Paduarsana

Berbagi Tentang Semua Hal

Tag Archives: kalender bali

Cetak Kalender Bali 2013


 

Kehidupan Umat Hindu(suku: Bali) dimanapun berada tidak bisa dilepaskan dari Kalender Bali, Bisa dibilang Kalender Bali sangat istimewa karena penanggalan Kalender Bali adalah penanggalan “konvensi”. Tidak astronomis seperti penanggalan hijriah, tidak pula aritmatis seperti penanggalan Jawa, tetapi ‘kira-kira’ ada di antara keduanya.

Kalender Saka Bali tidak sama dengan Kalender Saka dari India, namun kalender Saka yang sudah dimodifikasi dan diberi tambahan elemen-elemen lokal. Kalender Saka Bali bisa dikatakan merupakan penanggalan syamsiah-kamariah (surya-candra) atau luni-solar. Jadi penanggalan ini berdasarkan posisi matahari dan sekaligus bulan. Dikatakan konvensi atau kompromistis, karena sepanjang perjalanan tarikhnya masih dibicarakan bagaimana cara perhitungannya.

Dalam kompromi sudah disepakati bahwa: 1 hari candra = 1 hari surya. Kenyataannya 1 hari candra tidak sama dengan panjang dari 1 hari surya. Untuk itu setiap 63 hari (9 wuku) ditetapkan satu hari-surya yang nilainya sama dengan dua hari-candra. Hari ini dinamakan pangunalatri. Hal ini tidak sulit diterapkan dalam teori aritmatika. Derajat ketelitiannya cukup bagus, hanya memerlukan 1 hari kabisat dalam seratusan tahun.

Banyak informasi yang berkaitan dengan hari baik dan buruk, rerahinan dan odalan/upacara dapat diperoleh pada kalender Bali. Informasi-informasi inilah yang tidak mungkin didapatkan dari kalender pada umumnya. Bagi pengunjung yang ingin memesan / mencetak kalender Bali sebagai media promosi usaha(toko, koperasi dll)dapat menghubungi saya via email padu.arsana@gmail.com atau dapat juga melalui comment dibawah.

Tahun lalu KSU Dharma Karya Sejahtera yang ada di Oku Timur, Sumatera Selatan juga melakukan pemesanan 250 pcs kalender Bali. Selain sebagai media promosi ini tentu menunjukkan kepedulian koperasi tersebut kepada semeton Hindu(Bali) agar tidak ketinggalan informasi mengenai dewasa ayu yang erat kaitanya dengan upacara agama. Kalender Bali dapat dipesan dengan KOP atau logo perusahaan dengan ketentuan, sebagai berikut:

  1. Harga satuan tidak sama tergantung penyusun dari kalender tersebut silahkan kirim email: untuk mendapatkan pricelist(daftar harga) berdasarkan penyusun.
  2. Harga tidak termasuk ongkos kirim(diluar Bali). Biaya pengiriman adalah fix berdasarkan harga dari jasa pengiriman(tiki,kantor pos dll)
  3. Minimal pesanan 100 pcs(kalender).
  4. Melakukan pembayaran 50% sebagai uang muka(untuk pemesan didalam kota) dan pembayaran 100% bagi pesanan diluar kota.

Layanan Jasa ini berasaskan: Kejujuran dan Kepercayaan dari paduarsana.com.

 

 

 

 

Bangbang Gede Rawi,Sang Maestro Kalender Bali


K Bangbang Gede Rawi | Babad Bali.

Kalender Bali identik dengan Ketut Bangbang Gde Rawi(alm), beliau adalah tokoh perintis Kalender Bali. Meskipun saat ini ada banyak tokoh yang muncul sebagai penyusun Kalender Bali namun nama Ketut Bangbang Gde Rawi masih tetap melekat pada masyarakat Bali dimanapun berada. Bahkan banyak masyarakat yang tinggal di luar Bali hanya ingin kalender Bali yang disusun oleh K Bangbang Gde Rawi(alm) alasannya karena kalender yang disusun oleh Bangbang Gde Rawi lebih “lengkap” dibandingkan dengan yang lain. Saya sendiri tidak mengerti lengkapnya seperti apa, karena yang saya lihat pada kalender biasanya hari libur, cuti bersama dll yang berhubungan dengan hari libur(hehe). Tidak juga, biasanya yang saya lihat adalah kapan waktu purnama, tilem, kajeng kliwon dan hari raya besar lainnya yang erat kaintannya dengan rerahinan, upacara atau odalan.

Bagi sulinggih, balian dan yang mengerti tentang wariga atau ahli pedewasan, kalender K Bangbang Gde Rawi adalah pilihan pertama alasannya ya seperti diatas tadi, lengkap.

Siapa Ketut Bangbang Gde Rawi(alm)? Beliau lahir di Desa Celuk, Sukawati, Sabtu Pon Sinta 17 September 1910 sebagai anak keempat dari enam bersaudara dari pasangan Jro Mangku Wayan Bangbang Mulat dan Jro Mangku Nyoman Rasmi. Tahun 1929, setelah tamat sekolah Goebernemen Negeri di Sukawati, dalam usia 19 tahun, Ketut Bangbang Gde Rawi sudah mulai tekun mempelajari ihwal wariga, adat, dan filsafat agama Hindu. Proses perburuan ilmu ini dilakukan dengan cara bertandang ke griya-griya, mencari lontar, menekuni wariga dan berdiskusi dengan peranda-peranda. Di samping menekuni ilmu wariga, Rawi juga tertarik pada bidang seni tari dan seni rupa, seperti memahat dan melukis, dilakukan sepanjang tahun 1930-an. Dekade ini, Ketut Bangbang Gde Rawi yang ulet bekerja juga pernah menjadi tukang jahit, jual-beli pakaian jadi, dan perhiasan emas.

