Paduarsana

Berbagi Tentang Semua Hal

Tag Archives: hindu

Mengenal Smarana


meditasiDalam sebuah situs berbahasa inggris Smarana diartikan mengingat Tuhan setiap saat dimana pikiran tidak memikirkan obyek dunia, tetapi selalu asyik memikirkan kemuliaan Sang Hyang Widhi Wasa dengan berbagai macam manifestasi-Nya.

Di dalam Kitab Bhagavad Gita tercantum ajaran suci ini sebagaimana disebutkan di dalam edisi Bahasa Inggerisnya :
I am easily attainable by that ever steadfast Yogi who constantly remembers Me daily, not thingking another, O Partha!(Bhagavad Gita VIII – 14)

Artinya:
Aku dengan mudah dapat dicapai melalui ketabahan Yogi yang secara langgeng mengingat-Ku setiap hari dan tiada memikirkan yang lain, wahai Partha!

Di dalam ajaran Hindu. Ajaran mengingat Tuhan ini diajarkan untuk dipraktekkan secara terus menerus sepanjang hidup seseorang sebagai Jalan Keyakinan untuk mencapai DIA.
Seseorang yang senantiasa mengingat-Nya selama 6 bulan dan meninggalkan praktek tersebut untuk sementara, kemudian kembali melanjutkan praktek mengingat-Nya selama 6 bulan lagi dan begitu seterusnya tidak akan dapat mencapai DIA.
Mengingat-Nya harus dilakukan secara kontinyu tanpa henti dan tiada mengenal waktu, keadaan dan tempat.
Di dalam ajaran Hindu, praktek mengingat Tuhan juga termasuk mendengarkan kisah-kisah yang berkaitan dengan Tuhan, membicarakan tentang Dia, mengajarkan kepada orang lain tentang Dia dan melakukan meditasi tentang sifat-sifat-Nya secara terus menerus.
Smarana adalah ajaran untuk mengingat nama dan sifat-sifat-Nya dengan tidak putus-putus. Pikiran harus dibersihkan dari obyek apapun dari dunia.
Smarana adalah suatu keadaan dimana pikiran menjadi terpikat oleh Kemuliaan Tuhan semata.
Praktek Smarana ini tidak dibatasi oleh waktu-waktu tertentu. Tuhan harus senantiasa diingat di setiap saat tanpa terputus sepanjang seseorang masih dalam kesadarannya yang utuh.
Dimulai dari bangun tidur di pagi hari sampai seseorang kembali tidur setelah dirinya merasakan penat di malam hari. Di dunia ini seseorang tidak memiliki kewajiban lainnya selain Mengingat Tuhan. Mengingat Tuhan semata dapat menghancurkan semua tekanan-tekanan duniawi. Mengingat Tuhan semata dapat mengalihkan pikiran kita dari obyek-obyek pikiran.
Mengingat Tuhan adalah metoda Sadhana yang sangat sulit. Adalah tidak mungkin mengingat-Nya setiap saat secara kontinyu. Pikiran sering memperdaya seseorang.
Seseorang bisa saja berpikir bahwa dirinya sedang bermeditasi mengingat Tuhan tetapi aktualnya dia sedang memikirkan beberapa obyek dunia ini atau bahkan memikirkan untuk mendapat nama dan ketenaran atau kemasyhuran.
Demikianlah ajaran Hindu mengajarkan Smarana atau Mengingat Tuhan.

Aktualisasi Ajaran Tri Parartha dalam Kehidupan


Oleh: Ida Ayu Tary Puspa

Agama Hindu memiliki ajaran yang menuntun umatnya untuk selalu ada di jalan dharma dalam menjalani kehidupan. Salah satunya adalah Tri Parartha. Tri Parartha berasal dari Bahasa Sanskerta yaitu dari kata Tri artinya tiga dan Parartha artinya kebahagiaan, kesejahteraan, keselamatan, keagungan, dan kesukaan. Dengan demikian Tri Parartha berarti tiga perihal yang dapat menyebabkan terwujudnya kesempurnaan, kebahagiaan, keselamatan, kesejahteraan, keagungan, dan kesukaan hidup umat Hindu.

Tanpa keselamatan dalam hidupnya, manusia tidak akan dapat berbuat banyak. Menurut ajaran agama Hindu, manusia itu dapat menyelamatkan dirinya dengan jalan mengamalkan ajaran Tri Parartha. Ada pun ajaran Tri Parartha yang dimaksud yang dapat mengantarkan umat Hindu mencapai keselamatan dan kebahagiaan serta kesejahteraan hidupnya. Terdiri dari Asih, Punia dan Bhakti.

