Paduarsana

Berbagi Tentang Semua Hal

Membentuk Karakter Dengan Catur Paramitha


Rasa kemanusiaan dewasa ini telah mengalami kemerosotan yang mengkhawatirkan, bagaimana tidak setiap hari selalu ada saja kasus yang membuat kita geleng-geleng kepala, kasus pemerkosaan, perampokan, perkelahian antar kampung, pembunuhan, terorisme, korupsi dll. Kalau kita mau jujur ini semua terjadi akibat dari merosotnya moral karena dipengaruhi oleh banyak faktor, namun apapun alasannya tindak kejahatan yang merugikan orang lain tetaplah tidak dibenarkan dan seharusnya menjadi perhatian kita bagaimana membentuk karakter yang bertanggung jawab, welas asih dan memiliki rasa kemanusiaan tanpa batasan ras, agama maupun suku.

Berbicara mengenai pembentukan karakter, Hindu mempunyai landasan yang mengajarkan umatnya menjadi manusia bermoral dan berkarakter, salah satunya adalah Catur Paramitha. Catur Paramitha berasal dari bahasa sanskerta terdiri dari kata Catur yang berarti 4(Empat) dan Paramitha berarti Sifat atau Sikap Utama, Jika diartikan Catur Paramitha adalah 4 (empat)sifat atau sikap utama yang menjadi landasan dalam beretika dan bersusila dalam Agama Hindu.

Catur Paramitha terdiri dari:

  1. Maitri, Ramah, Sopan santun bisa menempatkan diri di dalam masyarakat, mudah bergaul dan senang mencari teman. Banyak memiliki teman, supel berpikiran terbuka dan mampu menyenangkan orang lain dengan prilakunya. Untuk dapat melakukan maitri seseorang hendaknya tidak berbuat bencana yang bersifat maut, jangan membenci. Misalnya: Melakukan perbuatan yang menyebabkan orang lain celaka. menabur benih-benih kebencian.
  2. Karuna, Belas kasihan artinya senantiasa memupuk rasa kasih sayang kepada setiap makhluk. Tidak melakukan perbuatan yang dapat membuat penderitaan, tersiksa, kesengsaraan atau jangan berbuat kejam/bengis.
  3. Mudita, Tersenyum artinya senantiasa memperlihatkan wajah yang riang gembira, bersahabat. Penuh rasa simpati kepada siapa saja. Jauhkan sikap iri, dengki terhadap orang lain dan tidak melakukan perbuatan yang membuat orang lain susah.
  4. Upeksa, Mengalah demi sebuah kebaikan, membalas perlakuan tidak baik dengan kebaikan. maksudnya mungkin tidak mempunyai rasa dendam terhadap orang lain yang telah menyakitinya. Tidak memandang rendah orang lain, tidak menghina orang lain, senantiasa mampu mengendalikan hawa napsu jahat.

Belajar dari Catur Paramitha maka dapat kita mengerti bahwa tindakan jahat apapun bentuknya merupakan cerminan bahwa kualitas moral kian memprihatinkan. Pelaku kejahatan dengan mudah melakukan perbuatan yang membuat orang lain menjadi korbannya.

Catur Paramitha merupakan realisasi dari Tat Twam Asi dimana Engkau adalah Aku, Aku adalah Engkau. Jelasnya jika dicubit itu terasa sakit maka jangan mencubit orang lain. Menyakiti orang lain berarti menyakiti diri sendiri.

Implementasi Tri Kaya Parisudha


Kita tentu tidak asing dengan kalimat Tri Kaya Parisudha, dilihat dari artinya kata Tri berarti Tiga, Kaya berarti Karya, Perbuatan atau Prilaku, Sedangkan Parisudha berarti usaha pensucian. Jadi Tri Kaya Parisudha adalah 3 (tiga) gerak,karya, perbuatan atau prilaku manusia yang harus disucikan. Tri Kaya Parisudha terdiri dari Manacika(Pikiran), Wacika(Perkataan) dan Kayika(Perbuatan).

Mensucikan Pikiran(Manacika).

Pikiran merupakan dasar dari prilaku manusia baik perkataan(wacika) maupun perbuatan(kayika), dari pikiran yang bersih, suci akan menghasilkan perkataan dan perbuatan yang baik dan mampu menciptakan suasana yang kondusif disekitar kita. Pikiran buruk akan menghasilkan keadaan yang tidak baik bagi diri sendiri maupun orang-orang disekitar kita.

Pikiran baik tentu saja tidak berpikir hal-hal buruk terhadap suatu objek misal berpikir buruk ketika melihat wanita berpakaian seksi, tidak berpikir buruk terhadap orang kaya. Jika kita berpikir negatif(buruk) terhadap dua contoh objek diatas maka yang terjadi akan timbul perkataan yang melecehkan, menghina atau menuduh yang tidak-tidak, bahkan bukan tidak mungkin akan terjadi tindakan/perbuatan(kayika) yang melanggar hukum(pelecehan seksual atau perampokan).

Bagaimana mensucikan pikiran bathin kita?