Awal 1940-an, sebelum Indonesia merdeka, beliau pernah menjadi perbekel di desa kelahirannya, Celuk. Saat itulah, Rawi yang mewarisi banyak pustaka lontar sering dimintai untuk mencari hari baik untuk pelaksanaan upacara atau kegiatan adat lainnya. Lama-kelamaan, bakat beliau di bidang menentukan hari baik untuk melakukan sesuatu (padewasaan) mulai tumbuh dan tersiar di kalangan masyarakat luas sehingga beliau didesak oleh para tokoh adat dan agama se-Kabupaten Gianyar untuk menyusun kalender. Desakan itu ditolak dengan rasa rendah hati.

Namun, dalam rapat-rapat sulinggih Bali Lombok antara tahun 1948-1949, muncullah keputusan untuk memberikan kepercayaan kepada beliau untuk membuat kalender Bali. Tampaknya keputusan ini sulit beliau tolak. Setahun kemudian, atas dorongan Ida Pedanda Made Kemenuh, Ketua Paruman Pandita Bali-Lombok, Rawi mulai menyusun kalender. Kalender hasil karya beliau yang pertama dicetak penerbit Pustaka Balimas, salah satu penerbit besar di Bali saat itu. Tahun 1954, beliau dilantik menjadi anggota DPRD Bali berkat keahliannya di bidang adat dan agama.

Banyak intelektual Bali mencoba menyusun kalender, tetapi sampai tahun 1980-an, praktis kalender Ketut Bangbang Gde Rawi yang populer dan banyak dijadikan pegangan oleh masyarakat. Selain karena isinya yang diyakini ketepatannya, yang khas dalam kalendernya adalah pemasangan foto diri yang mengenakan dasi dan kacamata. Mengapa bukan foto yang mengenakan destar? Tak jelas, tetapi foto berdasi itu adalah potret beliau sebagai anggota DPRD Propinsi Bali. Semula foto itu dipasang di kalender sebagai tanda pengenal semata, tetapi lama-lama menjadi merk dagang (trade mark). Kalender beliau tampil khas, pinggirannnya dihiasi dengan pepatran ukiran dedaunan, di atasnya tercetak gambar swastika simbol agama Hindu. Menurut Jro Mangku Nyoman Bambang Bayu Rahayu, cucu Ketut Bangbang Gde Rawi yang kini menjadi penerus penyusunan kalender, bentuk, bingkai, ilustrasi, susunan hari, potret diri dan nama penyusun kalender itu sudah dipatenkan sejak April 2002. Ini berarti model kalender beliau tidak boleh dijiplak. Meski demikian, kalender Bali lain yang muncul belakangan mau tak mau mengikuti pola kalender Ketut Bangbang Gde Rawi meski tidak persis sama.

Kecemerlangan Rawi di bidang adat, wariga, dan agama Hindu mendapat pengakuan dari Institut Hindu Dharma (IHD, kini Unhi). Buktinya, tahun 1972, beliau ditunjuk menjadi dosen untuk mata kuliah “wariga” di IHD. Tahun 1976, beliau juga mengabdikan diri di Parisadha Hindhu Dharma Pusat yang berkedudukan di Denpasar sebagai anggota komisi penelitian. Selain membuat kalender dan mengajar, Rawi juga menerbitkan beberapa buku, seperti Kunci Wariga (dua jilid, 1967) dan Buku Suci Prama Tatwa Suksma Agama Hindu Bali (1962).

Ketut Bambang Gde Rawi meninggal 18 April 1989 dengan mewariskan kecerdasan yang monumental, yakni pengetahuan tentang cara menyusun kalender Bali. Sejak kepergiannya, penyusunan kalender diteruskan oleh putranya, Made Bambang Suartha. Tugas ini dikerjakan sekitar delapan tahun, tepatnya hingga Made Bambang Suartha meninggal 10 April 1997. Warisan ilmu menyusun kalender itu kemudian menurun pada Jro Mangku Nyoman Bambang Bayu Rahayu, cucu Ketut Bangbang Gde Rawi. Sampai sekarang kalender Ketut Bangbang Gde Rawi tetap hadir di tengah-tengah masyarakat. Di bawah potret Ketut Bangbang Gde Rawi tertera tulisan “Disusun oleh Ketut Bangbang Gde Rawi (alm) dan Putra-putranya”.

Bagi masyarakat Bali di Bali, dan mereka yang ada di daerah transmigran, termasuk yang menetap di luar negeri, kalender Bali sudah menjadi kebutuhan. Dengan menggantung kalender Bali di rumah, mereka dengan mudah bisa mengetahui hari khusus agama Hindu seperti purnama tilem, Galungan Kuningan, Nyepi dan sebagainya.

Belakangan sejumlah ahli penyusun kalender Bali yang lain selain “dinasti Ketut Bangbang Gde Rawi”, juga bermunculan dan mereka berhasil membuat kalender yang diterima publik. Perkembangan penyusunan kalender Bali ini tentu tak bisa dipisahkan dari jasa Bambang Gde Rawi, sang perintis. Usaha Rawi dan penyusun kalender Bali lainnya besar jasanya kepada masyarakat dalam usaha menjaga kearifan lokal Bali.

%d bloggers like this: