Advertisements

Paduarsana

Berbagi tentang: Hindu, Bali dan Budayanya.

Pemerkosaan dan Zina Dalam Hindu


Beberapa minggu lalu jagad berita tanah air dikejutkan dengan kasus perkosaan yang menimpa Yuyun(14) siswi SMP di Bengkulu. Kasus Yuyun adalah satu dari banyak kasus pemerkosaan dan kekerasan terhadap anak(perempuan) dinegeri yang katanya Agamis ini.

Apa yang salah? apakah agama-agama di Indonesia tidak cukup jelas memberikan tuntunan bahwa pemerkosaan itu akan mendapatkan hukuman yang berat?

Ilustrasi-Pemerkosaan-Dibawah-Umur1-770x577

Image: kaltim online

Dalam ajaran Sad Atatayi disebutkan : Dratikrama artinya memperkosa. Memperkosa adalah perbuatan yang dilakukan tanpa adanya persetujuan antara kedua belah pihak. Perbuatan memperkosa sama dengan perbuatan binatang, karena binatang melakukan kehendaknya hanya berdasarkan nafsu jahatnya saja. Manusia yang terlibat dalam perbuatan itu, berarti kesadaran pikirannya sudah hilang karena pengaruh nafsu yang tak terkendalikan lagi. Ia lupa dengan rasa malu, harga diri, nama baik keluarganya, karena apa yang dikehendaki oleh nafsunya itulah yang ingin dilakssanakan.

Perbuatan seemacam ini tidak mungkin akan membahagiakan, bahkan sebaliknya seringkali menimbulkan kesengsaraan. Oleh sebab itu ajaran agama melarang untuk melakukan perbuatan buruk ini karena mengakibatkan kericuhan di kalangan masyarakat.
Sloka 153-155 Sarasamuscaya
(MEMPERKOSA)
153. Perbuatan memperkosa jangan hendaknya dilakukan oleh orang yang tidak ingin hidupnya berumur pendek.
154. Orang yang ingin menjadi arif bijaksana, berkesusilaan, berilmu pengetahuan utama, dan bagi mereka yang ingin berumur panjang, jangan pernah berpikir untuk melakukan pemerkosaan.
155. Mereka yang tidak takut bencana boleh memikirkan untuk bersenggama dengan istri orang; namun bagi yang takut akan datangnya bencana jangan sekali-kali berpikir untuk bersetubuh dengan istri oang lain.

Bagaimana dengan zina, berikut adalah beberapa kutipan sloka tentang larangan zina dalam Hindu.

Kuwiwahaih kriya lopair
wedanadhyayanena ca
kulanya kulam tamyanti
brahmanati kramena ca.
(Veda Smerti, Manawa Dharmasastra III. 63)
Artinya:
Dengan berhubungan sex secara rendah diluar cara-cara perkawinan (brahmana wiwaha, prajapati wiwaha dan daiwa wiwaha), dengan mengabaikan upacara pawiwahan, dengan mengabaikan weda, dengan tingkah laku hina, tidak memperhatikan nasihat Sulinggih (Brahmana,orang-orang suci) maka keluarga-keluarga besar, kaya dan berpengaruh akan hancur berantakan.

Catur varnamsya sarva trahiyam prokta tu niskrtih,
agamyagamate ca iva suddhau candrayanam caret.
(Veda smerti. Parasara Dharmasastra X.1)
Artinya:
Aku telah menguraikan tentang upacara penebusan dosa bagi keempat golongan sosial; seorang laki-laki setelah menggauli seorang wanita yang dilarang untuknya harus melakukan penebusan dosa candrayanam.

Jarena janayed garbhe tyakte mrte patau,
tam tyajed apare rastre patitam papa karinim”
(Veda Smerti, Parasara Dharmasastra X.30)
Artinya:
Wanita yang memperoleh kehamilan dengan kekasih gelapnya (tidak melalui upacara pawiwahan), atau setelah ditinggal suaminya atau selama ketidakhadiran suaminya di negeri jauh, harus diusir kesebuah kerajaan asing (keluar wilayah).

**Dari berbagai sumber

Advertisements

Tentang Otonan


Otonan berasal dari kata “pawetuan”, yaitu peringatan hari lahir menurut tradisi agama Hindu di Bali yang didasarkan pada Sapta wara, Panca wara, dan Wuku. Dalam kalender Bali otonan dirayakan setiap 210 hari(setiap 6 bulan).

Di hari otonan kita memanjatkan puja kepada Sanghyang Widhi karena atas perkenan-Nya roh/atma bisa menjelma kembali menjadi manusia, serta mohon keselamatan dan kesejahteraan dalam menempuh kehidupan.

Dalam penetapan hari otonan tidaklah boleh asal-asalan atau tidak boleh keliru. Karena dalam lontar pawacakan dan lontar jyotisha, jika keliru dalam penetapan otonan anaknya akan mengalami hal-hal yang tidak diinginkan.

Cara Menetapkan Hari Otonan

Dalam menentukan hari otonan yang harus dijadikan patokan adalah sistem kalender Saka-Bali. Yang mana dalam pergantian hari atau tanggal yaitu ketika matahari terbit(sekitar jam 6 pagi).

Jika untuk bayi, otonan pertama kali dilakukan ketika sudah berumur 105 hari, karena organ tubuh dianggap sudah berkembang sempurna dan semua panca indra sudah aktif, dimana panca indra anak itu dapat membawa dampak positif dan negatif pada kesucian jiwa,sehingga harus di lakukan Otonan /upacara tiga bulanan. Dimana jika belum di lakukan Otonan /diupacarai tiga bulanan, maka anak itu masih “Cuntaka” atau  belum suci.