Asih artinya cinta kasih, umat Hindu hendaknya selalu mengupayakan hidupnya dengan berlandaskan cinta kasih dengan sesama. Asih juga dapat diartikan sebagai kasih sayang. Asih juga memiliki kasih yang lebih dalam daripada cinta. Dalam mengasihi sudah terkandung makna mencintai. Cinta adalah perasaan pada kesenangan, kesetiaan, kepuasan terhadap suat objek sedangkan kasih adalah perasaan cinta yang tulus lascarya terhadap suat obiek. Perbedaan antara cinta dan kasih terletak pada kesanggupan dan kemampuan dalam memahami hakikat cinta dan kasih serta hal yang mendasari adanya cinta kasih adalah ajaran “tat tvam asi” yang berarti engkau adalah dia, dia adalah mereka seperti yang dinyatakan pada kitab Chandogya Upanisad VI.14.1.

Pustaka suci Bhagavadgita Sloka XII. 13. menyebutkan:
Advesta sarwa bhutanam, Maitrah karuna eva ca 
Nirmano niraham karah, sama dukha-sukhah ksami

Terjemahannya:
Dia yang tidak membenci segala makhluk, bersahabat, dan cinta kasih
Bebas dari keakuan dan keangkuhan, sama dalam suka dan duka, serta pemberi maaf.

Akan tetapi dewasa ini pada orang-orang tertentu ada yang memiliki kemiskinan dalam cinta kasih. Hal ini dapat dilihat dari maraknya kekerasan yang terjadi di negeri ini. Ada kecenderungan cinta kasih yang ada pada setiap orang telah mengalami kekeringan dan bahkan manusia telah kehilangan seluruh cinta kasihnya sehingga terjadilah perbuatan yang menimbulkan kekerasan. Para generasi muda yang menjadi harapan baik keluarga maupun bangsa banyak yang terjerumus ke dalam tindakan yang sia-sia, seperti mabuk-mabukan, pesta narkoba, dan tindakan lain yang menyimpang dari aturan hukum dan agama.

Mengacu pada realita yang terjadi di masyarakat dewasa ini khususnya pada kaum generasi muda dapat diketahui bahwa terjadi degradasi moral atau pengikisan nilai-nilai kemanusiaan sebagai akibat dari mulai menurunnya nilai-nilai kasih sayang dalam diri manusia. Dengan demikian berdasarkan kutipan sloka di atas dapat diketahui bahwa objek dari cinta kasih itu adalah semua ciptaan Hyang Widhi atau Tuhan Yang Maha Esa.

Punya (Punia), dermawan atau tulus ikhlas. Seluruh aktivitas hidup umat Hindu hendaknya berlandaskan tanpa pamrih/balasan, karena ketertarikan itu sesungguhnya ia menyebabkan menderita. Dan Bhakti artinya hormat-menghormati terhadap sesama, sujud terhadap orang yang lebih tua. Di antara sesamanya manusia hendaknya saling menghormati, serta tidak melupakan untuk bersujud kehadapan sang pencipta (Tuhan).

Ajaran Tri Parartha itu sudah sepatutnya dipahami dan diaktualisasikan oleh umat Hindu, dengan demikian kesempurnaan hidup ini akan menjadi kenyataan.

Sebagaimana dijelaskan dalam sloka suci (Menawa Dharmasastra,V.109) berikut ini:
Abdhir gatrani cudhayanti, 
manah satyena cudhayanti, 
widyatapobhyam bhratatma, 
buddhir jnanena cudhayanti
(Sudharta. 2004:250).

Terjemahan :
Tubuh dibersihkan dengan air, pikiran dibersikan dengan kejujuran, roh dibersihkan dengan ilmu dan tapa, akal dibersihkan dengan kebijaksanaan.
Selain mengamalkan ajaran tattwam asi, catur paramitha dan Tri Parartha, umat juga patut memahami dan mengamalkan ajaran ethika yang lainya. Dengan demikian hidup ini akan menjadi lebih bermanfaat di masyarakat.

Asih, Punia, dan Bhakti merupakan ajaran agama Hindu yang patut dihayati dan diamalkan dalam kehidupan agar tetap tegaknya dharma. Tri Parartha adalah ajaran agama Hindu untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan hidup, baik di dunia maupun di akhirat. Hidup saling mengasihi di antara kita merupakan perilaku umat manusia utama yang dapat mengantarkan tercapainya kebahagiaan yang abadi (moksa).

Dalam Kitab suci Rg. Veda dinyatakan sebagai berikut: 
“Ajaran berdhana punia yang didasari dengan cara bhakti dan rasa cinta kasih mempunyai suatu manfaat yang amat penting dalam kehidupan ini, dan semuanya itu hendaknya diwujudkan sebagai amal dalam beryajñya.” 

Seluruh umat Hindu hendaknya melakukan hal tersebut, karena itu merupakan kewajiban untuk menegakkan dharma. Tujuan pokok dari ajaran Tri Parartha (asih, punia, dan bhakti) ini adalah menumbuhkan sikap mental masing-masing pribadi umat manusia, dalam hal ini adalah peserta didik untuk mewujudkan ajaran wairagya (tidak terikat akan pengaruh benda-benda duniawi) yang dapat memuaskan indria/nafsu belaka manusia secara pribadi.

Berdasarkan uraian di atas, maka untuk menghayati ajaran kasih dapat diwujudnyatakan melalui ajaran “Tri Hita Karana”. Tri Hita Karana terdiri dari tiga kata Tri yang berarti tiga, hita yang berarti kebahagiaan sedangkan karana berarti penyebab. Jadi Tri Hita Karana berarti tiga hal yang menyebabkan kebahagiaan. Tri Hita Karana dapat diterapkan dengan senantiasa menciptakan hubungan atau interaksi yang harmonis antara manusia dengan Tuhan (prhyangan), membina hubungan yang harmonis antara manusia dengan sesama manusia (pawongan) serta senantiasa membina hubungan yang harmonis antara manusia dengan lingkungan (palemahan).
Dapat disimpulkan bahwa ajaran asih/kasih dalam Tri Parartha dapat diimplementasikan melalui ajaran Tri Hita Karana. Ajaran ini dapat diaktualisasikan baik di bangku SD maupun SMP.

Penerapan ajaran Tri Hita karana kepada peserta didik khususnya di sekolah dapat dilakukan dengan:

  • Untuk poin Parhyangan, maka sebelum mulai pelajaran didahului dengan berpuja tri sandya. Begitu pula mengakhiri pelajaran saat akan pulang ke rumah juga bertrisandya pada madyama dina. Setiap akhir tahun pelajaran atau akhir tahun semester dilakukan pasraman kilat. Pada kegiatan ini diberikan materi temtamg praktik beragama dengan menitikberatkan pada tattwa, susila, dan acara.Tentu acara ini dikemas pula dengan pemberian yoga dan estetika.
  • Praktik implementasi pawongan di sekolah dilakukan dengan menggalang dana punya yang disumbangkan secara sukarela oleh siswa yang nantinya akan dapat dimanfaatkan untuk kunjungan sosial kemanusiaan. Selain itu dalam interaksi sehari-hari membiasakan diri dalam mengucapkan Om swastyastu kepada orang lain yang tentunya seumat, misalnya kepada orang tua di rumah, guru di sekolah, dan dalam setiap kesempatan antarumat Hindu.
  • Untuk kategori palemahan misalnya dapat dilaksanakan dengan menciptakan kepedulian dan rasa sayang terhadap lingkungan sekolah. Bali punya program go green and clean. Hal ini dapat diaktualisasikan melalui program “Green school” yaitu dengan mewajibkan setiap siswa untuk menanam dan memelihara satu jenis tumbuhan bebas, setiap komite diwajibkan untuk menanam dan memelihara dua jenis tumbuhan langka, dan setiap guru wajib memelihara tiga jenis tumbuhan langka. Pada akhir tahun pelajaran pihak sekolah bekerja sama dengan DKLH untuk melakukan penghijauan massal pada tempat yang telah disepakati bersama.

Cendikiawan Hindu, Svami Vivekananda mengatakan “ Cinta kasih adalah daya penggerak, karena cinta kasih selalu menempatkan dirinya sebagai pemberi yang tanpa keterikatan dan bukan penerima.” Dengan demikian, kasih sayang merupakan jalan pintas untuk mencapai tujuan hidup kita, yaitu Keutamaan manusia (Human Excellence). Asih tidak hanya bisa diterapkan kepada sesama manusia, tetapi juga kepada binatang dan tumbuh-tumbuhan yang sama-sama merupakan makhluk ciptaan Tuhan. Asih kepada binatang dapat dilakukan dengan tidak membunuh binatang sembarangan seperti menembak burung, meracuni ikan dengan potas, dan lain-lain. Sikap asih terhadap tumbuh-tumbuhan dapat dilakukan dengan tidak menebang pohon sembarangan, tetapi sebaliknya kita harus menanam pohon dan melakukan penghijauan. Sikap asih terhadap alam atau lingkungan sekitar sangat penting untuk diterapkan karena dengan demikian kelestarian lingkungan akan terjaga dan kita akan merasa tenang dan nyaman berada di sekitarnya. Umat Hindu di Bali menerapkannya melalui perayaan tumpek pengatag dan tumpek uye.

