Advertisements

Paduarsana

Berbagi tentang: Hindu, Bali dan Budayanya.

Tag Archives: ilmu pengetahuan

Banten Saraswati dan Proses Upacaranya


Banten Saraswati terdiri dari: daksina, beras wangi dilengkapi dengan air kumkuman yang diaturkan pada pustaka-pustaka suci. Dalam banten Saraswati tersebut, disertakan jaja cacalan (kue dari beras) yang berbentuk cecek (cicak dalam bahasa Indonesia) sebagai simbol Saraswati. Ada beberapa pemikiran tentang dipakainya cecek atau cicak. Kalangan arkeolog dan antropolog memaknainya sebagai binatang yang punya daya magis, mampu menangkap getaran alam, juga dianggap sebagai perwujudan dari leluhur. Kalangan peneliti bahasa menganggapnya sebagai cecek atau dalam bahasa indonesianya titik, yang merupakan akhir dari sebuah kalimat. Menurut kalangan ini, titik inilah yang menjadi awal, dan tempat bertemunya titik-titik (tanpa putus) adalah pada bilangan nol (lingkaran). Jadi di sini ditafsirkan bahwa binatang cicak/cecek hanya berfungsi sebagai simbol untuk mengungkapkan sesuatu yang sempurna yang tak berujung dan tak berakhir.

sarasvati

Image: Koleksi Pribadi, Banten Saraswati

Proses upacara Saraswati ini di Bali dikenal dengan istilah Ngelinggihang Dewi Saraswati atau Sang Hyang Aji Saraswati. Kata ngelinggihang ini, bisa dipadankan dengan mempasupati atau juga memberi jiwa pada pengetahuan atau sastra. Sementara kata Saraswati berasal dari akar kata Sr yang berati mengalir. Jadi dalam hal ini, perayaan Saraswati bisa dikatakan sebagai memberi jiwa (mempertajam kembali) sesuatu yang mengalir, yang diidentikkan dengan pengetahuan atau sastra. Proses pemberian jiwa (penajaman kembali) pengetahuan dan sastra ini di Bali lazim dilakukan dengan mengupacarai pustaka-pustaka (lontar dan buku-buku).

Setelah banten saraswati dipersiapkan, selanjutnya dilakukan nunas (memohon) Tirtha Saraswati dengan sarana: air, bija, menyan astanggi dan bunga. Caranya sebagai berikut:

  • Ambil setangkai bunga, pujakan mantra: Om, puspa danta ya namah.
  • Sesudahnya dimasukkan kedalam sangku. Ambil menyan astanggi, dengan mantram “Om, agnir, jyotir, Om, dupam samar payami”.
  • Kemudian masukkan ke dalam pedupaan (pasepan).
  • Ambil beras kuning dengan mantram : “Om, kung kumara wijaya Om phat”.
  • Masukkan kedalam sesangku.
  • Setangkai bunga dipegang, memusti dengan anggaranasika, dengan mantram:

Om, Saraswati namostu bhyam Warade kama rupini Siddha rastu karaksami Siddhi bhawantu sadam.

Artinya: Om, Dewi Saraswati yang mulia dan maha indah,cantik dan maha mulia. Semoga kami dilindungi dengan sesempurna-sempurnanya. Semoga kami selalu dilimpahi kekuatan.

Om, Pranamya sarwa dewanca para matma nama wanca. rupa siddhi myaham.

Artinya: Om, kami selalu bersedia menerima restuMu ya para Dewa dan Hyang Widhi, yang mempunyai tangan kuat. Saraswati yang berbadan suci mulia.

Om Padma patra wimalaksi padma kesala warni nityam nama Saraswat.

Artinya: Om, teratai yang tak ternoda, Padma yang indah bercahaya. Dewi yang selalu indah bercahaya, kami selalu menjungjungMu Saraswati.

  • Sesudahnya bunga itu dimasukkan kedalam sangku. Sekian mantram permohonan tirta Saraswati. Kalau dengan mantram itu belum mungkin, maka dengan bahasa sendiripun tirta itu dapat dimohon, terutama dengan tujuan mohon kekuatan dan kebijaksanaan, kemampuan intelek, intuisi dan lain-lainnya.

  • Setangkai bunga diambil untuk memercikkan tirtha ke pustaka-pustaka dan banten-banten sebanyak 5 kali masing-masing dengan mantram:

    • Om, Saraswati sweta warna ya namah.
    • Om, Saraswati nila warna ya namah.
    • Om, Saraswati pita warna ya namah.
    • Om, Saraswati rakta warna ya namah.
    • Om, Saraswati wisma warna ya namah.
  • Kemudain dilakukan penghaturan (ngayaban) banten-banten kehadapan Sang Hyang Aji Saraswati

  • Selanjutnya melakukan persembahyangan 3 kali ditujukan ke hadapan :

    • Sang Hyang Widhi (dalam maniftestasinya sebagai Çiwa Raditya).

Om, adityo sya parajyote rakte tejo namastute sweta pangkaja madyaste Baskara ya namo namah.

Om, rang ring sah Parama Çiwa Dityo ya nama swaha

Artinya: Om, Tuhan Hyang Surya maha bersinar-sinar merah yang utama. Putih laksana tunjung di tengah air, Çiwa Raditya yang mulia.Om, Tuhan yang pada awal, tengah dan akhir selalu dipuja.

    • Sang Hyang Widhi (dalam manifestasinya sebagai Tri Purusa)

Om, Pancaksaram maha tirtham, Papakoti saha sranam Agadam bhawa sagare. Om, nama Çiwaya.

Artinya: Om, Pancaksara Iaksana tirtha yang suci. Jernih pelebur mala, beribu mala manusia olehnya. Hanyut olehnya ke laut lepas.

    • Dewi Saraswati

Om, Saraswati namostu bhyam, Warade kama rupini, Siddha rastu karaksami, Siddhi bhawantume sadam.

Artinya: Om Saraswati yang mulia indah, cantik dan maha mulia, semoga kami dilindungi sesempurna-sempurnanya, semoga selalu kami dilimpahi kekuatan.

Sesudah sembahyang dilakukan metirtha dengan cara-cara dan mantram-mantram sebagai berikut :

Meketis 3 kali dengan mantram:

Om, Budha maha pawitra ya namah.
Om, Dharma maha tirtha ya namah.
Om, Sanghyang maha toya ya namah.

Minum 3 kali dengan mantram:

Om, Brahma pawaka.
Om, Wisnu mrtta.
Om, Içwara Jnana.

Meraup 3 kali dengan mantram :

Om, Çiwa sampurna ya namah.
Om, Çiwa paripurna ya namah.
Om, Parama Çiwa suksma ya namah.

Demikianlah rangkaian upacara hari raya saraswati, Sehari setelah hari raya Saraswati (Minggu) dirayakan Banyupinaruh, ditandai dengan melakukan pembersihan ke sumber-sumber air seperti laut atau mandi air kumkuman. Besoknya, dirangkaikan dengan Somaribek (Senin), yang dimaknai dengan terpenuhinya segala kebutuhan pangan.

**dari berbagai sumber

Artikel terkait:

  1. Makna Perayaan Hari Saraswati
  2. Dewi Saraswati
  3. Tattwa, Susila dan Upacara Hari Raya Saraswati
Advertisements

Makna Perayaan Hari Saraswati


Adbhirgatrani suddhyanti,
manah satyena suddhyanti
widyatapobhyam bhutatma
budhhir jnyanena suddyanti. (Manawa Dharmasastra, V.109)

Artinya: Badan dibersihkan dengan air, pikiran disucikan dengan kebenaran dan kejujuran (satya), atman dibersihkan dengan ilmu pengetahuan suci dan tapa brata, budhi disucikan dengan jnyana.

HARI Raya Saraswati adalah hari raya untuk mengingatkan umat Hindu untuk memuja Tuhan sebagai sumber dan pencipta ilmu pengetahuan. Pemujaan Tuhan sebagai pencipta ilmu pengetahuan untuk memotivasi umat agar senantiasa mencari ilmu untuk memelihara dan mengembangkan ilmu pengetahuan tersebut.

Karena itu hari raya Saraswati dinyatakan dalam Pustaka Hindu sebagai Hyang-hyangning pangeweruh. Kata ”Hyang dalam bahasa Jawa Kuna artinya suci. Kata ”pangeweruh” artinya ilmu pengetahuan. Maksudnya adalah agar umat Hindu senantiasa mencari ilmu pengetahuan dengan niat suci dan juga bertujuan yang suci.

Karena dalam kekawin Nitisastra IV, 19 ada dinyatakan bahwa ilmu pengetahuan (guna) itu dapat menimbulkan kemabukan atau timira. Mabuk karena ilmu pengetahuan sebagai salah satu dari unsur Sapta Timira atau tujuh kemabukan. Dalam Nitisastra tersebut dinyatakan bahwa barang siapa yang tidak mabuk oleh Sapta Timira itu dialah orang disebut ”Sang Mahardika” atau orang yang merdeka dan dapat dijadikan ”Pinandita”.

Jenjang pinandita inilah sebagai tangga menuju pandita sebagai jenjang yang lebih tinggi melalui proses diksita. Karena itu perayaan harirRaya Saraswati dilakukan setiap Saniscara Umanis Watugunung agar umat Hindu tidak mabuk karena ilmu dan senantiasa ingat akan makna ilmu pengetahuan itu untuk tujuan yang mulia dan suci.

Ilmu itu ada yang disebut Para Widya dan Apara Widya. Para Widya itu ada yang tergolong jnyana yaitu ilmu pengetahuan suci untuk membangun kesadaran spiritual. Kesadaran spiritual itu untuk memberikan landasan moral dan mental pada dinamika kecerdasan intelektual. Daya spiritual yang melandasi kecerdasan intelektual untuk melandasi kepekaan emosional agar diwujudkan untuk membina kelestarian alam lingkungan dengan asih dan mengabdi pada sesama manusia dengan punia sebagai wujud bhakti pada Tuhan.

Dalam Pustaka Bhuwana Kosa VIII.2-3 dinyatakan ada lima jenis penyucian yaitu Patra Sauca, Pertiwi Sauca, Jala Sauca, Bhasma Sauca dan Jnyana Sauca. Patra Sauca adalah penyucian dengan daun yang mengandung chlorofil. Pertiwi Sauca adalah tanah itu sebagai sumber penyucian. Dengan kekuatan tanah berbagai kekotoran dapat dirubah menjadi sesuatu yang berguna.

Jala Sauca adalah penyucian dengan air. Air dalam bahasa Sansekerta disebut jala. Air dalam pustaka Canakya Nitisastra salah satu unsur dari Triji Ratna Permata Bumi. Dua unsur Triji Ratna Permata Bumi itu adalah tumbuh-tumbuhan bahan makanan/bahan obat-obatan dan Subha Sita. Manusia akan keracunan kalau unsur air seara drastis menurun dalam tubuh manusia.

Bhasma Sauca artinya abu suci sebagai sarana untuk melambangkan penyucian diri. Abu suci itu dalam tradisi agama Hindu Siwa Sidhanta adalah dilambangkan dengan sarana serbuk cendana dengan sedikit air kunyit. Kata ”bhasma” dalam bahasa Sansekerta artinya abu suci. Jnyana Sauca artinya penyucian dengan ilmu pengetahuan.

Menurut Pustaka Bhuwana Kosa penyucian dengan ilmu pengetahuan inilah dinyatakan sebagai penyucian yang paling utama. Dalam Bhuwana Kosa dinyatakan:

anghing Jnyana Soca juga lewih saking soca kabeh, ya kita aprameya phalanya.
Artinya : Jnyana Soca inilah yang paling utama di antara semua soca (penyucian) itu karena pahalanya tiada terhingga.

Memang hidup dengan ilmu pengetahuan akan semakin cerah dan tertuntun dengan baik perjalanan hidup kita ini sepanjang ilmu itu dicari dan digunakan secara baik, benar dan tepat serta tidak mabuk oleh ilmu pengetahuan tersebut.

Salah satu tujuan pemujaan Tuhan sebagai Dewi Saraswati yaitu Dewi-nya ilmu pengetahuan adalah untuk mencegah agar jangan manusia mabuk oleh karena kemampuannya menguasai ilmu pengetahuan tersebut. Kekawin Nitisastra II.5 ada dinyatakan sebagai berikut: Norana mitra mangeluwihaning wara guna maruhur. Artinya tidak ada sahabat yang melebihi bersahabatan dengan ilmu pengetahuan yang luhur.

