Paduarsana

Berbagi Tentang Semua Hal

Bangbang Gede Rawi,Sang Maestro Kalender Bali


K Bangbang Gede Rawi | Babad Bali.

Kalender Bali identik dengan Ketut Bangbang Gde Rawi(alm), beliau adalah tokoh perintis Kalender Bali. Meskipun saat ini ada banyak tokoh yang muncul sebagai penyusun Kalender Bali namun nama Ketut Bangbang Gde Rawi masih tetap melekat pada masyarakat Bali dimanapun berada. Bahkan banyak masyarakat yang tinggal di luar Bali hanya ingin kalender Bali yang disusun oleh K Bangbang Gde Rawi(alm) alasannya karena kalender yang disusun oleh Bangbang Gde Rawi lebih “lengkap” dibandingkan dengan yang lain. Saya sendiri tidak mengerti lengkapnya seperti apa, karena yang saya lihat pada kalender biasanya hari libur, cuti bersama dll yang berhubungan dengan hari libur(hehe). Tidak juga, biasanya yang saya lihat adalah kapan waktu purnama, tilem, kajeng kliwon dan hari raya besar lainnya yang erat kaintannya dengan rerahinan, upacara atau odalan.

Bagi sulinggih, balian dan yang mengerti tentang wariga atau ahli pedewasan, kalender K Bangbang Gde Rawi adalah pilihan pertama alasannya ya seperti diatas tadi, lengkap.

Siapa Ketut Bangbang Gde Rawi(alm)? Beliau lahir di Desa Celuk, Sukawati, Sabtu Pon Sinta 17 September 1910 sebagai anak keempat dari enam bersaudara dari pasangan Jro Mangku Wayan Bangbang Mulat dan Jro Mangku Nyoman Rasmi. Tahun 1929, setelah tamat sekolah Goebernemen Negeri di Sukawati, dalam usia 19 tahun, Ketut Bangbang Gde Rawi sudah mulai tekun mempelajari ihwal wariga, adat, dan filsafat agama Hindu. Proses perburuan ilmu ini dilakukan dengan cara bertandang ke griya-griya, mencari lontar, menekuni wariga dan berdiskusi dengan peranda-peranda. Di samping menekuni ilmu wariga, Rawi juga tertarik pada bidang seni tari dan seni rupa, seperti memahat dan melukis, dilakukan sepanjang tahun 1930-an. Dekade ini, Ketut Bangbang Gde Rawi yang ulet bekerja juga pernah menjadi tukang jahit, jual-beli pakaian jadi, dan perhiasan emas.

Awal 1940-an, sebelum Indonesia merdeka, beliau pernah menjadi perbekel di desa kelahirannya, Celuk. Saat itulah, Rawi yang mewarisi banyak pustaka lontar sering dimintai untuk mencari hari baik untuk pelaksanaan upacara atau kegiatan adat lainnya. Lama-kelamaan, bakat beliau di bidang menentukan hari baik untuk melakukan sesuatu (padewasaan) mulai tumbuh dan tersiar di kalangan masyarakat luas sehingga beliau didesak oleh para tokoh adat dan agama se-Kabupaten Gianyar untuk menyusun kalender. Desakan itu ditolak dengan rasa rendah hati.

Namun, dalam rapat-rapat sulinggih Bali Lombok antara tahun 1948-1949, muncullah keputusan untuk memberikan kepercayaan kepada beliau untuk membuat kalender Bali. Tampaknya keputusan ini sulit beliau tolak. Setahun kemudian, atas dorongan Ida Pedanda Made Kemenuh, Ketua Paruman Pandita Bali-Lombok, Rawi mulai menyusun kalender. Kalender hasil karya beliau yang pertama dicetak penerbit Pustaka Balimas, salah satu penerbit besar di Bali saat itu. Tahun 1954, beliau dilantik menjadi anggota DPRD Bali berkat keahliannya di bidang adat dan agama.

Banyak intelektual Bali mencoba menyusun kalender, tetapi sampai tahun 1980-an, praktis kalender Ketut Bangbang Gde Rawi yang populer dan banyak dijadikan pegangan oleh masyarakat. Selain karena isinya yang diyakini ketepatannya, yang khas dalam kalendernya adalah pemasangan foto diri yang mengenakan dasi dan kacamata. Mengapa bukan foto yang mengenakan destar? Tak jelas, tetapi foto berdasi itu adalah potret beliau sebagai anggota DPRD Propinsi Bali. Semula foto itu dipasang di kalender sebagai tanda pengenal semata, tetapi lama-lama menjadi merk dagang (trade mark). Kalender beliau tampil khas, pinggirannnya dihiasi dengan pepatran ukiran dedaunan, di atasnya tercetak gambar swastika simbol agama Hindu. Menurut Jro Mangku Nyoman Bambang Bayu Rahayu, cucu Ketut Bangbang Gde Rawi yang kini menjadi penerus penyusunan kalender, bentuk, bingkai, ilustrasi, susunan hari, potret diri dan nama penyusun kalender itu sudah dipatenkan sejak April 2002. Ini berarti model kalender beliau tidak boleh dijiplak. Meski demikian, kalender Bali lain yang muncul belakangan mau tak mau mengikuti pola kalender Ketut Bangbang Gde Rawi meski tidak persis sama.

Kecemerlangan Rawi di bidang adat, wariga, dan agama Hindu mendapat pengakuan dari Institut Hindu Dharma (IHD, kini Unhi). Buktinya, tahun 1972, beliau ditunjuk menjadi dosen untuk mata kuliah “wariga” di IHD. Tahun 1976, beliau juga mengabdikan diri di Parisadha Hindhu Dharma Pusat yang berkedudukan di Denpasar sebagai anggota komisi penelitian. Selain membuat kalender dan mengajar, Rawi juga menerbitkan beberapa buku, seperti Kunci Wariga (dua jilid, 1967) dan Buku Suci Prama Tatwa Suksma Agama Hindu Bali (1962).

Ketut Bambang Gde Rawi meninggal 18 April 1989 dengan mewariskan kecerdasan yang monumental, yakni pengetahuan tentang cara menyusun kalender Bali. Sejak kepergiannya, penyusunan kalender diteruskan oleh putranya, Made Bambang Suartha. Tugas ini dikerjakan sekitar delapan tahun, tepatnya hingga Made Bambang Suartha meninggal 10 April 1997. Warisan ilmu menyusun kalender itu kemudian menurun pada Jro Mangku Nyoman Bambang Bayu Rahayu, cucu Ketut Bangbang Gde Rawi. Sampai sekarang kalender Ketut Bangbang Gde Rawi tetap hadir di tengah-tengah masyarakat. Di bawah potret Ketut Bangbang Gde Rawi tertera tulisan “Disusun oleh Ketut Bangbang Gde Rawi (alm) dan Putra-putranya”.

Bagi masyarakat Bali di Bali, dan mereka yang ada di daerah transmigran, termasuk yang menetap di luar negeri, kalender Bali sudah menjadi kebutuhan. Dengan menggantung kalender Bali di rumah, mereka dengan mudah bisa mengetahui hari khusus agama Hindu seperti purnama tilem, Galungan Kuningan, Nyepi dan sebagainya.

Belakangan sejumlah ahli penyusun kalender Bali yang lain selain “dinasti Ketut Bangbang Gde Rawi”, juga bermunculan dan mereka berhasil membuat kalender yang diterima publik. Perkembangan penyusunan kalender Bali ini tentu tak bisa dipisahkan dari jasa Bambang Gde Rawi, sang perintis. Usaha Rawi dan penyusun kalender Bali lainnya besar jasanya kepada masyarakat dalam usaha menjaga kearifan lokal Bali.

Arsitektur Bali Menurut Tattwa Agama Hindu


Secara umum bangunan adalah segala hasil perwujudan manusia dalam bentuk bangunan yang mengandung kebulatan/kesatuan dengan Agama(rituil) dan kehidupan budaya masyarakat, yang mencangkup: kemampuan merancang dan membangun serta mewujudkan seni bangunannya menurut bermacam-macam prinsip seperti bentuk, konstruksi,bahan, fungsi dan keindahan.

Bangunan Bali adalah setiap bangunan yang dibangun berdasarkan tattwa(falsafah) agama Hindu. Filosifis bangunan Bali yaitu adanya hubungan yang erat dan hidup antara bhuwana alit dengan bhuwana agung yang perwujudannya dilandasi oelh ketentuan Agama Hindu. Bangunan Bali dikelompokkan menjadi 2(dua) yaitu: Bangunan Suci(keagamaan) dan Bangunan Kepara(Adat).

Ketentuan-ketentuan Bangunan Bali sebagai berikut:

  • Tempat/denah berdasarkan Lontar Asta Bhumi.
  • Bangunan/konstruksinya berdasarkan Lontar Asta Dewa dan Lontar Asta Kosala/Kosali.
  • Bahan-bahan bangunan/material berdasarkan Lontar Asta Dewa dan Lontar Asta Kosala/Kosali, seperti: Kayu, Ijuk, alang-alang, batu alam, bata dll.

Ciri-ciri Bangunan Bali:

  • Pengider-ider(Catur Loka Phala/Asta Dala)
  • Tri Mandala/Tri Loka.
  • Adanya upacara Sangaskara/pensucian.
  • Mengandung simbol-simbol sesuai dengan ajaran Agama Hindu(S.H. Acintya, Naga, Padma dll)

Jenis-jenis Bangunan Bali:

  • Bangunan Suci/keagamaan adalah semua pelinggih-pelinggih yang disucikan, termasuk patung-patung/arca-arca serta perlengkapannya.
  • Bangunan Kepara/Adat adalah bangunan-bangunan perumahan, adat dan bangunan Bali lainnya.

Bentuk dan nama bangunan Bali dibuat berdasarkan ketentuan-ketentuan Lontar Asta Dewa, Asta Kosala/Kosali dan Lontar Wisma Karma.

Tata Laksana dan Upacara(pensucian) bangunan Bali:

  1. Ngeruwak Karang
  2. Nyukat Karang
  3. Nasarin
  4. Memakuh
  5. Ngurip-urip

Sesuai dengan Lontar Asta Dewa, Asta Kosala/Kosali, Dewa Tattwa dll.

 

 

 

Pedoman Membangun Padmasana


Dewasa ini banyak sekali bermunculan variasi bangunan Padmasana baik bentuk, tata letak maupun hiasan yang digunakan. atas dasar tersebut diatas diadakanlah seminar dengan salah satu topik “Standarisasi Bentuk Padmasana” .

Tattwa Padmasana bersumber pada kitab-kitab Weda (Sruti dan Smrti) serta kitab-kitab yang memuat ajaran Siwa Sidanta, secara khusus dimuat dalam Lontar Anda Bhuwana, Padma Bhuwana dan Adi Parwa. Pada prinsipnya Padmasana adalah pengejawantahan bhuwana agung(alam raya)sebagai stana Sang Hyang Widhi. Bhuwana Agung disimbolkan dengan Bedawang Nala(Kurma Agni) yang dililit naga yang menyangga lingga. Adi Parwa menceritakan pencarian amerta dengan memutarkan Mandara Giri(Gunung Mandara didalam Ksirarnawa(lautan susu). Dalam pemutaran Mandara Bedawang Nala menyangganya, Naga Besuki melilit, dan para Dewa dan raksasa memutarnya. Akhirnya Wisnu yang mengendarai Garuda menguasai amerta tersebut.

Padmasana berfungsi sebagai stananya Hyang Widhi, umat Hindu dalam usaha mendekatkan diri dan memujaNya. Secara umum bentuk bangunan Padmasana terdiri dari 3(tiga) bagian:

  • Tepas(dasar), Dasar Padmasana didukung oleh Bedawang Nala yang dibelit oleh Naga. Jumlah Naga bisa 1 sebagai simbol Hyang Wasuki atau 2 sebagai simbol Hyang Wasuki dan Anantabhoga.
  • Batur(badan), Pada badan Padmasana terdapat pepalihan(tingkat yang berjumlah ganjil 5,7 dan 9 dan hiasan Garuda serta Angsa diatasnya juga terdapat area Astadikpalaka yang letaknya sesuai dengan penginder-ider.
  • Sari(puncak), Berbentuk singgasana yang terdiri dari ulon, tabing dan badan dara. Pada Ulon dapat diisi pahatan berwujud Hyang Acintya. Bagian atas dari tabing sebaiknya tidak ada bentuk-bentuk hiasan karena sudah menggambarkan alam swah.

Tata Letak Padmasana.

Prinsip dasar letak Padmasana sebagai bangunan pemujaan Sang Hyang Widhi hendaknya pada tempat yang paling utama dalam pekarangan. Faktor – faktor penentu tempat yang paling utama dalam sebuah pekarangan yaitu:

  1. Arah atas, sesuai dengan nilai-nilai tri loka.
  2. Arah Timur, sesuai dengan arah perputaran bumi/terbitnya matahari.
  3. Arah “kaja” sesuai dengan letak gunung/pegunungan.

Pilihan tata letak Padmasana; secara mendatar(Kaja, Kaja kangin dan Timur). Secara vertikal; atas.

Urutan upacara dalam pembangunan Padmasana sebagai berikut;

Nasarin(Peletakan Batu Pertama);

  1. Ngeruak sesuai dengan keputusan pesamuan agung tahun 1987.
  2. Penggalian pondasi(lubang untuk dasar/pondasi)
  3. Penyucian lubang pondasi bisa sampai tingkatan mebumi sudha.
  4. Persembahyangan dengan puja pengantar Ananta bhoga stawa dan pertiwi stawa. Bunga dan kewangen yang telah dipakai diletakkan pada lubang sebagian dasar.
  5. Peletakan dasar(pondasi) dengan material sesuai dengan keputusan Pesamuan Agung Tahun 1988.

Melaspas.

Upacara melaspas wajib dilakukan setelah pembangunan Padmasana selesai, upacara melaspas berupa pedagingan, orti, dan sesaji sesuai dengan lontar Dewa Tattwa, Wariga, Catur Winasa Sari dan Kesuma Dewa.

Sumber: Seminar Kesatuan Tafsir Terhadap Aspek-aspek Agama Hindu