Paduarsana

Berbagi Tentang Semua Hal

Category Archives: Hindu

Sanggah Cucuk dan Tawur Agung Kesanga


Sanggah Cucuk tidak dapat dipisahkan dengan Upacara Agama Hindu, Sanggah cucuk berasal dari kata sanggah yang berarti penyanggah/menopang, dan cucuk yang berarti pemucuk. Jadi dapat diartikan sanggah cucuk ini adalah pertemuan antara penyangga dan pemucuk, maka dari itu sanggah cucuk berbentuk segi tiga. Selain itu fungsi sanggah cucuk adalah sebagai upasaksi dari pelaksanaan ritual bhuta yadnya khususnya pecaruan.

cucuk

Image by: Warung Bu Siki

Dalam kaitannya dengan tawur agung kesanga, sanggah cucuk ini dipakai sebagai salah satu sarana upasaksi yang pasang disamping lebuh atau sebelah pintu/kori masuk rumah. Sedikit pengetahuan tentang tawur agung kesanga, dapat dijelaskan bahwa tawur berasal dari kata nawur atau membayar utang. Lalu kepada siapa kita membayar utang? Kepada para bhuta kala yang mana utang kepada bhuta kala dalam Tri Rna termasuk dalam utang kepada Dewa Rna. Dari utang kepada bhuta inilah perlu dilaksanakannya bhuta yadnya yang tujuannya adalah agar energi-energi negatif dari para bhuta kala tidak mengganggu umat manusia di dunia ini. Selain itu juga fungsi tawur ini agar para bhuta kala disucikan agar bisa menyatu dengan sang hyang tunggal, maka dari itu pada mantram ngalukat bhuta disebutkan :

“Om lukat sira sang bhuta dengen masurupan sang kalika, lukat sang kalika masurupan ring bhatari durga, lukat bhatari durga masurupan ring bhatari uma, lukat bhatari uma masurupan ring bhatara guru, lukat bhatara guru masurupan ring sang hyang tunggal, lukat sang hyang tunggal masurupan ring sang hyang sangkaning paran, apan sang hyang sangkaning paran rat kabeh siddha mawali paripurna. Om siddhir astu tat astu ya namah swaha”

Dikatakan tawur agung kesanga karena dilaksanakan serentak di seluruh daerah dan juga pada tilem kesanga/tilem caitra adalah tilem yang paling gelap sehingga merupakan hari yang paling baik untuk melaksanakan bhuta yadnya.

Bagaimana pelaksanaan Upacara Tawur Agung Kesanga?

Untuk pelaksanaan upacara tawur agung kesanga di tingkat rumah dibagi menjadi tiga bagian sebagai haturan kepada Tri Mala Paksa, yaitu Bhuta Buchari, Kala Bhucari, dan Durgha Bhucari. Berikut penjelasannya :

  • Di halaman Merajan Kamulan dihaturkan segehan agung cacahan 11 tanding atau yang lebih sederhana satu segehan berwarna 5 (arah timur putih, merah selatan, kuning barat, hitam utara, tengah warna brumbun) tetabuhan arak & brem ditujukan kepada Sang Bhuta Bhucari, mantramnya : “Ih Bhuta Bhucari, manusan nira angaturaken segehan, iki tadah saji sira segehan cacahan 11 tanding, madaging beras, jinah paketenganpinaka pamogpog maka kirang nira aja nyengkalen waduan sira among maka jiwa pramana waduan sira. Wus amangan anginum lah ta sira pamantukan ring karang nguni soang-soang”
  • Di pekarangan rumah dihaturkan segehan manca warna 9 tanding berisikan daging ayam brumbun (ayam dengan bulu warna-warni), atau yang lebih sederhana 1 segehan berwarna 4 (arah timur putih, merah selatan, kuning barat, hitam utara), tetabuhan arak & brem, toya anyar ditujukan kepada Sang Kala Bhucari, mantramnya : “Ih kala Bhucari, manusan nira angaturaken segehan, iki tadah saji sira segehan manca warna 9 tanding, madaging beras, jinah paketenganpinaka pamogpog maka kirang nira, aja nyengkalen waduan sira among maka jiwa pramana waduan sira. Wus amangan anginum lah ta sira pamantuka ring karang nguni soang-soang”
  • Di lebuh rumah atau pamedal karang dipasang sanggah cucuk di sebelah kanan. Pada sanggah cucuk tersebut diletakkan peras daksina, ajuman, banten pedanan, tumpeng ketan, panyeneng dan rerasmen. Pada sanggah cucuk tersebut digantungkan juga sujang (batang bambu kecil 2 biji masing-masing diisi arak & brem) Haturan di sanggah cucuk tersebut ditujukan kepada Sang Durgha Bhucari.
  • Di sor (bawah) sanggah cucuk diletakkan segehan manca warna 9 tanding, berisi daging ayam brumbun, tetabuhan arak & brem ditujukan kepada Sang Kala Raja & Sang Bhuta Raja. Selain itu juga dihaturkan segehan cacah 108 (satus kutus) berisi jeroan mentah, segehan agung 1 tanding ditujukan kepada Sang Kala Bala & Sang Bhuta Bala. Atau lebih sederhana dihaturkan 1 segehan warna 9 sesuai dengan warga pangider dewata nawa sanga. Keempat Bhuta Kala yang dihaturkan segehan di bawah ini merupakan pengikut dari Bhatari Durgha. Mantramnya : “Ih kala Bhucari, manusan nira angaturaken segehan, iki tadah saji sira segehan, madaging beras, jinah paketengan pinaka pamogpog maka kirang nira, aja nyengkalen waduan sira among maka jiwa pramana waduan sira. Wus amangan anginum lah ta sira pamantuka ring karang nguni soang-soang”

Dalam melaksanakan tawur di atas, hendaknya nunas tirtha caru dan tirtha kahyangan tiga di masing-masing desa pakraman. Selain itu juga pelaksanaan tawur agung kesanga di tingkat rumah tangga, sebaiknya disesuaikan dengan kondisi desa pekraman/lingkungan sekitar.

Pesan terakhir, maknailah setiap upacara yang kita lakukan karena dengan begitu setiap yadnya demi yadnya kita lakukan akan mengubah tata cara kita berpikir, perkataan, dan perbuatan kita mengarah ke arah yang lebih baik. Disebutkan dalam Manava Dharma Sastra III.97

Nacyanti nawyah kawyani naranama wijanatam, bhasmi bhutesu wipresu mohad dattani datrbhih

Arti Bebas : Persembahan yang dilakukan tanpa diketahui maknanya adalah sia-sia, sama dengan mempersembahkan kebodohannya dan persembahan itu tak ada bedanya dengan segenggam abu.

Om loka samstha sukinoh bhavantu
Om shanti shanti shanti om

Sumber : Pinandita Pasek Ketut Adi Wibardi

Artikel lainnya:

  1. Hari Raya Nyepi
  2. Upacara Melasti
  3. Banten Hari Raya Nyepi

Pratima dalam Hindu


Pratima merupakan simbol Dewa/Bhatara yang dipergunakan sebagai alat untuk memuja Sanghyang Widhi Wasa. Penggunaan Pratima atau arca sebagai alat memuja Tuhan berlangsung sebelum kerajaan Singasari dan Majapahit. Kini penggunaan pratima sudah jarang dilakukan, pratima dan arca saat ini merupakan sebagai pusaka yang dikeramatkan. Dalam ajaran agama Hindu terdapat 4 (empat) jalan untuk mencapati kesempurnaan hidup atau jalan menuju Tuhan yang disebut Catur Marga. Salah satu dari 4(empat) jalan untuk menuju Tuhan adalah Bhakti Marga.

Bhakti Marga merupakan jalan yang paling mudah untuk dilakukan untuk semua umat Hindu, Bhakti Marga sering juga disebut sebagai ajaran yang alamiah. Dalam kenyataannya Bhakti Marga terdiri dari:

  1. Apara Bhakti, adalah Cinta kasih dari seseorang yang belum mempunyai tingkat kesucian yang tinggi.
  2. Para Bhakti, adalah cinta kasih dari seorang yang sudah memiliki tingkat kesucian yang tinggi.

Bagi seorang Bhakta tidak pernah berpikir bagaimana Tuhan itu, namun seorang Bhakta senantiasa memiliki iman yang teguh percaya bahwa Hyang Widhi ada dan Tunggal(esa).

Dalam mewujudkan cinta kasih seorang Apara Bhakti memerlukan sebuah objek sebagai alat untuk memuja Hyang Widhi. Dan dari sinilah dikenal Pratima sebagai alat perwujudan atau gambaran agar pikiran seorang Apara Bhakti dapat terpusat kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pratima yang digunakan hanya sebagai alat untuk memusatkan pikiran kepada Hyang Widhi, bukan sebagai benda yang disembah seperti dugaan agama-agama lain. Seorang Apara Bhakti pun hendaknya menyadari bahwa Pratima atau Arca bukanlah Dewa atau Tuhan. Hindu bukanlah politheisme tidak juga penyembah batu, patung, dll. Dalam Kitab suci dinyatakan: Ekam Ewa Adwityam Brahman. Artinya: Hanya ada satu Tuhan, Tidak ada duanya.

Penggunaan Pratima diperkirakan sudah berkembang sejak abad ke IX dan berakhir sampai abad ke XIII. Pada jaman kerajaan singasari dan Majapahit penggunaan pratima/objek pemujaan sudah banyak berkurang. Sedangkan yang kita jumpai saat ini hanya merupakan alat kelengkapan Pura/Sanggah.

**Dari berbagai sumber.

Rumah Tinggal yang Ideal Dalam Hindu


RUMAH tinggal bukan sekedar sebagai tempat berteduh saat panas dan saat hujan. Rumah tinggal itu adalah tempat mengembangkan konsep kehidupan yang seimbang baik lahir maupun batin. Karena itu harus diciptakan kondisi yang seimbang antara eksistensi alam lingkungan yang sejuk dan hubungan sosial yang harmonis sesama penghuni rumah tinggal sebagai pemujaan pada Tuhan. Konsep rumah tinggal yang idial normatif itu ada dinyatakan dalam berbagai susastra Hindu.

Dalam Sloka dibawah dinyatakan:

Trnaani bhuurmirudakam
Wak caturti ca suunartaa
Etaanyapi sataan gehesu
Nocchidyante kadaacana. (Manawa Dharmasastra. III.101)

Artinya: Di rumah tinggal orang yang baik akan senantiasa ada empat hal yaitu pepohonan, air yang jernih yang mengalir, ruang istirahat dan kata-kata yang sopan santun dan kesetiaan.

Sloka diatas menyatakan adanya empat unsur yang harus ada dalam setiap rumah tinggal orang baik. Empat unsur itu membentuk lingkungan alam yang sejuk dan lingkungan sosial yang harmonis dan dinamis dalam rumah tinggal tersebut. Konsep rumah tinggal yang demikian itu juga dinyatakan kembali dalam Sarasamuscaya 224. Tentang rumah tinggal yang idial itu amat sejalan dengan fungsi rumah tingga yang ada dikalangan umat Hindu di Bali. Fungsi rumah tinggal bagi umat Hindu di Bali tergambarkan pada saat rumah tinggal itu di-pelaspas yaitu upacara untuk mengupacarai rumah tinggal tersebut secara ritual sakral.

Puncak upacara melaspas umumnya disertai dengan menancapkan tiga jenis bentuk banten yang disebut ”Orti”. Tiga jenis banten Orti itu adalah Orti Temu, Orti Ancak dan Orti Bingin. Tiga Orti ini menggambarkan makna dari rumah tinggal tersebut. Orti Temu sebagai simbol yang melukiskan rumah tinggal itu setelah dipelaspas bukan merupakan rangkaian bahan-bahan bangunan yang bersifat sekala semata yang tak bernyawa, tetapi sudah ditemukan dengan kekuatan spiritual yang niskala dengan upacara yadnya yang sakral. Ini artinya rumah tinggal itu sudah hidup atau ”maurip” secara keagamaan.

Sedangkan Orti Ancak adalah lambang bahwa rumah tinggal itu sebagai tempat untuk mengembangkan kehidupan yang baik dan benar atau lambang ”kawerdian”. Kata werdhi artinya berkembang kearah yang semakin baik. Ini artinya rumah tinggal itu harus difungsikan sebagai sarana untuk mengembangkan kehidupan yang semakin baik, benar dan wajar mewujudkan tujuan hidup yang disebut Purusa Artha. Orti Bingin lambang ”kelanggengan”. Langgeng atau keabadian. Hidup itu banyak seginya. Hal yang tidak baik dan tidak benar wajib ditinggalkan. Tetapi hal yang baik dan benar wajib dijadikan dasar mengembangkan kehidupan yang baik dan benar atau werdhi sampai yang baik dan benar itu menjadi langgeng sebagai dasar kehidupan manusia yang tinggal dalam rumah tinggal tersebut.

Sejalan dengan makna tiga Orti itu Sloka Manawa Dharmasastra III.101 diatas dan juga Sarasamuscaya 224 memberikan tuntunan tentang unsur yang seyogianya ada dan dikembangkan dalam rumah tinggal yaitu: yaitu adanya pepohonan yang berguna untuk makanan dan obat-obatan atau trna atau sam sam. Hal ini untuk memelihara kualitas oksigen yang selalu dihirup oleh mereka yang tinggal di rumah tinggal tersebut. Dalam Mantra Atharvaveda X.44.1 ada dinyatakan bahwa: Terdapat warna hijau pada daun tumbuh-tumbuhan (klorofil) yaitu unsur yang menyelamatkan hidup yang pada hijau daun. Ia ditutupi oleh tumbuh-tumbuhan berkhasiat obat dan makanan.

Rumah tinggal itu hendaknya tidak dipenuhi oleh bangunan fisik saja. Betapapun sempitnya halaman hendaknya diusahakan ada pepohonan setidaknya pohon sejenis perdu yang ada manfaatnya sebagai bahan makanan, obat-obatan dan keindahan warna daun dan bunganya. Mungkin hal ini yang disebut adanya pasar hidup dan apotek hidup dalam pembinaan keluarga dewasa ini. Air jernih yang mengalir atau bhumi udaka disebut juga ”wwai hideng” seyogianya juga ada dalam setiap pekarangan rumah tinggal. Air ini merupakan satu dari tiga Ratna Permata Bumi menurut Nitisastra XII.21. Dua Ratna Permata Bumi lainnya adalah anna atau tumbuhan bahan makanan dan obat-obatan dan subha sita yaitu kata-kata bijak yang dirumuskan dari Mantra Weda.

Kata-kata bijak itulah yang wajib dijadikan dasar dan pedoman berperilaku dalam mengelola hidup bersama di rumah tinggal tersebut. Air adalah sumber alam yang amat menentukan perjalanan hidup semua mahluk di bumi ini, karena itu air itu disebut Ratna Permata Bumi. Dewasa ini cara mengolah aliran air di rumah tinggal agar terus mengalir sudah ada berbagai teknologi modern. Unsur yang ketiga yang wajib ada dalam rumah tinggal itu adalah tempat istirahat seperti kamar tidur, kamar keluarga dan juga ruang untuk terima tamu. Keberadaan ruangan inilah yang lebih diutamakan pada umumnya, karena itu memang kebutuhan yang paling mendasar dalam rumah tinggal itu.

Namun demikian keberadaan tumbuh-tumbuhan dan air mengalir dan kata-kata bijak amat dipentingkan agar kamar atau ruangan itu menjadi berfungsi sebaik mungkin memberi kesehatan dan kesejukan bertempat tinggal di rumah tersebut. Unsur yang keempat seharusnya ada dalam setiap rumah tinggal adalah ”Ujar umanis” dan ”Satya hitaawasaana” atau disebut suunrtaa. Kata-kata manis dan kesetiaan dan kebenaran inilan menajadi norma utama yang jadi pegangan dalam rumah tinggal suatu keluarga. Dalam komunikasi di intern keluarga dalam rumah tinggal itu tidak ada ”ujar apergas” atau kata-kata kasar, ujar ahala kata-kata jahat, ujar pisuna kata kata fitnah dan ujar mithya atau kata-kata bohong.

Komunikasi senantiasa memberikan kesan kebenaran dan kejujuran atau satyahita wasana dalam keluarga tersebut. Unsur-unsur yang seyogianya ada dalam setiap rumah tinggal orang baik ini perlu kembali direnungkan untuk membangun suatu pemukiman yang sehat baik ditinjau dari sudut lingkungan alam maupun dari sudut lingkungan sosialnya. Dalam rumah tinggal yang idial itulah akan tumbuh generasi penerus yang sehat lahir dan batin.

**I Ketut Wiana