Paduarsana

Berbagi Tentang Semua Hal

Category Archives: Bali

Menyembah atau Menghormati Pohon?


Banyak orang yang menilai bahwa kita, umat Hindu menyembah pohon(tumbuhan), penilaian atau lebih tepatnya tuduhan ini sangat tidak tepat. Dan biasanya ini dikarenakan ketidaktahuan dari mereka.

Avir vai nama devata,
rtena-aste parivrta,
tasya rupena-ime vrksah,
harita haritasrajah.
(Atharvaveda X.8.31).

Artinya: Warna hijau pada daun tumbuh-tumbuhan karena mengandung klorofil di dalamnya. Zat khlorofil itu menyelamatkan hidup. Hal itu ditetapkan oleh Rta yang ada dalam tumbuh-tumbuhan. Karena adanya zat itu tumbuh-tumbuhan menjadi amat berguna sebagai bahan makanan dan obat-obatan.

Ada tiga makhluk hidup penghuni bumi ini yaitu stavira (tumbuh-tumbuhan), janggama (hewan) dan manusia yaitu makhluk hidup yang memiliki “manu”. Manu berasal dari kata “man” artinya manah atau pikiran.

Tiga makhluk hidup penghuni bumi ini menurut Bhagawad Gita III.10 akan bisa hidup seimbang berdasarkan yadnya. Tumbuhan-tumbuhan dan hewan beryadnya pada manusia dan sebaliknya manusia pun harus beryadnya kepada tumbuhan dan hewan. Manusia memiliki idep yaitu akal budhi, maka manusialah yang seyogianya paling cerdas melakukan hidup untuk saling beryadnya pada stavira dan janggama.

Agama Hindu telah memberikan petunjuk pada manusia agar melakukan bhuta yadnya. Agastia Parwa menyatakan sebagai berikut: ‘’Bhuta yadnya ngarania taur muang kapujan ring tuwuh.’’ Maksudnya: Butha Yadnya bermakna mengembalikan kemurnian unsur-unsur alam dengan cara menghormati tumbuh-tumbuhan.

Mengapa tumbuhan tumbuhan demikian dihormati dalam ajaran Agama Hindu? Sebab, tumbuh-tumbuhan demikian besar peran dan fungsinya dalam kehidupan makhluk lainnya terutama manusia. Hal itu dinyatakan dalam kutipan Atharvaveda X.8.31 di atas. Manusia dan hewan tidak bisa hidup tanpa tumbuh-tumbuhan, karena tumbuh-tumbuhan berfungsi sebagai bahan makanan dan juga bahan obat-obatan. Apalagi tanaman hutan memiliki fungsi yang amat kompleks bagi kehidupan makhluk hidup terutama manusia. Dari tanaman hutan itulah akan berhembus oksigen yang tidak boleh absen dalam diri manusia. Kalau oksigen absen dalam tubuh manusia, maka manusia akan mati. Demikian juga zat klorofil yang dikandung oleh hijaunya daun dari tumbuh-tumbuhan itu amat berguna bagi kehidupan manusia. Mengapa demikian besar kegunaan khlorofil dari tumbuh-tumbuhan itu sudah ditetapkan oleh Rta yaitu hukum alam yang diciptakan Tuhan. Atharvaveda XVIII.I.17 menyatakan bahwa tumbuh-tumbuhan atau Osadha dinyatakan sebagai salah satu dari Tri Chanda yaitu tiga lapisan yang melindungi bumi dan yang paling utama dari bumi ini. Karena tanpa tiga lapisan yang melindungi bumi ini semua makhluk tidak akan bisa hidup. Tri Chanda yang lainnya adalah Apah dan vaataa yaitu air dan udara. Merusak eksistensi Tri Chanda adalah merupakan kejahatan yang terbesar di bumi ini. Dalam Sarasamuscaya 135 dinyatakan untuk mensukseskan empat tujuan hidup manusia maka terlebih dahulu yang wajib disejahterakan adalah alam lingkungan. Mensejahtrakan alam lingkungan sebagai hal yang pertama harus diperhatikan. Menurut Sarasamuscaya 135 itu dinyatakan dengan istilah Bhuta Hita. Bhuta artinya lima unsur yang membentuk alam, hita artinya sejahtera. Bhuta Hita artinya kewajiban untuk mensejahtrakan alam sebagai langkah awal mendapatkan kesejahteraan hidup. Menyangkut tumbuh-tumbuhan ruang hidupnya semakin didesak oleh pertumbuhan penduduk. Dahulu tumbuhan bisa lestari karena jumlah penduduk masih sedikit dan keinginannya pun masih sedikit. Dewasa ini penduduk semakin banyak keinginannya pun semakin banyak. Hal inilah yang menyebabkan tumbuh- tumbuhanpun semakin terdesak.

