Paduarsana

Berbagi Tentang Semua Hal

Hubungan Seks Yang Dilarang Dalam Hindu


Seks adalah sesuatu yang sakral sehingga tidak boleh dilakukan sembarangan. Di dalam kitab Ayur Weda tertera aturan tentang hubungan seks yang disebut Mithuna. Tidak hanya mengatur soal waktu, tetapi juga pantangan-pantangan dalam berhubungan. Ayur Weda menganjurkan, untuk mendapatkan keturunan yang baik dalam berhubungan seks, sebaiknya tidak dilakukan pada siang hari, saat matahari terbenam (sandya kala), dan saat hari-hari suci yang disebut parwadina.

Image by: Dream

Hubungan seks hendaknya disesuaikan dengan Rtu Kala, yaitu musim atau fase menstruasi istri yang disebut Mahatika. Hubungan seks yang dilakukan saat menstruasi berdampak kurang baik bagi kesehatan dan aura tubuh. Hubungan seks yang baik, jika dilakukan atas dasar persamaan keinginan (mood), berdasarkan hari baik dan menghindari pantangan-pantangan yang berlaku.
Lontar Usada Bali menyebutkan, hubungan seks tidak baik dilakukan bertepatan dengan hari lahir masing-masing pasangan atau saat wotonan, sebab tidak akan mencapai kebahagiaan, hidup menjadi tidak sehat dan pandek umur. Selain itu juga disebutkan, bahwa persenggamaan tidak boleh dilakukan pada hari Selasa, Rabu dan Sabtu jika hari itu bertemu dengan hari Kliwon, karena tidak bagus untuk keturunan yang dilahirkan nantinya.

Dalam ajaran Agama Hindu ada beberapa larangan untuk melakukan hubungan suami istri seperti :

  • hubungan suami istri sebelum menikah,
  • hubungan suami istri pada hari-hari suci Hindu,
  • hubungan suami istri di tempat-tempat suci,
  • hubungan suami istri di tempat-tempat umum
  • hubungan suami istri di dapur
  • hubungan suami istri di sungai yang disucikan
  • hubungan suami istri di kandang sapi
  • hubungan suami istri “satu dua” atau “satu tiga”
  • hubungan suami istri di mobil dan hungan suami istri diluar kelayakan.

Hubungan ini disebut hubungan seks yang adharma. Jika hasil hubungan ini terjadi pembuahan maka mahluk yang lahir adalah mahluk yang disebut kumiligi. Mahluk ini adalah mahluk yang tingkatannya lebih rendah dari pada manusia namun diijinkan oleh Tuhan untuk menjelma menjadi manusia melalui orang-orang yang melakukan hubungan seks yang adharma.

Menurut buku seks Ala Bali yang ditulis oleh IB. Putra M Aryana, mahluk ini ada 5 macam yang disebut panca kumiligi. Adapun kelima mahluk kumiligi ini yaitu:

  • I Nguntang disimbolkan dengan perwujudan tangan manusia.
  • I Nganting disimbolkan dengan kaki.
  • I Bongol disimbolkan dengan tubuh tanpa kepala.
  • I Tundik disimbolkan dengan wujud Bhuta dengan posisi tangan menunjuk.
  • I Ngulaleng disimbolkan dengan wujud sebagai bhuta sangsang/terbalik

Jika I Nguntang dan I Nganting yang menjelma, dicirikan dengan anak yang apabila marah justru menyiksa diri sendiri; jika I Bongol yang menjelma maka anak tidak pernah menghiraukan larangan orang tua dan nasehat yang diberikan dianggap angin lalu saja; jika I Tundik yang menjelma si anak sering minta sesuatu (uang/benda) pada orang yang bertamu ke rumahnya, ciri parah dari penjelmaan I Tundik, si anak memiliki sifat suka mencuri; sedangkan jika I Ngulaleng yang menjelma, anak sering berlari keluar rumah/ke jalan dan jika sudah agak besar si anak lupa segalanya kalau sudah bermain, (lupa makan, lupa pulang dll).

Referensi:
1. Seks Ala Bali oleh I. B. M Aryana, SS, penerbit Bali Aga, 2008.
2. Kama Sutra asli dari Watsyayana, oleh I Wayan Maswinara, Penerbit Paramita, 1997.

Lingga-Yoni


Dalam Hindu seks disimbolkan dengan Lingga dan Yoni dimana dalam perspektif kekinian, seks identik dengan persetubuhan yang dilakukan pria dan wanita. Sayang, pengertian itu berhenti pada pencapaian hedonistik. Pengejaran kenikmatan persetubuhan menjadi tujuan utama, tanpa  mempertimbangkan hal-hal luar biasa besar di luar persetubuhan.

Di Indonesia, seksualitas berada dalam “dunia entah”. Apalagi dengan penetapan UU Pornografi-Pornoaksi, posisi seks dipojokkan oleh hukum negara, yang di sisi lain mengembangkan prostitusi. Maka patut dipertanyakan apakah UU yang longgar dan berstandar ganda atau telah terjadi kerusakan moral secara massal?

Dalam kebudayaan Hindu, seks disimbolkan dengan lingga-yoni. Itulah lambang reproduksi lelaki dan perempuan (phallus dan vagina). Kamus Jawa Kuna-Indonesia mendefinisikan “lingga (skt) tanda, ciri, isyarat, sifat khas, bukti keterangan, petunjuk; lingga, lambang kemaluan lelaki (terutama lingga Siwa dibentuk tiang batu), patung dewa, titik tugu pemujaan, titik pusat, pusat poros, sumbu”. Adapun “yoni (skt) rahim, tempat lahir, asal Brahmana, Daitya, dewa, garbha, padma, naga, raksasa, sarwa, sarwa batha, sudra, siwa, widyadhara, dan ayonia (PJ Zoetmulder, SC Robson, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1994, 601, 1494).

Lingga, dalam mitologi Hindu, adalah alat kelamin pria (Latin: phallus, lambang Siwa sebagai dewa semesta, kebalikan dan yoni. “Yoni alat kelamin perempuan sebagai Tara atau timbalan dan linggam merupakan lambang shakti atau prakrti yang dijabarkan dalam bentuk unsur kewanitaan” (Ensiklopedia Indonesia Ikhtisar Baru, Jakarta: Van Hove, 1990, 2.020 dan 3.993).

Maka jika tafsir seks yang disimbolkan dengan “hanya” penyatuan lingga-yoni dengan pengejaran kenikmatan sesaat, bisa dipastikan tumbuh dari lingkungan yang menganggap kotor dan rendah seksualitas dan tak mampu menikmati seks dengan kondisi kejiwaan yang bebas, karena dikejar-kejar rasa bersalah. Kondisi jiwa bebas dan bersih adalah ketika melakukan tanpa rasa bersalah dan menyakiti orang lain. Maka menikah (vivaha) mutlak untuk pencapaian spiritualitas seks dengan pengertian lebih dalam. Lingga adalah simbolisasi atma atau roh, sedangkan yoni adalah simbolisasi shakti, kekuatan dan kesadaran atma.

Maksud wujud lingga yang melakukan penetrasi ke liang yoni adalah kembalinya kesadaran, kembalinya kekuatan atma yang selama ini terselimuti dan tidur nyenyak oleh pengaruh maya, pengaruh prakrti, pengaruh alam materi. Atma yang kehilangan shakti, kehilangan kesadaran, menjadi awidya, alias bodoh! Ia mengelirukan diri sebagai suksma sarira (badan halus). Bahkan ada atma yang mengelirukan diri sebagai sthula sarira (badan kasar). Menyangka diri sekadar produk mekanik, seperti robot. Rusak sthula sarira, tamat sudah diri. Begitu asumsi atma yang dilanda kebodohan.

Bagai Ibu Kewaspadaan, kecemerlangan, kekuatan, kebahagiaan, kedamaian, kesucian dari atma seolah-olah hilang.  Kondisinya sangat-sangat menyedihkan. Kewaspadaan, kecemerlangan, kekuatan, kebahagiaan, kedamaian, kesucian atma tinggal kecil. Bagai setitik kerlip bintang di langit. Redup. Dalam kondisi penuh keterbatasan seperti itu, atma cenderung resah, bimbang, terombang-ambing oleh hukum karmaphala. Terombang-ambing dalam dualitas atau rvabhineda duniawi, yaitu suka-duka, untung-rugi, sakit-sehat, dan lain-lain.

Dalam terminologi Hindu itulah yang disebut pembangkitan kundalini, proses kenaikan shakti dari satu cakra ke cakra di atasnya, dari satu kesadaran ke kesadaran di atasnya, harus melalui jaringan fisiologis fisik manusia yang melingkar lingkar, mirip tubuh ular. Maka shakti atau kesadaran atma disebut juga kundalini, yang dilambangkan sebagai yoni atau vagina. Karena lembut penuh kasih, begitu kundalini bangkit, segala kekotoran yang menyumbat kesadaran terkikis habis, tanpa sisa.

Pergerakannya pelan dan halus. Ialah sumber energi sejati. Ia bagai ibu. Ia bagai wanita cemerlang. Wanita yang merindukan pertemuan dengan kekasih sejati, yaitu atma atau roh kita. Karena itu, atma dilambangkan sebagai lingga atau penis atau lelaki yang dirindui yoni atau kundalini. Dan, bila kundalini berhasil naik melalui cakra per cakra dan d  puncak bertemu atma, pertemuan itu disimbolisasikan dalam wujud liang yoni yang dimasuki lingga. Lingga dan yoni. Bila atma dan shakti-nya bertemu, sensasinya benarbenar nikmat. Mirip sensasi persetubuhan. Namun jauh lebih nikmat dan tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Di sanalah terbuka ranah spiritualitas seks sesungguhnya.

Artikel oleh : Agunghima, Judul Asli: Spiritualitas Seks Manusia Jawa, diterbitkan oleh: Suara Merdeka, 06 Agustus 2012.

Doa Metirtha, Mesekar dan Mebija


Setiap kali kita melakukan persembahyangan, pasti kita akan menerima tirtha sebagai anugerah Hyang Widhi. Sudah sangat lajim kedua tangan tengadah, kemudian kedua tangan ditumpuk telapak tangan kanan diatas telapak tangan kiri, selanjutnya para pemangku atau pengayah akan memercikkan tirtha ke ubun-ubun tiga kali, diminum tiga kali kemudian diraupkan tiga kali. Tujuan pemercikan tirtha ini adalah untuk menyucikan pikiran, perkataan dan perbuatan.

Doa pada saat memercikkan tirtha para pemangku/sulinggih/pinandita mengucapkan mantram:

Om Pratamacuddha, dwitiyacuddha, tritiyacuddha cuddhamam wariastu.

Artinya: Pertama suci, kedua suci, ketiga suci, suci suci, Semoga suci dengan tirtha ini.

Dan bagi kita yang menerima tirtha dari para pemangku/sulinggih/pinandita juga perlu mengucapkan mantram sesuai dengan peristiwa. Bisa dilakukan dalam hati atau dengan suara pelan:

Om Ang Brahma amrta ya namah, Om Ung Wisnu ya namah, Om Mang Iswara ya namah.

Artinya: Ya Tuhan dalam wujud Brahma, Ya Tuhan dalam wujud Wisnu, Ya Tuhan dalam wujud Iswara, Anugerahkanlah hamba air suci.

Doa Minum Tirtha: (dilakukan sesaat akan minum)

Om Om sarira ya namah, Om Om sada Siwa ya namah, Om Om Paramasiwa ya namah.

Artinya: Ya Tuhan sebagai Siwa, Sadha Siwa dan Parama Siwa, Anugerahkanlah badan dan rohani ini air suci.

Doa Meraup(mencuci muka) Tirtha:

Om Om Sarira purna ya namah, Ang Ung Mang Gangga amrta ya namah, Sarira suddha parama teja ya namah, Om Ang sama sampurna ya namah.

Artinya: Ya Tuhan, sempurnakanlah badan ini, Ya Tuhan sebagai perwujudan Gangga amertha, anugerahkanlah diri kami kesucian, sinar yang maha suci, yang maha sempurna.

Doa Metirtha di Badan:

Om Atma raga sarira pari suddha ya namah.

Artinya: Ya Tuhan, sebagai badan atma yang suci sucikanlah badan ini.

Doa Masekar: Masumpang/mecunduk di Ciwadara(ubun-ubun):

Om Siwa Raditya ya namah swaha. Arti simbolisnya adalah agar kita tetap percaya terhadap Hyang Widhi Wasa.

Doa Mesekar: Mesumpang pada kedua telinga:

Om Dewa Sri Dewi ya namah swaha. Bunga di bagi menjadi dua bagian kedua tangan menyilang, tangan kanan memasang bunga pada telinga kiri, tangan kiri memasang bunga di telinga kanan.

Doa Mebija: Dilekatkan pada lelata(dahi tengah)

Om Criyam bhawantu. Artinya: Semoga kebahagiaan meliputi hamba.

Dilekatkan pada pangkal tenggorokan: 

Om Sukham bhawantu, Artinya: Semoga kesenangan selalu datang pada hamba.

Ditelan(tanpa dikunyah):

Om Purnam Bhawantu, Om Ksama sampurna ya namah swaha

Artinya: Semoga segala kesempurnaan menjadi bertambah sempurna.

————————————

Artikel terkait:

  1. Doa Sehari-hari dalam Hindu.
  2. Yadnya Sesa/Mesaiban/Ngejot.
  3. Doa Sarana Banten.