Paduarsana

Berbagi Tentang Semua Hal

Tag Archives: upacara

Pedoman Membangun Padmasana


Dewasa ini banyak sekali bermunculan variasi bangunan Padmasana baik bentuk, tata letak maupun hiasan yang digunakan. atas dasar tersebut diatas diadakanlah seminar dengan salah satu topik “Standarisasi Bentuk Padmasana” .

Tattwa Padmasana bersumber pada kitab-kitab Weda (Sruti dan Smrti) serta kitab-kitab yang memuat ajaran Siwa Sidanta, secara khusus dimuat dalam Lontar Anda Bhuwana, Padma Bhuwana dan Adi Parwa. Pada prinsipnya Padmasana adalah pengejawantahan bhuwana agung(alam raya)sebagai stana Sang Hyang Widhi. Bhuwana Agung disimbolkan dengan Bedawang Nala(Kurma Agni) yang dililit naga yang menyangga lingga. Adi Parwa menceritakan pencarian amerta dengan memutarkan Mandara Giri(Gunung Mandara didalam Ksirarnawa(lautan susu). Dalam pemutaran Mandara Bedawang Nala menyangganya, Naga Besuki melilit, dan para Dewa dan raksasa memutarnya. Akhirnya Wisnu yang mengendarai Garuda menguasai amerta tersebut.

Padmasana berfungsi sebagai stananya Hyang Widhi, umat Hindu dalam usaha mendekatkan diri dan memujaNya. Secara umum bentuk bangunan Padmasana terdiri dari 3(tiga) bagian:

  • Tepas(dasar), Dasar Padmasana didukung oleh Bedawang Nala yang dibelit oleh Naga. Jumlah Naga bisa 1 sebagai simbol Hyang Wasuki atau 2 sebagai simbol Hyang Wasuki dan Anantabhoga.
  • Batur(badan), Pada badan Padmasana terdapat pepalihan(tingkat yang berjumlah ganjil 5,7 dan 9 dan hiasan Garuda serta Angsa diatasnya juga terdapat area Astadikpalaka yang letaknya sesuai dengan penginder-ider.
  • Sari(puncak), Berbentuk singgasana yang terdiri dari ulon, tabing dan badan dara. Pada Ulon dapat diisi pahatan berwujud Hyang Acintya. Bagian atas dari tabing sebaiknya tidak ada bentuk-bentuk hiasan karena sudah menggambarkan alam swah.

Tata Letak Padmasana.

Prinsip dasar letak Padmasana sebagai bangunan pemujaan Sang Hyang Widhi hendaknya pada tempat yang paling utama dalam pekarangan. Faktor – faktor penentu tempat yang paling utama dalam sebuah pekarangan yaitu:

  1. Arah atas, sesuai dengan nilai-nilai tri loka.
  2. Arah Timur, sesuai dengan arah perputaran bumi/terbitnya matahari.
  3. Arah “kaja” sesuai dengan letak gunung/pegunungan.

Pilihan tata letak Padmasana; secara mendatar(Kaja, Kaja kangin dan Timur). Secara vertikal; atas.

Urutan upacara dalam pembangunan Padmasana sebagai berikut;

Nasarin(Peletakan Batu Pertama);

  1. Ngeruak sesuai dengan keputusan pesamuan agung tahun 1987.
  2. Penggalian pondasi(lubang untuk dasar/pondasi)
  3. Penyucian lubang pondasi bisa sampai tingkatan mebumi sudha.
  4. Persembahyangan dengan puja pengantar Ananta bhoga stawa dan pertiwi stawa. Bunga dan kewangen yang telah dipakai diletakkan pada lubang sebagian dasar.
  5. Peletakan dasar(pondasi) dengan material sesuai dengan keputusan Pesamuan Agung Tahun 1988.

Melaspas.

Upacara melaspas wajib dilakukan setelah pembangunan Padmasana selesai, upacara melaspas berupa pedagingan, orti, dan sesaji sesuai dengan lontar Dewa Tattwa, Wariga, Catur Winasa Sari dan Kesuma Dewa.

Sumber: Seminar Kesatuan Tafsir Terhadap Aspek-aspek Agama Hindu

Upacara Magedong-gedongan


Setiap keluarga berharap yang terbaik bagi janin beserta ibu yang mengandungnya. Janin dalam kandungan diharapkan terlahir menjadi anak yang suputra dan ibu yang mengandung juga diberikan keselamatan selama proses kehamilan. Di Bali ada upacara yang dilakukan untuk janin dan ibu yang sedang mengandungnya, Upacara magedong-gedongan.

Upacara pagedong-gedongan ini dilaksanakan selambat-lambatnya pada saat kandungan berumur 7 bulan, upacara ini dilaksanakan bertujuan untuk menyucikan janin dalam kandungan, agar nantinya terlahir anak yang Suputra. Upacara Pagedong-gedongan ini dilaksanakan setiap terjadinya suatu kehamilan pada si Ibu.