Tumbuh-tumbuhan yang dimanjakan oleh manusia adalah tumbuhan yang dirasakan memberi manfaat langsung secara kasat mata. Tumbuhan seperti tanaman hutan yang memberikan oksigen dan kesejukan sering kurang dimanjakan. Tumbuhan bahan makanan seperti sayuran dan buah-buahan dimanjakan tetapi ada beberapa jenis yang dirusak sebagai bahan makanan. Disemprot dengan pembasmi hama dan ada yang diberi lem perekat agar hemat dengan pembasmi hama. Dengan demikian akan lebih menguntungkan secara ekonomi bagi sementara petani dan pedagang sayur dan buah. Tetapi akan merugikan konsumen, karena konsumen harus makan sayur dan buah yang mengandung zat kimia berbahaya. Inilah sebagai akibat ketidakseimbangan penerapan ilmu eksakta dengan ilmu humaniora dan spiritual. Kok sampai hati demi keuntungan ekonomi meracuni sesama umat manusia dan tidak merasa berdosa. Ini bukan kesalahan tumbuh-tumbuhan dan ilmu eksakta. Tetapi semata-mata kesalahan manusia yang tidak menguatkan rasa kemanusiaanya dengan nilai spiritual agama yang dianutnya sehingga sampai hati demi keuntungan sendiri merugikan masyarakat luas.

Kerena demikian luasnya kegunaan tumbuh-tumbuhan seyogianya semua umat manusia sebagai apapun dia wajib melindungi tumbuh-tumbuhan apapun jenisnya demi kelangsungan kehidupan yang sehat dan bahagia di bumi ini.

Dalam pustaka Panca Wati dinyatakan adanya tiga zonasi sebagai areal mengembangkan tumbuhan yang disebut stavira itu. Tiga zonasi itu disebut Tri Vana yaitu Maha Vana, Tapa Vana dan Sri Vana. Maha Vana sebagai zona mengeksistensikan secara baik, benar dan tepat tanaman hutan. Tanpa hutan bumi ini akan menjadi gurun pasir. Tapa Vana areal untuk mengembangkan tanaman yang indah bentuk, baik batang, daun, bunga dan buahnya. Dalam areal Tapa Vana inilah idealnya dibangiun tempat pemujaan, pasraman, diorama kerokhanian, dharma sala dan bangunan lainya yang memperkuat penanaman nilai-nilai spiritual pada umat. Sri Vana adalah areal pemukiman yang wajib dieksistensikan tanaman produksi untuk memenuhi konsumsi masyarakat dan juga keteduhan serta kesejukan pada mereka yang bermukim di Sri Vana. Sayangnya di Sri Vana semakin tidak seimbang antara bangunan gedung dengan tanaman yang berfungsi sebagai taman indah di pemukiman.

Umat Hindu di Bali selalu melakukan rasa syukur atas besarnya manfaat tanaman(pohon) bagi kehidupan baik sebagai sumber makanan maupun oksigen. Dengan Tumpek Wariga yang selalu diperingati setiap 210 hari diharapkan umat Hindu selalu ingat untuk selalu menjaga kelestarian tananam untuk kelangsungan hidup.

Artikel terkait:

  1. Upacara, Etika dan Filosofi Tumpek Wariga
  2. Menyembah atau Menghormati Pohon?

Upacara, Etika dan Filosofi Tumpek Wariga


Image by: courtesy facebook | Ilustrasi adat dan budaya

Avir vai nama devata,
rtena-aste parivrta,
tasya rupena-ime vrksah,
harita haritasrajah.
(Atharvaveda X.8.31).

Artinya: Warna hijau pada daun tumbuh-tumbuhan karena mengandung klorofil di dalamnya. Zat khlorofil itu menyelamatkan hidup. Hal itu ditetapkan oleh Rta yang ada dalam tumbuh-tumbuhan. Karena adanya zat itu tumbuh-tumbuhan menjadi amat berguna sebagai bahan makanan dan obat-obatan.

Hari ini, Sabtu Kliwon Wuku Wariga(04/08) merupakan hari Tumpek Wariga/Tumpek Pengatag/Tumpek Bubuh yang selalu dirayakan selama peradaban Umat Hindu di Bali. Ini merupakan ungkapan rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa atas anugerah berupa berbagai tumbuh-tumbuhan yang menghasilkan berbagai jenis makanan baik untuk manusia maupun makhluk lainnya.

Dipandang dari aspek upacara, hari raya yang diperingati umat Hindu setiap 210 hari sekali ini sebagai bentuk pemujaan pada Sanghyang Sangkara sebagai dewa yang berstana atau memberikan kehidupan pada seluruh tanaman/tumbuh-tumbuhan.

