Paduarsana

Berbagi Tentang Semua Hal

Tag Archives: hindu

Orientasi Pembinaan Agama Hindu Digelar Kemeneg Babel


Pangkalpinang (ANTARA News) – Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kepulauan Bangka Belitung akan menggelar orientasi pembinaan Agama Hindu selama tiga hari mulai Kamis (28/6) hingga Sabtu di Pangkalpinang.

“Orientasi tersebut akan diikuti sekitar 30 orang perwakilan Agama Hindu seluruh Bangka Belitung (Babel) yang bertujuan untuk memberikan pendidikan dan pendalaman tentang agama,” ujar Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama Babel Hatamar di Pangkalpinang, Rabu.

Ia mengatakan, dengan pendalaman agama tersebut diharapkan masyarakat bisa menerapkan dan menyesuaikan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu di wilayah yang sebagian besar merupakan warga melayu.

Di samping itu, orientasi juga dimaksudkan untuk menciptakan kerukunan dan keharmonisan antarumat beragama di Babel.

Ke depannya pemerintah berharap dengan berkumpulnya masyarakat di Babel yang terdiri dari berbagai agama akan memberikan kerukunan dan saling mengisi satu sama lain dan tidak menimbulkan perpecahan.

Saat ini kondisi kerukunan antarumat beragama di Babel sangat bagus dan sudah terbukti kerukunan antara ras Melayu dan China di Babel sudah terjalin sejak zaman Belanda.

“Kondisi ini menggambarkan bahwa masyarakat Babel sangat terbuka dengan umat dan warga lainnya untuk saling berbaur bersama-sama tanpa saling membedakan,” ujarnya.

Hal itu diungkapkannya terkait terjadinya perselisihan antaragama di beberapa daerah sehingga meresahkan kondisi masyarakat setempat.

Untuk mengantisipasi hal itu, pemerintah terus melakukan orientasi ke seluruh masyarakat Babel sesuai dengan agama masing-masing yang dikoordinir langsung oleh Kementerian Agama di daerah itu.

Sementara itu, untuk permasalahan agama yang muncul di daerah akan diselesaikan bersama-sama agar tidak terjadi perpecahan antarsesama. (WRA/Z002)

Valentine Day Dalam Pandangan Hindu


Setiap tanggal 14 Februari kita seakan diingatkan tengan kasih sayang. Antusiasme masyarakat sudah mulai terlihat beberapa hari sebelumnya: dari promo dinner bersama pasangan sampai penjual cokelat dan mawar. Merayakan Valentine Day tentu baik selama berpijak pada jati diri sebagai orang timur dan sebagai umat beragama yang menjunjung tinggi moralitas adalah bukan hal yang salah. Hindu tidak memandang dari mana Velentine Day berasal tapi lebih kepada nilai yang didapat dari perayaan Valentine Day tersebut. Jika pada prakteknya perayaan valentine day lebih kepada pelampiasan kasih sayang ragawi(nafsu birahi) dengan tegas Hindu menolak perayaan hari kasih sayang tersebut. Hari apapun yang peringati hendaknya lebih menekankan esensi nilai positif bukan semata-mata kemasan seremoni belaka. Jika kita telah memahami arti sesungguhnya kasih sayang/cinta kasih tanpa menunggu valentine day pun rasa cinta kasih dapat direalisasikan kedalam bentuk perbuatan angawe sukanikanang wong len. Mulai dari mengasihi, menyayangi dan mencintai diri sendiri, orang tua, saudara sampai kepada Bhatara-bhatari dan memuncak kepada Hyang Widhi.

kasihsayang

Dalam ajaran Hindu yang disebut dengan cinta kasih adalah konsep bhakti. Bhakti artinya luapan perasaan cinta kasih atau kasih sayang yang dilandasi kebersihan pikiran, kesucian hati dan ketulus-iklasan yang tanpa pamrih. Bhakti ini dapat ditujukan kepada orang tua dengan hormat dan patuh kepadanya, kepada saudara dengan menghargainya, kepada teman dengan kesetiakawanan dan kepada Hyang Widi dengan media persembahyangan. Kesemua wujud bhakti tersebut merupakan realisasi dari kasih sayang/cinta kasih yang hakiki. Dan itu bisa dilakukan kapan saja.

Dari uraian diatas maka dapat kita ketahui relevansi Valentine Day menurut Hindu memiliki nilai esensi yang sama dengan ajaran bhakti. Namun yang membedakannya adalah pada prakteknya nilai esensi valentine day sudah menyimpang. Tidak lagi menekankan pada sisi keagungan arti sebuah kasih sayang/cinta kasih namun sudah mengikuti tren budaya barat yang lebih menampilkan sisi cinta sebagai dorongan nafsu duniawi.

Hindu mengingatkan kepada generasi mudanya untuk kembali kepada konsep bhakti yang lebih bernilai luhur berpahala kemuliaan dari pada sekedar ikut-ikutan tren valentine day yang belum tentu berguna dan tidak sesuai dengan Hindu.

Dalam Hindu ada banyak ajaran yang berhubungan dengan kasih sayang seperti: Catur Guru, Tat Twam Asi, Tri Hita Karana. Catur Guru mengajarkan kita untuk selalu menghormati dan menyayangi orang tua kita. Tat Twam Asi mengajarkan kita untuk tidak menyakiti orang lain. Tri Hita Karana mengajarkan kita untuk selalu menjaga keharmonisan hubungan baik dengan Tuhan, sesama manusia dan lingkungan sekitar.

Syarat-Syarat Calon Diksa


Berdasarkan Ketetapan Sabha Parisada Hindu Dharma II No. V/Kep./PHDP/68 tentang Tata Keagamaan(Kesulinggihan, Upacara dan Tempat Suci) Syarat-syarat calon Diksa adalah sebagai berikut:

  1. Laki-laki yang sudah kawin, Laki-laki yang nyuklabhamacari, Wanita yang sudah kawin, Wanita yang tidak kawin(kanya), dan Pasangan Suami Istri.
  2. Dewasa
  3. Paham dama bahawa kawi, Sanskerta, Indonesia, memiliki pengetahuan umum, mendalami intisari ajaran agama(filsafat, etika dan ritual).
  4. Sehat lahir batin, ingatan tidak terganggu, tidak cedangga dan berbudi luhur.
  5. Berkelakuan baik, tidak pernah tersangkut kasus hukum.
  6. Mendapat tanda kesediaan dari pandita calon nabenya(guru) yang akan menyucikan.
Dalam Keputusan Seminar Kesatuan Tafsir terhadap Aspek-aspek Agama Hindu ke-14 tahun 1986/87 tentang Pedoman Pelaksanaan Diksa ditegaskan bahwa umur calon diksa adalah minimal 40 tahun dan syarat tambahannya seorang calon diksa sebaiknya tidak terikat dengan pekerjaan kecuali bertugas untuk keagamaan.
Dari persyaratan diatas maka dapat disimpulkan bahwa calon diksa/sang madwijati/calon sulinggih adalah semua penganut Hindu tidak ada diskriminasi atas dasar golongan/kelompok/soroh/wangsa/warga untuk bisa menjadi pandita. Semua warga dikalangan umat Hindu yang telah memenuhi persyaratan diatas berhak untuk didiksa atau menjadi sulinggih tentunya dengan abhiseka yang berbeda-beda sesuai dengan istilah/sebutan yang dimiliki oleh setiap golongan warga.
Sebagai sang pandita, seorang yang sudah didiksa memiliki kewenangan yang sama dan sejajar didalam muput karya atau ngelokapalasraya termasuk dalam upacara Panca Bali Krama di Pura Besakih namun tentu saja dipilah pembagian tugas antar sulinggih. Pada upacara Panca Bali Krama sangat banyak rangkaian upacara yang hampir bersamaan dalam waktu tertentu. Hendaknya dalam sebuah upacara tidak dilihat siapa sulinggih yang berhak muput karya tapi bagaimana memanfaatkan kewenangan setiap sulinggih dalam karya agung Panca Bali Krama.