Paduarsana

Berbagi Tentang Semua Hal

Rerahinan/Hari Suci Hindu Bulan Mei 2020


Angayu bagia, berikut adalah Rerahinan/hari suci Hindu pada bulan Mei 2020 dan odalan dibeberapa pura yang admin himpun dari kalender Bali (cetak).

bija-nenek-ibtk2018

Image by: Koleksi Pribadi. Besakih 08 April 2018.

7. Hari Purnama sasih Jiyestha, puncak pada pukul 17.44.51 WIB

9. Hari Tumpek Kandang, Hari ini merupakan weton wewalungan, mengadakan upacara selamatan terhadap binatang peliharaan/ternak dan pemujaan terhadap Sang Rare Angon sebagai dewanya ternak, supaya terhindar dari segala penyakit dan tetap dalam keadaan sehat, selamat serta menyenangkan.

13. Hari Buda Cemeng Menail

14. Kajeng Kliwon Uwudan

15. Hari Bhatari Shri

19. Hari Anggara Kasih Prangbakat

22. Hari Tilem Sasih Jiyestha

29. Hari Kajeng Kliwon Enyitan

Dan dibawah ini adalah Hari Odalan pada bulan Mei 2020.

07-05-2020. Purnama Jiyestha. Pura Segara di Lombok. Pura Dwijawarsa di Malang. Pura Puncaktingguh-Angsri Baturiti Tabanan. Pura Kawitan Luhur Bhujangga Desa Jatiluwih Penebel Tabanan. Pura Kawitan Batur Tonja Denpasar. Pura Masopahit di Grenceng Denpasar. Pura Penyungsungan Pasek Tohjiwa Wanagiri Selemadeg. Pura Pamerajan Penataran Agung di Sidemen Karangasem. Pura Eka Dharma, Sweta Indah-Mataram, NTB.

09-05-2020. Hari Tumpek Kandang. Pura Puseh, Pura Desa di Kota Gianyar, Pura Luhur Dalem Sagening – Kediri – Tabanan. Merajan Pasek Gelgel Tegal Gede Badung.

13-05-2020. Buda Wage Menail. Pr. Dalem Tarukan Linggih Pajenengan Ida Dalem Tarukan di Cemenggaon Sukawati, Mr. Pasek Dangke di bambang – Bangli. Pura Penataran Dalem Ketut Pejeng Kaja – Gianyar. Pura Puseh Menakaji Desa Peninjoan – Bangli. Merajan Agung Blangsinga – Blahbatuh. Pura Kawitan Gusti Agung, Blangsinga Blahbatuh Gianyar. Pura Kawitan Gusti Celuk, Baler Pura Sada, Banjar Pemebatan, Kapal Mengwi.

19-05-2020. Anggar Kasih Perangbakat. Pura Bukit Buluh Gunaksa – Klungkung. Pura Tirta Sudamala Bebalang – Bangli. Pura Paibon Pasek Bendesa Sangsit – sawan – Buleleng. Pura Pasek Gelgel Pangi Dawan – Klungkung. Pura Gunung Tengsong – Lombok. Pura Dalem Benawah – Gianyar. Pura Dalem Bitra – Gianyar. Pura Dalem Banyuning Timur – Buleleng. Pura Dalem Pauman Batan Getas (Padang Entas) Titih Denpasar. Pura Tengah Padang di Tegalalang. Merajan Pasek Gelgel Batu Dewa Kangin Banjar Panti Pasek Gelgel Gobleg di Desa Sande – Pupuan Tabanan. Pura Kawitan Tangkas Kori Agung di Desa Adat Pagan Denpasar. Pura Hyangaluh/Jenggala Besakih. Merajan Pasek Lurah Tutuan Gunaksa, Mr. Pasek Gelgel Selulung. Merajan Pasek Subrata Medahan. Merajan Pasek Munggu – Munggu. Pura Tengkulak Tulikup – Gianyar. Pura Penataran Badung Desa Ogang Sidemen.

