Advertisements

Paduarsana

Berbagi tentang: Hindu, Bali dan Budayanya.

Tag Archives: kahyangan jagat

Pura Tap Sai Rendang, Karangasem


Nama Pura Tap Sai, memang belum begitu populer jika dibandingkan dengan Pura Besakih, Pura Luhur Uluwatu, Pura Tanah lot, Pura Lempuyang atau pun Pura Kahyangan Jagat lainnya, namun sekarang sudah mulai banyak pemedek (warga Hindu) yang datang dan bersembahyang di Pura Tap Sai ini, tidak dipungkiri peranan sosial media yang membuat pura ini lebih dikenal oleh masyarakat luas, tempatnya yang jauh dari keramaian di tengah hutan namun mudah dijangkau, membuat orang-orang mulai antusias untuk merasakan aura spiritual di Pura Pajinengan Gunung Tap Sai.

Image by: Balitoursclub

Pura Tap Sai terletak di lereng Gunung Agung. Pura Tap Sai relatif masih minim didengar oleh kalangan umat Hindu di Bali. Umat yang tangkil ke pura untuk meminta keselamatan dan penganugerahan. Tap Sai berasal dari kata matapa saisai (bertapa atau semedi setiap hari)

Dalam lontar Kuntara Bhuana Bangsul disebutkan, 3 dewi yang berstana di dalam Pura Tap Sai, yaitu Ida Dewi Saraswati, Ida Dewi Sri dan Ida Dewi Laksmi. Ketiganya disebut dengan Bhatara Rambut Sedana atau Tri Upa Sedana atau tiga dewi pemberi kesuburan dan penganugerahan. Saat kita baru masuk areal pura kita akan dapat merasakan aura yang begitu damai dan tenang. Terlebih lagi saat ada di Pura Beji di sebelah timur pura utama. Di Pura ini kita bisa melukat sebekum melakukan persembahyangan di pura utama.

Pada halaman utama (utamaning mandala) pura Tap Sai juga ada pelinggih Lingga Yoni yang dililit akar pohon, yang dipercaya umat sebagai tempat umat memohon anak atau keturunan, jodoh, segala permasalahan kesehatan serta memohon tamba (obat) dan juga rejeki. Ingin bersembahyang ke Pura Pajinengan Gunung Tap Sai, ada beberapa tahapan persembahyangan yang dilakukan sebelum ke tujuan utama di utama mandala.

Image by: Balitoursclub

Bagi kawan-kawan yang hendak melakukan persembahyangan ke pura ini bisa mempersiapkan 2 pejati untuj di Pura Beji (melukat) dan di pura inti.

Berikut adalah urutan persembahyangan di Pura Tap Sai:

Dimulai dari pelinggih paling bawah yaitu palinggih Ratu Penyarikan Pengadang-adang, kemudian berlanjut ke palinggih Ratu Gede Mekele Lingsir, palinggih ini berupa sebuah batu besar dengan tulisan aksara (huruf) Bali kuno. Dilanjutkan lagi ke palinggih berikutnya yaitu palinggih Widyadara-widyadari. Berlanjut ke palinggih Pengayengan Ratu Dalem Ped, persembahyangan berlanjut lagi ke Pura Beji dan melukat dengan tirta yang dikenal dengan Tirta Bang.

Di kawasan Pura Pajinengan Gunung Tap Sai ada tiga buah sumber tirta yaitu Tirta Bang, Tirta Putih dan Tirta Selem, Tirta Bang bisa ditemukan di pura Beji, sedangkan jika anda ingin nunas Tirta Putih, karena belum dialirkan ke bawah sehingga anda harus mendaki, tetapi Tirta Selem bisa ditemukan di utama mandala pura. Setelah rangkaian persembahyangan dan melukat di beji, barulah anda sampai di kawasan madya mandala pura, di areal ini ada sebuah palinggih Ganesha yang dipercaya sebagai stana Sang Hyang Ganapati dan terdapat sebuah pohon besar yang disakralkan.

Setelah madya utama, barulah memasuki areal utama mandala, yang mana di areal ini terdapat palinggih Tri Upa Sadana yang dipercaya sebagai sthana Dewi Sri, Dewi Saraswati dan Dewi Laksmi, di areal ini juga terdapat pelinggih Lingga Yoni sebagai tempat memohon keturunan atau anak, pemedek biasanya menghaturkan 11 batang dupa di tempat ini sembari memohon apa yang diinginkan dan selanjutnya dilanjutkan persembahyangan di pelinggih Ratu Hyang Bungkut.

Jadi persembahyangan di Pura Pajinengan Gunung Tap Sai, harus melewati urutan tersebut di atas, tidak boleh langsung masuk ke areal utama atau kawasan utama mandala, sarana persembahyangan (banten) tidak diperkenankan menggunakan sarana daging babi. Umat yang bersembahyang (pemedek) harus mengikuti aturan persembahyangan agar tidak terjadi hal-hal negatif.

Jika hendak nangkil ke Pura Tap Sai bisa menghubungi Jro Mangku Kariasa (0818-0549-1542). Beliau biasanya selalu ada di Pura.

artikel diolah dari berbagai sumber.

