Paduarsana

Berbagi Tentang Semua Hal

Upacara Melasti Umat Hindu Banjarmasin


Informasi Melasti dari Tanah Bumbu Sungai Loban – Upacara Melasti di Kabupaten Tanah Bumbu tahun ini dilaksanakan oleh Umat Hindu dari Tanah Bumbu, Kotabaru, Pelaihari, Banjarmasin dan Banjarbaru.

Image By: Sukadana Ajiex

Sebanyak 21 Rombongan Desa Adat se Kalimantan Selatan beserta 4 Balai Adat Dayak menghadiri dan mengikuti Prosesi Melasti yang dilaksanakan di Pantai Madani Tanjung Batu Kecamatan Sungai Loban Kabupaten Tanah Bumbu, Rabu (14/3/2018).

Melasti skope Provinsi ini dilaksanakan dengan rangkaian kegiatan ceremonial dan prosesi ritual. Ceremonial diisi dengan penampilan pentas kesenian beleganjur dan tarian oleh karang taruna dari desa adat dibarengi iringan parade kostum budaya nusantara (didukung oleh pihak ketiga) untuk memperkenalkan Pantai Madani sebagai Destinasi Wisata Seni Budaya dengan kekayaan alam gugusan terumbu karang di dalamnya.
Prosesi Ritual diisi dengan melaksanakan persembahyangan bersama oleh ribuan umat hindu yang tumpah ruah memadati Pantai Madani.

Untuk dua tahun terakhir yakni tahun Anggaran 2017 dan 2018 acara Melasti telah didukung penuh oleh Pemkab Tanah Bumbu menjadi Program Daerah dengan nama kegiatan WISATA RELIGIUS BUDAYA MELASTI melalui Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata.

Acara dihadiri oleh unsur Muspida yakni Bupati Tanah Bumbu beserta Rombongan, Unsur DPRD Kabupaten, DPRD Provinsi, Unsur Muspika yakni Camat Sungai Loban, Kapolsek dan Danramil, Ketua Parisada Provinsi, Pembimmas Hindu Kemenag Kanwil Provinsi, para undangan baik dari Perusahaan, para Kepala Desa dan lain-lain.

Tahun 2018 ini Kepanitiaan Melasti dipercayakan kepada Desa Adat dan Desa Dinas Kerta Buwana Kecamatan Sungai Loban. Sebelumnya tahun 2017 kepanitiaan dilaksanakan oleh Desa Adat dan Desa Dinas Wanasari.
Dua Desa ini merupakan basis Umat Hindu di Kabupaten Tanah Bumbu, disamping itu tempat Melasti yang telah dihibahkan oleh Bapak Mardani H.Maming kepada Umat melalui Parisada Kabupaten berlokasi di Pantai Madani yang terletak di Desa Sungai Loban Kecamatan Sungai Loban ini lebih dekat ditempuh oleh dua desa ini.

Terima kasih : Sukadana Ajiex

Artikel terkait:

  1. Hari Raya Nyepi
  2. Upacara Melasti
  3. Banten Hari Raya Nyepi
  4. Sanggah Cucuk dan Tawur Agung Kesanga

Perayaan Nyepi Nasional 2018


Hari Raya Nyepi tahun 2018 akan jatuh esok pada hari Sabtu 17 Maret 2018. Seluruh Umat Hindu di beberbagai wilayah di Indonesia telah melakukan Upacara Melasti dan Pada hari ini Jumat 16 Maret 2018 akan dilakukan Upacara Tawur Agung Kesanga dan pengerupukan dimasing-masing daerah. Baru-baru ini Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) dan Panitia Perayaan Hari Raya Nyepi Nasional (PPHRNN) Tahun 2018 bersilaturahim ke Kemenag. Dipimpin Ketua Umum PHDI Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya, mereka diterima Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin di Ruang Kerja Menag, Gedung Kemenag Lapangan Banteng, Jakarta.

Tampak hadir, Sekjen PHDI I Ketut Parwata, Ketua Panitia Nyepi Nasional Laksda TNI I Nyoman Gede Ariawan beserta jajarannya. Kepada Menag, mereka melaporkan persiapan Kegiatan Nyepi Nasional tahun 2018 yang mengusung tema: Melalui Catur Brata Penyepian, Kita Tingkatkan Soliditas sebagai Perekat Keberagaman dalam Menjaga Keutuhan NKRI.

Image By: SOLO POS

Menurut Wisnu, ada empat kegiatan utama dalam rangkaian kegiatan Perayaan Hari Raya Nyepi Nasional 2018. Adapun puncak acaranya dilaksanakan pada Tahun Baru Saka 1940 atau jatuh pada 17 Maret 2018.

“Kegiatan pertama adalah seminar inspirasional yang dihadiri para tokoh lintas agama, seperti Imam Besar Masjid Istiqlal KH Nasaruddin Umar, Pak Yudi Latief, dan Rektor Unhan (Universitas Pertahanan). Ini telah kami laksanakan pada 24 Februari 2018 lalu di Auditorium HM Rasjidi Kemenag MH Thamrin, Jakarta. Terima kasih atas fasilitas dan bantuan yang Kemenag berikan kepada kami,” terang Wisnu, Senin (12/03)

Kegiatan kedua adalah Ritual Upacara Tawur Agung Kesanga yang dipusatkan di Candi Prambanan pada 16 Maret 2018 yang akan datang. “Pada Ritual ini, kami mengedepankan kearifan lokal,” imbuh Wisnu.

Ketiga, tambah Wisnu, PPHRNN akan melakukan bakti sosial dan yoga massal yang akan diikuti oleh perserta dari berbagai umat. Acara ini dilanjutkan dengan penyuluhan tentang bahaya narkoba, donor darah dan penanaman pohon di daerah Gunung Salak. Diharapkan, kegiatan ini diikuti 2.000 peserta.

“Sedang kegiatan ke-empat adalah puncaknya, yakni Dharma Santi yang akan diselenggarakan di Mabes TNI pada 6, 7, dan 8 April 2018 dengan mengundang perwakilan dari beberapa negara sahabat yang ada di Indonesia, tokoh-tokoh lintas agama dan juga umat Hindu se-Jabodetabek,” lanjut Wisnu.

“Kami berharap, apa yang kami lakukan ini, mampu menghasilkan output salah satunya yakni mampu merekatkan keberagaman yang ada di Negeri kita ini, agar keutuhan NKRI mampu kita jaga, rawat dan teruskan,” sambungnya.

Menag Lukman bersyukur, Perayaan Hari Raya Nyepi Nasional baik yang telah terlaksana mapun belum, berjalan dengan baik.

“Saya bersyukur, acara yang telah terlaksana dan yang belum berjalan dengan baik, semoga apa yang kita lakukan ini, mendapat balasan yang baik pula. Dan semoga cita-cita kita bersama, agar NKRI ini makin kokoh dan kuat, bisa berjalan sebagaimana mestinya,” terang Menag.

Kemenag, menurut Menag Lukman siap membantu agar Perayaan Hari Raya Nyepi Nasional berjalan lancar dan sukses.

Selain tentang Perayaan Hari Raya Nyepi Nasional 2018, didiskusikan pula bebepa hal seperti Universitas Hindu (UNHI), guru-guru agama Hindu di sekolah umum, percetakan buku Hindu, ekonomi kerakyatan dan lain sebagainya.

Turut mendampingi Menag, Dirjen Bimas Hindu I Ketut Widnya dan Sesmen Khoirul Huda.

