Paduarsana

Berbagi Tentang Semua Hal

Category Archives: Hindu

Memperbaiki Prilaku Dengan Weda Abyasa


Oleh: I Ketut Wiana

Mantra Weda Sruti Sabda suci Tuhan itu berjumlah 20389 syair suci yang disebut Mantra. Mantra Weda itu menurut Swami Siwananda merupakan kumpulan yang disebut Prabhu Samhita. Artinya kumpulan syair suci yang amat berwibawa. Karena itu umat awam tidak mudah mencapainya. Karena itu para Resi membuat rumusan membumikan Weda yang disebut Suhrita Samhita. Artinya rumusan penjabaran Weda yang lebih ramah, sehingga umat dalam segala tingkatan dan dari berbagai lapisan sosial dapat lebih mudah mencapainya. Karena tujuan Weda disabdakan bukan untuk pajangan tetapi untuk diamalkan dalam hidup.

Sarasamuscaya 177 menyatakan, bahwa Weda dipelajari dan didalami untuk Ayuning Sila dan Ayuning Acara. Ayuning Sila artinya memperbaiki prilaku agar semakin baik dan benar. Ayuning Acara artinya memperbaiki kebiasaan hidup bersama membangun keharmonisan yang dinamis membangun kebersamaan yang Satsangga.

Satsangga artinya kebersamaan yang berdasarkan kebenaran Weda atau Satya. Untuk mencapai tujuan itulah Sarasamuscaya 260 menyatakan Weda Abyasa artinya terapkanlah ajaran Weda itu agar menjadi kebiasaan yang baik dan benar dalam kehidupan individual dan kehidupan sosial. Dalam Manawa Dharmasastra II.12 dan 18 membiasakan ajaran suci Weda ini disebut dengan istilah Sadacara. Kata Sadacara ini berasal dari kata Satya dan Acara. Satya adalah kebenaran tertinggi dari Weda, sedangkan Acara artinya kebiasaan atau tradisi wujud pengamalan ajaran kitab suci. Dalam Sarasamuscaya 177 dinyatakan Acara ngaraning prawrti kawarah ring aji. Artinya: Acara namanya pelaksanaan dari apa yang diajarkan dalam pustaka suci.

Acara sebagai pengamalan ajaran Hindu inilah dalam kehidupan beragama Hindu di Bali disebut Adat Istiadat atau budaya beragama Hindu. Kata Acara berasal dari kata “car” artinya bergerak. “A” di depan kata “cara” artinya kebalikan dari bergerak. Dengan demikian Acara berarti tidak bergerak atau langgeng. Ini artinya Acara bertujuan untuk melanggengkan pengamalan ajaran kitab suci Weda sampai menjadi adat kebiasaan dalam kehidupan individu dan sosial. Prosedur atau tatanan membangun kebiasaan hidup berdasarkan Weda ini dinyatakan dalam Manawa Dharma sastra II.6 dengan urutan sbb: Sruti, Smrti, Sila, Acara dan Atmanastusti.

Menurut Sloka Manawa Dharmasastra ini sabda Tuhan yang disebut Sruti itu dijabarkan oleh para Resi yang suci menjadi Smrti atau Dharmasastra. Smrti ini dijabarkan lebih lanjut oleh para Resi yang Sastrawan menjadi pustaka Sila. Yang tergolong pustaka Sila itu adalah Itihasa dan Purana. Dalam pustaka Itihasa dan Purana itu terdapat berbagai Sila atau prilaku yang patut dijadikan teladan maupun yang sepatutnya dihindari dalam hidup ini. Dari Sruti,Smrti dan Sila inilah diamalkan dalam wujud Acara atau Adat Istiadat budaya beragama Hindu.Tujuan pengamalan itu untuk mencapai Atmanastusti. Istilah Atmanastusti berasal dari kata Atma dan Tusti. Atma adalah bagian yang tidak terpisahkan dengan Brahman sebagai jiwa manusia dan Tusti artinya kepuasan rokhani. Ini artinya tujuan pengamalan Sabda Tuhan dari Weda Sruti ke dalam Weda Smrti terus menjadi pustaka Sila dan ditradisikan ke dalam Acara adalah mengantarkan umat mencapai kebahagiaan rokhani atau Atmanastusti.

Ini artinya Acara atau Adat istiadat beragama Hindu itu harus diwujudkan untuk menuntun umat agar mampu membangun kebiasaan hidup yang membawa mereka hidup bahagia lahir batin. Adat istiadat beragama Hindu itu tidak boleh membuat tradisi atau adat yang menjadi beban hidup yang memberatkan umat dalam menyelenggarakan hidupnya. Dalam hal ini Adat istiadat beragama Hindu itu harus dinamis mengikuti perkembangan jaman. Saat keadaan jaman kental dengan budaya agrarisnya, maka adat istiadat beragama Hindu diterapkan sesuai dengan nuansa budaya agraris. Demikian jaman sudah berubah menuju budaya industri yang serba praktis, ekonomis dan fragmatis maka adat istiadat beragama Hindu itu dalam beberapa hal harus disesuaikan bentuk penerapannya, namun isinya tetap sama yaitu kebenaran Weda. Dapat diartikan bahwa adat istiadat beragama Hindu itu sebagai suatu tradisi harus terus dikreasi.Tradisi tanpa kreasi akan basi.Tetapi kreasi tradisi itu harus membawa visi dan misi kitab suci. Dengan demikian kreasi tradisi itu tetap bergisi suci.Tradisi yang dikreasi itu membuat inovasi tidak membuat kita risih.

Tampilan Hindu di muka bumi ini adalah suatu proses Weda abhyasa. Dalam rubrik Weda Abhyasa ini akan terus dimuat bagaimana ajaran suci Weda yang telah mentradisi itu akan dibahas dengan analisa yang setepat mungkin. Karena memelihara tradisi beragama Hindu itu tidak berarti membiarkan tradisi itu tanpa gerak perubahan. Tradis atau adat istiadat itu sesuatu yang hidup. Hidup adalah perubahan. Perubahan yang baik dan benar itu adalah perubahan yang senantiasa berada di jalan Dharma. Jalan Dharma itu adalah jalan yang ditunjukkan oleh Tuhan.

Manusia yang berjalan itu adalah manusia yang penuh dengan keterbatasan. Karena keterbatasan itu dalam menjaga perubahan tradisi beragama Hindu itu tidak selalu mampu dijaga berada di jalan Dharma. Untuk itu tradisi beragama Hindu itu senantiasa harus ditinjau dengan proses evaluasi yang cerdas dan bijak, sehingga merubah tradisi itu tidak sekedar berubah. Namun harus diupayakan berubah ke arah yang baik dan benar sesuai dengan Dharma. Apa lagi menyangkut kehidupan bersama, perubahan tradisi beragama Hindu itu tidak tepat kalau dilakukan dengan grasa grusu tanpa mendapat pertimbangan yang luas dan mendalam. Dalam rubrik Weda Abhyasa inilah akan dikemukakan berbagai tradisi beragama Hindu itu akan diamati dengan konsep beragama Hindu yang terdapat dalam kitab suci. Karena yang dimaksud dengan Agama Hindu menurut Sarasamuscaya 181 adalah: Agama ngarania kawarah Sang Hyang Aji. Artinya: Agama namanya apa yang dinyatakan dalam kitab suci. Dalam Wrehaspati Tattwa 26 juga dinyatakan sbb: Kawarah Sang Hyang Aji kaupapatyan de Sang Guru Agama ngarania. Artinya: Apa yang dinyatakan dalam kitab suci dan itulah yang diajarkan oleh Pandita Guru itulah agama namanya. Ini artinya tradisi beragama Hindu itu selalu akan dilihat dari konsep kitab suci dalam paparan rubrik Weda Abhyasa ini.

Sumber: Majalah Raditya

 

 

 

Aktualisasi Ajaran Tri Parartha dalam Kehidupan


Oleh: Ida Ayu Tary Puspa

Agama Hindu memiliki ajaran yang menuntun umatnya untuk selalu ada di jalan dharma dalam menjalani kehidupan. Salah satunya adalah Tri Parartha. Tri Parartha berasal dari Bahasa Sanskerta yaitu dari kata Tri artinya tiga dan Parartha artinya kebahagiaan, kesejahteraan, keselamatan, keagungan, dan kesukaan. Dengan demikian Tri Parartha berarti tiga perihal yang dapat menyebabkan terwujudnya kesempurnaan, kebahagiaan, keselamatan, kesejahteraan, keagungan, dan kesukaan hidup umat Hindu.