20-05-2020. Buda Umanis Perangbakat. Pura Puri Agung Dalem Tarukan di sawah Jero Agung Tarukan Pejeng Tampak Siring. Pura Rambut Siwi Jembrana. Pura Batu Bolong Canggu – Kuta. Pura Pasek Marga Klaci – Tabanan. Pura Agung Pasek Dauh Waru Jembrana. Pura Ratu Pasek Sangsit Sawan – Buleleng. Pura Pasek Tangkas Darma Reyanggede Tabanan. Pura Desa Banyuning Buleleng, Pr. Srijon Tabanan, Mr. Pasek Gelgel Lebah Pangkung. Merajan Pasek Gelgel di Patemon. Pura Tirta Anom Padang Sigi Sading – Tampak Siring. Pura Dadi Agung Pasek Bendesa Dukuh Manuaba Tegalalang. Pura Pedarmaan Batursari Ngilis Jegu Penebel Tabanan. Pura Puncak Mundi Nusa Penida.

22-05-2020. Tilem Jiyestha. Pura Bhujangga Waisnawa Gumrih Jembrana.

Sumber: Kalender Bali oleh: I Ketut Bangbang Gde Rawi, Kalender Bali Digital

Cuntaka(Cemer atau Leteh)


Istilah cuntaka, cemer atau leteh tentu tidak asing bagi kita sebagai orang Bali(Hindu), yang sering kita dengar sebuah (lingkungan)desa adat dikatakan cuntaka, cemer atau leteh misalkan; terjadi tindakan yang menyimpang (bunuh diri, tindakan asusila dll). Dalam kamus Kawi-Indonesia kata cuntaka memiliki arti cemer (letuh). Berdasarkan keputusan pesamuhan agung PHDI 015/Tap/PA.PHDP/1984 kata Cuntaka digunakan untuk menyatakan suatu keadaan kotor (tidak suci) baik akibat dari kematian maupun hal – hal lain yang dipandang kotor. Jadi, istilah cuntaka dan sebel diartikan sama sebagai istilah untuk menyatakan suatu keadaan yang kotor secara spiritual baik karena kematian maupun hal – hal lain yang dipandang kotor dari segi adat agama.

IMG-20180620-WA0006-1.jpg

Image: Koleksi Pribadi, Ngaben di Sandakan, Petang Badung

Dari pengertian tersebut maka cuntaka dapat digolongkan menjadi 2 macam

  1. Cuntaka karena diri sendiri adalah orang yang dalam keadaan kotor (cemer), sehingga tidak boleh melakukan suatu upacara Agama dan memasuki tempat suci.
  2. Cuntaka yang disebabkan oleh orang lain adalah orang yang dalam hubungan duka karena kematian, sehingga tidak boleh melakukan upacara keagamaan dan memasuki tempat suci kecuali kegiatan yang ada hubungannya dengan upacara kematian tersebut.
Jenis-Jenis Kecuntakaan:
A. Cuntaka lantaran kotor lahiriah ( sebel )
  • Hindari Bedarah darah masuk pura, yang sedang Menstruasi, luka berdarah termasuk tukang paebat yang tangannya masih belepotan dengan darah.
  • Hindari netekin / menyonyonin di pura.
  • Hindari badan yang masih kotor, belepotan masuk pura, sehingga menimbulkan nuansa yang tidak sreg untuk sembahyang bagi yang lainnya yg datang sembah.
  • Hindari membuang kotoran dipura ( buang air besar / kecil )
  • Hindari rambut jatuh di pura, sehingga diusahakan untuk mepusungan ke pura bagi yang istri, bagi yang lanang jangan potong rambut, kumis, jenggot dipura.
  • Hindari meninggalkan kotoran, daki,bagian dari tubuh kita di pura, misalnya potong kuku, gosok gigi, korek kuping dsbnya.
  • Terkadang ada yang menerapkan bagi anak wanita yang sudah semestinya datang bulan, tetapi sudah tutug kelih bulannya tak kunjung datang.
B. Cuntaka lantaran manah ( sebet )
  • Ada bagian keluarga yang meninggal ( Umumnya mereka yg tunggal sembah ) penerapan awig awig ini sangat beraneka ragam : Area Sebelnya ada sebatas tunggal sembah, sebatas tembok kiri kanan depan belakang, ada sampai sebatas dusun dan juga terkadang ada sampai satu desa.
Demikianpun durasi lama waktu cuntaka ini, sangat bervariasi, ada sebatas s/d Ngerorasin bagi yang meninggal, ada sebatas ngelinggihan dewa hyang tergantung dari commitment krama adat itu sendiri.
  • Hilang ingatan ( dianggap mati ) mayat berjalan
  • Kelahiran Bayi ( puput puser batas cuntaka sang ayah), dan 42 hari batas cuntaka sang Ibu.
Pada umum cuntaka seperti diatas ini penerapannya hampir sama, namun terkadang ada juga yg berbeda, tetapi perbedaannya tidak terlalu menjolok. Nah inilah biasanya di buatkan awig awig dalam tatanan masuk pura yang bertujuan untuk menjaga kesucian pura yang merupakan milik orang banyak.
C. Cuntaka yang tidak dapat diprediksi/diduga/diperkirakan.
Ada bebrapa cuntaka yang sangat sulit untuk dideteksi orang lain, malahan terkadang hanya orang yang bersangkutan saja mengetahui dirinya tak layak untuk ke pura Sehingga pikiranya menjadi labil misalnya:
  • Telah melakukan perbuatan asusila, nyolong, memfitnah, berkelahi (tetapi orang lain belum tentu tau kondisinya)
  • Gamya Gemana – kawin dengan cara yang tidak wajar ( dg ibu kandung, anak, dengan binatang dsbnya)
  • Marah marah Mojar gangsul, nangun kroda, sehingga kalau dipaksakan dirinya berada di pura bisa jadi akan mempengaruhi keheningan dalam sembahyang.
Banyak lagi contoh contoh yang lainnya, sehingga yg beginian sangat sulit untuk di prediksi sehingga sulit untuk mengundang undangkan.
Artikel ini : Dari Postingan IPM AGRA DWIJANANDA

Upacara Nunas Ica, terkait Virus Corona


Beredar surat edaran tentang upacara nunas ica dibawah ini adalah mantra untuk nasi wong wongan yang akan dihaturkan tgl 2 April 2020. Postingan ini disadur dari FB Global Dewata. Semoga bermanfaat. Dan semoga kita semua senantiasa dalam wara nugraha Sang Hyang Widhi Wasa.

Tujuan menghaturkan banten pejati di masing-masing sanggah kemulan dan menghaturkan nasi wong-wongan di lebuh, memiliki makna tertentu. nyuh gadang biasanya digunakan saat menghaturkan durmanggala (penetralisir secara niskala), sedangkan bungkak nyuh gading untuk prayascita (pembersihan niskala).

“Sekarang kepada siapa memohon?. Di masing-masing rumah ada kemulan taksu, di sana menghaturkan pejati dengan bungkak nyuh gadang untuk menghilangkan kadurmangalan. Pada saat Sasih Kanem, mara bahaya datang ke jagat Bali. Bhutakala akan memangsa manusia. Maka di sana akan terjadi dialog orang yang akan dimangsa itu bisa digantikan dengan nasi wong- wongan dengan warnanya masing-masing,”

Sesuai surat edaran tersebut, Kamis (2/4) setiap rumah menghaturkan banten pejati dilengkapi bungkak nyuh gadang atau bungkak nyuh gading. Sedangkan di lebuh pekarangan menghaturkan nasi wong-wongan, ulam bawang jahe dan uyah, beralaskan muncuk daun pisang dengan ketentuan, bagian kepala nasi wong-wongan berwarna putih, tangan kanan warna merah, tangan kiri warna kuning, badan manca warna dan kaki warna hitam .

“Nasi wong-wongan itu dihaturkan di lebuh angkul-angkul, sedangkan di kemulan taksu menghaturkan pejati. Di lebuh fungsinya menyetop agar bhuta yang hendak menyakiti pemilik rumah tidak masuk dan kita berlindung kepada Betara Hyang Guru dengan sarana pejati tersebut. Hyang Guru simbol Siwa, Siwa suami dari Bhatari Durga. Sedangkan bhuta yang hendak memangsa itu adalah anak buah dari Siwa.

Untuk Pejati yang dihaturkan di pemerajan atau di Bhatara Hyang Guru mantranya. “Ong Pakulun Ratu Bhetara Hyang Guru (Kamulan) tiyang …..(nama yang nganteb) ngaturang canang sebit sari, minakadi ajengan lan kejangkepin dening canang sari, pinake bhakti tiyang lan keluarga. Kebakaran antuk manah suci nirmala, tiyang lan keluarga nunas kerahayuan lan kerahajengan tur luput saking trimala pancamala lan dasamala rawuhing kaberebehan jagat sekadi mangkin minàkadi pandemi Covid-19 virus korona lan kacuntakan sane tyosan. Akidik aturang manusañta nanging akeh pinunasnia, astungkara pakulun micayang manut ring pinunas lan pengaptin tiyang lan keluarga sami. Antuk paswecan pakulun, tiyang lan keluarga ngaturang suksma ning manah. Om Sidhir Astu Tad Asthu Nama Swaha.

Om Tryam Bhakam Ya Jamahe, Sugandhim Pasti Wardhana, Urwarrukham Siwa Bandanat, Mriryor Muksya Mammritham.

Om Sarwa Lara Wighna, Sarwa Klesa, Sarwa Rogha Winasa Ya Namah Swaha

Om Anugrah Manohara, Dewadhatta nugraha, Arcanam sarwa pujanam, Namo namah nugrahakham.

Om Dewa Dewi maha siddhi, Yadnya Nirmala, Atmakham Laksmi, Siddhisca Dirgahayu, Nirwighna suka wredischa.

Om Ksama Swamam Maha Dewa Sampurna Ya Nama Swaha.

Sedangkan mantra untuk di lebuh, yaitu menghaturkan wong-wongan sebagai berikut :

Ih… Ta kite Sang Bhuta Kala (di Lebuh) manusañta angaturaken badi wong -wongan pinaka larapan bhakti manusañta. Enak ta kite amuktyaken, asing kurang asing luput haywa ta kite silik-ugik, uwuhin manusañta kerahayuan kedirgayusan. Abih manusañta lemah peteng selid sanje ring darat ring toyo ring udara. Ebek danuh ebek segara bhaktanmu. Dohakena manusañta saking kaberebehan jagat sekadi mangkin. Pomo pomo pomo (sambil ayabang lan metaluh arak-tuak-berem).

Utawi Mantra sane sederhana:

Iki sang kala bucari
Sang kala bala lan sang kala raja ..
Kita tan wenang nadah i manusa
Iki tetadahan nia
Pasegehan wong wongan
Usan mangan usan minum kita budal ke genah soang soang tan patut kita ngrubeda ring mercapada…
Poma poma poma..

Nb: Dados mantra sesontengan, untengnyane nunas RAHAYU

Bagi yg meyakini silahkan lakukan ritual sesuai dgn keyakinan yg tulus…bagi sane ten yakin sampunan meboye.

INGAT TUHAN MENCIPTAKAN, TUHAN JUGA AKAN MELEBURNYA

Semoga sami rahayu, jagat Bali, Indonesia lan Dunia
Imanusa wantah berusaha ida sane matutang

SUKSME
Sesuai penjelasan dari WAKIL KETUA PHDI BALI
Pinandita Ketut Pasek Swastika

%d bloggers like this: