Paduarsana

Berbagi Tentang Semua Hal

Doa Sehari-hari Agama Hindu


Inilah doa sehari-hari agama Hindu, Doa-doa dibawah ini ejaannya sedapat mungkin mengikuti bahasa sanskerta justru untuk mendekati pengucapan. mari membiasakan diri untuk berdoa sebelum atau sesudah melakukan aktifitas.

  • Doa menjelang tidur:

Am asato ma sat ganaya, tamaso ma jayatir ganaya, mrityor mamritam gamaya
Artinya: Ya Tuhan, tuntunlah hamba dari jalan yang sesat menuju jalan yang benar, dari jalan gelap ke jalan terang,hindarkanlah hamba dari kematian menuju kehidupan abadi.

  • Doa bangun pagi:

Om utedanim bhagawantah syamota prapitwa uta mandhye ahnam utodita maghawanta suryasya mayam dewanam sumantau syama.
Artinya: Ya Tuhan, Yang Maha Pemurah, jadikanlah hamba orang yang selalu bernasib baik pada hari ini,menjelang tengah hari, dan seterusnya. Semoga para Dewa melindungi diri hamba.

  • Doa membersihkan/mencuci muka:

Om cam camani ya namah swaha.
Om waktra parisudahaya namah swaha.
Artinya: Ya Tuhan, hamba memujaMu, semoga muka hamba menjadi bersih.

  • Doa menggosok gigi:

Om rahphat astraya namah.Om Sri Dewi Bhatrimsa yogini namah.
Artinya: Ya Tuhan, sujud hamba kepada Dewi Sri, Bhatari Yogini, semoga bersihlah gigi hamba.

  • Doa berkumur:

Om Ang waktra parisudhamam swaha.
Artinya: Ya Tuhan, semoga bersihlah mulut hamba

  • Doa membersihkan kaki:

Om Am kham khasolkhaya iswaraya namah swaha.
Artinya: Ya Tuhan, semoga bersihlah kaki hamba.

  • Doa mandi:

Om gangga amrta sarira sudhamam swaha.
Om sarira parisudhamam swaha.
Artinya: Ya Tuhan, Engkau adalah sumber kehidupan abadi nan suci, semoga badan hamba menjadi bersih dan suci.

  • Doa sebelum makan:

Om anugraha amrtadi sanjiwani ya namah swaha.
Artinya: Ya Tuhan, semoga makanan ini menjadi penghidup hamba lahir dan bathin yang suci.

  • Doa selesai makan:

Om Dhirgayur astu, awighnamastu, subham astuOm Sriyam bhawantu,sukham bhawantu,purnam bhawantu,ksama sampurnaya namah swaha.Om Santih, santih,santih Om 
Artinya: Ya Tuhan, semoga makanan yang telah masuk ke tubuh hamba memberikan kekuatan dan keselamatan,panjang umur dan tidak mendapat sesuatu apapun. Ya Tuhan, semoga damai,damai dihati, damai di dunia, damai selama-lamanya.

  • Doa sebelum memulai suatu pekerjaan:

Om Awighnam astu namo sidham.
Om sidhirastu tad astu swaha.
Artinya: Ya Tuhan, semoga atas perkenanMu, tiada suatu halangan bagi hamba memulai pekerjaan ini dan semoga berhasil baik.

  • Doa selesai bekerja/bersyukur:

Om Dewa Suksma parama acintyaya namah swaha, Sarwa karya prasidhantam, Om Santih, Santih, Santih, Om.

Artinya: Ya Tuhan dalam wujud Parama Acintya yang mana gaib dan maha karya, hanya atas anugerah-Mu lah makan pekerjaan ini berhasil dengan baik. Semoga damai, damai dihati, damai di dunia, damai selamanya.

  • Doa Mohon Bimbingan Tuhan:

Om Asato ma sadyamaya, tamaso ma jyotir gamaya, mrtyor ma amrtam gamaya.

Om Agne brahma grbhniswa dharunama syanta riksam drdvamha, brahmawanitwa ksatrawani sajata, wanyu dadhami bhratrwyasya wadhayaya.

Artinya: Ya Tuhan Yang Maha Suci, bimbinglah hamba dari yang tidak benar menuju yang benar. Bimbinglah hamba dari kegelapan pikiran menuju cahaya pengetahuan yang terang. Lepaskanlah hamba dari kematian menuju kehidupan yang abadi. Tuhan Yang Maha Suci, terimalah pujian yang hamba persembahkan melalui Weda mantra dan kembangkanlah pengetahuan rohani hamba agar hamba dapat menghancurkan musuh yang ada pada hamba(nafsu). Hamba menyadari bahwa Engkaulah yang berada dalam setiap insani(jiwatman), menolong orang terpelajar,pemimpin negara dan para pejabat. Hamba memuja Engkau semoga melimpahkan anugerah kekuatan kepada hamba.

  • Doa Memohon Inspirasi:

Om prano Dewi Saraswati, wajebir wajiniwati, dhinam awinyawantu.

Artinya: Ya Tuhan dalam manistasi Dewi Saraswati, Hyang Maha Agung dan Maha Kuasa, Semoga Engkau memancarkan kekuatan rohani, kecerdasan pikiran dan lindungilah hamba selama-lamanya.

  • Doa Memohon Kecerdasan:

Om pawakanah Saraswati, wajebir wajiniwati, yajnam wastu dhiyawasuh.

Artinya: Ya Tuhan, dalam manifestasi Saraswati, Yang Maha Sucim anugerahkanlah hamba kecerdasan. Dan terimalah persembahan hamba ini.

  • Doa Belajar:

Om purwe jato brahmano brahmacari, dharmam wasanas tapasodatistat, tasmajjatam brahmanam brahma, Iyestham dewasca sarwa amrttna sakana.

Artinya: Ya Tuhan, muridMu hadir dihadapanMu, Oh Brahman yang berselimutkan kesaktian dan berdiri sebagai pertama. Tuhan, anugerahkanlah pengetahuan dan pikiran yang terang. Brahman yang agung, setiap makhluk hanya dapat bersinar berkat cahayaMu yang senantiasa memancar.

  • Doa Memohon Ampunan:

Om dewakrtasyainaso awaya janam, asi manusyakrtasi nama awaya janam, asi pitrakrtasi namo awaya janam, asyatmakrtasyaenaso awaya janam, asyena sa’ enase waya janam, asi yacchadam eno vidvamscakara yacchavidvams tasya va ya janam asi.

Artinya: Ya Tuhan, ampunilah dosa hamba terhadapMu, ampunilah dosa hamba terhadap sesama manusia, terhadap orang tua hamba, terhadap teman hamba, Tuhan ampunilah dosa hamba terhadap segala macam dosa. terhadap dosa yang hamba lakukan dengan sadar atau tidak sadar. Tuhan, semoga berkenan mengampuni semuanya itu.

  • Doa Memotong(Menyembelih) hewan:

Om pasu pasaya wimahe sirascadaya dhimahi tano jiwah pracodayat.

Artinya: Semoga atas perkenan dan berkahMu para pemotong hewan dalam upacara korban suci ini berserta orang-orang yang telah berdana punia untuk yadnya ini memperoleh kesejahteraan dan kebahagiaan. Tuhan, hamba memotong hewan ini, semoga rohnya menjadi suci.

  • Doa Mengunjungi Orang sakit:

Om sarwa wigha sarwa klesa sarwa lara roga winasaya namah.

Artinya: Ya Tuhan, semoga segala halangan, penyakit dan penderitaan dan gangguan Engkau lenyapkan.

  • Doa Melayat(mendengar kematian):

Om Atma tattwatma naryatma

Swadah Ang Ah

Om Swargantu, moksantu, sunyantu, murcantu.

Om ksama sampurnaya namah swaha.

Artinya: Ya Tuhan, semoga arwah yang meninggal mendapat sorga, menunggal denganMu, mencapai keheningan tanpa derita. Ya Tuhan, ampunilah segala dosanya, semoga ia mencapai kesempurnaan atas kekuasaan dan pengetahuan serta pengampunanMu.

Doa-doa Hindu yang lainya

Pura Agung Jagatnatha


Bagi penduduk Kota Denpasar pasti tidak asing dengan Pura Agung Jagatnatha, pura yang terletak di pusat kota Denpasar ini merupakan pura tempat pemujaan Sang Hyang Widhi dalam manifestasiNya sebagai Sang Hyang Jagat Natha (**penguasa Jagad Raya). Bagi umat Hindu yang belum pernah ke Pura Jagatnatha pura ini sangat mudah ditemukan, pergilah ke alun-alun kota Denpasar atau yang lebih dikenal dengan Lapangan Puputan Badung, terletak di Jalan Mayor Wisnu Denpasar, tepat disebelah utara Museum Bali.

Piodalan di Pura Agung Jagatnatha berlangsung sekali dalam setahun tepatnya pada Purnama Sasih Kalima.Upakara yang diaturkan dalam pujawali umumnya nyatur rebah dan di penataran Padmasana digelar caru rsi Gana, Biasanya pada saat pujawali(nyejer selama tiga hari) dan dipuput oleh sejumlah sulinggih yang ada di Denpasar.

Selain saat piodalan, umat Hindu pedek tanggil ke Pura Agung Jagatnatha setiap Purnama dan Tilem. Umat juga melakukan persembahyangan saat hari-hari besar keagamaan seperti Galungan, Kuningan, Saraswati, Pagerwesi dan Siwaratri. Pada hari raya Galungan beberapa media selalu terlihat sibuk meliput persembahyangan umat Hindu.

Tumpek Kandang : Perwujudan Kasih Terhadap Binatang


Print E-mail

Berbuatlah agar semua orang,
binatang-binatang dan semua makhluk
hidup berbahagia

Yajurveda XVI.48

Ilustrasi, Pencinta Ayam

Di dalam agama Hindu dikenal adanya berbagai usaha atau media untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Salah satu dari usaha atau media itu adalah melalui pelaksanaan hari-hari raya keagamaan. Di antara demikian banyak hari-hari raya Hindu, satu di antaranya adalah hari untuk memuja keagungan Tuhan Yang Maha Esa melalui pemeliharaan atas ciptaan-Nya berupa binatang ternak atau peliharaan. Umat Hindu di Bali menyebut hari itu adalah hari Tumpek Kandang atau Hari Tumpek Uye, yakni jatuh pada setiap hari Sabtu Kliwon Wuku Uye menurut perhitungan kalender Bali-Jawa. Hari ini datang setiap enam bulan (210 hari) sekali. Pada hari ini umat Hindu membuat upacara memuja keagungan Tuhan Yang Mahaesa sebagai Siva atau Pasupati, yang memelihara semua makhluk di alam semesta ini. Pemujaan kepada Tuhan Yang Mahaesa ini diwujudkan dengan memberikan upacara selamatan terhadap semua bintang, khususnya binatang ternak atau piaraaan.

Bagi mereka yang bukan masyarakat Bali tentunya bertanya-tanya, demikian sibuknya masyarakat Bali melaksanakan berbagai aktivitas kegamaan. Hampir seharian waktu ibu-ibu digunakan untuk membuat sesajen atau sarana upacara keagamaan. Pertanyaan sejenis juga sering ditanyakan oleh pengamat Manca Negara. Seorang Professor dari Universitas California pernah menemui penulis menanyakan tentang kesibukan masyarakat Bali yang diabdikan untuk kepentingan agamanya. Terhadap pertanyaan ini, agama Hindu menyatakan bahwa harta benda yang diperoleh hendaknya didayagunakan untuk tiga hal, yaitu Artha kasadyaning Dharma, kasadyaning Artha dan kasadyaning Kama yang maknanya untuk didayagunakan untuk kepentingan Dharma, untuk kepentingan Artha dan untuk kepentingan Kama. Jadi sepertiga didayagunakan untuk kepentingan Dharma dalam pengertian yang luas termasuk berbagai aktivitas agama dan pendidikan, sepertiga untuk kepentingan Artha sendiri, yakni pengembangan modal (investasi) dan sepertiga lagi untuk kepentingan Kama, yakni untuk dinikmati. Dalam menikmati sesuatu, hendaknya yang dinikmati itu dipersembahkan terlebih dahulu kepada Tuhan Yang Mahaesa. Kitab suci Veda maupun Bhagavadgita menyatakan adalah seorang pencuri yang menikmati dosanya sendiri bila seseorang menikmati sesuatu tidak mempersembahkannya terlebih dahulu kepada Tuhan Yang Mahaesa. Makanan yang telah dipersembahkan kemudian dimohon untuk dinikmati disebut Yajnasesa atau Prasadam, yang di Bali disebut ‘lungsuran’, makanan ini diyakini telah diberkati oleh Tuhan Yang Mahaesa.

Apakah Hindu memuja binatang ?

Di samping hari Tumpek Uye atau Tumpek Kandang, dalam hari-hari raya Hindu di Bali terdapat juga lima jenis Tumpek yang lain, yaitu Tumpek Bubuh atau Tumpek Wariga yakni upacara selamatan untuk tumbuh-tumbuhan, Tumpek Landep, selamatan untuk senjata, Tumpek Kuningan, selamatan untuk gamelan, Tumpek Wayang, selamatan untuk wayang dan Tumpek Krulut, selamatan untuk unggas. Umumnya upacara selamatan untuk unggas ini digabungkan pada hari Tumpak Uye ini.

