Paduarsana

Berbagi Tentang Semua Hal

Monthly Archives: May 2013

Tentang Saput Poleng


Saput Poleng identik dengan Bali, lembaran kain kotak-kotak hitam-putih ini biasanya dipakai oleh pecalang(keamanan adat)di Bali. Saput Poleng juga sering digunakan saput(baca: Selimut) untuk pelinggih, padmasana atau pohon besar. Selain itu saput poleng juga sering digunakan oleh penari kecak, drama gong dan tokoh-dalam pewayangan. Dewasa ini beberapa restoran dan hotel bahkan menggunakan kain poleng untuk menghiasi interior bangunannya dari sebagai alas meja sampai wallpaper pada bagian tertentu bangunannya.

Saput poleng berupa selembar kain bercorak kotak-kotak dengan warna putih dan hitam seperti papan catur. Menurut tradisi di Bali ada tiga jenis Saput Poleng yaitu saput poleng Rwa Bhineda, Sudhamala dan Tri Datu. Saput Poleng Rwabhineda berwarna putih dan hitam. Warna terang dan gelap sebagai cermin baik dan buruk. Saput Poleng Sudhamala berwarna putih, hitam dan abu-abu. Warna Abu-Abu sebagai peralihan hitam dan putih, atau perpaduan keduanya(Hitam-Putih). Artinya menyelaraskan yang baik dan buruk. Saput Poleng Tridatu berwarna putih, hitam dan merah. Merah simbol rajas (keenergikan), hitam adalah tamas (kemalasan), dan putih simbol satwam (kebijaksanaan, kebaikan).

Saput Poleng sebagai simból masyarakat Hindu di Bali digunakan oleh para pecalang (perangkat keamanan), patung penjaga pintu gerbang, dililitkan pada kulkul/kentongan, dikenakan oleh balian/pengobat tradisional, dihiaskan pada tokoh-tokoh itihasa (Merdah, Tualen, Hanoman, dan Bima), dikenakan oleh dalang wayang kulit ketika melaksanakan pangruwatan/penyucian, dililitkan pada pohon-pohon tertentu, atau dililitkan pada tempat suci yang diyakini berfungsi sebagai penjaga. Pada intinya Saput Poleng digunakan sebagai simbol penjagaan.

Bentuk saput poleng beraneka ragam. Misalnya dari segi warna, ukurannya, hiasannya, hiasan tepinya, bahan kainnya, dan ukuran kotak-kotaknya.
Kain Poleng / Saput Poleng sudah digunakan sejak dahulu. Diperkirakan, kain poleng yang pertama ada dan digunakan umat Hindu adalah kain poleng rwa bhineda. Setelah itu barulah muncul kain poleng sudhamala dan tri datu. Berdasarkan perkiraan, perkembangan warna ini juga mencerminkan tingkat pemikiran manusia, yakni dari tingkat sederhana menuju perkembangan yang lebih sempurna.

Jika dikaitkan dengan Dewa Tri Murti, warna merah melambangkan Dewa Brahma sebagai pencipta, warna hitam lambang Dewa Wisnu sebagai pemelihara dan warna putih melambangkan Dewa Siwa sebagai pelebur. Dewa Tri Murti ini terkait dengan kehidupan lahir, hidup dan mati.

Kain Poleng dalam budaya Bali merupakan pencetusan ekspresi penghayatan konsep Rwa Bhineda, suatu konsep keseimbangan antara baik dan buruk, yang menjadi intisari ajaran tantrik (tantrayana).
Dengan menjaga kesimbangan antara kebaikan dan keburukan dapat menciptakan kedamaian dan kesejahteraan dalam kehidupan.