Tidak ada satu orang pun yang mampu mensucikan pikiran kita jika bukan diri kita sendiri. Hal ini dinyatakan dengan tegas didalam Hindu, Bahwa; Tidak ada makhluk dari alam mana pun yang dapat mensucikan bathin kita, apabila kita sendiri tidak berusaha kerah itu terlebih benda-benda materi tentu tidak tak mungkin mensucikan siapa-siapa.

Di dalam Saracamuscaya disebutkan ada 3(tiga) hal yang harus dilakukan untuk dapat membersihkan bathin kita, adalah:

  1. Tidak menginginkan sesuatu yang tidak layak atau halal. Menginginkan sesuatu milik orang lain juga merupakan hal yang dapat menimbulkan pikiran negatif misal: berpikir curang.
  2. Tidak berpikiran negatif terhadap makhluk lain.  Misal: tidak negatif thinking melihat wanita seksi, melihat orang lain sukses dll.
  3. Tidak mengingkari Hukum Karma Phala.  Memahami bahwa segala perbuatan akan menghasilkan akibat, perbuatan baik akan menghasilkan kebaikan, Perbuatan Buruk akan menghasilkan hal yang buruk.

Mensucikan Perkataan(Wacika)

Terdapat empat macam perbuatan melalui perkataan yang patut di kendalikan, yaitu:

1. Tidak suka mencaci maki.
2. Tidak berkata-kata kasar pada siapapun.
3. Tidak menjelek-jelekan, apalagi memfitnah makhluk lain.
4. Tidak ingkar janji atau berkata bohong.

Demikianlah disebutkan dalam Sarasamuscaya; kiranya jelas bagi kita bahwa betapa sebetulnya semua tuntunan praktis bagi pensucian batin telah tersedia. Kita harus dapat menerapkannya sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Mensucikan Perbuatan (Kayika)

Terdapat tiga hal utama yang harus dikendalikan, yaitu:

1. Tidak menyakiti, menyiksa, apalagi membunuh-bunuh makhluk lain.
2. Tidak berbuat curang, sehingga berakibat merugikan siapa saja.
3. Tidak berjinah atau yang serupa itu.

Implementasi Tri Kaya Parisudha dalam kehidupan sehari-hari sangat nyata hasilnya untuk mencapai keadaan harmonis dalam diri sendiri maupun terhadap orang lain.

**Diolah dari berbagai sumber.

Apa Susahnya Ngejot/Mesaiban.


Setiap hari selesai memasak apapun itu, sudah sepatutnya kita ngejot/mesaiban atau melakukan Yadnya Sesa. Makanan yang kita dapatkan dari membelipun tidak ada salahkan untuk melakukan yadnya terkecil dalam Hindu tersebut. Apa itu Ngejot/mesaiban atau Yadnya Sesa? dan bagaimana melakukannya? Dan apa pula dasarnya dilakukan Yadnya Sesa ini?

Pengertian:
Yadnya Sesa merupakan salah satu yadnya yang dilakukan setiap hari atau disebut juga dengan Nitya Karma. Yadnya Sesa dilakukan setelah selesai memasak nasi atau sebelum menikmati makanan. Maksud dan Tujuannya tentu merupakan wujud syukur atas apa yang di berikan Hyang Widhi kepada kita. Sebagaimana diketahui bahwa yadnya sebagai sarana untuk menghubungkan diri dengan Sang Hyang Widhi Wasa untuk memperoleh kesucian jiwa. Tidak saja kita menghubungkan diri dengan Tuhan, juga dengan manifestasi-Nya dan makhluk ciptaan-Nya termasuk alam beserta dengan isinya. Dengan demikian yadnya merupakan persembahan dan pengabdian yang tulus iklas tanpa adanya harapan untuk medapatkan imbalan-imbalan.

Cara melakukan Yadnya Sesa:

  1. Ambil Daun/kertas minyak lalu potong membentuk persegi empat dengan ukuran 3 x 3 cm(disesuaikan), kemudian letakkan berjejer pada nampan.
  2. Ambil nasi kemudian letakkan diatas daun-daun/kertas tersebut, tambahkan lauknya sedikit.
  3. Nyalakan Dupa.
  4. Kemudian letakkan di 5(lima) tempat sebagai simbol Panca Maha Bhuta, antara lain :
  • Pertiwi(tanah),biasanya ditempatkan pada pintu keluar rumah atau pintu halaman.
  • Apah(Air), ditempatkan pada sumur atau tempat air.
  • Teja(Api), ditempatkan di dapur, pada tempat memasak(tungku) atau kompor.
  • Bayu, ditempatkan pada beras,bisa juga ditempat nasi.
  • Akasa, ditempatkan pada tempat sembahyang(pelangkiran,pelinggih dll).

