Paduarsana

Berbagi Tentang Semua Hal

Category Archives: Hindu

Mencari Nafkah Dijalan Dharma


Agama Hindu mengajarkan kepada penganutnya untuk selalu berpegang teguh pada Dharma dalam mencari nafkah. Tidak satupun sloka dalam kitab Weda membenarkan cara-cara buruk untuk mendapatkan nafkah/ sumber kehidupan. Cara mendapatkan sumber kehidupan bagi umat Hindu diatur dalam Manawa Dharmasastra,  Buku ke-4 “Atha Caturtho ‘Dhyayah” antara lain pada sloka 3 berbunyi:

YATRAM ATRA PRASIDDHYARTHAM, SWAIH KARMABHIRAGARHITAIH, AKLESENA SARIRASYA KURWITA, DHANASAMCAYAM

artinya: Untuk tujuan mendapat nafkah guna menunjang kehidupan, seseorang hendaknya mengumpulkan penghasilannya dengan menjalankan usaha yang tidak tercela sesuai dengan swakarma-nya tanpa membuat dirinya terlalu payah tidak menentu.

Pada sloka 15 lebih dirinci lagi sebagai berikut:

NEHETARTHAN PRASANGGENA, NA WIRUDDHENA KARMANA, NA WIDYAMANESWATHESU, NARTYAMAPI YATASTATAH

artinya: Dalam keadaan apapun janganlah mencari kekayaan dengan jalan adharma, tidak pula melakukan usaha-usaha terlarang dan tidak menerima pemberian dari sembarang orang.

Dan Sloka 16:

INDRIYARTHESU SARWESU, NA PRASAJ KAMATAH, ATIPRASAKTIM CAITESAM MANASA, SAMNIWARTAYET

artinya: Jangan hendaknya karena keinginan akan kesenangan mengikatkan diri pada hal-hal pemuasan nafsu semata dan dengan hati-hati menghindarkan diri dari keterikatan yang berlebihan, dengan menyadari bahwa cara-cara itu tak bernilai sama sekali.

Akhirnya, pada sloka 18 ditulis:

WAYASAH KARMANO RTHASYA, SRUTASYABHIJANASYA CA, WESAWAG BUDDHI SARUPYAM ACARAN WICAREDIHA

artinya: Hendaknya manusia hidup di dunia ini dengan penyesuaian-penyesuaian meliputi: pakaian, tingkah laku, kata-kata, pikiran, dengan kedudukan, kekayaan, pelajaran suci, dan kebangsaannya.

Keempat sloka dari Manawa Dharmasastra buku ke-4 tersebut di atas dapat dikaji sebagai batasan “dharma” dalam mencari nafkah, sekaligus merupakan pedoman kehidupan menuju “Moksartham jagaditaya ca iti dharmah” atau kebahagiaan lahir bathin di dunia dan nirwana.

Intinya adalah mengingatkan umat manusia, bahwa dalam upaya mencari nafkah janganlah melakukan pekerjaan-pekerjaan yang dilarang norma-norma Agama, Hukum, dan Susila, serta jenis pekerjaan yang dapat menodai nama Bangsa dan Negara.

Di samping itu, jenis pekerjaan yang terlalu menguras tenaga dan membahayakan kesehatan, juga tidak disarankan. Penghasilan yang diperoleh secara tidak wajar, termasuk penerimaan suap, pembagian hasil korupsi, pendapatan terlalu tinggi yang tidak sesuai dengan jabatan atau profesi juga termasuk dilarang untuk diterima, karena akan menyebabkan keterikatan pada hal-hal yang bersifat adharma yang lambat laun dapat menuntun kepada perbuatan-perbuatan dosa yang lebih berat.

Dalam hidup kekinian, sangat sulit mengukur nilai “wajar” dari suatu jenis pekerjaan dan pendapatan yang diperoleh. Mungkin dengan mengadakan perbandingan-perbandingan, suatu kewajaran dapat dimengerti. Misalnya jenis pekerjaan yang oleh nilai budaya tidak wajar dilakukan oleh seorang wanita, menjadi sopir taksi yang bekerja sampai pagi. Atau seorang eksekutif yang menyuruh bawahannya bekerja di luar bidang tugasnya, apalagi untuk kepentingan pribadi atau kelompok sang pemimpin.

Pendapatan yang tidak wajar, misalnya menerima hadiah baik berupa uang ataupun benda lainnya yang terlampau besar, tidak sesuai dengan prestasi kerjanya. Pemberian-pemberian hadiah yang tidak wajar seperti ini biasanya merupakan trik pimpinan untuk mengajak bawahannya melanggar hukum, atau menjaga agar rahasia kecurangannya tidak terbongkar.

Seperti yang disebutkan dalam Manawa Dharmasastra IV-16 di atas, pemberian sesuatu dari seseorang yang tidak wajar (besarnya) merupakan “ikatan” yang harus dihindari. Kalimat ini hendaknya lebih dihayati sebagai suatu bentuk jebakan atau perangkap dengan umpan menggiurkan, namun akan berakibat si penerima mendapat kesulitan di kemudian hari.

Pesan mulia yang terdapat pada Manawa Dharmasastra IV-18 mengingatkan kita, umat manusia agar hidup di dunia ini seimbang dan harmonis dengan kemampuan yang dibentuk oleh kualitas Sumber Daya Manusia masing-masing, dan tidak menghayalkan sesuatu yang berlebihan atau memaksakan diri mencapai target yang tidak mampu dicapai.

Filsafat Hindu yang lain, dikenal dengan “Catur Purusha Artha” juga mengajak kita untuk menyadari bahwa Moksha hanya akan dapat dicapai melalui Dharma, Artha, dan Kama.

Lebih tegas lagi diuraikan dalam Kitab Suci Sarasamusccaya 263:

APAN IKANG ARTHA, YAN DHARMA LWIRNING KARJANANYA, YA IKA LABHA NGARANYA, PARAMARTHA NING AMANGGIH SUKHA SANG MWAKEN IKA, KUNENG YAN ADHARMA LWIRNING KARJANANYA, KASMALA IKA, SININGGAHAN DE SANG SAJJANA, MATANGNYAN HAYWA ANASAR SANGKENG DHARMA, YAN TANGARJANA

artinya: Sebab uang itu, jika dharma landasan memperolehnya, laba atau untung namanya; sungguh-sungguh mengalami kesenangan orang yang beroleh uang itu; akan tetapi jika uang itu diperoleh dengan jalan adharma, merupakan noda uang itu, dihindari oleh orang yang berbudi utama ; oleh karena itu janganlah bertindak menyalahi dharma, jika anda berusaha mencari nafkah.

Selanjutnya sloka 266 menegaskan lagi: “Hana yartha ulihning pariklesa ulihning anyaya kuneng, athawa kasembahaning satru kuneng, hetunya ikang artha mangkana kramanya, tan kenginakena ika” artinya: Adalah uang yang diperoleh dengan jalan jahat, uang yang diperoleh dengan jalan melanggar hukum, ataupun uang persembahan musuh; uang yang demikian halnya jangan hendaknya diingin-inginkan.

Dalam sloka ini ada kalimat “uang persembahan musuh” di mana pengertian “musuh” ditafsirkan sebagai pihak yang ingin mencelakakan kita misalnya dengan cara-cara suap, atau melibatkan kita dalam perbuatan korupsi baik yang nyata maupun yang terselubung.

Akhirnya sloka 270 perlu dihayati dengan seksama:

IKANG WWANG TAN PANIDDHAKEN DHARMA, ARTHA, KAMA, MOKSA, HEMANA HANAHANA APARTHAKA HURIPNYA, NGARANIKAN MANGKANA, UMINGU SARIRANYA PANGANENING MRTYU IKA

artinya: Orang yang tidak berhasil melakukan Dharma, Artha, Kama, dan Moksa, sayang benar ia ada, tetapi tiada berguna hidupnya; orang demikian dinamai orang yang hanya mementingkan memelihara badan wadahnya saja, yang kemudian dicaplok maut.

Maksudnya, jangan mensia-siakan hidup di dunia, karena tujuan hidup manusia menurut filsafat Weda adalah untuk mensucikan roh, sehingga di suatu saat nanti diharapkan terhindar dari samsara atau penjelmaan kembali berulang-ulang. Cita-cita Moksha adalah bersatunya roh dengan Brahman atau Yang Maha Esa.

Dari: stitidharma.org

Bagaimana Mengingat Tuhan


Mungkin Judul diatas agak aneh, dan kurang tepat. Silahkan berikan judul sendiri setelah membaca isinya. Isinya mengenai tips atau cara agar kita pikiran selalu kepada Tuhan. Ini bukan sembarang tips karena tips ini dari sloka yang ada dalam kitab Bhagawad-gita. Semoga bermanfaat.

  • “Pusatkan pikiranmu hanya pada-Ku, biarlah kesadaranmu ada pada-Ku, setelah itu engkau akan hidup di dalam-Ku, dan ini tak perlu disangsikan lagi.” (Bhagawad-gita.XII.8)

Hal tersebut sangat sulit dilaksanakan, biasa dilakukan oleh para sanyasin.

  • “Apabila engkau tak mampu memusatkan pikiranmu dengan mantap pada-Ku, maka usahakanlah mencapai-Ku dengan jalan yoga kebiasaan.” (Bhagawad-gita.XII.9)

Bila kondisi spiritual ini tak dapat muncul secara spontan, seperti yang biasa dilakukan oleh para sanyasin, kita harus melakukan konsentrasi, sehingga secara berangsur-angsur kita dapat memantapkan diri kita dalam mengarahkan jiwa kita kepada Tuhan. Dengan pelaksanaan ini, sifat-sifat Ketuhanan perlahan-lahan akan mengambil sifat kita.

  • “Bila engkau tak sanggup melakukan yoga kebiasaan, lakukanlah kerja demi Aku, kendatipun dengan melakukan kegiatan kerja, jika itu dilakukan demi Aku, engkau akan mencapai kesempurnaan.” (Bhagawad-gita.XII.10)

Bila konsentrasi sulit dilakukan karena kecenderungan-kecenderungan dari pikiran yang mengarah keluar atau situasinya tidak memungkinkan, maka lakukanlah segala kegiatan kerja yang semua dipersembahkan demi Tuhan semata. Dengan demikian sang pribadi akan sadar terhadap realitas abadi.

  • “Apabila ini juga tak dapat engkau lakukan, carilah perlindungan dalam yoga kepada-Ku, tanggalkan semua pahala karma itu, lakukan dengan berpegang teguh dalam mengendalikan diri.” (Bhagawad-gita.XII.11)

Inti ajaran pada sloka 11 adalah mengharapkan agar seseorang dalam mencari kebahagiaan, tujuan hidup tertinggi, hendaknya tidak berbuat hanya untuk mengejar keuntungan (pahala) melainkan prinsip kerja itu adalah berdasarkan atas sikap mental yang tidak menggantungkan kerja itu pada tujuan mendapat keuntungan pribadi melainkan pada kebahagiaan bersama.
Jika pekerjaan atau belajar kita sepenuhnya dirangkaikan dengan pengabdian kepada Tuhan, maka secara alami kita akan mengingat-Nya sambil belajar atau bekerja. Tapi jika pekerjaan diwarnai oleh motif kepuasan rasa, maka secara alami akan sulit bagi kita untuk mengingat Tuhan saat kita terlibat dalam suatu kegiatan. Oleh karena itu rahasia sukses rohani dalam kondisi ini adalah memberikan semua keinginan untuk kepuasan materi rasa dan mempersembahkan semua kegiatan kegiatan kita sepenuhnya dalam pelayanan kepada Tuhan. Dengan cara ini kita akan secara alami mudah mengingat Tuhan sepanjang waktu. Dan pada saatnya, kita akan senantiasa mengingat-Nya tanpa harus dikondisikan terlebih dahulu.

Apa Itu Karma Phala


Karma Phala atau karma pala adalah konsep dasar dalam ajaran-ajaran agama dharma. Berakar dari dua kata yaitu karma dan phala. karma berarti perbuatan/aksi, dan phala berarti buah/hasil. Karma phala artinya buah dari perbuatan yang telah dilakukan atau yang akan dilakukan.
Karma phala memberi optimisme kepada setiap manusia, bahkan semua makhluk hidup. Dalam ajaran ini, semua perbuatan akan mendatangkan hasil bagi yang berbuat. Apapun yang kita lakukan/perbuat, maka seperti itulah hasil yang kita terima. yang menerima adalah yang berbuat bukan orang lain. Karma Phala adalah sebuah hukum universal bahsa setiap perbuatan akan mendatangkan hasil. Dalam konsep Hindu, berbuat itu terdiri atas: perbuatan melalui pikiran, perbuatan melalui perkataan dan perbuatan melalui tingkah laku, Ketiganya dikenal dengan Tri Kaya Parisudha. Ketiga perbuatan inilah yang akan mendatangkan hasil bagi yang berbuat. Kalau perbuatan baik hasilnya pasti baik, dan demikian pula sebaliknya.

Hasil kerja atau perbuatan berwujud secara nyata dan tidak nyata. Wujud yang nyata (skala) adalah hal keduniawian sedangkan wujud yang tidak nyata (niskala) adalah ketentraman bathin. Ditinjau dari waktu saat bekerja/berbuat (karma) dengan waktu menerima hasil (phala), maka karma phala dibedakan menjadi tiga, yaitu:

  1. Sancita Karma Phala(Phala/hasil yang diterima pada kehidupan sekarang atas perbuatan dikehidupan sebelumnya.
  2. Prarabdha Karma Phala(Karma atau perbuatan yang dilakukan saat ini dan hasil/phalanya akan diterima pada kehidupna saat ini pula.
  3. Kryamana Karma Phala(Karma/perbuatan yang dilakukan pada kehidupan saat ini namun hasilnya akan dinikmati pada kehidupan yang akan datang)

Ajaran Karma phala sangan erat kaitannya dengan keyakikan dasar agama Hindu, Reinkarnasi/punarbhawa, karena dalam ajaran karma phala, keadaan manusia baik suka maupun duka disebabkan karena hasil perbuatan manusia itu sendiri, baik yang ia lakukan pada saat ini mapunu apa yang ia lakukan pada kehidupan sebelumnya. Dalam ajaran karma phala ini bisa dikatakan manusia menentukan nasibnya sendiri sementara Tuhan yang akan menentukan kapan hasil dari karma/perbuatannya diberikan.