Lontar Sundarigama yang memberi petunjuk tentang hari-hari raya Hindu di Indonesia menyatakan : Hari Tumpek Kandang adalah upacara selamatan untuk binatang-binatang,binatang yang disemblih dan binatang piaraan, hakekatnya adalah untuk memuja Tuhan Yang Mahaesa, Siwa yang disebut Rare Angon, penggembala makhluk. Berdasarkan kutipan ini, tegas bahwa yang dipuja adalah Tuhan Yang Mahaesa, bukan memuja binatang, demikian pula terhadap tumbuh-tumbuhan, senjata-senjata, gamelan dan sebagainya. Mengapa membuat upacara selamatan terhadap hal-hal tersebut ? Dalam ajaran agama Hindu, keharmonisan hidup dengan semua makhluk dan alam semesta senantiasa diamanatkan. Manusia hendaknya selaras dan hidup hamonis dengan alam semesta,khususnya bumi ini dan dengan ciptaan-Nya yang lain, termasuk tumbuh-tumbuhan dan binatang. Dalam ajaran Hindu, semua makhluk diyakini memiliki jiwa yang berasal dari Tuhan Yang Mahaesa. Doa umat Hindu sehari-hari (dalam puja Tri Sandhya) dengan tegas menyatakan : Sarvaprani hitankarah (hendaknya semua makhluk hidup sejahtera) adalah doa yang bersifat universal untuk keseimbangan jagat raya dan segala isinya. Upacara selamatan kepada binatang dimaksudkan untuk menumbuhkan rasa kasih sayang kepada semua binatang, khususnya binatang ternak atau piaraaan. Bagi masyarakat agraris, binatang khususnya sapi sangat membantu manusia. Tenaganya untuk bekerja di sawah, susunya untuk kesegaran dan kesehatan manusia bahkan kotorannya bermanfaat untuk menyuburkan tanaman. Umat Hindu sangat memuliakan sapi, dan sapi dalam tradisi Hindu hendaknya dihormati sebagai ibu, di samping juga bumi pertiwi, kitab suci dan lain sebagainya.

Bagaimana halnya dengan barong dan binatang-binatang mitos dalam agama Hindu ? Binatang-binatang tersebut diyakini sebagai binatang piaraan, wahana atau tunggangan para dewa, berbagai manifastasi Tuhan Yang Mahaesa. Di dalam kitab suci Veda dinyatakan Tuhan mengambil wujud sebagai garuda untuk memberikan rasa aman dan kesejahtraan bagi umat manusia, demikian pula angsa, merak, barong dan lain- sebagainya. Tuhan Yang Mahaesa dapat mengambil wujud-wujud tertentu sebagai yang didambakan oleh umat manusia. Ia hadir berwujud atau tidak berwujud (Sarupa atau Nirrupa), personal atau impersonal sesuai dengan kemampuan manusia. Barong disebut Banaspati yang artinya raja hutan atau raja pohon, ia juga disebut Mrgapati, raja dari semua binatang buas. Tuhan Yang Mahaesa atau Siva disebut Pasupati, pengendali dan gembala semua binatang piaraan. Dalam Hindu, Tuhan Yang Mahaesa disebut dengan ribuan nama (Sahasra nama Brahman).
Pelestarian lingkungan hidup