Doa-doa dalam Yadnnya Sesa:

Yadnya Sesa yang ditujukan kepada Hyang Widhi melalui Istadewata(ditempat air,dapur,beras/tempat nasi dan pelinggih/pelangkiran doanya adalah:

OM ATMA TAT TWATMA SUDHAMAM SWAHA, SWASTI SWASTI SARWA DEWA SUKHA PRADHANA YA NAMAH SWAHA. Artinya: Om Hyang Widhi, sebagai paramatma daripada atma semoga berbahagia semua ciptaan-Mu yang berwujud Dewa.

Yadnya Sesa yang ditujukan kepada simbol-simbol Hyang Widhi yang bersifat bhuta, Yaitu Yadnya Sesa yang ditempatkan pada pertiwi/tanah doanya:

OM ATMA TAT TWATMA SUDHAMAM SWAHA, SWASTI SWASTI SARWA BHUTA,KALA,DURGHA SUKHA PRADANA YA NAMAH SWAHA. Artinya: Om Sang Hyang Widhi, Engkaulah paramatma daripada atma, semoga berbahagia semua ciptaan-Mu yang berwujud bhuta,kala dan durgha.

Landasan Dasar Yadnya Sesa:
Yadnya sesa atau mebanten nasi seusai masak juga merupakan penerapan dari ajaran kesusilaan Hindu, yang menuntut umat untuk selalu bersikap anersangsya yaitu tidak mementingkan diri sendiri dan ambeg para mertha yaitu mendahulukan kepentingan di luar diri. Pelaksanaan yadnya sesa juga bermakna bahwa manusia setelah selesai memasak wajib memberikan persembahan berupa makanan, karena makanan merupakan sumber kehidupan di dunia ini. Di dalam  Bhagawad Gita III, 13 yang berbunyi :

Yadjna sistasinah santo, Mucuante sarwa kilbisaih, Bunjate te twagham papa, Ye pacanty atma karanat.

Yang artinya: ia yang memakan sisa yadnya akan terlepas dari segala dosa, tetapi ia yang memasak makanan hanya bagi dirinya sendiri, sesungguhnya makan dosanya sendiri :

Penggambaran dari sloka tadi berarti bahwa sebelum menikmati sesuatu persembahkanlah terlebih dahulu sebagai cetusan Angayubagia atas Waranugrahanya. Mempersembahkan makanan yang dimiliki juga termasuk persembahan yang mulia dan dapat menentramkan hidup ini.

Manawa Dharmasastra.III.69

Tesam kramena sarvasam
Niskrtyastham maha resibhih
Panca kripta maha yadnyah
Pratyahan grhamedhinam. 

Artinya: Untuk menebus dosa yang ditimbulkan pemakaian lima alat penyemblihan itu, para Maha Resi telah menggariskan untuk para kepala keluarga agar setiap harinya melakukan Panca Yadnya.

Di dalam Manawa Dharmasastra III.68 Juga dinyatakan bahwa penggunaan lima tempat penyemblihan oleh kepala keluarga seperti tempat memasak, batu pengasah, sapu lesung dengan alunya dan tempat air. Pemakaian semuanya itu menimbulkan dosa. Hal inilah yang menyebabkan sloka Manawa Dharmasastra III.69 yang dikutip di atas menganjurkan agar setiap kepala keluarga melakukan Panca Yadnya setiap harinya. Bentuknya itu dibuat dari makanan yang mampu dimasak hari itu seperti nasi dengan lauk pauknya yang ada. Banten saiban itu bukanlah banten segehan dengan nasi dan bawang jahe sebagai perlengkapannya, tapi nasi dengan lauk pauk yang dimasak hari itu sebagai wujud Panca Yadnya terkecil.

Manawa Dharma Sastra III.117 menyatakan bahwa keluarga akan makan setelah mempersembahkan makanan itu pada para dewa, para leluhur (Dewa Pitara), pada para resi dan pada para dewa penjaga rumah. Dalam sloka selanjutnya dinyatakan keluarga yang makan tanpa persembahan dinyatakan ia makan dosa. Orang bijaksana memakan sisa dari yang dipersembahkan itu. Karena itu disebut Yadnya Sesa. Sejalan dengan konsep Yadnya Sesa yang dinyatakan dalam Manawa Dharmasastra III.118

Dalam Manawa Dharmasastra III.104 dinyatakan bahwa mereka yang mendapatkan makanan dengan mengambil hak orang lain secara tidak benar, kelak ia akan menjelma menjadi binatang ternak peliharan orang yang diambil haknya itu. Memperhatikan berbagai ketentuan pustaka suci Hindu tersebut dapat disimpulkan bahwa upacara mesaiban itu adalah wujud Panca Yadnya terkecil yang seyogianya dilakukan setiap hari oleh setiap keluarga selesai ia masak. Mereka boleh makan setelah upacara mesaiban itu selesai dilakukan. Ritual keagamaan Hindu di Bali yang disebut mesaiban ini sepertinya amat sederhana dilihat dari tata cara penyelenggaraannya. Namun di balik kesederhanaan tersebut terdapat nilai-nilai falsafah kehidupan yang amat dalam yang seyogianya kita maknai lebih lanjut dalam meningkatkan kwalitas hidup kita di bumi ini.

Artikel Terkait:  Yadna Sesa