Menurut Tutur Kanda Pat Rare mengatakan dalam proses kehamilan karena “Kama Jaya” (Sperma dari Ayah) bertemu dengan “Kama Ratih” (Ovum dari Ibu) terjadilah pembuahan. Semakin besar terwujudlah jabang bayi. Upacara megedong-gedongan adalah Upacara yang ditujukan kepada bayi yang masih berada didalam Kandungan dan merupakan upacara pertama dilaksanakan pada saat bayi berumur 7 bulan Bali (± 8 bulan kalender), karena wujud bayi sudah dianggap sempurna. Namun dalam pelaksanaanya secara massal bisa disesuaikan untuk umur kandungan antara 3 – 8 bulan.

Pelaksanaan Upacara Magedong-gedongan berfungsi sebagai penyucian terhadap bayi. Disisi lain juga berarti agar kedudukan bayi dalam kandungan agar baik kuat tidak abortus. Secara bathiniah agar Sang Bayi kuat mulai setelah lahir menjadi orang yang berbudi luhur, berguna bagi keluarga dan masyarakat. Demikian juga dimohonkan keselamatan atas diri si Ibu agar sehat, selamat waktu melahirkan.

Upacara megedong-gedongan ini dilaksanakan dengan maksud “pembersihan”, pemeliharaan atas keselamatan si ibu dan anaknya disertai pula dengan pengharapan agar anak yang lahir kelak menjadi orang berguna di masyarakat dan dapat memenuhi harapan orang tuanya”. Magedong-gedongan berasal dan kata “gedong” yang berarti gua garba. Gua artinya pintu yang dalam atau pintu yang ada di dalam, garba artinya perut. Jadi, gua garba artinya pintu yang dalam atau pintu yang ada di dalam, garba artinya perut. Jadi, gua garba artinya pintu yang dalam, berada pada perut si ibu. Dalam hal ini yang dimaksud kehidupan pertama itu adalah si bayi. Untuk keselamatan bayi dalam perut ibu inilah dilakukan upacara magedong-gedongan.

Menurut Lontar Kuna Dresthi, upacara ini dilakukan setelah kehamilan berumur diatas lima bulan (enam bulan kalender). Kehamilan yang berumur di bawah lima bulan dianggap jasmani si bayi belum sempurna dan tidak boleh diberi upacara yang dilakukan sebelum usia tersebut, maka upacara itu dianggap tidak benar karena janin belum lengkap yang dapat dikatakan sebagai manusia. Tujuan pokok upacara tersebut adalah agar ibu dan bayi yang dikandung dalam keadaan bersih, terpelihara, dan memperoleh keselamatan, serta selain itu, sebagai ungkapan terima kasih karena janin telah dapat tumbuh sempurna dan melampaui masa krisis. Di samping itu, tujuan upacara ini adalah agar anak yang akan lahir kelak menjadi orang yang berguna di masyarakat dan dapat memenuhi harapan orang tuanya.

Dibawah ini adalah banten yang digunakan dalam upacara megedong-gedongan. Selain Ayaban, minimal tumpeng 7 atau peras pengambyan, bantennya juga diikuti oleh beberapa sesayut antaralain :
1. Sesayut tulus dadi yg bermakna doa agar kehamilan ini berhasil/jadi. Yaitu dg terlahirnya si bayi
2. Sesayut tulus hayu yg bermakna doa agar kehamilannya hingga kelahirannya selamat/ayu
3. Sesayut pemahayu tuwuh yg bermakna doa agar panjang umur dan sehat selalu baik ibu maupun si bayi
Dan sesayut-sesayut serta bantenlainnya seperti pagedong-gedongan matah, tetandingan nasi wong-wongan, dll.
Jadi, upacara ini tak sekedar melestarikan budaya namun yg terpenting adalah makna yg terkandung didalamnya.

Semoga Ida Sang Hyang Widhi senantiasa melindungi wanita-wanita yg sedang mengandung agar selamat dan sehat selalu. Dan semoga terlahir putra-putra suputra.

