Paduarsana

Berbagi Tentang Semua Hal

Monthly Archives: January 2013

Siwa Ratri, Malam Renungan Dosa


Rahina Siwaratri jatuh sehari sebelum Tilem sasih kapitu atau yang sering disebut Prawaning Tilem kapitu oleh masyarakat Hindu di Bali. Pelaksanaan Hari Siwaratri intinya lebih fokus kedalam diri sehingga lebih ditekankan pada pelaksanaan brata dan tapa.

Puasa Hindu
Image by: PHDI

Secara rinci Kegiatan- kegiatan yang dilaksanakan pada hari Siwaratri adalah sebagai berikut:

  1. Sebelum melaksanakan seluruh kegiatan, maka terlebih dahulu dilaksanakan persembahyangan yang diperkirakan selesai tepat pada jam 06.00 dinihari
  2. Selanjutnya tepat pada jam 06.00 dimulai kegiatan Monabrata (tidak berbicara), Upawasa (tidak makan dan minum) dan Mejagra (tidak tidur).
  3. Monabrata dilaksanakan 12 jam, Upawasa 24 jam, Mejagra selama 36 jam.

Dalam Agama Hindu selalu ada tingkatan Nista, Madya dan Utama yang bisa dipilih sesuai kemampuan, begitu pula tingkatan brata dalam melaksanakan Siwaratri. Ada tiga jenis brata Siwaratri, Upayasa (puasa) yaitu brata tidak makan dan minum, Monabrata yaitu puasa tidak berbicara dan Jagra yaitu tidak tidur. Dalam tingkatan nista Upayasa dilaksanakan selama 12 jam yaitu mulai jam 6 sore sampai jam 6 pagi keesokan harinya. Tingkat Madya dilaksanakan selama 24 jam yaitu dari pagi hingga pagi keesokan harinya, dan tingkat Utama dilaksanakan selama 36 jam yaitu dari pagi hingga sore keesokan harinya. Begitupun tingkatan bratanya, tingkat nista hanya jagra, tingkat madya upayasa dan jagra, dan utama melaksanakan ketiganya. Mengawali hari raya Siwaratri sebaiknya dimulai dengan melukat dan bersembahyang di pagi harinya, lalu jalankan brata sesuai kemampuan dan malamnya lakukan perenungan akan hakikat dan jati diri kita sebagai manusia.

Malam Siwaratri merupakan momen introspeksi diri, guna menyadari perbuatan-perbuatan dosa atau kekeliruan selama ini. Teks-teks atau Purana yang menjadi landasan perayaan Siwaratri cukup beragam seperti Padma Purana, Siwa Purana, Siwaratrikalpa dan sebagainya. Lewat kekawin Siwaratrikalpa karya Mpu Tanakung, umat tampaknya lebih

mudah memaknai esensi Siwaratri.

Siwaratri pada hakikatnya kegiatan Namasmaranâm pada Siwa. Namasmaranâm artinya selalu mengingat dan memuja nama Tuhan yang jika dihubungankan dengan Siwa Ratri adalah nama Siwa. Nama Siwa memiliki kekuatan untuk  melenyapkan segala kegelapan batin. Jika kegelapan itu mendapat sinar dari Hyang Siwa, maka lahirlah kesadaran budhi yang sangat dibutuhkan setiap saat dalam hidup ini. Dengan demikian, upacara Siwa Ratri sesungguhnya tidak harus dilakukan setiap tahun, melainkan bisa dilaksanakan setiap bulan sekali, yaitu tiap menjelang tilem atau bulan mati. Sedangkan menjelang tilem kepitu (tilem yang paling gelap) dilangsungkan upacara yang disebut Maha Siwa Ratri.

Untuk dapat mencapai kesadaran, kita bisa menyucikan diri dengan melakukan sanca. Dalam Lontar Wraspati Tattwa disebutkan, Sanca ngaranya netya majapa maradina sarira. Sanca itu artinya melakukan japa dan membersihkan tubuh. Sedang kitab Sarasamuscaya menyebutkan, Dhyana ngaranya ikang Siwasmarana, artinya, dhyana namanya (bila) selalu mengingat Hyang Siwa.