Sarana Upacara Otonan
Dalam upacara otonan yang sederhana sarana cukup sebagai berikut:

  1. Banten Pejati (untuk Bhatara Guru/Kemulan)
  2. Dapetan (sebagai tanda syukur)
  3. Sesayut Pawetuan (untuk Sang Manumadi)
  4. Segehan (untuk Bhuta)

Selain itu boleh juga diisi kue Taart diatasnya dikasi canang sari dan dupa, kemudian didoakan.
Dalam prosesi otonan, terdapat sebuah simbolis yaitu pemasangan gelang ditangan berwarna putih.  Kenapa menggunakan benang? karena benang mempunyai kontotasi “beneng” dalam bahasa bali halus. Yang dapat diartikan 2 hal yaitu:

Karena benang sering dipergunakan sebagai sepat membuat lurus sesuatu yang diukur. ini maksudnya agar hati yang otonan selalu di jalan yang lurus/benar
Benang memiliki sifat lentur dan tidak mudah putus sebagai simbol kelenturan hati yang otonan dan tidak mudah patah semangat.

Mantra/Doa Dalam Otonan
Mantra yang bisa digunakan dalam otonan yaitu sebagai berikut:

Mabya kala /bya kaon
Om shang bhuta nampik lara sang bhuta nampik rogha, sang bhuta nampik mala, undurakna lara roga wighnanya  manusanya. Om sidhirastu Yanama Swaha.

Matepung tawar.
Om purna candra purna bayu mangka purnaya manusa maring marcepada kadi langgenaning surya candra vmangklana langgenganipun manusyania
Om sidhirastu ya nama Swaha

Mesesarik

Kening; om sri sri ya nama swaha
Bahu kanan:  om anengenaken phala bhoga ya nama swaha
Bahu kiri  :  om angiwangaken pansa bhaya bala rogha ya nama swaha
Telapak tangan : om  ananggapaken   phala bhoga ya nama swaha
Tengkuk : om angilangaken  sot papaning wong ya nama swaha
Dada : om anganti ati sabde rahayu

Matebus benang.
om angge busi bayu premana maring angge sarire

Natab sesayut.

Dalam natab sesayut ada 2 mantra yang bisa dipergunakan untuk otonan sederhana

Sesayut bayu rauh sai

om sanghyang jagat wisesa, metu sira maring bayu, alungguh maring bungkahing adnyana sandi
om om sri paduka guru ya namah.

om ung sanghyang antara wisesa, metu sira maring  sabda, alungguh maring madyaning adnyuana sandi
om om sri sri paduka guru ya namah.

om mang sanghyang jagat wisesa. metu sire maring idep. alungguh maring tungtungngin adnyana sandi
om om sri paduka guru ya namah

sesayut pangenteg bayu

om dabam jaya bayu krettan dasa atma dasa premanam  sarwa angga ma sariram
wibbbbuh bhuanam dewat makam.

Mencegah Kebakaran Akibat Api Dupa


Dalung, 17 April 2016.

Kebakaran terjadi di Dalung Permai tepatnya Br. Lingga Bumi persis dipojok TPA Pink Kids Care Dalung, api diduga dari dupa disebuah pelangkiran di lantai 2 rumah milik pak Teguh. Dalam hitungan menit api menghanguskan lantai 2 rumah tersebut.

IMG_0041

keesokan hari setelah terjadi kebakaran

Kebakaran akibat api dari dupa yang dipakai untuk mebanten sudah sering kita dengar, masih ingat dengan kasus kabakaran yang terjadi di pasar seririt ? atau kebakaran sebuah rumah di Jalan Meduri Denpasar ? Masih ada beberapa kasus kebakaran lain yang disebabkan oleh percikan api dari dupa. Sebagai umat Hindu kita tidak bisa lepas dari air(baca: tirtha), dupa(api) dan bunga(baca: banten) sebagai sarana persembahyangan maupun yadnya.

Secara singkat, Air(Tirtha) didalam Weda Parikrama dan Surya Suwana sebagai pensucian secara lahir dan bathin. Dupa(baca: Api) lambang Agni sebagai perantara yang menghubungkan pemuja dengan yang dipuja serta sebagai pembasmi segala kotoran(niskala) melalui mantram: Ong Ang Dipastraya namah swaha. Bunga sebagai simbol tulus ikhlas dan kesucian hati untuk menghadap pada sang pencipta.

Apa yang harus kita lakukan untuk mencegah kebakaran akibat Dupa?

  1. Pastikan dupa diletakkan pada tempat yang tidak mudah terbakar, misalkan: tempat yang terbuat dari tanah liat. Selain itu penting untuk selalu membersihkan bunga-bunga kering, bekas canang setiap kali akan mebanten selain untuk menjaga kebersihan pelangkiran atau pemujan juga untuk menghindari percikan api dari dupa menjadi bara api.
  2. Hindari mebanten ditempat-tempat yang penuh dengan kertas atau benda yang mudah terbakar, biasanya dikantor(ditempat kerja) karyawan Hindu selalu menghaturkan canang, Jika memang harus mebanten ditempat itu pastikan dupa ditempat yang aman.
  3. Jangan meninggalkan rumah saat dupa masih menyala. Jika harus buru-buru pastikan dupa dipadamkan terlebih dahulu.

Kadang musibah terjadi tanpa kita duga namun musibah bukan hal yang mustahil untuk kita cegah atau hindari dengan selalu eling dan berhati-hati. Sembahyang, Beryadna wajib kita lakukan sebagai insan Hindu mencegah sesuatu hal yang buruk terjadi juga penting untuk kita lakukan.

Semoga kita selalu eling dan waspada.