Diolah: Dari berbagai sumber

Sanggah Cucuk dan Tawur Agung Kesanga


Sanggah Cucuk tidak dapat dipisahkan dengan Upacara Agama Hindu, Sanggah cucuk berasal dari kata sanggah yang berarti penyanggah/menopang, dan cucuk yang berarti pemucuk. Jadi dapat diartikan sanggah cucuk ini adalah pertemuan antara penyangga dan pemucuk, maka dari itu sanggah cucuk berbentuk segi tiga. Selain itu fungsi sanggah cucuk adalah sebagai upasaksi dari pelaksanaan ritual bhuta yadnya khususnya pecaruan.

cucuk

Image by: Warung Bu Siki

Dalam kaitannya dengan tawur agung kesanga, sanggah cucuk ini dipakai sebagai salah satu sarana upasaksi yang pasang disamping lebuh atau sebelah pintu/kori masuk rumah. Sedikit pengetahuan tentang tawur agung kesanga, dapat dijelaskan bahwa tawur berasal dari kata nawur atau membayar utang. Lalu kepada siapa kita membayar utang? Kepada para bhuta kala yang mana utang kepada bhuta kala dalam Tri Rna termasuk dalam utang kepada Dewa Rna. Dari utang kepada bhuta inilah perlu dilaksanakannya bhuta yadnya yang tujuannya adalah agar energi-energi negatif dari para bhuta kala tidak mengganggu umat manusia di dunia ini. Selain itu juga fungsi tawur ini agar para bhuta kala disucikan agar bisa menyatu dengan sang hyang tunggal, maka dari itu pada mantram ngalukat bhuta disebutkan :

“Om lukat sira sang bhuta dengen masurupan sang kalika, lukat sang kalika masurupan ring bhatari durga, lukat bhatari durga masurupan ring bhatari uma, lukat bhatari uma masurupan ring bhatara guru, lukat bhatara guru masurupan ring sang hyang tunggal, lukat sang hyang tunggal masurupan ring sang hyang sangkaning paran, apan sang hyang sangkaning paran rat kabeh siddha mawali paripurna. Om siddhir astu tat astu ya namah swaha”

Dikatakan tawur agung kesanga karena dilaksanakan serentak di seluruh daerah dan juga pada tilem kesanga/tilem caitra adalah tilem yang paling gelap sehingga merupakan hari yang paling baik untuk melaksanakan bhuta yadnya.

Bagaimana pelaksanaan Upacara Tawur Agung Kesanga?

Untuk pelaksanaan upacara tawur agung kesanga di tingkat rumah dibagi menjadi tiga bagian sebagai haturan kepada Tri Mala Paksa, yaitu Bhuta Buchari, Kala Bhucari, dan Durgha Bhucari. Berikut penjelasannya :

  • Di halaman Merajan Kamulan dihaturkan segehan agung cacahan 11 tanding atau yang lebih sederhana satu segehan berwarna 5 (arah timur putih, merah selatan, kuning barat, hitam utara, tengah warna brumbun) tetabuhan arak & brem ditujukan kepada Sang Bhuta Bhucari, mantramnya : “Ih Bhuta Bhucari, manusan nira angaturaken segehan, iki tadah saji sira segehan cacahan 11 tanding, madaging beras, jinah paketenganpinaka pamogpog maka kirang nira aja nyengkalen waduan sira among maka jiwa pramana waduan sira. Wus amangan anginum lah ta sira pamantukan ring karang nguni soang-soang”
  • Di pekarangan rumah dihaturkan segehan manca warna 9 tanding berisikan daging ayam brumbun (ayam dengan bulu warna-warni), atau yang lebih sederhana 1 segehan berwarna 4 (arah timur putih, merah selatan, kuning barat, hitam utara), tetabuhan arak & brem, toya anyar ditujukan kepada Sang Kala Bhucari, mantramnya : “Ih kala Bhucari, manusan nira angaturaken segehan, iki tadah saji sira segehan manca warna 9 tanding, madaging beras, jinah paketenganpinaka pamogpog maka kirang nira, aja nyengkalen waduan sira among maka jiwa pramana waduan sira. Wus amangan anginum lah ta sira pamantuka ring karang nguni soang-soang”
  • Di lebuh rumah atau pamedal karang dipasang sanggah cucuk di sebelah kanan. Pada sanggah cucuk tersebut diletakkan peras daksina, ajuman, banten pedanan, tumpeng ketan, panyeneng dan rerasmen. Pada sanggah cucuk tersebut digantungkan juga sujang (batang bambu kecil 2 biji masing-masing diisi arak & brem) Haturan di sanggah cucuk tersebut ditujukan kepada Sang Durgha Bhucari.
  • Di sor (bawah) sanggah cucuk diletakkan segehan manca warna 9 tanding, berisi daging ayam brumbun, tetabuhan arak & brem ditujukan kepada Sang Kala Raja & Sang Bhuta Raja. Selain itu juga dihaturkan segehan cacah 108 (satus kutus) berisi jeroan mentah, segehan agung 1 tanding ditujukan kepada Sang Kala Bala & Sang Bhuta Bala. Atau lebih sederhana dihaturkan 1 segehan warna 9 sesuai dengan warga pangider dewata nawa sanga. Keempat Bhuta Kala yang dihaturkan segehan di bawah ini merupakan pengikut dari Bhatari Durgha. Mantramnya : “Ih kala Bhucari, manusan nira angaturaken segehan, iki tadah saji sira segehan, madaging beras, jinah paketengan pinaka pamogpog maka kirang nira, aja nyengkalen waduan sira among maka jiwa pramana waduan sira. Wus amangan anginum lah ta sira pamantuka ring karang nguni soang-soang”

Dalam melaksanakan tawur di atas, hendaknya nunas tirtha caru dan tirtha kahyangan tiga di masing-masing desa pakraman. Selain itu juga pelaksanaan tawur agung kesanga di tingkat rumah tangga, sebaiknya disesuaikan dengan kondisi desa pekraman/lingkungan sekitar.

Pesan terakhir, maknailah setiap upacara yang kita lakukan karena dengan begitu setiap yadnya demi yadnya kita lakukan akan mengubah tata cara kita berpikir, perkataan, dan perbuatan kita mengarah ke arah yang lebih baik. Disebutkan dalam Manava Dharma Sastra III.97

Nacyanti nawyah kawyani naranama wijanatam, bhasmi bhutesu wipresu mohad dattani datrbhih

Arti Bebas : Persembahan yang dilakukan tanpa diketahui maknanya adalah sia-sia, sama dengan mempersembahkan kebodohannya dan persembahan itu tak ada bedanya dengan segenggam abu.

Om loka samstha sukinoh bhavantu
Om shanti shanti shanti om

Sumber : Pinandita Pasek Ketut Adi Wibardi

Artikel lainnya:

  1. Hari Raya Nyepi
  2. Upacara Melasti
  3. Banten Hari Raya Nyepi

Membatasi Keinginan


Manusia tidak dapat menyadari kenyataan bahwa ia memiliki kemampuan timbang-menimbang yang membedakannya dari hewan. Bila manusia secara fisik berwujud manusia, tetapi tidak memiliki sifat-sifat kemanusiaan. Dari waktu ke waktu ia hanya mengejar harta yang berupa uang, kekuasaan, kedudukan, kesenangan, dan kenikmatan jasmani. Ia mengira bahwa uang dan kekayaan adalah segala-galanya. Akan tetapi, uang dan kekayaan juga merupakan pangkal penyebab kehancuran. Kita menyadari bahwa sejumlah uang diperlukan untuk kebutuhan hidup, tetapi manusia harus dapat menempuh kehidupan yang bermakna dengan jumlah uang yang secukupnya.

Apakah makna membatasi keinginan? Manusia diperdaya oleh keinginannya yang tak terbatas. Ia hidup dalam alam mimpi dan angan-angan yang tidak karuan. Oleh karenanya, sangat penting menjaga keinginan-keinginan agar selalu terkendali. Daripada menghabur-hamburkan uang hanya untuk kepentingan diri sendiri, sebaiknya uang dikeluarkan untuk membantu orang-orang yang tidak mampu. Inilah makna membatasi keinginan yang sebenarnya. Telah dikatakan beraneka keinginan yang dimiliki oleh manusia akan membawa malapetaka. Keinginan merupakan penjara. Manusia dapat dibebaskan dari penjara tersebut hanya dengan membatasi keinginan-keinginannya. Bagaimana kita dapat mengurangi keinginan-keinginan?Mungkin beberapa cara ini dapat dilakukan.

Pertama, membatasi diri dalam masalah makan. Makanlah hanya yang perlu dimakan. Jangan mengambil lebih dari yang dapat kita makan dan jangan sampai membuang makanan.Kelebihan makanan yang kita miliki dapat disumbangkan kepada orang-orang yang kekurangan makanan. Para leluhur mengatakan bahwa makanan adalah Tuhan, hidup adalah Tuhan, dan manusia lahir dan dibesarkan dari makanan. Makanan merupakan sumber utama hidup, tubuh, pikiran, dan watak manusia. Pikiran merupakan cerminan makanan yang dimakan oleh seseorang. Penyebab kecenderungan jahat dalam pikiran manusia adalah jenis makanan yang dimakannya.Kualitas makanan yang dimakan harus murni, bersih, suci, dan sattvik.

Kedua, membatasi diri dengan uang. Kita mengetahui dan menganggap uang dan kekayaan sebagai Dewi Lakhsmi. Oleh karenanya jangan sekali-kali menyalahgunakan uang. Kalau kita tidak bisa membatasi diri, kita hanya akan menjadi budak sifat-sifat buruk, memiliki gagasan buruk, dan akan melakukan kebiasaan-kebiasaan buruk.

Ketiga, memanfaatkan waktu. Waktu harus digunakan dengan sebaik-baiknya. Waktu harus disucikan karena segala sesuatu dalam ciptaan ini tergantung pada waktu. Waktu adalah pengejawantahan Tuhan. Penyebab utama kelahiran dan kematian manusia adalah waktu.Waktu adalah faktor utama dalam pertumbuhan manusia. Apabila kita membuang-buang waktu, sama artinya kita menyia-nyiakan hidup sendiri.Waktu merupakan bagian hidup manusia yang sangat penting.Jangan merendahkan waktu dalam percakapan yang tidak perlu (gossip, fitnah).

Keempat, membatasi diri dalam hal energi. Jangan membuang-buang energi fisik, mental, dan spiritual. Bentuknya seperti; melihat hal-hal yang buruk, mendengarkan hal-hal yang buruk, berbicara yang buruk, memikirkan gagasan yang buruk, dan melakukan perbuatan yang buruk, semuanya itu hanya membuang-buang energi. Perhatikan syair di bawah ini.

Jangan melihat yang buruk, lihatlah hal yang baik
Jangan mendengarkan yang buruk, dengarkan hal yang baik
Jangan bicara yang buruk,bicarakan hal yang baik
Jangan memikirkan yang buruk, pikirkan hal yang baik
Jangan melakukan yang buruk, lakukan hal yang baik
Inilah jalan menuju Tuhan.

Jalan menuju Tuhan adalah tidak melihat, mendengar, berbicara, berpikir, atau melakukan apa pun yang buruk. Jika manusia tidak mengikuti jalan ini, itu artinya ia membuang-buang tenaganya. Karena membuang-buang tenaganya, manusia kehilangan daya ingat, kecerdasan, kemampuan timbang-menimbang, dan rasa keadilan.

Jadi, bagaimana ia dapat menempuh jalan yang benar? Misalnya, bila kita menyetel radio untuk mendengarkan program tertentu, entah suaranya dikeraskan atau dikecilkan, selama radio menyala, aliran listrik tetap terpakai. Pikiran kita sama seperti radio itu.Entah kita berbicara dengan orang lain atau hanya berpikir dalam hati, kita tetap menghabiskan energi.

Pikiran bekerja sepanjang waktu. Karena selalu bekerja, kita banyak menghabiskan energi. Daripada menghabiskan kekuatan, energi, atau tenaga dalam pemborosan mental lebih baik waktu digunakan untuk memikirkan gagasan-gagasan yang baik. Program pembatasan keinginan telah diajukan agar manusia tidak menyia-nyiakan apa saja dalam hal makan, uang, waktu, atau tenaga. Jangan membuang waktu dan menundanya, mari kita awali dan lakukan.

Sumber: Majalah Raditya | Anak Agung Gede Raka