Di antara berbagai brata, mengunjungi tempat suci, memberi dana punya yang mahal seperti batu mulia (emas dan permata), melakukan berbagai jenis upacara Yajña, berbagai jenis tapa dan melakukan berbagai kegiatan Japa atau mantra untuk memuja keagungan-Nya,semuanya itu tidak ada yang melebih keutamaan brata Sivaratri.

Sejalan dengan pernyataan di atas, kakawin Sivaratri Kalpa menyatakan keutamaan Brata Sivaratri seperti diwedarkan oleh Sang Hyang Siva sebagai berikut:

”Setelah seseorang mampu melaksanakan Brata sebagai yang telah Aku ajarkan, kalahlah pahala dari semua upacara Yajña, melakukan tapa dan dana punya demikian pula menyucikan diri ke tempat-tempat suci, pada awal penjelmaan, walaupun seribu bahkan sejuta kali menikmati Pataka (pahala dosa dan papa), tetapi dengan pahala Brata Sivaratri ini, semua Pataka itu lenyap”.

”Walaupun benar-benar sangat jahat, melakukan perbuatan kotor, menyakiti kebaikan hati orang lain, membunuh pandita (orang suci) juga membunuh orang yang tidak bersalah, congkak dan tidak hormat kepada guru, membunuh bayi dalam kandungan+ seluruh kepapaan itu akan lenyap dengan melakukan Brata Sivaratri yang utama, demikianlah keutamaan dan ketinggian Brata (Sivaratri) yang Aku sabdakan ini” (Sivaratri kalpa, 37, 7-8)*

Sumber Sastra itihasa Dalam Itihasa, Sivaratri terdapat dalam Mahabharata, yaitu pada Santi Parva, dalam episode ketika Bhisma sedang berbaring di atas anak-anak panahnya Arjuna, menunggu kematian, sambil membahas dharma, mengacu kepada perayaan Maha Sivaratri oleh raja Citrabhanu, raja Jambudvipa dari dinasti Iksvaku. Raja Citrabhanu bersama istrinya melakukan upavasa pada hari Maha Sivaratri. Rsi Astavakra bertanya:

“Wahai sang raja, mengapa kalian berdua melakukan upavasa pada hari ini? Sang raja dianugerahi ingatan akan punarbhawa sebelumnya, lalu ia menjelaskan kepada sang rsi.

“Dalam kehidupanku terdahulu aku adalah seorang pemburu di Varanasi yang bernama Susvara. Kebiasaanku adalah membunuh dan menjual burung-burung dan binatang lainnya. Suatu hari aku berburu ke hutan, aku menangkap seekor kijang, namun hari keburu gelap. Aku tidak bisa pulang, kijang itu kuikat di sebatang pohon. Lalu aku naik sebatang pohon bilva. Karena aku lapar dan haus, aku tidak dapat tidur. Aku teringat anak istriku yang malang di rumah, menungguku pulang dengan rasa lapar dan gelisah. Untuk melewatkan malam aku memetik daun bilva dan menjatuhkannya ke tanah.” Kisah selanjutnya mirip dengan kisah Lubdaka di Indonesia.

Purana

Sivaratri juga dimuat dalam purana-purana, yang umumnya berisi kisah-kisah pemburu yang sadar, seperti berikut:

Pertama, Siva Purana (bagian Jnanasamhita). Pada bagian ini memuat percakapan antara Suta dengan para rsi, menguraikan pentingnya upacara Sivaratri. Seseorang bernama Rurudruha seperti telah disinggung di atas.

Kedua, Skanda Purana (bagian Kedarakanda). Pada bagian Kedarakanda antara lain memuat percakapan antara Lomasa dengan para rsi. Lomasa menceritakan kepada para rsi tentang si Canda yang jahat, pembunuh segala mahluk, sampai membunuh brahmana, akhirnya dapat mengerti dan menghayati apa yang disebut ”kebenaran” Dalam Skanda Purana juga diceritakan kisah seorang pemburu yang identik dengan kisah pemburu dalam Santi Parva.