Dari Sisi Etika, umat Hindu pada hari ini tidak diperbolehkan menebang pohon. Umat pun pada Tumpek Wariga tidak mau memetik buah, bunga, dan daun. Justru mereka diharapkan menanam pohon. Artinya, secara etika, umat Hindu ingin menyerasikan dirinya dengan alam, baik melalui upacara maupun tindakan nyata.

Makna filosofis Tumpek Wariga sebagai bentuk pemujaan kepada Sangyang Sangkara yang merupakan manifestasi dari Tuhan sesungguhnya bermakna bagaimana memelihara alam melalui tumbuh-tumbuhan sehingga kebutuhan oksigen dari seluruh makhluk hidup bisa terpenuhi.

Tumbuh-tumbuhan yang dinikmati oleh umat manusia memiliki arti yang sangat penting bagi kelangsungan hidup. Karena itu, harus ada timbal balik yang harus diberikan terhadap tumbuh-tumbuhan itu. Bentuknya, bisa saja dalam wujud upacara atau ritual sebagaimana yang dilakukan pada saat hari Tumpek Bubuh/Tumpek Wariga/Tumpek Pengatag ini.

Upacara Sad Kertih


Umat Hindu Bali sajebag Bali katah madué kapatutan ring widang agama sané mesti kalaksanayang sajeroning kahuripan maagama, inggih punika upacara sané patut kalaksanayang ring soang-soang kulewarga miwah sajeroning makrama ring Désa pakraman. Upacara punika wénten sané kamargiang sawilang rahina, sawilang wuku, ngabulan, nganem bulan, ngawarsa, ngalimang warsa, ngadasa warsa, ngasatus warsa miwah wénten taler upacara sané pinih lami kalaksanayang ngasiu warsa apisan. Upacara punika samian kalaksanayang ninutin rerahinan sané kanggehang becik madasar saptawara, pancawara, wuku, odalan sané munggah sajeroning prasasti ring pura-pura miwah lontar.

Upacara sané kalaksanayang olih umat Hindu punika silih sinunggilnyané wénten upacara sané kawastanin upacara Sad Kertih. upacara Sad Kertih wantah upacara sané lumrah kalaksanayang ring Bali. Sad Kertih manut daging lontar mawit saking kruna sad miwah kruna kertih, kruna sad madué teges nenem miwah kruna kertih mateges suci, suksmannyané nenem kesucian sané mesti kamargiang olih krama ring jagaté sajeroning ngastitiang mangda jagaté miwah sadagingnyané tetep imbang.

Sad Kertih utawi nenem kasucian sané kabaos punika minakadi sané kapertama kabaos upacara Atma Kertih wantah utsaha saking jatmané nyuciang Sang Hyang Atma (jiwa). Salanturnyané upacara Samudra Kertih inggih punika upacara sané kamargiang sajeroning nyuciang segara, yéning ring jagat sekala pinaka pralambang yoni tetujonyané ngemit mangda kahanané prasida tetep lestari lan ajeg. Upacara Danu Kertih inggih punika utsaha saking i manusa nglestaring genah klebutan toya minakadi Klebutan, Tukad, Danu miwah sané siosan. Salanturnyané, upacara Wana Kertih wantah utsaha nglestariang kahanan alas (hutan) sané wénten ring sajebag jagaté.

Siosan punika wénten taler upacara sané mawasta Jagat Kertih suksmanyané wantah utsaha ngemit paiketan becik pantaraning parahyangan inggih punika paiketan i manusa sareng Ida Sang Hyang Widhi, pawongan utawi paiketan becik i manusa sareng manusa miwah palemahan inggih punika paiketan sané becik pantaraning i manusa sareng wewidangan. Raris upacara Yana Kertih inggih punika upacara sané matetujon nyuciang déwek mangda nénten ngamangguhin gegodan prasida kalaksanayang majalaran malukat.

Upacara-upacara punika kalaksanayang antuk upacara sané matios-tiosan, pamekas upacara sané katurang majeng jagaté nganggén sarana sané ageng, sakadi upacara Samudra Kertih, Danu Kertih miwah Wana Kertih wantah upacara-upacara sané mautama sané katurang majeng jagaté. Upacara wana kertih lumrahnyané kalaksanayang ring gunung majalaran mulang pakelem sakadi kalaksanayang ring pucak Gunung Agung miwah Gunung Batur. Punika taler Tawur Agung Labuh Gentuh,mendak toya, pakelem (Danu Kertih) lan Samudra Kertih kalaksanayang majalaran melasti miwah mapakelem sané kapulang ring tengahing Danu utawi Segara minakadi ring Danu Batur lan Danu Beratan, yéning ring Segara ring Bali lumrahnyané kalaksanayang ring Segara Rupek miwah genah sané lianan nganggén sarana wewalungan sané sampun kasuciang.