Agama Hindu di Bali telah manyatu padu dengan kehidupan masyarakat Bali. Bagi para pengamat sepintas, sangat sulit membedakan antara agama, adat, budaya, tradisi dan sebagainya yang telah sedemikian rupa terjalin bagaikan kain endek atau tenun ikat Bali. Seseorang sering menyatakan untuk kegiatan upacara agama disebut upacara adat. Di Bali tidak ada adat yang memiliki upacara. Semua upacara yang dilakukan di Bali sesungguhnya adalah upacara agama. Demikian pula seni budaya Bali, pada mulanya diabdikan hanya untuk keagungan Tuhan Yang Mahaesa, namun kini merupakan sesuatu yang menarik yang dapat dinikmati oleh wisatawan. Upacara-upacara keagmaan di Bali, khususnya upacara Tumpek membawa missi pelestarian lingkungan baik lingkungan alam maupun lingkungan budaya. Pelestarian lingkungan alam ditujukan untuk keselamatan bumi pertiwi, tumbuh-tumbuhan dan binatang di dalamnya, selanjutnya pelestarian lingkungan budaya ditujukan antara lain kepada benda-benda seni seperti gamelan, wayang dan lain sebagainya. Upacara-upacara yang terkait dengan pelestarian lingkungan hidup ini disebut upacara Bhuta Yajna dengan berbagai jenis atau tingkatannya, Dari yang paling sederhana mempersembahkan sejumput nasi setelah memasak, sampai pula Tawur atau Caru Ekadasa Rudra yang dilakukan seratus tahun sekali. Apakah upacara-upacara sejenis ditemukan di India ? Penulis sepintas menemukan adanya benang merah antara India dan Bali. Sebagai dimaklumi bahwa ciri khas dari agama Hindu adalah dimana agama ini dianut, disana budaya setempat dilestarikan. Ibarat air sungai Gangga, kemana aliran sungai itu mengalir, di sanalah daerahnya berkembang dan tumbuh subur. Demikian pula halnya upacara-upacara yang kita jumpai di Indonesia, di India juga dilaksanakan misalnya Ayudhapuja, yakni upacara selamatan terhadap semua senjata, di Indonesia kita kenal dengan Tumpek Landep. Demikian pula untuk tumbuh-tumbuhan (Sankarapuja) dan lain-lain, misalnya Sarasvati, Sivaratri, Galungan-Kuningan dan sebagainya. Dari beraneka hari-hari raya itu tidak semua dirayakan dengan besar-besaran, ada dengan sangat sederhana bahkan ada hanya dengan melaksanakan Brata atau Upavasa (puasa). Demikian pula tentang pelaksanaannya di India Utara dan Selatan, Timur atau Barat sangat berbeda, apalagi dengan Indonesia atau Bali. Semua perbedaan itu disebabkan pula oleh faktor budaya umat pendukungnya.
Wujud luar nampak bergeser, maknanya tetap sama

Seorang wartawan sempat menanyakan kepada penulis, bukankah semua hari-hari raya itu adalah ekspresi dari masyarakat agraris ? Bagaimana halnya dengan masyarakat kita yang mulai berubah menjadi masyarakat agraris ? Memang nampak terjadinya pergeseran namun prosesnya secara evolusi. Seperti halnya di India, dahulu tidak ada orang mengupacarai kendaraan bermotor, televisi atau komputer. Di sana kini juga seperti di Bali. Pada hari Tumpek Landep orang membuat upacara selamatan untuk segala benda yyang terbuat dari besi, pada hal pada mulanya hanya untuk senjata saja. Demikian pula terhadap sebagian fungsi sapi digantikan dengan traktor, kini traktor diupacarai, tetapi hal ini tidakk dilakukan pada waktu Tumpek Uye, melainkan pada waktu Tumpek Landep. Bila kita melihat di Bali sopir bemo, bus wisata atau penumpang umum, bahkan juga dilakukan oleh kusir dokar, yakni mempersembahkkan sesajen atau canang pada dashboard kendaraannya, di India juga dilakukan hal yang sama, merekka tidak mempersembahkan canang, melainkan karangan bunga kecil yyang dipersembahkkan terhadap arca-arca kecil atau gambar-gambar dewa yang diletakkan pada dashboard kendaraannya. Apakah pemujaan melalui gambar atau arca itu, sebagai perwujudan berhala. Bagi umat Hindu yang idipuja atau disembah adalah Tuhan Yang Mahaesa, para dewa manifestasi-Nya dan juga para rsi atau leluhur. Arca-arca atau pratima dan berbagai benda sarana pemujaan itu hanya berfungsi sebagai media, sebagai sarana untuk lebih mendekatkan diri dengan Tuhan Yang Mahaesa, menifestasi-Nya atau siapa saja yang dipuja.

Hemat kami walaupun telah terjadi proses industrialisasi, essensi beragama akan tetap dilaksanakan. Pada usaha industri, Tuhan Yyang Mahaesa dalam wuju-Nya sebagai dewi Laksmi, dewi yyang memberikan kemakmuran dan kebahagiaan akan selalu dihadirkan oleh para pengusaha yang beriman.

Kembali kepada topik tulisan ini, kapada binatang saja umat manusia hendaknya mengembangkan cinta kasihnya apa lagi kepada sesama manusia, tentunya kasih sayang hendaknya lebih bersemi lagi. Semogalah.

sumber:http://www.parisada.org