Saraswati adalah nama dewi, Sakti Dewa Brahma (dalam konteks mitologi, sakti diartikan istri). Sakti sesungguhnya berarti kekuatan yang terwujud dari kemampuan menguasai ilmu serta menerapkannya sampai ilmu itu berguna untuk meningkatkan kwalitas hidup.

Karena itu pengertian sakti dalam Wrehasati Tattwa 14 dinyatakan sebagai berikut: Sakti ngarania sangsarwa jnyana sarwa karta. Maksudnya: Sakti namanya adalah mereka yang memiliki banyak ilmu dan banyak karya berdasarkan ilmu yang dimiliki. Dengan demikian Dewa Brahma adalah sinar suci Tuhan dalam wujud nyata spiritual Tuhan dalam menciptakan ilmu pengetahuan.

Sedangkan Dewi Saraswati adalah aspek Tuhan dalam mewujudkan ilmu itu menjadi nyata di bumi ini sehingga dapat didaya gunakan oleh manusia untuk dijadikan pegangan dalam menyelenggarakan dalam membenahi hidupnya di bumi ini agar menjadi semakin baik dan benar untuk mencapai kehidupan yang bahagia di jalan Tuhan.

Dewasa ini pada kenyataannya banyak sekali kejadian yang muncul karena penyalahgunaan iptek tersebut sampai menimbulkan banyak penderitaan hidup. Mengapa hal itu terjadi, karena motivasi mencari dan menggunakan ilmu masih banyak tidak dilandasi sebagai wujud bhakti pada Tuhan dengan wujud kasih pada dalam lingkungan dan melakukan pengabdian (punia) pada sesama umat manusia dalam. Mencari dan menggunakan iptek itu dengan motivasi asih, punia sebagai wujud bhakti pada Tuhan.

Itulah tujuan utama dari perayaan Saraswati. Bhakti pada Tuhan tanpa wujud asih dan punia akan menimbulkan beragama hanya formalitas saja. Beragama yang hanya formalistis saja akan menjadi beban hidup yang memberatkan.

Sumber: Bali Post| Ilmu Sumber Penyucian yang Paling Utama, Oleh: I Ketut Wiana

 

 

 

Keturunan Manu atau Adam?


Melihat banyaknya teori asal-usul manusia, rasa heran menyelimuti hati saya karena banyak teman Hindu yang seakan-akan tidak percaya dengan agama sendiri bahwa manusia pertama adalah Manu. Jika alasannya memang ingin berpikir ilmiah, itu bagus dan wajar maka marilah kita berpikir ilmiah. Untuk mengetahui sesuatu itu ilmiah tidaknya, bukankah kita perlu dukungan bukti? Di samping itu, masih ada lagi yang dapat mendukung yaitu teori ilmu pengetahuan modern dan pendapat para ilmuwan Barat.

Dari ratusan ilmuwan, berikut adalah pendapat dari tiga orang tokoh:

  • Gerald Heard mengatakan, ”Vedanta sangat ilmiah tentang – hukum-hukum yang mengatur alam semesta.”
  • Dr. Kenneth Walker yang menyanjung kebijaksanaan Veda dan mengatakan, ”Vedanta merupakan suatu usaha untuk meringkas seluruh pengetahuan manusia dan membuat manfaat seluruh pengalaman manusia. Pada suatu saat ia adalah agama, pada saat lainnya filsafat dan saat lainnya lagi ilmu pengetahuan.” Dengan kata lain tiga pilar ilmu pengetahuan dunia, terdapat di dalam kitab suci Hindu (Veda) yaitu ontologi, epistemologi dan aksiologi.
  • Ralph Waldo Emerson: “Veda memuliakan hidup kita. Seluruh filsafat dan ilmu pengetahuan Barat tampak kecil dan tak berarti di hadapan Veda. Seluruh manusia di bumi ini harus kembali ke Veda.”