Advertisements

Pura Pusering Jagat


Salah satu Pura Kahyangan Jagat lainnya di Bali adalah Pura Pusering Jagat. Terletak di Desa Pejeng, Tampak Siring, Gianyar. Pura Pusering Jagat memiliki arti yang penting di Bali dan merupakan tempat sthana(bersemayam) Dewa Siwa.
Dalam lontar-lontar kuna, Pura Pusering Jagat juga dikenal sebagai Pura Pusering Tasik atau pusatnya lautan. Penamaan itu akan mengingatkan masyarakat Hindu kepada cerita Adi Parwa yang mengisahkan perjuangan para dewa dalam mencari tirtha amertha (air kehidupan) di tengah lautan Ksirarnawa.

Di pura ini terdapat arca-arca yang menunjukkan bahwa pura ini adalah tempat pemujaan Siwa seperti arca Ganesha (putra Siwa), Durga (sakti Siwa), juga arca-arca Bhairawa. Ada juga arca berbentuk kelamin laki-laki (purusa) dan perempuan (pradana). Dalam ajaran Hindu, Purusa dan Pradana ini adalah ciptaan Tuhan yang pertama. Purusa adalah benih-benih kejiwaan, sedangkan Pradana benih-benih kebendaan. Pertemuan Purusa dan Pradana inilah melahirkan kehidupan dan harmoni.

Di pura ini juga terdapat peninggalan kuno berbentuk bejana yang disebut sangku sudamala yang melambangkan limpahan air suci untuk kehidupan. Di dalam sangku sudamala ini terdapat gambar yang menandakan angka tahun Saka 1251.

Pangempon Pura Pusering Jagat terdiri atas dua kelompok yakni pangempon dan penanga. Pengempon terdiri atas empat banjar yaitu: Banjar Intaran, Banjar Pande, Banjar Puseh dan Banjar Guliang. Sedangkan penanga sebanyak kurang lebih 137KK yang berasal dari Desa Adat Jero Kuta dan sekitar 100 KK berasal dari luar Jero Kuta seperti Pejeng Kangin dan Pejeng Kelod. Adapun upacara yang diselenggarakan di pura ini berupa aci panyabran, aci piodalan/padudusan alit dan aci piodalan/padudusan agung. Padudusan alit diselenggarakan setiap 210 hari bertepatan dengan Anggara Kasih Wara Medangsia dan Padudusan Agung digelar setiap satu tahun sekali bertepatan dengan Purnamaning Karo yang bisanya jatuh sekitar Agustus.

Pura Lempuyang


Pura Lempuyang Luhur terletak di Bukit Gamongan, pada puncak bukit Bisbis atau Gunung Kembar di desa Purahayu, kecamatan Abang, kabupaten Karangasem. Terletak lebih kurang 22km dari Kota Amlapura, kearah utara melewati Tirtagangga menuju Desa Ngis di Kecamatan Abang, kemudian membelok ketimur menuju Desa Purahayu. Kendaraan bermotor hanya bisa sampai di Desa Ngis, selanjutnya kita akan berjalan kaki menuju Desa Purahayu dan kemudian berjalan diatas bukit menuju Pura yang berada di puncak bukit Bisbis, waktu tempuh kurang lebih 3 jam.

Menurut Upadeca, bila dihubungkan dengan “Pura-Pura” Sad Kahyangan di Bali, maka Pura Lempuyang Luhur adalah termasuk salah satu dari lima Pura Kahyangan Jagat lainnya. Pura Lempuyang Luhur adalah kedudukan Dewa Içwara dan terletak di ufuk Timur penjuru mata angin di Bali. Hal ini dapat dihubungkan dengan Dewa Nawa Sanga beserta tempatnya dan senjatanya masing-masing. Jadi jelaslah bahwa Pura Lempuyang Luhur adalah sebagai penjaga/pemelihara arah sebelah timur dengan dewa Içwara sebagai manefestasi Sang Hyang Widhi Wasa.
Adapun dewa yang dipuja adalah Bethara Agnijaya (Hyang Gnijaya) sebagai manefestasinya Hyang Widhi, oleh karena Bhtara Agnijaya disejajarkan fungsi serta peranannya dengan Brahma, Wisnu, Indara dan Shambu maka dapatlah dimengerti bahwa Bhatara Agnijaya adalah identik dengan Içwara yaitu Dewa Asthadhipalaka yang berada di penjuru Timur. Nama Sang Hyang Agnijaya yaitu putra dari Sang Hyang Parameçwara (maksudnya sebagai manefestasi dari Hyang Widhi) juga ada disebutkan di dalam Lontar DewaPurana Bangsul. Pura-Pura yang berada di Bukit Gamongan yang ada hubungannya dengan Pura Lempuyang Luhur adalah Pura Desa Purahayu, Pura Telaga Mas dan Pura Pasar Agung.

Pengemong Pura Lempuyang Luhur adalah seluruh anggota”krama Desa” dari Desa Purahayu, sedangkan penyungsungnya adalah segenap masyarakat Bali yang beragama Hindu dan Masyarakat Hindu di pulau Lombok termasuk umat Hindu di seluruh Indonesia serta masyarakat Tionghoa di Bali. Upacara Piodalan Pura Lempuyang Luhur jatuh pada hari Kamis Umanis wuku dungulan atau Umanis Galungan yakni setiap enam bulan bali sekali (210 hari). Adapun urutan upacara piodalan pada Pura Lempuyang Luhur adalah sama dengan upacara pada Pura Sad Khayangan lainnya.

Dari puncak Lempuyang pemandangan sangat indah, kelihatan pantai Amed dan Desa Culik, arah Timur terlihat Gunung Seraya, dan Gunung Agung pun nampak sangat indah. Tidak heran jika Pura Lempuyang juga di datangi oleh wisatawan lokal maupun manca negara.

%d bloggers like this: