Paduarsana

Berbagi Tentang Semua Hal

Category Archives: Budaya

Tradisi Nyakan Diwang Jelang Ngembak Geni


Tradisi Nyakan Diwang jelang Ngembak Geni.

Pulau Dewata memiliki banyak sekali keunikan dan keindahan tersembunyi di dalamnya, selain keindahan alam di sejumlah objek wisata yang tersebar di Bali, beberapa tradisi seperti Nyakan Diwang di Desa Dencarik, Kec. Banjar, Kab. Buleleng, ikut mempopulerkan bahwa Bali adalah pulau unik yang layak dikunjungi oleh wisatawan. Tradisi tersebut telah menjadi warisan turun temurun dari nenek moyang mereka dan berkembang lestari sampai saat ini, semua melakukan dengan penuh kesadaran, tanpa harus ada sanksi bagi mereka yang tidak ikut melaksanakannya.

Image by: Bali Travel News

Nyakan Diwang berarti masak di luar rumah, tradisi ini memang digelar di luar pekarangan rumah, yaitu di pinggir jalan sepanjang jalan di desa tersebut, hanya populer di wilayah Banjar, dirayakan dalam rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi sehingga jarang orang luar/ warga lain bisa menyaksikan kegiatan tersebut, saat jalanan masih ditutup karena perayaan Nyepi, karena pada umumnya ngembak Gni (buka Nyepi) sekitar jam 06.00 pagi. Nah di desa ini sekitar pukul 03.00, kulkul (kentongan berbunyi) sebagai tanda kegiatan akan segera dimulai, maka warga akan merayakannya bersiap untuk memulainya, dan perayaan selesai sekitar pukul 07.00 dan jalan kembali dibuka untuk umum.

Peralatan juga sangat sedehana, mereka menanak nasi dengan menggunakan kayu bakar di pinggir jalan desa, tradisi inik di Bali patut diapresiasi kepada seluruh warganya, walaupun tidak sebagai suatu keharusan, mereka secara kompak bisa melaksanakannya, karena ini merupakan warisan leluhur, sebuah kewajiban moral untuk melaksanakannya, walaupun tidak ada sanksi adat yang diberlakukan. Tujuan perayaan ini untuk pembersihan rumah terutama bagian dapur setelah catur brata penyepian, seperti tidak menyalakan api, tidak bepergian, tidak bekerja dan tidak mengobarkan kesenangan.

** Sumber: maxonejimbaran

Selamat Hari Raya Saraswati Dan Hari Raya Nyepi


Om Swasty Astu, Badung 16 Maret 2018. paduarsana.com mengucapkan Selamat Menyambut Hari Raya Saraswati, Hari Raya Nyepi Saka 1940 yang jatuh bersamaan pada hari Sabtu 17 Maret 2018. Semoga kita semua menjadi pribadi-pribadi tercerahkan lahir dan bathin serta dijauhkan dari kegelapan pikiran.

Image: Koleksi pribadi

paduarsana.com adalah personal blog yang berusaha menyajikan informasi yang bermanfaat bagi Umat Hindu dimanapun berada. Tanpa bermaksud menggurui kami hanyalah insan biasa yang ingin menyampaikan, membagikan informasi kepada Umat Hindu diseluruh belahan negara.

Penting bagi kita untuk mengisi dan membekali diri sendiri dan atau generasi penerus kita mengenai Hindu, Bali dan Budayanya. Seiring berkembangnya teknologi digital paduarsana.com hadir sebagai bagian terkecil dari percikan cahaya pengetahuan untuk menerangi pembacanya.

Banyak pihak dan banyak media baik cetak maupun elektronik  yang telah berkontribusi secara tidak langsung bagi eksisnya paduarsana.com; Akhirnya dengan kerendahan hati kami berharap agar apa yang kami sampaikan dapat diterima dan menjadi sedikit sumbangan bagi terbentuknya Umat Hindu yang berkarakter serta memiliki kekuatan atas sradha dan bakti kepada Sang Hyang Widhi Wasa.

Om asato ma sad gamaya

tamaso ma jyotir gamaya

mrtyorma amrtham gamaya

Om dhirgahayu astu tat astu swaha.

Om santih, santih, santih Om

Tradisi Siat Sarang


Atraksi ritual Siat Sarang (berperang menggunakan alas bekas bikin jaja uli), Tradisi atraksi siat sarang ini merupakan ritual adat yang digelar serangkaian upacara Usaba Dimel ini bermakna untuk membuang musuh-musuh yang bersarang dalam diri.

siatsarang

Image by: Nusa Bali

Tradisi Siat Sarang merupakan runtutan dari Ngusaba Dodol. Siat Sarang dilakukan menggunakan Sarang yang dibuat dari daun Enau atau Jaka. Ritual Siat Sarang ini ditandai aksi saling lempar bersenjatakan sarang. Kedua kelompok pemuda saling serang dan melempar sekuat tenaga, hingga sarang yang dipakai senjata hancur berantakan. Selain untuk memuang mala (musuh atau kotoran dalam diri secara niskala), ritaul Siat Sarang ini juga bermakna untuk menyomiakan (menetralisasi) pengaruh jahat bhuta kala di areal sekitar.

Tradisi Siat Sarang ini rutin dilaksanakan krama Desa Pakraman Selat setahun sekali, tiga hari sebelum upacara Usaba Dimel. Ritual Siat Sarang merupakan satu rangkaian aci petabuhan (upacara pacaruan) dengan kurban godel (anak sapi) dan anjing blangbungkem (loreng coklat).

Prosesi Siat Sarang sendiri berawal dari rumah masing-masing krama pagi harinya, di manba mereka ngunggahang (mempersembahkan) satu kemasan tenge (berisikan kemasan daun gegirang, bambu, gunggung, dan aba) yang dihias bergambar makhluk bhuta kala. Kemasan itu dipersembahkan di pekarangan rumah masing-masing.

Menjelang sore, beberapa tenge yang terpasang di pekarangan rumah dikumpulkan lagi oleh keluarga bersangkutan, lanjut dimasukkan ke dalam sarang. Nah, sarang tersebut selanjutnya ditempatkan di lebuh (dekat pintu halaman rumah). Esensinya, untuk memancing agar kekuatan bhuta kala masuk ke dalam sarang.

Selanjutnya, sarang dibawa ke Pura Bale Agung untuk mendapatkan labaan (pemberian kepada makhluk yang lebih rendah tingkatannya) berupa banten pacaruan, sekaligus menyomiakan sifat-sifat bhuta kala. Setelah dipersembahkan di Pura Bale Agung, maka sarang tersebut diambil kalangan teruna (pemuda) Desa Pakraman Selat untuk dijadikan sarana perang.

Kalangan teruna yang terlibat dalam ritual Siat Sarang ini mengenakan kain dengan saput poleng, tanpa busana atas. Mereka terbagi dalam dua kelompok, masing-masing Selat Kaja dan Selat Kelod. Setiap perserta diingatkan untuk mampu mengusir sifat-sifat bhuta kala yang melekat di dalam diri.

Musuh-musuh dalam diri yang harus dibuang sebagaimana dimaksudkan Jro Mangku Mustika, antara lain, Tri Mala, Tri Mala Paksa, Catur Mada (empat kemabukan), Panca Wisaya (lima jenis racun), Panca Ma (madat, mabuk, mamotoh, madon, maling), Sad Ripu (enam musuh dalam diri: kama, lobha, krodha, moha, mada, dan matsarya).

Ritual Siat Sarang juga bermakna mengusir kekuatan Sad Atatayi (enam pembunuh kejam), Sapta Timira (tujuh macam kegelapan), Asta Dusta, Dasa Mala (sepuluh kotoran), dan Asuri Sampat (sifat keraksasaan).

Artikel diolah dari berbagai sumber.