Tanpa keselamatan dalam hidupnya, manusia tidak akan dapat berbuat banyak. Menurut ajaran agama Hindu, manusia itu dapat menyelamatkan dirinya dengan jalan mengamalkan ajaran Tri Parartha. Ada pun ajaran Tri Parartha yang dimaksud yang dapat mengantarkan umat Hindu mencapai keselamatan dan kebahagiaan serta kesejahteraan hidupnya. Terdiri dari Asih, Punia dan Bhakti.

Asih artinya cinta kasih, umat Hindu hendaknya selalu mengupayakan hidupnya dengan berlandaskan cinta kasih dengan sesama. Asih juga dapat diartikan sebagai kasih sayang. Asih juga memiliki kasih yang lebih dalam daripada cinta. Dalam mengasihi sudah terkandung makna mencintai. Cinta adalah perasaan pada kesenangan, kesetiaan, kepuasan terhadap suat objek sedangkan kasih adalah perasaan cinta yang tulus lascarya terhadap suat obiek. Perbedaan antara cinta dan kasih terletak pada kesanggupan dan kemampuan dalam memahami hakikat cinta dan kasih serta hal yang mendasari adanya cinta kasih adalah ajaran “tat tvam asi” yang berarti engkau adalah dia, dia adalah mereka seperti yang dinyatakan pada kitab Chandogya Upanisad VI.14.1.

Pustaka suci Bhagavadgita Sloka XII. 13. menyebutkan:
Advesta sarwa bhutanam, Maitrah karuna eva ca 
Nirmano niraham karah, sama dukha-sukhah ksami

Terjemahannya:
Dia yang tidak membenci segala makhluk, bersahabat, dan cinta kasih
Bebas dari keakuan dan keangkuhan, sama dalam suka dan duka, serta pemberi maaf.

Akan tetapi dewasa ini pada orang-orang tertentu ada yang memiliki kemiskinan dalam cinta kasih. Hal ini dapat dilihat dari maraknya kekerasan yang terjadi di negeri ini. Ada kecenderungan cinta kasih yang ada pada setiap orang telah mengalami kekeringan dan bahkan manusia telah kehilangan seluruh cinta kasihnya sehingga terjadilah perbuatan yang menimbulkan kekerasan. Para generasi muda yang menjadi harapan baik keluarga maupun bangsa banyak yang terjerumus ke dalam tindakan yang sia-sia, seperti mabuk-mabukan, pesta narkoba, dan tindakan lain yang menyimpang dari aturan hukum dan agama.

Mengacu pada realita yang terjadi di masyarakat dewasa ini khususnya pada kaum generasi muda dapat diketahui bahwa terjadi degradasi moral atau pengikisan nilai-nilai kemanusiaan sebagai akibat dari mulai menurunnya nilai-nilai kasih sayang dalam diri manusia. Dengan demikian berdasarkan kutipan sloka di atas dapat diketahui bahwa objek dari cinta kasih itu adalah semua ciptaan Hyang Widhi atau Tuhan Yang Maha Esa.

Punya (Punia), dermawan atau tulus ikhlas. Seluruh aktivitas hidup umat Hindu hendaknya berlandaskan tanpa pamrih/balasan, karena ketertarikan itu sesungguhnya ia menyebabkan menderita. Dan Bhakti artinya hormat-menghormati terhadap sesama, sujud terhadap orang yang lebih tua. Di antara sesamanya manusia hendaknya saling menghormati, serta tidak melupakan untuk bersujud kehadapan sang pencipta (Tuhan).

Ajaran Tri Parartha itu sudah sepatutnya dipahami dan diaktualisasikan oleh umat Hindu, dengan demikian kesempurnaan hidup ini akan menjadi kenyataan.

Sebagaimana dijelaskan dalam sloka suci (Menawa Dharmasastra,V.109) berikut ini:
Abdhir gatrani cudhayanti, 
manah satyena cudhayanti, 
widyatapobhyam bhratatma, 
buddhir jnanena cudhayanti
(Sudharta. 2004:250).

