Advertisements

Paduarsana

Berbagi tentang: Hindu, Bali dan Budayanya.

Pengertian Amatiraga


Amatiraga adalah salah satu dari sekian banyak proses dalam upacara mediksa. Amatiraga sering juga sebut “panyekeban”, mengandung makna mematikan nafsu duniawi atau sadripu pada diri calon diksa yaitu dengan cara “anyekung sarira”. Dimana calon diksa akan berlaku sebagai orang meninggal yang kemudian secara simbolis akan lahir kembali untuk kedua kalinya dari kaki nabenya sebagai seorang dwijati.

Di dalam pustaka Krama Madiksa perihal amatiraga ini disebutkan bahwa, setelah selesai mapinton, mohon diri kehadapan nabe, segeralah datang ke tempat tidur. Melaksanakan yoga dan samadhi melebur diri namanya. Caranya seperti orang mati, dengan pakaian, ditutupi bersama istrinda, diam tidak bergerak sedikitpun, memegang pikiran yang jernih dan suci, hilangkan perasaan keduniawian, rapatkan/pusatkan tenaga, perkataan dan pikiran dengan gembira dan tenang. Beserta memberi keempat saudara anda yang ikut anda lahir dahulu, yang bernama Sang Anggapati, Mrajapati, Banaspati, Banaspatiraja, dan ajaklah mereka menyucikan diri madwijati, berikanlah hidangannya masing-masing yang telah tersedia pada tempat tidur yaitu tumpeng putih, kuning, merah, hitam, sama-sama satu danan berisi daging ayam panggang sama warnanya dengan warna tumpengnya, pras, penyeneng, sodan, suci sebuah, daksina besar serba 4, segehan berwarna empat, tetabuhan nira, arak berem dan air.

Mencermati kutipan pustaka diatas, maka dapat disimpulkan bahwa amatiraga adalah salah satu proses madiksa yang teramat penting dan prinsipil. Karena dengan upacara amatiraga ini, sang calon diksan akan berubah jatidiri yaitu dari berstatus ekajadi menjadi madwijati. Proses ini berlanjut dengan dilakukannya pergantian nama(amari aran), pergantian atribut(amari wesa), dan pergantian aktivitas(amari wisaya). Setelah tahap tersebut sempurnalah sosok yang madwijati ini dengan kedudukannya sebagai sang sulinggih. Beliau mulai mengawali kehidupan barunya sebagai Sang Angelokapalasraya, tidak saja memimpin upacara yadnya tetapi sekaligus memberikan tuntunan atau sasuluh kepada umat Hindu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: