik dapat menolong meringankan derita orang tua/leluhur.
      – Sebagai persaksian secara lahir bathin dari seorang pria dan seorang wanita bahwa keduanya mengikatkan diri menjadi suami-istri dan segala perbuatannya menjadi tanggung jawab bersama.
      – Penentuan status kedua mempelai, walaupun pada dasarnya Umat Hindu menganut sistim patriahat (garis Bapak) tetapi dibolehkan pula untuk mengikuti sistim patrilinier (garis Ibu). Di Bali apabila kawin mengikuti sistem patrilinier (garis Ibu) disebut kawin nyeburin atau nyentana yaitu mengikuti wanita karena wanita nantinya sebagai Kepala Keluarga.Upacara Pernikahan ini dapat dilakukan di halaman Merajan/Sanggah Kemulan ( Tempat Suci Keluarga) dengan tata upacara yaitu kedua mempelai mengelilingi Sanggah Kemulan ( Tempat Suci Keluarga ) sampai tiga kali dan dalam perjalanan mempelai perempuan membawa sok pedagangan ( keranjang tempat dagangan) yang laki memikul tegen-tegenan(barang-barang yang dipikul) dan setiap kali melewati “Kala Sepetan”(upakara sesajen yang ditaruh di tanah) kedua mempelai menyentuhkan kakinya pada serabut kelapa belah tiga.Setelah tiga kali berkeliling, lalu berhenti kemudian mempelai laki berbelanja sedangkan mempelai perempuan menjual segala isinya yang ada pada sok pedagangan (keranjang tempat dagangan), dilanjutkan dengan merobek tikeh dadakan (tikar yang ditaruh di atas tanah), menanam pohon kunir, pohon keladi (pohon talas) serta pohon endong dibelakang sanggar pesaksi/sanggar Kemulan (Tempat Suci Keluarga) dan diakhiri dengan melewati “Pepegatan” ( Sarana Pemutusan ) yang biasanya digunakan benang didorong dengan kaki kedua mempelai sampai benang tersebut putus.

    Di dalam menyelenggarakan segala usaha serta kegiatan- kegiatan spiritual tersebut masih ada lagi kegiatan dalam bentuk yang lebih nyata demi kemajuan dan kebahagiaan hidup si anak di dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan lain- lain guna persiapan menempuh kehidupan bermasyarakat. Juga usaha di dalam memberikan pertolongan dan menghormati sesama manusia mulai dari tata cara menerima tamu (athiti krama), memberikan pertolongan kepada sesama yang sedang menderita (Maitri) yang diselenggarakan dengan tulus ikhlas adalah termasuk Manusa Yadnya.

  5. Bhuta Yadnya, Adalah suatu korban suci/ pengorbanan suci kepada sarwa bhuta yaitu makhluk- makhluk rendahan, baik yang terlihat (sekala) ataupun yang tak terlihat (niskala), hewan (binatang), tumbuh- tumbuhan, dan berbagai jenis makhluk lain yang merupakan ciptaan Sang Hyang Widhi Wasa.
    Adapun pelaksanaan upacara Bhuta Yadnya ini dapat berupa: Upacara Yadnya (korban suci) yang ditujukan kepada makhluk yang kelihatan/ alam semesta, yang disebut dengan istilah Mecaru atau Tawur Agung, dengan tujuan untuk menjaga keseimbangan, kelestarian antara jagat raya ini dengan diri kita yaitu keseimbangan antara makrokosmos dengan mikrokosmos.

**Dari berbagai sumber

Artikel lain: Yadnya Sesa, Yadnya yang dilakukan sehari-hari.

%d bloggers like this: