Paduarsana

Berbagi Tentang Semua Hal

Umat Hindu di Malang, Membangun Diri


Dari segi kuantitas jumlah umat Hindu di Kabupaten Malang, kurang lebih 23.871 orang (survey tahun 2006). Persebaran umat Hindu di kawasan Kabupaten Malang umumnya berpola enclaves atau mengantong di antara umat heterogen. Kantong-kantong umat Hindu di Kabupaten Malang adalah di daerah Wagir, Pakisaji, Ngajum, Kalipare, Ampelgading, Kasembon, Singosari.
Dari segi sosial ekonomi, secara umum sebagian besar umat Hindu di Kabupaten Malang masih hidup secara sederhana dan bekerja di sektor pertanian, sebagian kecil telah memasuki sektor modern, seperti sektor birokrasi, militer, pendidikan dan swasta. Tingkat pendidikan dari umat Hindu rata-rata ialah SD.

Aktivitas kerohanian Hindu di Kabupaten Malang didukung oleh sarana prasarana spiritual, yaitu Pura dan Sanggar Pamujaan yang jumlahnya mencapai kurang lebih 50 bagunan pura dan sanggar. Dengan kondisi fisik bangunan rata-rata masih memerlukan pemeliharaan. Sedangkan aktivitas pendidikan Hindu secara formal ditunjang oleh keberadaan 5 TK, 2 SMP dan 1 SMA yang berbasis Hindu. Untuk pendidikan informal ditunjang dengan kegiatan pasraman di kantong-kantong umat Hindu.

Sementara itu, sebagaimana diketahui, bahwa pembentukan karakter seseorang yang berwawasan global dan berkepribadian lokal bisa dilakukan melalui pendidikan yang berjenjang, berkualitas, berkelanjutan. Dengan pendidikan seseorang mendapatkan pengetahuan dan wawasan yang luas. Pendidikan bisa didapatkan melalui lembaga pendidikan formal, informal dan nonformal. Kualitas manajemen lembaga pendidikan sangat mempengaruhi kualitas pendidikan yang diberikan. Tersedianya fasilitas yang memadai juga bisa memberikan nilai tambah terhadap kualitas pendidikan yang diberikan.

Pasraman Dharma Widya
Pembentukan Pasraman Dharma Widya dimotori oleh sekelompok generasi muda Hindu Desa Jedong yang independent dan mempunyai kepedulian terhadap perkembangan dan peningkatan kualitas SDM (Sumber Daya Manusia) Hindu serta keinginan untuk berbuat yang nyata dan bermanfaat bagi sesama.

Akhirnya generasi muda Hindu Desa Jedong ini membentuk sebuah wadah yang bisa mewadahi lembaga pendidikan Hindu nonformal dalam bentuk perkumpulan Dharma Siddhi Group. Lembaga yang dimaksud adalah lembaga yang memberikan layanan pembinaan pendidikan Hindu berupa Pasraman. Setelah melakukan rapat koordinasi dan sosialisasi akhirnya disepakati sebuah nama untuk pasraman yang ada di Desa Jedong. Nama pasraman tersebut adalah Pasraman Dharma Widya.

Adapun makna dari Pasraman Dharma Widya adalah: Kata “Pasraman “ berasal dari kata “Asrama” (sering ditulis dan dibaca ashram) yang artinya tempat berlangsungnya proses belajar mengajar atau pendidikan. Kata Asrama mendapat awalan “pa” dan akhiran “an”, di dalam bahasa Jawa Kuno dan Bali berarti tempat berlangsungnya pendidikan, yang maknanya sama dengan kata Ashram di atas. Pendidikan Pasraman menekankan pada disiplin diri, pengembangan pemikiran mulia dan sifat – sifat rajin, suka bekerja keras, pengekangan hawa nafsu dan gemar menolong orang lain.

Konsep Pasraman diadopsi dari sistem pendidikan Hindu jaman dahulu di India sebagaimana disuratkan dalam kitap suci Veda. Sistem ashram menggambarkan hubungan yang akrab antara para guru (acarya) dengan para siswanya (sisyanya), bagaikan dalam keluarga, oleh karena itu sistem ini dikenal pula dengan nama sistem pendidikan “gurukula”. Proses pendidikan Pasraman itu masih tetap berlangsung sampai saat ini dikenal pula dengan istilah lainnya yakni Sampradaya atau Parampara, yang di Jawa dan Bali dikenal dengan istilah Padepokan atau Aguron – guron. Kata Dharma mempunyai arti kebenaran dan kewajiban. Sedangkan kata Widya mempunyai arti ilmu pengetahuan suci. Jadi Pasraman Dharma Widya mempunyai makna tempat mendidik dan mendapatkan ilmu pengetahuan suci berdasarkan Dharma.

Pasraman Dharma Widya diresmikan oleh Bapak Sujud Pribadi selaku Bupati Malang, Bapak Agus Supriyono selaku Pembimas Hindu Propinsi Jawa Timur dan Bapak Ida Bagus Suardika selaku Ketua PHDI Kabupaten Malang pada tanggal 25 Oktober 2007.

Untuk menjalankan aktifitasnya, Pasraman Dharma Widya memiliki 9 orang dewan guru yang mengajar berbagai mata pelajaran, seperti, Agama Hindu, Moderator dan Dharma Wacana, Bahasa Inggris, Bahasa Sanskerta, Karawitan, Upakara, Pengkajian Weda, Mantra, Bahasa Jawa, dan lain-lain.

Sehubungan dengan semakin meningkatnya kebutuhan, mengingat Pesraman ini kini mendidik takkurang dari 91 siswa, maka direncanakan melakukan pengembangan prasarana Pesraman. Di antaranya meliputi pengadaan, ruang belajar, komputer, internet, koperasi, bangku, gamelan, dan lain-lain. Diperkirakan pengembangan ini membutuhkan dana sekitar Rp 156.550. 000. Maka melalui kesempatan ini, umat Hindu Malang berharap uluran tangan umat se dharma untuk ikut bahu membahu menyukseskan yadnya ini.

Untuk informasi lebih lanjut saudara se dharma bisa mengontak: Pasraman “ DHARMA WIDYA” Wiyata Graha Dharma Widya. Sekretariat: Dusun Sawun RT 01 RW 03 Desa Jedong Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang Propinsi Jawa Timur 65158. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP): 31.186.363.3-654.000. Nomor Rekening BRI: 6368.01.006281.531 An. Pasraman Dharma Widya. Telephone : (0341) 863-2010 CP 081-555-217-91. Email: pasraman_dharmawidya@yahoo.co.id

 

 

 

Jadwal Festival Hindu II Jogjakarta


Penyelenggaraan Festival Seni Keagamaan Hindu Tingkat Nasional II ini sangat penting. Hal ini dikarenakan masyarakat Hindu di Indonesia memiliki keragaman ekspresi seni dan budaya yang berbeda-beda, baik dalam bahasa, musik tradisi, lagu-lagu daerah bernuansa rohani, tari, maupun tradisi ritualnya. Dengan pelaksanaan Festival Seni Keagamaan Hindu Tingkat Nasional II ini diharapkan potensi-potensi seni keagamaan Hindu mampu mengambil peran untuk meningkatkan kualitas sradha dan bhakti umat Hindu di seluruh Indonesia.

Festival Seni Keagamaan Hindu Tingkat Nasional II di Yogyakarta ini menampilkan berbagai karya seni dan budaya keagamaan yang bersifat sakral, serta memiliki makna dan nilai estetika yang tinggi, seperti mantra, suara genta, seni tabuh, seni tari, kidung kerohanian, sesaji, dan kearifan lokal dari seluruh wilayah Indonesia. Dengan bertemunya kontingen perwakilan provinsi dari seluruh Indonesia, maka diharapkan akan terjadi komunikasi yang baik dalam rangka meningkatkan kreativitas dalam dunia seni, serta mampu meregenerasikan seni keagamaan Hindu kepada generasi yang akan datang.

Festival Seni Keagamaan Hindu Tingkat Nasional II ini diselenggarakan di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta selama empat hari, yaitu hari Selasa-Jumat, tanggal 25-28 September 2012. Acara Festival Seni Keagamaan Hindu Tingkat Nasional II ini diikuti oleh perwakilan dari 16 Provinsi di Indonesia, yaitu Provinsi Sumatera Selatan, Provinsi Bangka Belitung, provinsi Lampung, Provinsi DKI Jakarta, Provinsi Banten, Provinsi Jawa Barat, Provinsi Jawa tengah, Provinsi DI. Yogyakarta, Provinsi Jawa Timur, Provinsi Sulawesi Tengah, Provinsi Sulawesi Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara, Provinsi Kalimantan Tengah, Provinsi Kalimantan Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Barat, dan Provinsi Bali sebagai eksibisi. Kegiatan Festival Seni Keagamaan Hindu Tingkat Nasional II dirangkai dengan berbagai jenis perlombaan seni keagamaan Hindu. Adapun lomba tersebut, adalah; 1) Musik Tradisi (Tabuh Lalambatan/ Instrumental), 2) Tari Ritual (Tari Rejang atau Tari Baris), 3) Musik Vokal Instrumental (Gegitaan), 4) Tari Kreasi Keagamaan, dan 5) Tari Topeng Sidakarya atau sejenisnya.

Dalam Festival Seni Keagamaan Hindu Tingkat Nasional II DI Yogyakarta diawali dengan Parade Nusantara, yaitu pawai yang menampilkan pertunjukan seni keagamaan Hindu dari berbagai wilayah di Indonesia. Parade Nusantara atau Pawai ini bertemakan “Bhinneka Tunggal Ika”, yang dapat diartikan bahwa, persatuan dan kesatuan bangsa ini dapat terwujud dengan menjalin semangat kebersamaan di antara pemeluk agama. Pawai ini juga mengakomodir seni dan budaya Agama Islam, Agama Kristen, Agama Katholik, Agama Budha, dan Agama Konghucu untuk dapat ditampilkan dalam Parade Nusantara tersebut. Pawai ini akan menempuh perjalanan 4 KM, dari lapangan Taman Parkir Abu Bakar Ali – Jln. Mallioboro, dan finish di Pura Pakualaman Yogyakarta.

Selain itu, di sela-sela kegiatan lomba juga akan ditampilkan dua kegiatan yang lain, yaitu hiburan yang bertajuk “Pesta Rakyat” dan “Sarasehan”.  Pesta rakyat akan diselenggarakan di area Monumen Serangan Umum 1 Maret Yogyakarta. Dalam kegiatan ini akan menampilkan potensi seni dari kreativitas generasi muda, mahasiswa, seniman Yogyakarta, dan seniman dari perwakilan kontingen. Acara yang bertajuk “Pesta Rakyat” ini bertujuan untuk memberikan hiburan kepada masyarakat Yogyakarta secara umum. Selanjutnya, sarasehan akan dilaksanakan di Gedung Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Sarasehan ini akan membahas isu-isu tentang perkembangan seni dan budaya, sebagai langkah untuk mencari solusi dan arah yang tepat demi memajukan seni nasional. Hal ini tentunya sesuai dengan wilayah Yogyakarta yang telah ditetapkan sebagai daerah istimewa. Keistimewaan Yogyakarta dalam bidang seni dan budaya tentunya perlu mendapat apresiasi dan dukungan dari seluruh lapisan masyarakat di Daerah Istimewa Yogyakarta dan daerah-daerah lainnya.

PROVINSI PESERTA
FESTIVAL SENI KEAGAMAAN HINDU TINGKAT NASIONAL II
DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

  1. Bali
  2. Bangka Belitung
  3. Banten
  4. Daerah Istimewa Yogyakarta
  5. Daerah Khusus Ibukota Jakarta
  6. Jawa Barat
  7. Jawa Tengah
  8. Jawa Timur
  9. Kalimantan Selatan
  10. Kalimantan Tengah
  11. Lampung
  12. Nusa Tenggara Barat
  13. Sulawesi Selatan
  14. Sulawesi Tengah
  15. Sulawesi Tenggara
  16. Sumatera Selatan

Jadwal Festival Hindu II Jogjakarta 24-29 September 2012.

No.

Hari/Tanggal

Jam

Nama Kegiatan

Tempat

Penanggung jawab

1.

Senin, 

24 Sep 2012

15:00-17:00 Pengukuhan dan 

rapat dewan Juri

Hotel Jambu Luwuk Sie Lomba

2.

Selasa, 

25 September 2012

08:00-14:00

Official dan Kontingen  tiba dan check-in di Hotel masing-masing   Seksi Transportasi
   

15:00-17:00

Technical Meeting Oficial dan Pengundian No. Urut Lomba Hotel Jambu Luwuk Seksi Lomba
   

18:00-21:00

Matur Piuning Peserta dan tirta yatra Pura Jagatnatha Banguntapan Bantul Seluruh Panitia,  Seksi Lomba, dan Peserta
   

15:00-20:00

Gladi bersih Pura Pakualaman Pengisi acara pembukaan (Kesenian ISI)

3.

Rabu, 

26 September 2012

08:00-11:00

Eksibishi BALI+ 

Lomba I (2 Kontingen)

Kampus ISI Seksi Lomba
   

13:00-14:00

Kontingen dan Peserta Kirab/Pawai tiba di Tempat Awal Kirab/Pawai Taman Parkir 

Abu Bakar Ali

Seksi Kirab dan Seksi Keamanan
   

14:00-17:00

Acara Kirab/Pawai Taman Parkir Abubakar Ali – 

Jl. Mallioboro –

Pura Pakualaman

Seksi Kirab dan Seksi Keamanan
   

17:00-19:00

Persiapan Acara Pembukaan 

(Kontingen Istirahat dan  Makan di Tempat Acara Pembukaan, tidak boleh kembali ke Hotel)

Pura  Pakualaman Seksi Pembukaan dan  Penutupan
   

19:30-21:30

Acara  Utama Pembukaan Festival Seni Keagamaan Hindu Nasional II Pura Pakualaman Seksi Pembukaan Penutupan
  4. Kamis, 

27 September 2012

08:00-16:00

Lomba-Lomba Bagian  II 

(8 Kontingen)

Kampus ISI Yogyakarta Seksi Lomba
   

18:30-21:30

Pesta Rakyat Monumen Serangan Umum 1 Maret Seksi Pesta Rakyat

5.

Jumat, 

28 September 2012

08:00-11:00

Lomba-Lomba Bagian III 

( 5 Kontingen)

Kampus ISI Yogyakarta Seksi Lomba
   

08:00-12:00

Sarasehan Seni dan Budaya Auditorium ISI Yogyakarta Seksi Sarasehan
   

13:00-15:00

 

Rapat Dewan Juri Hotel Jambu Luwuk Seksi Lomba+Ketua Umum
   

19:30-21:30

Penutupan Festival Seni Keagamaan Hindu Nasional II ISI Yogyakarta Seksi Pembukaan Penutupan

6.

Sabtu, 

29 September 2012

12:00-13:00

Kontingen dan Official Checkout dari Hotel Kembali ke daerah masing-masing Hotel Panitia dan Kontingen di DIY ULP dan Panitia Pusat

Kalteng Ikuti Festival Seni Kegamaan Hindu


PALANGKA RAYA, KOMPAS.com–Provinsi Kalimantan Tengah mengikuti Festival Seni Keagamaan Hindu tingkat nasional ke-II di Yogyakarta, 25-29 September 2012.

“Kontingen Kalteng berangkat sebanyak 45 orang untuk mengikuti kegiatan lomba musik tradisional setempat, lomba ritual, lomba musik vokal instrumen, lomba tari kreasi keagamaan dan lomba tari topeng,”kata Kepala Bidang Urusan Agama Kementerian Agama Kalteng, Supiani di Palangka Raya, Senin.

Dijelaskannya, festival seni keagamaan Hindu merupakan kegiatan lomba seni yang bersifat sakral yang menjadi pendukung kegiatan upacara atau ritual keagamaan Hindu berupa musik tradisi atau tari serta dapat memberikan fibrasi dalam upaya meningkatkan rasa keberagamaan umat Hindu.

Tujuan kegiatan untuk menggali dan mentradisikan atau membudayakan seni keagamaan yang telah ada sejak zaman dulu serta untuk meningkatkan nilai-nilai estestika sehingga terbentuk kepribadian yang lemah lembut dan memiliki karakter kebangasaan.

Kalteng yang memiliki corak tradisi yang berbeda dengan daerah lain, ikut berpartisipasi mengikuti seluruh kegiatan, sehingga masyarakat mengetahui, Hindu di Kalteng memiliki seni keagamaan yang klasik.

Selain itu memiliki citra yang berbeda serta adanya kekuatan alam yang menyatu dalam kegiatan seni ritual keagamaannya.

Namun hal yang terpenting, ucapnya, Kalteng dapat memberikan gambaran seni keberagaman Hindu kepada masyarakat seluruh Indonesia atau wisatawan, yakni Kalteng memiliki seni bernafaskan Hindu berbeda dengan daerah lain.

Gubernur Kalteng Agustin Teras Narang menyatakan, melalui ajang festival ini, diharapkan meningkatkan kebersamaan, pemahaman, penghayatan dan pengamalan nilai-nilai keagamaan di tengah keberagaman agama saat ini.

“Saya mengajak kita semua agar mendoakan masing-masing kelompok ini dapat mengikuti lomba secara maksimal dan menampilkan yang terbaik,”ucapnya.

Untuk itu ia mengimbau dan berharap agar kontingen yang berangkat dapat menjaga dan memelihara kebersamaan dan kekompakan serta menjaga nama daerah.

Ia meminta, agar para kontingen dapat tampil maksimal, sehingga bisa memperoleh hasil yang terbaik.