Ketiga, Garuda Purana (bagian Acarakanda). Bagian ini memuat uraian singkat tentang Sivaratri diceritakan bahwa Parvati bertanya tentang brata yang terpenting. Siva menguraikan tentang pelaksanaan vrata Sivaratri. Seorang raja bernama Sudarasenaka pergi berburu ke hutan bersama seekor anjing. Rangkaian kisah inipun tidak berbeda dengan kisah pemburu di atas.

Keempat, Padma Purana (bagian Uttarakanda). Bagian ini memuat percakapan raja Dilipa denganWasista. Wasista menceritakan bahwa Sivaratri adalah vrata yang sangat utama, antara bulan Magha dan Palghuna. Dalam Padma Purana, pemburu itu bernama Nisadha. Berkat vrata Sivaratri yang dilakukannya berhasil membawanya ke Siva loka.

**Dari berbagai sumber.

Catatan: 

Begitu mudahkah untuk menebus dosa? termasuk dosa besar? tentu tidak. Setiap sumber bacaan termasuk lontar, purana dll hendaknya kita tafsirkan agar sesuai dengan filosifi hukum karma. Disekitar kita sering kita mendengar kasus pembunuhan, kasus pemerkosaan, perampokan, konflik horisontal dll, disaat yang sama kita juga melihat/menyaksikan ritual agama di negara kita begitu semarak, semangat beribadah begitu tinggi. Kasus-kasus yang kita lihat menunjukkan bahwa negara kita telah mengalami krisis moral spiritual karena kurangnya kesadaran jati dirinya. Ritual agama hanya sebagai rutinitas tanpa meninggalkan jejak kesadaran yang hikiki.

Nitidharma dalam Mahabharata


Sakamadharma dan Niskamadharma berkorelasi dengan triwarga dan berakhir pada moksa yang merupakan capaian tertinggi bagi setiap insan manusia. Kemudian melahirkan siklus nilai relatif yang disebut catur purusartha yang terdiri dari: Dharma, artha, kama dan moksa. Yudhistira pernah menanyakan kedudukan dharma,artha dan kama sebagai penyangga kehidupan manusia sehari-hari. Bila triwarga itu demikian penting, maka diantara ketiganya yang mana yang lebih tinggi kedudukannya?? demikian Yudhistira kepada Vidura. Vidura menjawab bahwa belajar, meditasi(tapasya),kerendahan hati, kesederhanaan, keramahtamahan, kebenaran dan pengendalian diri merupakan elemen-elemen dharma tertinggi. Artha, menempati posisi lebih rendah dari Dharma. Sedangkan Kama lebih rendah kedudukannya dari keduanya.

Arjuna, Sang Mahartha menimpali bahwa artha memiliki nilai utama membantu realisasi kama. Perburuan kama direalisasikan dalam kehidupan melalui bekerja dengan tekun, seperti bertani, beternak, sehingga menghasilkan artha. Dengan artha seseorang dapat menikmati kesenangan di dunia ini, terutama dapat melaksanakan anjuran dharma, yaitu melaksanakan Yadnya.

Bhimasena, Sang Susastya angkat bicara, bahwa kama atau keinginan merupakan daya kekuatan penggerak dalam kehidupan religius, pengendalian diri, tapa, para seniman melakukan kreatifitas, para petani tekun bekerja, para pedagang tekun berdagang, Dharma dan artha tiada bernilai tanpa kehadiran Kama.

Nakula dan Sahadewa, Sang Aswin menyatakan bahwa dharma dan artha harus digerakkan secara bersamaan. Manusia wajib memegang teguh dharma dan menghasilkan artha tanpa melanggarnya. Keduannya menyublim bagaikan tirtha amrta bercampur dengan madu. Dharma dan artha ditangan seseorang merengkuh kenikmatana hidup dalam keadaan ekstase.

Terkahir Yudhistira menyatakan bahwa moksa merupakan nilai tertinggi yang harus diusahakan. Setiap insan manusia harus melaksanakan kewajibannya tanpa disertai motif pribadi. Dharma harus dilaksakan dengan kegigihan sikap sama terhadap penolakan dosa dan memegang teguh kebenaran, mencari kekayaan dan menyirnakan kemelaratan, memburu kenikmatan dan meniadakan penderitaan. Kegiatan tersebut disebut niskama dharma yang mampu memutus lingkaran kelahiran dan kematian, mengantarkan menuju tercapainya yang absolut(moksa, brahmaprapti).