Terjemahan :
Tubuh dibersihkan dengan air, pikiran dibersikan dengan kejujuran, roh dibersihkan dengan ilmu dan tapa, akal dibersihkan dengan kebijaksanaan.
Selain mengamalkan ajaran tattwam asi, catur paramitha dan Tri Parartha, umat juga patut memahami dan mengamalkan ajaran ethika yang lainya. Dengan demikian hidup ini akan menjadi lebih bermanfaat di masyarakat.

Asih, Punia, dan Bhakti merupakan ajaran agama Hindu yang patut dihayati dan diamalkan dalam kehidupan agar tetap tegaknya dharma. Tri Parartha adalah ajaran agama Hindu untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan hidup, baik di dunia maupun di akhirat. Hidup saling mengasihi di antara kita merupakan perilaku umat manusia utama yang dapat mengantarkan tercapainya kebahagiaan yang abadi (moksa).

Dalam Kitab suci Rg. Veda dinyatakan sebagai berikut: 
“Ajaran berdhana punia yang didasari dengan cara bhakti dan rasa cinta kasih mempunyai suatu manfaat yang amat penting dalam kehidupan ini, dan semuanya itu hendaknya diwujudkan sebagai amal dalam beryajñya.” 

Seluruh umat Hindu hendaknya melakukan hal tersebut, karena itu merupakan kewajiban untuk menegakkan dharma. Tujuan pokok dari ajaran Tri Parartha (asih, punia, dan bhakti) ini adalah menumbuhkan sikap mental masing-masing pribadi umat manusia, dalam hal ini adalah peserta didik untuk mewujudkan ajaran wairagya (tidak terikat akan pengaruh benda-benda duniawi) yang dapat memuaskan indria/nafsu belaka manusia secara pribadi.

Berdasarkan uraian di atas, maka untuk menghayati ajaran kasih dapat diwujudnyatakan melalui ajaran “Tri Hita Karana”. Tri Hita Karana terdiri dari tiga kata Tri yang berarti tiga, hita yang berarti kebahagiaan sedangkan karana berarti penyebab. Jadi Tri Hita Karana berarti tiga hal yang menyebabkan kebahagiaan. Tri Hita Karana dapat diterapkan dengan senantiasa menciptakan hubungan atau interaksi yang harmonis antara manusia dengan Tuhan (prhyangan), membina hubungan yang harmonis antara manusia dengan sesama manusia (pawongan) serta senantiasa membina hubungan yang harmonis antara manusia dengan lingkungan (palemahan).
Dapat disimpulkan bahwa ajaran asih/kasih dalam Tri Parartha dapat diimplementasikan melalui ajaran Tri Hita Karana. Ajaran ini dapat diaktualisasikan baik di bangku SD maupun SMP.

Penerapan ajaran Tri Hita karana kepada peserta didik khususnya di sekolah dapat dilakukan dengan:

  • Untuk poin Parhyangan, maka sebelum mulai pelajaran didahului dengan berpuja tri sandya. Begitu pula mengakhiri pelajaran saat akan pulang ke rumah juga bertrisandya pada madyama dina. Setiap akhir tahun pelajaran atau akhir tahun semester dilakukan pasraman kilat. Pada kegiatan ini diberikan materi temtamg praktik beragama dengan menitikberatkan pada tattwa, susila, dan acara.Tentu acara ini dikemas pula dengan pemberian yoga dan estetika.
  • Praktik implementasi pawongan di sekolah dilakukan dengan menggalang dana punya yang disumbangkan secara sukarela oleh siswa yang nantinya akan dapat dimanfaatkan untuk kunjungan sosial kemanusiaan. Selain itu dalam interaksi sehari-hari membiasakan diri dalam mengucapkan Om swastyastu kepada orang lain yang tentunya seumat, misalnya kepada orang tua di rumah, guru di sekolah, dan dalam setiap kesempatan antarumat Hindu.
  • Untuk kategori palemahan misalnya dapat dilaksanakan dengan menciptakan kepedulian dan rasa sayang terhadap lingkungan sekolah. Bali punya program go green and clean. Hal ini dapat diaktualisasikan melalui program “Green school” yaitu dengan mewajibkan setiap siswa untuk menanam dan memelihara satu jenis tumbuhan bebas, setiap komite diwajibkan untuk menanam dan memelihara dua jenis tumbuhan langka, dan setiap guru wajib memelihara tiga jenis tumbuhan langka. Pada akhir tahun pelajaran pihak sekolah bekerja sama dengan DKLH untuk melakukan penghijauan massal pada tempat yang telah disepakati bersama.

Cendikiawan Hindu, Svami Vivekananda mengatakan “ Cinta kasih adalah daya penggerak, karena cinta kasih selalu menempatkan dirinya sebagai pemberi yang tanpa keterikatan dan bukan penerima.” Dengan demikian, kasih sayang merupakan jalan pintas untuk mencapai tujuan hidup kita, yaitu Keutamaan manusia (Human Excellence). Asih tidak hanya bisa diterapkan kepada sesama manusia, tetapi juga kepada binatang dan tumbuh-tumbuhan yang sama-sama merupakan makhluk ciptaan Tuhan. Asih kepada binatang dapat dilakukan dengan tidak membunuh binatang sembarangan seperti menembak burung, meracuni ikan dengan potas, dan lain-lain. Sikap asih terhadap tumbuh-tumbuhan dapat dilakukan dengan tidak menebang pohon sembarangan, tetapi sebaliknya kita harus menanam pohon dan melakukan penghijauan. Sikap asih terhadap alam atau lingkungan sekitar sangat penting untuk diterapkan karena dengan demikian kelestarian lingkungan akan terjaga dan kita akan merasa tenang dan nyaman berada di sekitarnya. Umat Hindu di Bali menerapkannya melalui perayaan tumpek pengatag dan tumpek uye.

Sumber: Majalah Raditya

Bagaimana Mencapai Moksa


Sebenarnya sulit untuk menjelaskan moksha dalam kata-kata, akan tetapi ada penjelasan yang hampir MENDEKATI. Penjelasan yang hampir MENDEKATI ini termuat dalam banyak sekali teks-teks India seperti Yoga Sutra, Yoga Vasistha, Astavakara Gita, dsb-nya, maupun dalam teks-teks kuno warisan leluhur kita seperti lontar Dharma Sunia, lontar Wrhaspati Tattwa, dsb-nya.

Dalam penjelasan yang hampir mendekati, moksha atau mukti atau bebas, adalah moment ketika :

1. DI DALAM.
Keadaan “di dalam” atau kondisi yang muncul di dalam bathin kita :

– Ketenangan dan keseimbangan bathin yang sempurna. Apapun yang terjadi diluar, apapun yang kita hadapi, baik-buruk, salah-benar, bahagia-sengsara, suci-kotor, bathin kita tetap tenang, sejuk dan damai. Bathin yang kokoh dan setenang batu.

– Lenyapnya segala bentuk penilaian. Apapun yang terjadi diluar, apapun yang kita hadapi, baik-buruk, salah-benar, bahagia-sengsara, suci-kotor, bathin kita tanpa penilaian. Tanpa kata-kata, tanpa analisa, tanpa penghakiman, tanpa pembandingan. Hanya melihat semuanya apa adanya. Dalam bahasa yang lebih mudah dimengerti yaitu tidak ada sedikitpun prasangka buruk dan pikiran yang negatif. Bathin yang polos dan seputih kertas.

– Lenyapnya segala bentuk kegelapan bathin. Apapun yang terjadi diluar, apapun yang kita hadapi, baik-buruk, salah-benar, bahagia-sengsara, suci-kotor, tidak ada iri hati, tidak ada kemarahan, tidak ada dendam, tidak ada benci, tidak ada hawa nafsu, tidak ada keinginan, tidak ada keserakahan, tidak ada kesombongan, tidak ada kebingungan, tidak ada rasa jengah atau malu, tidak ada rasa sedih dan tidak ada rasa takut. Bathin yang telanjang dan sehening pohon.

– Lenyapnya rasa ke-aku-an dan identifikasi diri. Tidak ada ini aku, ini milikku, ini rumahku, ini agamaku, ini keluarga-ku, ini kelompok-ku, ini etnisku, ini bangsaku, ini badan fisik-ku, ini pendapatku, ini perasaanku, ini harga diriku, dsb-nya. Bathin yang seluas samudera tak bertepi.

2. KELUAR
Sikap bathin “keluar” atau sikap bathin kita kepada semua orang, semua mahluk dan alam semesta, yang ada hanya welas asih, kebaikan dan penuh pengertian yang tidak terbatas dan tanpa syarat.

Inilah ukuran bagaimana cara kita tahu kalau kita sudah mengalami moksha, dalam penjelasan yang hampir mendekati.

Kalau dalam keseharian kita selalu tekun melaksanakan dharma, sekali-sekali dalam hidup ini sangat mungkin kita bisa “sadar” dan mengalami moment BEBAS ini, walaupun secara sangat sementara.

Mungkin saat saat kita lebur dalam kedalaman meditasi, saat sembahyang di sebuah pura kuno, saat duduk tenang di puncak gunung atau di tengah hutan, atau bahkan mungkin saja bisa terjadi saat kita sedang duduk di depan komputer. Kalau ini terjadi kita bisa langsung menitikkan air mata. Bukan air mata kesedihan atau kebahagiaan. Melainkan seperti pulang ke rumah yang sudah sangat lama kita tinggalkan. Karena kita bersentuhan dengan atman, sadar akan hakikat realitas diri yang sejati yang sudah sangat lama kita lupakan.

Sesungguhnya kita sudah dan selalu bebas, hanya saja kita lupa, kita tidak menyadarinya. Kita lupakan karena kita terbelenggu oleh pikiran dan terbelenggu oleh badan fisik. Ketika belenggu ini lenyap, kita ingat, kita sadar.

Dan sesungguhnya belenggu pikiran dan belenggu badan fisik inipun tidak ada. Belenggu ini seolah ada karena kita tunduk dan terseret arus ahamkara [ke-aku-an]. Dan sesungguhnya ahamkara [ke-aku-an] inipun tidak ada, karena “kamu adalah tat” [tat tvam asi].

Inilah pentingnya dalam keseharian kita selalu tekun melaksanakan dharma. Karena dharma yang sudah dilaksanakan tidak saja adalah pelindung abadi kita dalam roda samsara , juga menjadi gerbang depan untuk memasuki dunia spiritual yang mendalam dan sekaligus [kalau tiba putaran waktunya] sangat mungkin kita bisa “sadar” dan mengalami moment BEBAS ini, walaupun secara sangat sementara. Dimana hal ini dapat membuka wawasan dan memberi kita banyak pemahaman akan tujuan hidup dan hakikat realitas diri yang sejati yang sudah sangat lama kita lupakan.

Itu adalah jawaban dari pertanyaan saudara kita tersebut.

MOKSHA [PEMBEBASAN SEMPURNA] / ATMA JNANA [KESADARAN SEMPURNA]

Bedanya antara kita dengan seorang jivan-mukta [orang yang telah bebas, moksha], kalau kita selalu tekun melaksanakan dharma sehingga sekali-sekali dalam hidup ini sangat mungkin kita bisa “sadar” dan mengalami moment BEBAS secara sangat sementara, sedangkan pada seorang jivan-mukta moment BEBAS ini sifatnya permanen.

Karena itu seorang sadhaka yang serius, selain selalu tekun melaksanakan dharma, dia juga tekun melaksanakan sadhana-nya. Ada yang berkelana naik-turun gunung, ada yang puluhan ribu jam melakukan meditasi, ada yang menjadi pertapa telanjang, ada yang bertahun-tahun melakukan upavasa [puasa] dan mona brata [puasa bicara], dsb-nya, ada banyak sekali metode-nya. Semua itu tujuannya hanya satu, membuat moment BEBAS ini menjadi permanen.

Moksha atau mukti dalam penjelasan tetua kita disebut “suka tan pawali duka”, kondisi bathin yang telah kembali pada kesempurnaan, yang tidak akan pernah kembali lagi pada kegelapan atau kesengsaraan. Ketika moment BEBAS ini menjadi permanen, “suka tan pawali duka”, bathin kita mengalami penyatuan kosmik dengan keseluruhan alam semesta.

Sumber: Rumah Dharma-Hindu Indonesia