Sumber: Majalah Raditya

Jadwal Festival Hindu II Jogjakarta


Penyelenggaraan Festival Seni Keagamaan Hindu Tingkat Nasional II ini sangat penting. Hal ini dikarenakan masyarakat Hindu di Indonesia memiliki keragaman ekspresi seni dan budaya yang berbeda-beda, baik dalam bahasa, musik tradisi, lagu-lagu daerah bernuansa rohani, tari, maupun tradisi ritualnya. Dengan pelaksanaan Festival Seni Keagamaan Hindu Tingkat Nasional II ini diharapkan potensi-potensi seni keagamaan Hindu mampu mengambil peran untuk meningkatkan kualitas sradha dan bhakti umat Hindu di seluruh Indonesia.

Festival Seni Keagamaan Hindu Tingkat Nasional II di Yogyakarta ini menampilkan berbagai karya seni dan budaya keagamaan yang bersifat sakral, serta memiliki makna dan nilai estetika yang tinggi, seperti mantra, suara genta, seni tabuh, seni tari, kidung kerohanian, sesaji, dan kearifan lokal dari seluruh wilayah Indonesia. Dengan bertemunya kontingen perwakilan provinsi dari seluruh Indonesia, maka diharapkan akan terjadi komunikasi yang baik dalam rangka meningkatkan kreativitas dalam dunia seni, serta mampu meregenerasikan seni keagamaan Hindu kepada generasi yang akan datang.

Festival Seni Keagamaan Hindu Tingkat Nasional II ini diselenggarakan di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta selama empat hari, yaitu hari Selasa-Jumat, tanggal 25-28 September 2012. Acara Festival Seni Keagamaan Hindu Tingkat Nasional II ini diikuti oleh perwakilan dari 16 Provinsi di Indonesia, yaitu Provinsi Sumatera Selatan, Provinsi Bangka Belitung, provinsi Lampung, Provinsi DKI Jakarta, Provinsi Banten, Provinsi Jawa Barat, Provinsi Jawa tengah, Provinsi DI. Yogyakarta, Provinsi Jawa Timur, Provinsi Sulawesi Tengah, Provinsi Sulawesi Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara, Provinsi Kalimantan Tengah, Provinsi Kalimantan Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Barat, dan Provinsi Bali sebagai eksibisi. Kegiatan Festival Seni Keagamaan Hindu Tingkat Nasional II dirangkai dengan berbagai jenis perlombaan seni keagamaan Hindu. Adapun lomba tersebut, adalah; 1) Musik Tradisi (Tabuh Lalambatan/ Instrumental), 2) Tari Ritual (Tari Rejang atau Tari Baris), 3) Musik Vokal Instrumental (Gegitaan), 4) Tari Kreasi Keagamaan, dan 5) Tari Topeng Sidakarya atau sejenisnya.

Dalam Festival Seni Keagamaan Hindu Tingkat Nasional II DI Yogyakarta diawali dengan Parade Nusantara, yaitu pawai yang menampilkan pertunjukan seni keagamaan Hindu dari berbagai wilayah di Indonesia. Parade Nusantara atau Pawai ini bertemakan “Bhinneka Tunggal Ika”, yang dapat diartikan bahwa, persatuan dan kesatuan bangsa ini dapat terwujud dengan menjalin semangat kebersamaan di antara pemeluk agama. Pawai ini juga mengakomodir seni dan budaya Agama Islam, Agama Kristen, Agama Katholik, Agama Budha, dan Agama Konghucu untuk dapat ditampilkan dalam Parade Nusantara tersebut. Pawai ini akan menempuh perjalanan 4 KM, dari lapangan Taman Parkir Abu Bakar Ali – Jln. Mallioboro, dan finish di Pura Pakualaman Yogyakarta.