Teori Adam-Hawa:

Dalam kitab suci agama Abrahamik yang dengan tegas mengakui hanya Adam adalah manusia pertama dan berusaha menjelaskan bahwa mutasi dan evolusi genetislah yang menghasilkan ras berbeda. Hawa sebagai pasangan Adam tercipta dari tulang rusuk Adam. Dengan demikian secara ilmiah, gen yang dimiliki Adam seharusnya sama dengan gen yang dimiliki Hawa. Jika kedua pasangan ini kawin dan menghasilkan keturunan, maka sudah barang tentu keturunan yang dihasilkannya seharusnya memiliki gen yang sama.

Hanya saja kenapa saat ini ada banyak ras dengan genetik yang sangat jauh berbeda?

Agamawan dari kalangan Abrahamik menjelaskan bahwa perubahan itu akibat adanya evolusi karena mutasi. Hanya saja Ilmu pengetahuan modern saat ini menjelaskan bahwasanya mutasi tidak akan pernah menghasilkan keturunan yang bersifat menguntungkan bagi mahluk hidup bersangkutan. Sebagai contoh semangka yang dimutasi dapat menghasilkan semangka tanpa biji dimana selanjutnya semangka bersangkutan tidak akan mampu berkembangbiak secara normal.Demikian juga dengan sapi yang diradiasi untuk menghasilkan sapi yang memiliki ukuran besar juga tidak sanggup bertahan hidup dan berkembang biak secara normal. Bukti lain yang membantah pernyataan agamawan abrahamik yaitu jika orang asia hidup ditengah-tengan orang bule di eropa dalam waktu yang sangat lama dengan kebudayaan eropa tetapi mereka tidak pernah melakukan perkawinan silang dengan orang bule, apakah postur tubuh mereka berubah menjadi orang bule atau campurannya? Tentu tidak bukan. orang dengan ras asia tetap sama dimanapun mereka berada.

Teori Robert Charles Darwin

Dalam sebuah bukunya yang berjudul The Origin of Species, tahun 1859, Darwin menyatakan, “manusia adalah hasil paling maju dari mekanisme evolusi”. Darwin sangat takjub melihat beragam spesies makhluk hidup terutama burung. Ia mengira bahwa variasi paruh burung-burung tersebut disebabkan oleh adaptasi mereka terhadap habitat. Dengan pemikiran ini, ia menduga bahwa asal usul kehidupan dan spesies berdasarkan konsep “adaptasi terhadap lingkungan”. Menurut Darwin, aneka spesies makhluk hidup tidak diciptakan secara terpisah oleh Tuhan, tetapi berasal dari nenek moyang yang sama dan menjadi berbeda satu sama lain akibat kondisi alam.

Sangat disayangkan teori evolusi tersebut dimanfaatkan oleh kaum evolusionist, rasisme, Marxisme sebagai propaganda paham atheis, walaupun sebenarnya Darwin telah mengakui teorinya iru masih sangat lemah, karena belum didapatkan bukti-bukti adanya spesies antara. Sampai saat ini teori tersebut masih sangat eksis terutama di kalangan anak-anak pelajar bahwa kita manusia berasal dari kera. Selain itu, teori evolusi menyatakan bahwa keberadaan manusia modern seperti kita baru muncul sekitar 700.000 tahun yang lalu. Bukti ilmiah seperti bukti arkeologis, genetik, biomolekuler dan sebagainya tidak mendukung proses evolusi tersebut. Telah ditemukan pula jejak kaki manusia dan fosil serangga yang persis seperti sekarang berusia dua juta tahun. Bukti-bukti arkeologis, geologis telah terungkap dari penemuan-penemuan tengkorak manusia, fosil-fosil, artefak, dan alat-alat yang digunakan manusia pada masa itu telah terbukti menunjukkan berusia sekitar ratusan juta bahkan miliaran tahun. Bukti-bukti tersebut dibuktikan oleh Michael Cremo, seorang arkeolog senior, peneliti dan penganut Veda dari Amerika, dengan melakukan penelitian lebih dari 8 tahun. Dari berbagai belahan dunia termasuk juga dari Indonesia telah dapat mengungkapkan misteri peradaban Veda tersebut secara bermakna. Laporan tersebut ditulis dalam beberapa buku yang sudah diterbitkan seperti: Forbidden Archeology, The Hidden History of Human Race, Human Devolution: A Vedic alternative to Darwin’s Theory, terbitan tahun 2003. Dalam buku tersebut akan banyak ditemukan artefak, fosil-fosil, peninggalan-peninggalan berupa kendi, alas kaki dan sebagainya yang berusia ratusan juta tahun, dibuat oleh manusia yang mempunyai peradaban maju, tidak mungkin dibuat oleh kera atau primata yang lebih rendah.

