Paduarsana

Berbagi Tentang Semua Hal

Pura Sakenan


Pura Sakenan terletak di Desa Adat Serangan Denpasar Selatan,tidak sulit untuk menemukan letak Pura Dalem ini jika kebetulan anda ingin ber-tirta yatra tidak ada salahnya untuk menyempatkan diri untuk tangkil ke Pura Dalem Sakenan. Petunjuk menuju Pura Sakenan: Jika dari arah Pantai Sanur ikuti saja Jalan By Pass Ngurah Rai menuju Benoa, sebelum perempatan Benoa sebelah kiri ada jalan masuk kearah timur. Dulunya tidak ada akses jalan menuju Pura Dalem Sakenan, umat Hindu dulunya melewati rimbunan hutan bakau dan menyebrangi air payau atau menggunakan jasa perahu motor(jukung)atau sampan. Kini akses jalan diatas permukaan air payau sudah dibuat untuk mempermudah umat Hindu melakukan persembahyangan. untuk bisa menjangkau lokasi  pura kini bisa dengan kendaraan bermotor, kita hanya membayar ongkos parkir yang dipungut oleh desa adat setempat. Biasanya wisatawan asing pun selalu terlihat berbaur dengan umat Hindu untuk menyaksikan dan mengabadikan jalannya upacara yang bertepatan dengan Hari Raya Kuningan.

Pura Dalem Sakenan dibangun oleh Mpu Kuturan atau Mpu Rajakretha, dalam lontar Usana Bali Mpu Kuturan membangun pura berdasarkan konsep yang dibawanya dari Majapahit, diterapkan di Bali seluruhnya. Sakenan berasal dan kata cakya yang berarti dapat langsung menyatukan pikiran. Pujawali atau piodalan di Pura Dalem Sakenan jatuh setiap 210 hari, pada Sabtu Kliwon, Wara Kuningan, bertepatan dengan Hari Raya Kuningan. Sedangkan keramaiannya diselenggarakan pada Minggu Umanis, wara Langkir. Biasanya Pujawali berlangsung(nyejer) selama 3 hari.

Panca Sradha


Sering orang beranggapan bahwa agama Hindu memuja banyak Dewa, anggapan ini tentu benar. Namun perlu dijelaskan bahwa dalam agama Hindu Dewa bukanlah Tuhan, tetapi Dewa adalah manifestasi dari Tuhan. Tuhan itu Maha Esa tiada duanya dalam bait kedua Tri Sandhya di sebutkan:

Om Nàràyana evedam sarvam
yad bhùtam yac ca bhavyam
niskalanko nirañjano nirvikalpo
niràkhyàtah suddo deva eko
Nàràyano na dvitìyo’sti kascit
Artinya: Ya Tuhan, Nàràyana adalah semua ini apa yang telah ada dan apa yang akan ada, bebas dari noda, bebas dari kotoran, bebas dari perubahan tak dapat digambarkan, sucilah dewa Nàràyana, Ia hanya satu tidak ada yang kedua.

Dalam salah satu ajaran filsafat Hindu, Adwaita Wedanta menegaskan bahwa hanya ada satu kekuatan dan menjadi sumber dari segala yang ada (Brahman), yang memanifestasikan diri-Nya kepada manusia dalam beragam bentuk. Dan pada bait ketiga ditegaskan:

Om tvam sivah tvam mahàdevah
ìsvarah paramesvarah
brahmà visnusca rudrasca
purusah parikìrtitah
Artinya:
Ya Tuhan, Engkau dipanggil Siwa, Mahàdewa, Iswara, Parameswara, Brahmà, Wisnu, Rudra, dan Purusa.

Dalam Agama Hindu ada lima keyakinan dan kepercayaan yang disebut dengan Panca Sradha. Panca Sradha merupakan keyakinan dasar umat Hindu. Kelima keyakinan tersebut, yakni:

  1. Widhi Tattwa – percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa dan segala aspeknya, Agama Hindu yang berlandaskan Dharma menekankan ajarannya kepada umatnya agar meyakini dan mengakui keberadaan Tuhan yang Maha Esa. Dalam filsafat Adwaita Wedanta dan dalam kitab Weda, Tuhan diyakini hanya satu namun orang bijaksana menyebutnya dengan berbagai nama. Dalam agama Hindu, Tuhan disebut Brahman. Filsafat tersebut tidak mengakui bahwa dewa-dewi merupakan Tuhan tersendiri atau makhluk yang menyaingi derajat Tuhan.
  2. Atma Tattwa – percaya dengan adanya jiwa dalam setiap makhluk, jiwa yang terdapat dalam makhluk hidup merupakan percikan yang berasal dari Tuhan dan disebut Atman. Jivatma bersifat abadi, namun karena terpengaruh oleh badan manusia yang bersifat maya, maka Jiwatma tidak mengetahui asalnya yang sesungguhnya.
  3. Karmaphala Tattwa – percaya dengan adanya hukum sebab-akibat dalam setiap perbuatan,setiap perbuatan manusia pasti membuahkan hasil, baik atau buruk. Ajaran Karmaphala sangat erat kaitannya dengan keyakinan tentang reinkarnasi, karena dalam ajaran Karmaphala, keadaan manusia (baik suka maupun duka) disebabkan karena hasil perbuatan manusia itu sendiri, baik yang ia lakukan pada saat ia menjalani hidup maupun apa yang ia lakukan pada saat ia menjalani kehidupan sebelumnya. Dalam ajaran tersebut, bisa dikatakan manusia menentukan nasib yang akan ia jalani sementara Tuhan yang menentukan kapan hasilnya diberikan (baik semasa hidup maupun setelah reinkarnasi).
  4. Punarbhava Tattwa – percaya dengan adanya proses kelahiran kembali (reinkarnasi),Apabila manusia tidak sempat menikmati hasil perbuatannya seumur hidup, maka mereka diberi kesempatan untuk menikmatinya pada kehidupan selanjutnya. Maka dari itu, munculah proses reinkarnasi yang bertujuan agar jiwa dapat menikmati hasil perbuatannya (baik atau buruk) yang belum sempat dinikmati. Proses reinkarnasi diakhiri apabila seseorang mencapai kesadaran tertinggi (moksa)
  5. Moksa Tattwa – percaya bahwa kebahagiaan tertinggi merupakan tujuan akhir manusia, Moksa merupakan suatu keadaan di mana jiwa merasa sangat tenang dan menikmati kebahagiaan yang sesungguhnya karena tidak terikat lagi oleh berbagai macam nafsu maupun benda material. Pada saat mencapai keadaan Moksa, jiwa terlepas dari siklus reinkarnasi sehingga jiwa tidak bisa lagi menikmati suka-duka di dunia. Oleh karena itu, Moksa menjadi tujuan akhir yang ingin dicapai oleh umat Hindu.

Beberapa orang beranggapan bahwa Tuhan agama Hindu itu banyak. Anggapan ini tentu tidak dapat biarkan menjadi kekeliruan penilaian tentang Hindu. Kerangka dasar Panca Sradha ini adalah jawabannya.

Toleransi dalam Agama Hindu


Toleransi dalam Agama Hindu memiliki arti yang utama,penerapannya dimanapun umat Hindu berada jarang terdengar adanya konflik dengan pemeluk agama lain. Tidak salah jika ada yang menyebutkan Hindu adalah agama yang memiliki ciri khas sebagai salah satu agama yang paling toleran, yang mana di dalam kitab suci Weda dalam salah satu baitnya menyatakan:

Ekam Sat Vipraaha Bahudhaa Vadanti
(**baca: Ekam Sat Wiprah Bahuda Wadanti)
Artinya:“Hanya ada satu kebenaran tetapi para orang pandai menyebut-Nya dengan banyak nama.” |  Reg Weda (Buku I, Gita CLXIV, Bait 46) ini seolah menegaskan bahwa kebenaran itu hanyalah milik Sang Hyang Widhi, dimana Beliau mempunyai banyak nama(sebutan) sesuai dengan manifestasi-Nya.

Dalam berbagai pustaka suci Hindu juga banyak terdapat sloka-sloka yang mencerminkan toleransi dan sikap yang adil oleh Sang Hyang Widhi. Umat Hindu menghormati kebenaran dari mana pun datangnya dan menganggap bahwa hakikat semua agama bertujuan sama, yaitu menuju Tuhan, namun dengan berbagai sudut pandang dan cara pelaksanaan yang berbeda. Hal itu diuraikan dalam kitab suci mereka sebagai berikut:
samo ‘haṁ sarva-bhūteṣu na me dveṣyo ‘sti na priyah
ye bhajanti tu māṁ bhaktyā mayi te teṣu cāpy aham  | (Bhagawadgita, IX:29)
Artinya:
Aku tidak pernah iri dan selalu bersikap adil terhadap semua makhluk.
Bagi-Ku tidak ada yang paling Ku-benci dan tidak ada yang paling Aku kasihi.
Tetapi yang berbakti kepada-Ku, dia berada pada-Ku dan Aku bersamanya pula

Ye yathā mām prapadyante tāms tathaiva bhajāmy aham,
mama vartmānuvartante manusyāh pārtha sarvaśah  | (Bhagawadgita, 4:11)
Artinya:
Jalan mana pun yang ditempuh seseorang kepada-Ku,
Aku memberinya anugerah setimpal. Semua orang mencari-Ku
dengan berbagai jalan, wahai putera Partha (Arjuna)
Yo yo yām yām tanum bhaktah śraddhayārcitum icchati,
tasya tasyācalām śraddhām tām eva vidadhāmy aham | (Bhagawadgita, 7:21)
Artinya:
Kepercayaan apapun yang ingin dipeluk seseorang,
Aku perlakukan mereka sama dan
Ku-berikan berkah yang setimpal supaya ia lebih mantap

Banyak hal yang mencerminkan bahwa Hindu memiliki toleransi yang tinggi dengan agama lain. Landasannya adalah bahwasanya semua makhluk adalah sama dimata Tuhan dan itu ditegaskan didalam Weda.