Kakek Bhisma mengatakan bahwa moksa merupakan nilai tertinggi yang harus dicapai(parama purusartha). Baik penderitaan maupun kenikmatan sifatnya sementara, yang satu mengikuti yang lainnya dalam siklus kausal yang dikendalikan oleh keinginan(kama). Diantara keduanya, kama lebih disukai karena membebaskan manusia dari siklus kebahagiaan dan penderitaan. Dimana didalamnya terimplisit doktrin “kebahagiaan diperoleh dengan upaya pengendalian keinginan dan kebahagiaan diperoleh dengan meninggalkan keinginan”.

Ajaran yang terkandung dalam doktrin tersebut adalah, seseorang dapat mengikuti niskama dharma pada samnyasa (penolakan kenikmatan dunia) dan melaksanakan yoga. Atau seseorang dapat merengkuh niskama dharma pada seorang grhi(orang yang hidup berumah tangga) yang diterapkan oleh Vidura.

Yang tertinggi adalah dharma dalam artian menerapkan sakama dharma dan niskama dharma. Ajaran tersebut merupakan ajaran kepemimpinan dalam Hindu kepada Yudhistira agar menjadi penguasa ideal. Ajaran ini merupakan ajaran yang fundamental bahwa seorang raja diikat oleh dharma. Segala titahnya harus sesuai dengan landasan aturan hukum(dharma)seorang pemimpin harus mengusahakan:

  1. Kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat.
  2. mengamankan negara dari serangan musuh.
  3. menjaga rakyat agar senantiasa menjalankan kewajibannya.
  4. memutuskan dengan hati-hati kebijakan perang atau damai.
  5. mengusahakan bala tentara, polisi dan intelegen yang terlatih dan profesional.

Mahabharata juga mengajarkan bahwa seseorang pemimpin negara wajib melaksanakan ajaran triwarga yang dikendalikan oleh dharma, bukan oleh kama seperti yang dinyatakan oleh Bhimasena. Karena doktrin yang dipegang oleh Bhimasena ialah doktrin kepala keluarga yang ideal.

Mahaguru Bhisma kemudian menyarankan agar seorang pemimpin menghindari sifat-sifat sebagai berikut:

  1. mendapatkan kekayaan dengan kekejaman
  2. keberanian yang membual
  3. berderma kepada orang-orang rakus
  4. mempercayai orang berhati jahat
  5. pemenuhan nafsu seksual yang salah
  6. berpura-pura bersahabat dengan musuh yang kuat, kemudian pada saat yang sama secara rahasia mempersiapkan perang pada saat yang tepat terhadap musuh.

Kepada Yudhistira, Mahaguru Bhisma memberi nasehat nithidharma agar seorang raja:

  1. menolak kemarahan
  2. setia kepada kebenaran
  3. membagi artha dengan tepat
  4. rendah hati
  5. mempunyai anak dari istri sendiri
  6. menjaga kesucian pikiran dan tindakan
  7. tidak melakukan kekerasan
  8. senantiasa hidup sederhana
  9. memperhatikan orang yang lemah.

Nitidharma yang wajib dilaksanakan seorang pemimpin adalah melaksanakan kewajiban tanpa didorong oleh motif pribadi dan tidak mengikatkan diri pada hasil kerja. Bila niskama dharma dilakukan dengan tekun dan intens oleh pemimpin, akan mengantarkannya menuju moksa atau menjandikannya brhamaprapti, Nitidharma sebuah ajaran yang wajib bagi pemimpin, menjaga diri untuk menghindari sifat-sifat terlarang, seperti nasehat Bhisma kepada Yudhistira Sang Dharmaraja. Dan pemimpin menurut kepemimpinan Hindu adalah Dharmaraja.

**dari berbagai sumber

artikel terkait:

  1. Spirit Kepemimpinan dari serat mahabharata
  2. Kepemimpinan dalam Hindu

Spirit Kepemimpinan Dari Serat Mahabharata


Adakah diantara kita tidak mengenal Mahabharata? Epos Mahabharata salah satu itihasa yang disebut sebagai Weda kelima mengisahkan perebutan “kekuasaan” diantara keluarga Bharata jaman Bharata Warsa. Maha Rsi Vyasa, mengubah kisah turanan kuru itu menjadi karya sastra yang indah. Sarat dengan inti filsafat kehidupan, sarat nilai-nilai adiluhung yang tak lekang oleh jaman. Untaian mutiara nilai itu telah merasuki setiap relung kehidupan masyarakat. Bahkan mengilhami dan memperkaya imajinasi serta kreatifitas bangsa dalam membangun kebudayaannya. Betapapun arus perubahan melanda, menggoyahkan sendi-sendi eksistensi budaya bangsa, dimana-mana terjadi krisis mental kepemimpinan, degradasi nilai moral spiritual, serat Mahabharata tetap memberi inspirasi dalam semua aktifitas catur warnam sudra, waisya, ksatria dan brahmana.

Adakah serat Mahabharata untuk para pemimpin?Di antara keresahan berbagai kalangan tentang merosotnya nilai-nilai kepemimpinan dewasa ini, penting kiranya kita membuka kembali membuka lembaran epos mahabharata untuk memperkokoh keyakinan yang mendalam terhadap ajaran Dharma, terutama bagi para pemimpin sebagai “nithi” dalam menjalankan Dharma sebagai kewajiban dan hukum kodrati yang sangat diperlukan dalam menata kehidupan masyarakat. Ajaran utama mahabharata, menyarankan setiap manusia terlibat dalam simbiosis kerja tiada henti dengan Dharma sebagai pijakan. Dalam kondisi itu bila Dharma diingkari, maka akan tergelincir ke jurang kenistaan.

“yatnarthat karmano nyatra

loko ‘yam karmabandhanah

tadartham karma kaunteya

muktasangah samacara”

Artinya: kecuali untuk tujuan berbakti, dunia ini dibelenggu oleh hukum kerja, karenanya bekerjalah demi bakti tanpa kepentingan pribadi, oh Kuntiputra (Bhagawad-gita, sloka III.9)

Pengabdian dan yajnyartha harus dilaksanakan dengan semangat pengabdian, berbakti kepada Tuhan Yang Maha Esa. Walaupun dunia ini(dan manusia termasuk didalamnya)dibelenggu oleh hukum kerja, namun bila kerja itu dilaksanakan dengan tulus ikhlas demi bakti dan pengabdian, bukan untuk kepentingan diri sendiri, maka belenggu itu tidak lagi mempunyai kekuatan mengekang.

Nitidharmasastra

Niti berarti “kemudi,pimpinan, etika sosial politik, pertimbangan, kebijakan” cara menjalankan sesuatu yang benar, ilmu tata negara atau politik, kebijaksanaan duniawi Mahabharata memberi dua pengertian inti hakikat Dharma.

Pertama, Dharma merupakan perangkat untuk mendapatkan dhana, yaitu sesuatu yang bernilai, baik berwujud materi maupun aspek spiritual.

Kedua, Berarti memelihara dan melindungi dari bahaya dan memberi kebaikan.

Makna terdalam dari inti hakikat Dharma ialah hukum eksistensi jati diri manusia maupun non-manusia. Inti hakikat tersebut selaras dengan makna rta seperti terkandung dalam Rg Veda.

Maka Dharma menjadi alat untuk kesejahteraan material dan kebaikan spiritual, sehingga dharma digunakan sebagai jalan, landasan kerja yang mengarahkan tercapainya artha dan kama. Jika digunakan sebagai jalan, maka disebut sakamadharma, yaitu ketaatan terhadap dharma yang memunculkan keinginan mendapatkan artha dan kama. Sebagai landasan kerja yang dianjurkan, dharma disebut niskamadharma, yaitu kerja tanpa keinginan untuk kepentingan napsu atau ego. Sakamadharma merupakan wujud yang memberikan, sedangkan yang melaksanakannya disebut Punia. Dengan demikian, niskamadharma merupakan nitidharma yang dianjurkan dan patut diterapkan oleh pemimpin yang kemudian akan diikuti oleh masyarakat yang dipimpinnya.