Dengan demikian, teori modern benar-benar sangat tidak mendukung teori yang dikemukakan oleh Darwin. Teori evolusi sama sekali tidak dapat diterima. Ambil contoh, kucing-kucing lokal sebagaimana kita ketahui bulunya tidak terlalu tebal jika kita tempatkan mereka di Amerika yang bersuhu dingin, kucing-kucing tersebut tidak mungkin berevolusi menjadi kucing-kucing berbulu tebal untuk beradaptasi. Ida Sang Hyang Widhi telah sejak awal menentukan jenis-jenis makhluk hidup sesuai kemampuannya masing-masing dalam beradaptasi. Dalam kitab Brahma-vaivarta, Hyang Widhi telah menentukan terdapat 8.400.000 jenis spesies.

Sudah jelas, teori Adam-Hawa dan Charles Darwin tidak dapat diterima secara ilmiah.

Lalu, bagaimana otoritas Veda menjelaskannya?

Manu adalah Manusia Pertama

Perlu diketahui ada hal yang sangat menarik antara Manu dan Adam. Umat Abrahamik di Indonesia mengatakan bahwa manusia pertama adalah Adam. Sesungguhnya hal ini sangat menggelikan. Kita perlu mengetahui terlebih dahulu asal-usul kata ‘manusia’. Kata ‘manusia’ terdiri dari dua kata Sansekerta yaitu ‘Manu’ dan ‘sia’. Manu adalah Manu itu sendiri, sedangkan ‘sia’ berarti keturunan. Jadi, ‘manusia’ artinya adalah seluruh keturunan Manu. Jadi, lucukan jika mereka mengaku diri sebagai manusia tapi mengaku diri sebagai keturunan Adam. Kembali ke penjelasan Veda tentang manusia pertama. Menurut Veda yang menjelaskan bahwa sampai saat ini di bumi ini telah muncul tujuh Manu dengan gambang menyatakan bahwa ras-ras yang berbeda yang ada saat ini berasal dari ketujuh Manu yang memiliki genetik yang berbeda dan perkawinan silang diantara mereka. Jadi keturunan dari Manu saat ini adalah kombinasi dari tujuh dan dapat merupakan kombinasi dari keturunanya lagi. Tentunya secara ilmiah teori ini dapat diterima dengan baik dan jauh lebih masuk akal dibandingkan dengan konsep Adam-Hawa dan Charles Darwin. Jadi yakinkah bahwa leluhur anda adalah Adam-Hawa dan kera? Seringkali pula kita mendengar bahwa kiamat sudah dekat. Benarkah kiamat sudah dekat? Veda menjelaskan bahwa kiamat akan terjadi pada saat Brahma yang merupakan arsitek alam semesta meninggal dunia pada usia beliau yang ke-100 tahun dalam satuan waktu alam Satya loka. Sebelum ke penjelasan selanjutnya, sebaiknya harus dimengerti terlebih dahulu bahwa waktu di bumi, berbeda dengan waktu di planet lain ataupun di dimensi lain sesuai dengan hukum relativitas ruang dan waktu. Jika kita dapat mengerti bahwa 1 hari di surga akan sama dengan 6 bulan di bumi, 1 hari di dimensi alam jin akan sama dengan 3 hari di dimensi kita di bumi. Demikian juga dengan alam/dimensi ruang yang lainnya. 100 tahun dewa Brahma jika dikonversikan dalam satuan waktu kita akan sama dengan 311,04 triliun tahun manusia. Sudah jelas bahwa penjelasan Veda sangat ilmiah karena sesuai dengan hukum relativitas ruang dan waktu.

Sekali lagi, yakinkah teman-teman bahwa leluhur kita adalah Adam-Hawa dan atau kera?

Judul asli: Manu dan Adam, sumber: Vedasastra