Selain itu, di sela-sela kegiatan lomba juga akan ditampilkan dua kegiatan yang lain, yaitu hiburan yang bertajuk “Pesta Rakyat” dan “Sarasehan”.  Pesta rakyat akan diselenggarakan di area Monumen Serangan Umum 1 Maret Yogyakarta. Dalam kegiatan ini akan menampilkan potensi seni dari kreativitas generasi muda, mahasiswa, seniman Yogyakarta, dan seniman dari perwakilan kontingen. Acara yang bertajuk “Pesta Rakyat” ini bertujuan untuk memberikan hiburan kepada masyarakat Yogyakarta secara umum. Selanjutnya, sarasehan akan dilaksanakan di Gedung Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Sarasehan ini akan membahas isu-isu tentang perkembangan seni dan budaya, sebagai langkah untuk mencari solusi dan arah yang tepat demi memajukan seni nasional. Hal ini tentunya sesuai dengan wilayah Yogyakarta yang telah ditetapkan sebagai daerah istimewa. Keistimewaan Yogyakarta dalam bidang seni dan budaya tentunya perlu mendapat apresiasi dan dukungan dari seluruh lapisan masyarakat di Daerah Istimewa Yogyakarta dan daerah-daerah lainnya.

PROVINSI PESERTA
FESTIVAL SENI KEAGAMAAN HINDU TINGKAT NASIONAL II
DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

  1. Bali
  2. Bangka Belitung
  3. Banten
  4. Daerah Istimewa Yogyakarta
  5. Daerah Khusus Ibukota Jakarta
  6. Jawa Barat
  7. Jawa Tengah
  8. Jawa Timur
  9. Kalimantan Selatan
  10. Kalimantan Tengah
  11. Lampung
  12. Nusa Tenggara Barat
  13. Sulawesi Selatan
  14. Sulawesi Tengah
  15. Sulawesi Tenggara
  16. Sumatera Selatan

Jadwal Festival Hindu II Jogjakarta 24-29 September 2012.

No.

Hari/Tanggal

Jam

Nama Kegiatan

Tempat

Penanggung jawab

1.

Senin, 

24 Sep 2012

15:00-17:00 Pengukuhan dan 

rapat dewan Juri

Hotel Jambu Luwuk Sie Lomba

2.

Selasa, 

25 September 2012

08:00-14:00

Official dan Kontingen  tiba dan check-in di Hotel masing-masing   Seksi Transportasi
   

15:00-17:00

Technical Meeting Oficial dan Pengundian No. Urut Lomba Hotel Jambu Luwuk Seksi Lomba
   

18:00-21:00

Matur Piuning Peserta dan tirta yatra Pura Jagatnatha Banguntapan Bantul Seluruh Panitia,  Seksi Lomba, dan Peserta
   

15:00-20:00

Gladi bersih Pura Pakualaman Pengisi acara pembukaan (Kesenian ISI)

3.

Rabu, 

26 September 2012

08:00-11:00

Eksibishi BALI+ 

Lomba I (2 Kontingen)

Kampus ISI Seksi Lomba
   

13:00-14:00

Kontingen dan Peserta Kirab/Pawai tiba di Tempat Awal Kirab/Pawai Taman Parkir 

Abu Bakar Ali

Seksi Kirab dan Seksi Keamanan
   

14:00-17:00

Acara Kirab/Pawai Taman Parkir Abubakar Ali – 

Jl. Mallioboro –

Pura Pakualaman

Seksi Kirab dan Seksi Keamanan
   

17:00-19:00

Persiapan Acara Pembukaan 

(Kontingen Istirahat dan  Makan di Tempat Acara Pembukaan, tidak boleh kembali ke Hotel)

Pura  Pakualaman Seksi Pembukaan dan  Penutupan
   

19:30-21:30

Acara  Utama Pembukaan Festival Seni Keagamaan Hindu Nasional II Pura Pakualaman Seksi Pembukaan Penutupan
  4. Kamis, 

27 September 2012

08:00-16:00

Lomba-Lomba Bagian  II 

(8 Kontingen)

Kampus ISI Yogyakarta Seksi Lomba
   

18:30-21:30

Pesta Rakyat Monumen Serangan Umum 1 Maret Seksi Pesta Rakyat

5.

Jumat, 

28 September 2012

08:00-11:00

Lomba-Lomba Bagian III 

( 5 Kontingen)

Kampus ISI Yogyakarta Seksi Lomba
   

08:00-12:00

Sarasehan Seni dan Budaya Auditorium ISI Yogyakarta Seksi Sarasehan
   

13:00-15:00

 

Rapat Dewan Juri Hotel Jambu Luwuk Seksi Lomba+Ketua Umum
   

19:30-21:30

Penutupan Festival Seni Keagamaan Hindu Nasional II ISI Yogyakarta Seksi Pembukaan Penutupan

6.

Sabtu, 

29 September 2012

12:00-13:00

Kontingen dan Official Checkout dari Hotel Kembali ke daerah masing-masing Hotel Panitia dan Kontingen di DIY ULP dan Panitia Pusat