**Terima kasih: Kementrian Agama RI

Artikel Lain:

  1. Hari Raya Nyepi
  2. Upacara Melasti Umat Hindu Nusantara
  3. Tawur Agung Kesanga
  4. Banten Hari Raya Nyepi
  5. Menjalankan Nyepi dengan Khidmat

Perjalanan Roh Salah Pati


Beberapa kasus kematian akibat kecelakaan, tindakan kekerasan dll, sering membuat menyesalkan kejadian itu sekalipun kita bukanlah keluarga korban. Apa yang kita rasakan tentu hal yang wajar dan manusiawi mengingat kematian tersebut “tidak wajar”. Dalam Nibanda disebutkan hendaknya kematian manusia seperti kematian Panca Pandawa, yakni diawali oleh kematian Nakula-Sadewa (kaki), Bima (tenaga), Arjuna (suhu badan dan sinar mata), dan terakhir Dharmawangsa (Roh meninggalkan tubuh). Namun didalam kematian yang disengaja atau tak disengaja, urut-urutan kematian itu tidak terjadi, artinya langsung mati, misalnya mati karena kecelakaan,Itulah yang dinamakan Mati Salah Pati Sedangkan Ulah pati artinya mati karena bunuh diri.

Image by: Dream, Ilustrasi

Istilah “atma kesasar” sudah lumrah bagi masyarakat Bali. Di setiap wilayah desa di Bali pasti saja ada cerita berkaitan dengan atma kesasar. Hal ini sangatlah wajar, mengingat Hindu Bali dengan filosofi atma tatwa sangatlah rinci dan mendalam mengurai mengenai atma. Namun dalam konteks atma kesasar, sejatinya yang kesasar bukanlah atma itu sendiri, namun “roh”. Sebab “atma” itu sendiri adalah percikan kecil dari “paramatman” yang memiliki sifat sama dengan paramatman. Artinya atma itu sendiri adalah murni dan bebas dari pengaruh suka dan duka. Sedangkan roh adalah atman yang diselubungi cita, budi, manah, ahamkara yakni sudah diliputi keinginan, kemauan, keakuan (ego), kecerdasan, akal, serta pikiran-pikiran baik maupun buruk.

Hal inilah yang menyebabkan atma yang tadinya murni menjadi terkungkung dalam emosi, keinginan, cita-cita serta perasaan-perasaan. Dalam kondisi begini atma sudah tidak murni lagi, bahkan sudah terkungkung dalam awidya atau kegelapan. Inilah yang kemudian mempengaruhi sifat manusia sebagai badan yang dihidupkan oleh atma yang sudah terkungkung yang disebut dengan roh. Dalam liputan awidya (kegelapan) tersebut, roh memiliki keinginan tertentu untuk memuaskan cita atau hasrat hatinya yang terwujud dalam berbagai pikiran, perkataan dan perbuatan. Keinginan yang sangat tinggi tersebut sampai-sampai terbawa mati, sehingga roh manusia yang meninggal masih membawa perasaan-perasaan, masih membawa keinginan, cita-cita, bahkan dendam sesuai dengan pengalaman hidupnya. Hal inilah yang menyebabkan roh manusia masih bergerak aktif ketika tubuhnya sudah mati.

Sehingga banyak cerita mengenai roh gentayangan dimuka bumi ini untuk memenuhi hasrat keinginannya yang masih tersimpan dalam memori badan astral (badan halus) nya. Bahkan banyak roh yang masih menyimpan dendam untuk membalas pada setiap kesempatan. Sehingga seringkali kita mendengar cerita tentang seseorang yang dihantui oleh bayangan-bayangan dari seseorang yang sudah meninggal. Selain itu ada pula roh-roh bergentayangan untuk menjalankan hasrat cintanya kepada seseorang yang semasih hidup sangat dicintai, atau ketika masih hidup cintanya tak kesampaian dan terbawa sampai orang itu meninggal.

Lain lagi cerita bahwa roh yang menangis tersedu-sedu di suatu tempat yang kerapkali dilihat oleh orang yang memiliki kemampuan untuk itu. Bisa jadi roh tersebut terpelanting secara tiba-tiba tanpa disadari oleh roh itu sehingga ia mendapatkan dirinya berada pada suatu tempat yang tak pernah dikenalnya, sehingga ia bingung, kesepian lalu menangis sendirian. Nah untuk roh seperti ini, maka manusia Bali dengan keyakinan Hindunya menjemput roh tersebut melalui jalan “Ngulapin”.

Ada lagi roh manusia yang selalu menjaga badannya yang telah dikubur, karena sang roh sangat sayang dan menyukai badan kasarnya itu bagaikan ketika masih hidup. Roh-roh seperti ini kerapkali tampak di kuburan sebagai hantu kuburan yang selalu berada dekat dengan badannya yang sudah dikubur. Seolah-olah roh tersebut terbelenggu oleh kecintaaanya kepada badan kasarnya (stula sarira) tersebut. Untuk hal inilah manusia Bali menyiasati dengan melakukan “Ngaben” dengan maksud untuk mempercepat proses pengembalian badan kasar menuju ke panca maha bhuta agar roh tak terbelenggu dengan badan kasarnya, dan sang roh itu diberikan penyucian.

Selanjutnya roh yang masih terbungkus dalam badan astral (suksma sarira) tersebut kemudian dilakukan upacara “memukur”, sehingga sang roh dapat menuju ke alam sunia untuk menjalani proses karma selanjutnya sesuai dengan suba asuba karmanya. Terkait dengan “atma kesasar” yakni ibaratkan sebagai roh yang salah tempat, roh yang terobsesi dengan keinginanya sehingga bergentayangan ke sana ke mari untuk memenuhi hasratnya seperti ketika masih hidup di dunia. Sebab roh yang demikian tak menyadari bahwa alam mereka sudah berbeda, sehingga tak bisa berbuat seperti berada di alam manusia dengan badan kasarnya.

Seringkali yang begini ini tampak seperti hantu bergentayangan yang sering menghantui manusia.
Dalam kehidupan manusia Bali, maka roh manusia yang telah meninggal tersebut dimohonkan oleh orang yang memiliki kewaskitaan dengan sarana “Tirta Pengentas”. Entas artinya jalan. Tirtha pengentas adalah tirtha atau air suci yang memiliki kekuatan untuk menenangkan roh, untuk menyadarkan roh bahwa ia telah berada pada dunia yang lain, serta menunjukkan jalan kepada sang roh untuk menuju jalan yang mesti dituju sesuai dengan suba asuba karmanya di alam sunia. Sehingga dengan demikian roh orang yang meninggal di Bali tak akan kesasar, salah jalan, salah tempat serta tak diliputi oleh keinginan duniawi, sehingga tak bergentayangan lagi.

Nah apabila hal ini tak dilakukan, maka roh-roh orang yang meninggal akan mengalami kebingungan, tak ada yang menuntun di alam sunia, roh-roh akan menjalankan keingian duniawinya bergentayangan ke sana kemari menghantui kehidupan manusia di dunia, sehingga dalam agama Hindu Bali disebut dengan Bhuta Cuil atau hantu kuburan, roh gentayangan, atma kesasar, dll. Oleh karena itu, tirtha pengentas sangat penting dalam proses penguburan dan pengabnenan menurut keyakinan Hindu Bali.

Jadi kesimpulannya bahwa untuk mati salah pati dan ngulah pati dapat diupacarai sebagai mati biasa dengan syarat ditambah beberapa upacara panebusan yaitu di perempatan jalan Desa, ditempat kejadian, dan di cangkem setra, lalu ketiga pejati penebusan disatukan dengan sawa baik bila mapendem maupun bila segera di-aben.

Upacara meseh lawang merupakan loka dresta yang dipandang perlu untuk melengkapi upacara panebusan itu namun berbeda-beda pelaksanaannya; ada yang melaksanakan pada saat 42 hari setelah dikubur, dan ada yang melaksanakan pada saat pengabenan.

Kasus yang sering terjadi biasanya kematian salah pati tidak dilengkapi dengan banten penukar dan hanya diberi banten pengulap, biasanya keluarga atau yang bersangkutan akan menjadi orang yang sering bingung ataupun pemarah, ini karena sang atma masih belum mendapat tempat yang layak sembari mendapat proses hukuman akibat perbuatan-perbuatannya dimasa hidup.

**dari berbagai sumber.