**artikel diolah dari berbagai sumber: terima kasih Jro Mangku Veni

Rerahinan,Upacara/Odalan di Bulan September 2012


  1. Tanggal 1 September, Saniscara Pon Dungulan (Pemaridan Guru): Menghaturkan ketipat kelanan ke hadapan Ida Bhatara, mohon kerahayuan jagat dan ketabahan dalam menjalankan swadarma. Odalan di: Pura Dalem Gede Losari Klungkung, Pura Segara Jembrana.
  2. Tanggal 2 September, Redite Wage Kuningan (Ulihan): Kembali menghaturkan pura dan puji serta mohon waranugraha ke hadapan Ida Bhatara di masing-masing Parahyangan. Odalan di: Pura Tegaltamu Batubulan, Sukawati Gianyar, Pura Kebayan Umagunung Sempidi Badung.
  3. Tanggal 3 September, Soma Kliwon Kuningan(Pemacekan Agung): Menghaturkan bhakti puja kehadapan Ida Sanghyang Paramawisesa, serta sesaji untuk Sang Panca Maha Bhuta. Odalan di: Pura Pasar Bhuana Klungkung, Pura Kawitan Dalem Badung Tegehkori Agung Tonja di Denpasar, Pura Pasek Tohjiwa Sawah Selemadeg, Pura Catur Parahyangan Swastika Bhuana Lampung Tengah, Pura Pasek Gelgel Pelapuan Buleleng.
  4. Tanggal 8 September, Kajeng Kliwon Uwudan, Kuningan(Saniscara Kliwon Kuningan/Tumpek Kuningan): Melakukan pemujaan ke hadapana Ida Sang Hyang Widhi Wasa, saat ini Ida Bhatara-bhatari dan Pitara-Pitari akan berkenan kembali ke Sunia Loka, seyogyanya bhakti puja dihaturkan sebelum pukul 12:00 siang. Odalan di: Pura Ulun Kulkul Besakih, Pura Taman Pule Mas Gianyar, Pura Sada Kapal Mengwi, Pura Dalem Purnajati Tanjungpuri Tanjung Priyok Jakarta Utara, Pura Agung Blambangan Banyuwangi, Pura Bukit Jati Bangli, Pura Kerti Bhuana Waylunik Bandar Lampung, Pura Pucak Gede Luwus Tabanan, Pura Taman Pule Mas Gianyar, Pura Sakenan Serangan Denpasar, Pura Penataran Pande Kusamba Klungkung, Pura Dalem Sanding Tampak Siring, Pura Pakendungan Kediri Tabanan, Pura Ularan Takmung Klungkung, Pura Dalem Tegal Jaya Batubulan, Pura Jenengan Maspait Cemenggaon Sukawati, Pura Dalem Guwang Sukawati, Merajan Pasek Gaduh Gerokgak Gede Tabanan, Pura Dalem Agung Sri Nararya Kresna Kepakisan Gelgel Klungkung, Pura Dalem Desa Ambengan Sukasada Buleleng.
  5. Tanggal 9 September, Redite Umanis Langkir, Odalan di: Pura Dalem desa adat Buleleng Singaraja, Pura Dalem Jagaraga Buleleng, Pura Sakenan Serangan, Pura Batuaji Ubung Denpasar, Pura Dalem Pauman Bujangga Penatih Denpasar.
  6. Tanggal 12 September, Buda Wage(Cemeng) Langkir, Odalan di: Pura Ida Ratu Sundaring Jagat di Penataran Agung Besakih, Pura Tanah Lot Tabanan, Pura Luhur Batur Pucangan Buahan Tabanan, Pura Bukcabe Mas Gianyar, Pura Puseh Ganggang Canggi Batuan, Pura Masceti Sading, Pura Pasek Gulingan Mengwi, Pura Pasek Petukangan Kediri.
  7. Tanggal 15 September, Tilem Sasih Ketiga.
  8. Tanggal 16 September, Redite Pon Medangsia Odalan di: Pura Petilan Kesiman Denpasar, Merajan Pasek Tohjiwa Kesiyut Kerambitan Tabanan.
  9. Tanggal 17 September, Soma Wage Medangsia, Pura Nataran Desa Getas, Blahbatuh.
  10. Tanggal 18 September, Anggara Kliwon(Kasih) Medangsia, Odalan di: Pura Andakasa Karangasem, Pura Goa Lawah Klungkung, Pura Suralaya Banda Klungkung, Pura Kawitan Arya Kubontubuh Gelgel Klungkung, Pura Luhur Uluwatu, Pura Taman Ayun, Pura Pusering Jagat Tampaksiring.
  11. Tanggal 19 September, Buda Umanis Medangsia, Odalan di: Pura Gede Purancak Jembrana, Pura Segara Pengastulan, Pura Puseh Suwana Nusa Penida.
  12. Tanggal 20 September, Wrespati Paing Medangsia, Odalan di: Pura Panti Pasek Gelgel Bitra Gianyar, Mejaran Bungkulan Satria Buleleng.
  13. Tanggal 23 September, Kajeng Kliwon Enyitan.
  14. Tanggal 30 September, Purnama Sasih Kapat, Odalan di: Pura Penataran Agung Besakih, Pura Tirta Empul Tampaksiring, Pura Penulisan Kintamani, Pura Meru Cakranegara Lombok, Pura Satya Dharma Dompu NTB, Pura Penataran Agung Kertha Bhumi TMII Jakarta Timur, Pura Giri Kusuma Bogor, Jawa Barat, Pura Puseh Werdhi Agung Dumoga Sulawesi Utara, Pura Jagatnatha Kapuas Kalimantan Tengah.